
Belum lama saat mereka meninggalkan ruangan, tiba-tiba Orlando berlari mencari Daniar kembali.
"Tunggu!! Berhenti," teriak Orlando dari lantai atas.
Spontan, Adhitama menghentikan langkah kakinya. Yang sedikit lagi melewati pintu keluar dari vila tersebut.
Adhitama membalik posisi tubuhnya, lalu menatap ke arah Orlando di atas sana.
Orlando berlari kecil, menuruni anak tangga. Segera menghampiri Adhitama dan Daniar.
"Emm,, aku ingin berbicara sebentar dengan Daniar," ucap Orlando seraya menatap Adhitama.
"Daniar tak ingin berbicara denganmu lagi," jawabnya. Merasa keberatan dengan permintaan pria yang berdiri di hadapannya.
"Sayang,, tak apa. Biarkan aku berbicara dengannya ya," balas Daniar.
Adhitama mengalah. Karena saat ini Daniarlah yang sedang memohon kepadannya. Perlahan, Adhitama menurunkan tubuh gadisnya itu.
"Baiklah, hanya 5 menit. Tak boleh lebih dari itu," tegas Adhitama seraya pergi meninggalkan mereka berdua.
Adhitama menunggu Daniar di dalam mobil. Sepasang matanya menatap siaga ke arah pintu vila tersebut. Sesekali juga ia melirik jam tangannya, memastikan durasi waktu yang ia berikan untuk Orlando.
Orlando memulai pembicaraan. Menyampaikan hal yang ingin ia sampaikan.
"Daniar,, a--aku minta maaf. Aku sadar, hal yang kulakukan justru menambah tekanan terhadapmu. Menambah luka di hatimu." Orlando menatap nanar gadis di hadapannya. Kini, perasaan bersalah serasa menghantuinya.
Daniar menghela nafas dan menghembuskannya perlahan. Jujur, hatinya serasa membeku. Sedikitpun tak berniat ingin memaafkan semua perbuatan Orlando kepadanya. Tetapi, kali ini hatinya perlahan mencair lalu merasa luluh, melihat rasa penuh ketulusan dari tatapan sepasang mata pria itu.
"Baiklah,, aku terima permintaan maafmu, Orlando," tutur Daniar lembut.
"Sungguh!" balas Orlando merasa senang mendengarnya.
Daniar mengangguk cepat lalu melemparkan senyum manis terhadapnya.
"Izinkan aku selalu menjagamu, Daniar. Walau kita tak bisa bersama. Mungkin kamu tak akan pernah bisa membalas rasa cintaku. Tapi rasa ini selalu tertanam abadi di sini," ucap Orlando seraya menempelkan telapak tangan kanannya di dada.
Daniar menundukan pandangannya. Tak akan mengira Orlando melontarkan kata yang menggetarkan hatinya. Namun hati tak dapat berbohong. Rasa cintanya lebih dulu berlabuh di hati Adhitama. Pria penolong di saat ia terpuruk.
Daniar mendongakkan kepala memandang Orlando " Terimakasih, Orlando," jawabnya lembut penuh ketulusan.
Dari arah luar, datang Adhitama berjalan menghampiri mereka. Membuyarkan kedua pasang mata yang saling beradu saling menatap.
"Ayo sayang kita pergi," ajak Adhitama seraya menarik perlahan lengan Daniar.
Tiba-tiba, Orlando meraih bahu kekar pria yang menampakkan kegusarannya itu "Heii,, aku titip dia bersamamu. Jangan pernah menyakitinya. Jika aku melihatnya menangis karenamu, kuperingatkan, karena aku tak segan merebutnya kembali darimu," bisik Orlando mengancam.
"Cihh,, jangan pernah bermimpi aku akan membiarkanmu merebutnya lagi dariku," bisik Adhitama membalas dengan ketus.
Orlando tak dapat mengalihkan pandangannya, terus menatap mereka berdua pergi meninggalkan vilanya. Sampai sosok keduannya hilang di balik pintu.
"Jika kau tak bahagia bersamaku, maka setidaknya berbahagialah tanpa diriku," batin Orlando sembari berjalan menuju kamarnya.
******
"Hallo,, Daniar," sapa Farel yang berada di kursi kemudi dalam mobil. Nampak ke dua matanya berbinar-binar. Merasa senang bercampur lega. Melihat Daniar kembali ke pelukan Adhitama.
Farel segera menginjak pedal gas mobilnya, sesaat setelah Adhitama dan Daniar duduk di kursi belakang.
Adhitama merogoh ponsel di saku celana.
"Yohan! kembali ke markas. Kalian tunggu di sana," perintah Adhitama melalui panggilan telefon.
"Baik bos," jawabnya singkat lalu mengakhiri panggilan yang berlangsung.
Adhitama menatap lama, wajah gadis berlaras ayu yang sedang memandang ke arah luar kaca mobil.
"Ingin sekali memeluknya dengan erat. Pesona kecantikannya menggodaku saat ini," batin Adhitama.
Malam ini, melihat paras ayu nan menggemaskan sosok gadisnya, menggugah naluri nafsu birahi pada dirinya.
Bayangan gambaran yang tidak-tidak mulai memenuhi pikirannya. Jika di ingat kembali, mereka pernah berhubungan badan di waktu awal pertemuan. Karena obat rangsangan yang di berikan Lina malam itu. Membuat Adhitama terpaksa melayani kemauan Daniar yang tak dapat ia kendalikan sebagai lelaki normal pada umumnya.
"Hass,, jangan berfikiran kotor, Adhitama. Kejadian lalu di malam itu, semua di luar kehendakmu," batinnya menggelengkan kepalannya cepat.
"Ti--tidak papa sayang," jawabnya.
Pelukan Daniar secara tiba-tiba. Di saat dirinnya sedang hanyut dalam khayalan yang tidak seharusnya terlintas di otaknya. Membuatnya hampir tak tahan ingin sekali memakan gadis mungil itu saat ini juga.
"Ehemm,, hemm,, bos! di sini masih ada aku bos. Bisa tidak kalian bermesraan jangan terlihat oleh jones sepertiku," Farel meledek.
"Terserah aku dong Farel! Ini mobilku. Jadi jangan melarangku bermesraan dengan calon istriku," balas Adhitama sambil cengengesan.
Mendengar ucapan Adhitama, membuat Daniar terdiam seketika. Sudah lama mereka merencanakan pernikahan. Namun, sampai saat ini rencana itu belum juga terwujud. Akibat banyaknya kejadian luar biasa yang menguji kekuatan cinta mereka berdua.
Adhitama perlahan mengalungkan tangannya di pinggang Daniar. Seraya berucap "Sayang ayo kita menikah sekarang," tutur Adhitama.
Daniar tersentak. Mendengar pernyataan yang ia tangkap oleh indera pendengarannya.
"A--apa!" ucap Daniar merasa tak percaya.
"Iya sayang. Ayo menikah malam ini juga," Adhitama mengulangi ucapannya dengan perlahan dan penuh kelembutan.
Tatapan mereka saling beradu "Dengan senang hati, aku mau banget sayang menikah denganmu," kata Daniar menerima permintaan Adhitama. Butiran air mata bahagia nampak di ekor matanya.Lalu berlinang membasahi pipi putihnya.
Adhitama melepas perlahan pelukannya. Lalu merogoh saku jas, meraih sesuatu benda di dalamnya.
Ia menunjukan sebuah benda yang di ambilnya. Nampak kotak kecil berwarna merah hati di atas telapak tangan.
Adhitama segera membuka perlahan kotak merah hati tersebut. Daniar terkaget, kedua telapak tangannya menutup mulutnya. Tercengang melihat sebuah cincin yang sempat ia cari, ada di tangan Adhiatama saat ini.
"Itu cincin darimu di saat melamarku, sayang," ucap Daniar yang terus berlinangan air mata bahagia.
Adhitama meraih cincin permata itu, menggenggam lembut jemari mungil Daniar lalu melingkarkan cincin itu di jari manisnya. Adhitama mengecup lembut punggung telapak tangan gadisnya lalu berucap "Selamanya, Aku akan memberikan seluruh rasa cinta dan kasih sayangku. Aku bukanlah pria yang sempurna, namun cinta darimu dapat menyempurnakan semuanya."
Ucapan Adhitama memabukkan Daniar. Membuatnya larut dalam pelukan hangat nan erat saat ini.
"Farel,, pergi ke rumah penghulu malam ini. Kami akan menikah malam ini juga," kata Adhitama memerintah.
"Bos! mana ada penghulu mau menikahkan kalian larut malam begini. Kenapa tidak cari hari yang tepat bos," jawab Farel.
"Yohan pasti tahu persis tentang seluk beluk kota ini. Minta dia mengantarkan ke rumah penghulu. Aku tak mau lagi menunda pernikahanku. Tidak ada yang bisa menolak kemauan Adhitama," tegasnya.
Farel segera menghubungi Yohan yang saat ini sedang berada di mobil belakangnya. Ia mengetahui penghulu di kotanya. Dan saat ini mereka sedang menuju ke sana.
Sesampainya di sana, Daniar segera turun di dampingi Adhitama. Mereka segera masuk ke dalam. Setelah sebelumnya Yohan dan Farel telah duluan berbicara dengan orang yang akan menikahkan mereka berdua.
Kini jantung Adhitama berdenyut tak beraturan. Keringat dingin membasahi keningnya. Ia merasakan gugup yang luar biasa. Wajar,, karena pernikahan adalah ritual sakral mengikat hubungan untuk sehidup semati. Dalam keadaan suka dan duka terus bersama sampai maut memisahkan.
"Saya terima nikahnya Daniar Larasati binti bapak Edy Sunardi dengan mas kawin tersebut tunai."
Cukup sekali ucapan lafal ijab qabul yang di ucapakan dengan tegas oleh Adhitama. Kini mereka SAH berstatus suami dan istri.
Sorai tepuk tangan memenuhi ruangan. Mereka ikut berbahagia melihat pria berhati dingin itu akhirnya menikah dengan gadis yang ia sayangi. Farel memeluk sahabatnya dengan linangan air mata kebahagiaan.
"Segeralah menyusulku Farel. Carilah jodoh yang tepat untukmu," pesan Adhitama yang masih memeluk Farel.
"Pasti bos, pasti," jawabnya penuh haru.
Akhirnya, Daniar menyandang status istri dari tuan Adhitama Elvan Syahreza. Tepatnya menyandang julukan nyonya Syahreza. Kini, kebahagiaan sejati dalam hidupnya terasa lengkap. Akan ada yang menemani dan menjaganya di setiap hari-harinya.
"*Sayangku yang cantik, siapkah kamu melayaniku di malam pertama pernikahan kita," bisik adhitama merayu.
BERSAMBUNG ***
Kakak semuanya, author ingatkan lagi untuk like, komen, serta votenya ya.
Ini sangat mendukung author kedepannya.
Terimakasih author ucapkan kepada para pembaca novel Daniar Larasati.
Tunggu episode selanjutnya
BYE BYE*