Daniar Larasati

Daniar Larasati
AYAH JATUH SAKIT



Saat sarapan pagi berlangsung,,,


"Nisa apakah kamu suka tinggal di rumah ini?" tanya Adhitama.


"Sangat suka kak!!!" jawab Nisa dengan nada yang penuh bersemangat.


" Apakah kamu tidak ingin melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi Nisa??"


"Sebenarnya Nisa juga pingin kak.. Tapi Nisa egak mau membebani kak Daniar dengan biaya kuliah yang pasti mahal."


"Kalau Nisa bersungguh-sungguh kakak bisa mendaftarkanmu ke Universitas terbaik di Luar negeri maupun dalam negeri. Tergantung Nisa mau yang mana."


Nisa melirik Daniar. Seperti mengisyaratkan suatu hal. Hatinya mengatakan ingin sekali kembali meneruskan pendidikanya.


"Adhitama biaya kuliah itu egak sedikit. Sejujurnya aku juga ingin Nisa lanjut kuliah tapi aku egak mungkin membebankan biaya kuliah sama kamu" ungkap Daniar.


"Ini kemauan aku sendiri. Kamu calon Istriku Daniar. Tidak salah kalau aku memberikan yang terbaik untukmu dan keluargamu" jawab Adhitama meyakinkan.


"Drtt..Drttt" terlihat di layar ponsel Adhitama, Farel menghubunginya.


"Hallo Farel ada apa?"


"Bos aku dapat kabar dari anak buah kita, yang di utus menjaga ayah Daniar. Ayah Daniar saat ini berada di Rumah Sakit karena terkena serangan jantung Bos."


"Ok aku akan melihatnya di Rumah Sakit. Farel kamu urus dulu urusan di Kantor pagi ini. Setelah dari Rumah sakit aku akan kembali ke kantor."


Setelah Adhitama mengetahui perihal tentang urusan Hendra dan ayah Daniar, di waktu itu ia segera mengutus anak buahnya untuk mengawasi menjaga ayah Daniar dari kejauhan. Ia berjaga-jaga jika Hendra akan melukai ayah Daniar karena Daniar sudah tidak bisa menjadi Nyonya Widjaya lagi.


Diam-diam tanpa di ketahui Daniar dan Nisa , Adhitama selalu memberikan uang kepada ayah Daniar setiap satu minggu sekali untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.


"Adhitama ada apa??" tanya Daniar dengan tatapan serius.


"Daniar,, ayah kamu sekarang berada di Rumah Sakit karena terkena serangan jantung" Adhitama menjawab pertanyaan dengan tenang dan perlahan. Sambil memegang erat genggaman tangan Daniar.


Sontak setelah mendengar ucapan Adhitama, tanpa sadar ia menjatuhkan gelas yang ada di tanganya. "Crenggg" gelas jatuh dan serpihan kacanya berserakan di lantai.


"Tenang Daniar jangan panik. Ayo pergi bersamaku ke Rumah Sakit" kata Adhitama.


Nisa menangis tersedu-sedu mendengar ayahnya terbaring di rumah sakit. Setelah di usir dari rumah mereka belum pernah mendengar kabar dari ayah sedikitpun.


Daniar menahan air mata nya agar tak longsor jatuh ke bawah. Di saat begini ia tak mau menunjukan air matanya di depan Nisa, adiknya.


Daniar segera beranjak dari kursi tempat duduknya. Tanpa sadar ia menginjak serpihan pecahan kaca, yang tak sengaja tadi ia jatuhkan.


"Awww,,, duhhh" desah Daniar kesakitan.


"Daniar kamu ceroboh sekali" kata Adhitama sambil menghampiri dan berjongkok melihat telapak kaki Daniar yang terluka.


"Egak papa Adhitama jangan khawatir."


"Egak papa bagaimana?? coba lihat darah yang keluar juga banyak dan luka goresnya juga lebar" teriak Adhitama.


Sejak kejadian ayah dan ibu Adhitama tewas di bunuh, membuat ia mengalami Trauma yang mendalam dan di vonis mengidap Post Traumatic Stress Disorder* . Selama bertahun-tahun ia harus di dampingi seorang Psikiater*.


"Ayo kerumah sakit sekalian merawat lukamu" ucap Adhitama dan langsung menggendong Daniar membawanya ke mobil.


"Adhitama aku egak papa.. Ini hanya luka kecil. Aku sering terluka seperti ini tapi tidak sampai terjadi hal-hal yang fatal."


Terlihat butiran keringat membasahi kening Adhitama. Raut wajahnya berubah seketika menjadi pucat melihat Daniar terluka dan mengeluarkan darah.


Adhitama tidak merespon semua ucapan Daniar. Ia hanya fokus menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi, menerobos keramaian kota.


Sesampainya tiba di Rumah Sakit, Adhitama kembali menggendong Daniar dari mobilnya. Membawanya masuk ke ruang pengobatan.


"Dony urus luka di kaki Daniar, aku pergi melihat ayah Daniar dulu."


"Baiklah kamu tenang saja Adhitama. Ini hanya luka kecil. Tenang ya" ucapan Dony berusah menenangkan Adhitama.


Adhitama bergegas menuju kamar Edy Sunardi, ayah dari wanita yang ia cintai. Sepanjang lorong rumah sakit ia menutup hidungnya dengan sapu tangan yang ia ambil dari saku jasnya. Adhitama merasa tidak nyaman dengan bau-bau obat dan keberadaan peralatan medis. Entahlah ia sangat membenci Rumah Sakit.


Sesampai di kamar Edy, terlihat ia terbaring lemah tak berdaya, dengan di bantu alat monitor Hemodinamik untuk mengetahui gelombang denyut jantung.


Adhitama berjalan mendekat ke arahnya, dan duduk di sebelah tempat tidur Edy. Edy yang menyadari kehadiran seseorang di sampingnya, perlahan membuka pejaman matanya. Dengan nada lirih melemah ia berkata "Tuan Adhitama."


"Iya aku di sini. Jangan khawatir putrimu semua baik-baik saja. Aku berjanji akan menjaga mereka semua. Mereka pasti aman bersamaku."


Edy hanya menganggukan kepalanya, sesekali mengedipkan matanya menandakan ia lega dan tenang mendengar semua ucapan Adhitama.


"Jaga kesehatanmu, sebentar lagi putrimu akan menikah denganku menjadi Nyonya Tama."


Air mata sang ayah menetes. Air mata bahagia mendengar putrinya akan menikah dengan orang yang tepat. Ia sadar, mengusir Daniar dari rumah adalah kesalahan terbesar yang pernah ia lakukan. Ia sengaja tidak menghubungi Daniar selama ini karena tahu Daniar berada di tempat yang lebih aman, bersama Tuan Adhitama. Selama hidupnya, ia akan terus menyalahkan dirinya sendiri. Sudah menjadi ayah yang tidak baik bagi ke 2 putrinya.


Dengan suara lirih ia mengucapkan "Terimakasih" kepada Adhitama.


"Baiklah aku akan kembali ke kantor. Anak buahku ada di luar kamarmu. Jadi anda tak perlu khawatir."


********


Daniar datang, berjalan menuju ke kamar ayah dengan rasa takutnya. Ia tahu ayahnya itu sebenarnya adalah sosok ayah yang baik dan bertanggung jawab. Sosok ayah yang hangat dan penyayang terhadap anaknya. Tak pernah terbesit sedikitpun rasa benci di hatinya, karena perlakuan sang ayah kepadanya.


Langkah kaki itu akhirnya tiba, berdiri di depan tempat tidur sang ayah. Genangan air mata sudah tak sanggup ia tahan. Melihat kondisi ayahnya yang terbaring lemah dan tubuh yang terlihat nampak sangat kurus.


"Ayah,,,, ayah" berulang kali ia mengucapkan kata ayah sembari bercucuran air mata.


"Daniar anakku" ucap ayah lirih namun jelas terdengar.


Daniar menggegam tangan ayahnya dan menciuminya. Daniar merasa gagal menjadi seorang anak yang berbakti. Hatinya sangat sedih melihat ayahnya seperti ini.


"Ayah maafkan aku, belum bisa membahagiakan ayah selama ini. Ayah jangan menjawab ucapanku. Aku tahu ayah juga merindukan aku dan Nisa. Kami baik-baik saja ayah. Semua berkat kebaikan Adhitama. Ayah harus segera sembuh dan suatu saat melihat aku menikah dengan orang yang aku sayangi. Berjanjilah ayah, tidak akan pernah meninggalkan aku dan Nisa."


Air mata mereka tumpah ruah seketika. Kesedihan antara anak dan seorang ayah. Kasih orang tua sepanjang masa.


Bersambung***