
Terdengar suara petir bergemuruh. Tak lama hujan turun dengan deras di sertai angin. Daniar mendongakkan kepalanya. Memejamkan mata sejenak. Membiarkan air yang jatuh dari langit bercampur dan menyapu air matanya. Hatinya terasa hancur berkeping-keping. Kenyataan retaknya hubungan dengan Adhitama sangat sulit untuk ia terima.
Daniar kembali berjalan, melangkahkan kakinya di atas trotoar pinggir jalan. Terdengar suara mobil dan sorotan lampu semakin mendekat ke arahnya. Apakah itu Adhitama? Mungkinkah ia menyesali keputusaanya hari ini? Seketika Daniar menghentikan langkah kakinya. Berharap Adhitama akan menghampirinya.
Wusss,,,
Mobil sport berwarna hitam itu melintas begitu saja. Ya!, benar. Itu mobil Adhitama. Ia melintas begitu saja. Tanpa menghiraukan Daniar yang sedang basah kuyup di guyur hujan.
Ting... Tong
Klekk,,,
"Daniar!!"
"Lia."
Brugg. Daniar tumbang di hadapan Lia.
"Hei!!, Daniar kamu kenapa"
"Bibik!!!, tolong bik!!" teriak Lia memanggil pengurus rumahnya.
Lia segera memapah Daniar menuju ke kamar, di bantu oleh asisten rumahnya.
"Bik, tolong hubungi dokter sekarang juga," perintah Lia kepada asisten rumah tangganya.
"Baik, non Lia."
Tak lama, dokter datang dan segera memeriksa keadaan Daniar.
"Dia demam karena kehujanan. Sebentar lagi pasti ia akan sadar. Setelah sadar minumkan obat yang sudah saya kasih per 3 jam sekali sampai demamnya turun."
"Baik, dok. Terimakasih banyak."
"Sam-sama. Saya permisi dulu."
Beberapa saat kemudian, Daniar mulai sadar dan membuka ke dua matanya. Ia mengerang sambil memijat kening kepalanya.
"Daniar kamu sudah sadar. Ahh syukurlah, aku sangat panik akan keadaanmu tadi."
"Maaf merepotkanmu, Lia."
"Aku heran sama kamu, Daniar. Sudah tahu hujan kenapa malah nekat bermain hujan. Jadinya begini kan. Merugikan diri sendiri." Lia nampak marah dengan tindakan bodoh dari sahabatnya itu.
Daniar nampak lesu. Raut wajahnya nampak datar saat Lia memarahinya. Lia semakin di buat bingung oleh ekspresi Daniar kali ini.
"Daniar, Hei!!, kamu kenapa sih," kata Lia sambil menepuk perlahan pundak Daniar.
"Hubungan kami ber'akhir, Lia."
"Maksudnya!!"
"Adhitama memutuskan hubungan kami berdua."
"Kok bisa!!, ini nggak bercanda kan Daniar?"
Lagi-lagi gadis berparas cantik itu meneteskan air mata kesedihanya. Ia menundukan pandanganya ke bawah. Saat ini keadaanya betul-betul sangat menyedihkan.
Lia segera memeluk sahabat karibnya itu. Berusaha menguatkan. "Menangislah Daniar. Menangislah sepuasmu. Jika itu bisa melegakan perasaanmu. Selalu ada bahuku tempat untukmu menangis di saat perasaanmu sedang kacau."
Drtttt... Drtttt, ponsel Lia berdering.
Lia segera merogoh saku celana piyama yang di kenakanya, mengambil ponselnya.
"Iya, Nisa. Ada apa," Lia menjawab panggilan Nisa.
"Kak Lia!, apa ada kak Daniar di situ?" tanya Nisa dengan suara lesu dan serak.
"Ada apa, Nisa. Sepertinya kamu habis menangis. Kakakmu ada di rumah kak Lia sekarang."
"Kak, ayahku kak. Ayah sudah ti--tiada kak."
"Nisa!!, serius!!"
"Iya kak. Ayahku sudah pergi meninggalkan aku dan kak Daniar!"
Ponsel Lia seketika jatuh dari genggamanya. Daniar yang masih berada di pelukanya, tanpa sengaja mendengar ucapan Nisa dari ponsel Lia. Daniar membelalakan matanya. Ia tersentak dan shock. Ayah yang ia sayangi meninggalkan dirinya dan adiknya.
"Ayah," ucap Daniar.
"Daniar,, lihat aku. Daniar!!" teriak Lia.
Daniar masih saja terdiam. Tatapannya kosong. Hal yang menyedihkan beruntun menimpanya. Sama-sama di tinggalkan oleh orang yang ia sayangi dalam hidupnya.
"Lia antar aku pulang ke rumah sekarang Lia!!"
Sesampainya di rumah, Daniar berlari masuk ke dalam. Terlihat beberapa para pelayat sudah hadir di rumahnya.
Daniar menghampiri tubuh ayahnya yang sudah dingin terbujur kaku. Tak di sangka obrolan sore tadi menjadi akhir pertemuan dengan ayahnya. Daniar merasa menyesal tidak berada di samping sang ayah di saat-saat terakhirnya.
Nisa memeluk Daniar. Tangisan mereka berdua pecah menganak sungai. Kini, Daniarlah yang akan menjadi peran pengganti ke dua orang tua bagi adiknya, Nisa.
Beberapa hari berlalu setelah kepergian sang ayah. Daniar mulai menyusun semangat, memulai lagi awal kehidupanya yang baru. Ia sudah berjanji di depan pusaran makam sang ayah, akan merawat adiknya dan meyakini bahwa hal satu-satunya yang harus di jalani ialah menjalani hidup dengan sebaik-baiknya.
Hari ini, Daniar mulai kembali masuk bekerja. Ia memutuskan akan tetap bekerja di perusahaan milik Adhitama mantan kekasihnya itu. Ia sadar, ia membutuhkan biaya besar untuk biaya adiknya yang masih ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Sebagai kakak yang baik, Daniar berusaha keras untuk mewujudkan mimpi dari Nisa. Walau ia harus setiap hari bertemu dengan Adhitama di kantor, tapi Daniar berusaha untuk mengesampingkan perasaanya.
"Aku harus tenang. Anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa, Daniar. Semangat harus semangat," kata Daniar mennyemangati dirinya sendiri.
Daniar melangkahkan kakinya memasuki gedung kantor Group Tama tersebut. Sejauh ia berjalan para staf yang bertemu denganya menyapanya dengan baik. "Sudah sejak lama aku cuti bekerja, namun suasana ini masih sama seperti dulu" gumam Daniar.
Setibanya di depan lift, Daniar menunggu pintu lift terbuka.
Takk... Takk
Suara langkah kaki mendekat menghampirinya dan berhenti tepat di sampingnya. Daniar melirik sosok yang baru saja datang. Ia tersentak saat mengetahui sosok pria itu ialah Adhitama dan Luna yang berada di sampingnya.
"Bukankah ini lift pekerja. Adhitama selalu menggunakan lift khusus untuknya. Kenapa ia muncul tiba-tiba di sini bersama Luna. Uhh!!, ngeselin banget. Mending aku naik tangga darurat aja daripada harus satu lift dengan mereka," batin Daniar.
Perlahan Daniar membalikkan badan dan bersiap melangkahkan kaki meninggalkan Adhitama dan Luna.
"Mau kemana??" tanya Adhitama.
Daniar kembali membalikkan posisi tubunya menghadap Adhitama.
"Saya buru-buru banyak kerjaan. Jadi, mending saya lewat tangga darurat saja," jawab Daniar sambil mengalihkan pandangannya.
Ting,,, suara pintu lift terbuka.
"Masuklah, cepat!!" ujar Adhitama dengan nada yang sedikit meninggi.
Daniar segera masuk ke dalam lift. Menempatkan posisi di belakang Adhitama dan Luna. "Nanti makan siang sama-sama ya, Adhitama," ajak Luna.
"Boleh!, nanti kita pergi ke tempat langganan biasanya," kata Adhitama lalu tersenyum kepada Luna.
Daniar mengalihkan pandanganya dengan memainkan smart phone miliknya. Berusaha tidak mau mendengar percakapan mereka yang sedari tadi membuat Daniar di lalap api cemburu.
Tak lama pintu lift itu terbuka. Adhitama dan Luna keluar terlebih dahulu. Daniar menghela nafas. Sungguh terasa sakit melihat pria yang ia cintai berdekatan dengan wanita lain, walau Luna sekedar sahabat dari Adhitama.
Jam pulang kerja pun tiba. Daniar membereskan meja kerjanya dan bersiap pulang ke rumah. Sebelum pulang ia teringat Nisa, adiknya. Apakah sore ini dia sudah makan atau belum. Akhirnya ia memutuskan untuk menelfon,,
"Hallo, Nis!, kakak baru mau pulang kerja. Nisa sudah makan belum sore ini?"
"Aku belum makan kak. Masih nungguin kakak sampai rumah biar bisa makan sama\-sama."
"Wah adik kakak perhatian banget sama kakaknya. Oh iya, Nisa mau di bawain apa buat makan sore ini?"
"Nggak usah kak, ini Nisa sudah masak untuk makan kita berdua."
"Makasih ya, Nis. Kalau begitu kakak segera pulang ke rumah."
"Ok, kak!!"
**Bersambung,,,
Mohon Like dan komen serta vote seikhlasnya ya kak. **Jangan lupa juga klik favorite untuk novel ini.
Saran dan kritik dari kalian pasti aku terima. Jangan lupa saranya agar aku bisa menyesuaikan diri dengan kalian para pembaca. Terimakasih banyak author ucapkan. 🙏🙏🙏****