
Terhitung 7 hari dari sekarang pernikahan akan di langsungkan. Setelah ayah nya menandatangani surat perjanjian dengan tuan Hendra, Daniar merasa hidupnya sepenuhnya sudah tidak ada harapan kebahagiaan lagi.Hari-hari ia habiskan waktu nya mengurung diri di kamar. Meratapi nasib malang yang menimpa dirinya. Belum lama setelah ibu nya pergi untuk selamanya, kesedihan berikutnya datang kembali merundung hatinya.
"Kakak apa aku boleh masuk" Tanya Nisa adik Daniar.
"Masuklah" balas Daniar dari dalam.
"Kak makanlah terlebih dahulu, aku kawatir akan keadaan kakak" Ucap Nisa sambil menyodorkan makanan.
Tanpa sepotong kata Daniar tidak menjawab bujukan adiknya itu. Ia hanya mengerutkan kening sambil menggigit bibir menandakan keadaan hatinya yang lagi kacau.
Melihat keadaan kakaknya Nisa pun sangat bersedih hati. Kesedihan yang datang terus menerus membuat keadaan kakaknya seperti ini. Tak terasa air mata membasahi pipinya.Sontak Nisa memeluk si kakak dan menguatkan perasaanya.
"Nisa jangan khawatirkan kakak, kakak egak apa-apa, semua akan baik-baik saja".
"Kak semua ini karena ayah, kalau ayah tidak mempunyai hutang kakak juga egak akan memikul ini semua".
"Sudahlah Nisa terima saja semuanya mungkin ini sudah jadi suratan takdir untuk kakak".
Tangis mereka berdua pun pecah tak terkendali. Kelak jika Daniar sudah menikah ia tidak bisa lagi menemani adiknya. Sudah pasti tuan Hendra akan mengajaknya tinggal di rumahnya. Tak bisa terbayangkan kelak daniar tinggal satu atap berdampingan dengan istri tuan Hendra.
"Daniar sini keluar tuan Hendra sedang mencarimu" teriak sang ayah.
Tuan Hendra yang sedari tadi sudah menunggu sambil mengobrol membicarakan hal pernikahan dengan ayah Daniar.
"Sebentar lagi saya akan menikah dengan putrimu, ini saya ada sedikit uang untukmu,mohon di terima" ucap tuan Hendra sambil menyodorkan segepok uang.
"Waaahh apa ini tuan, mengapa kamu mengasih uang ini kepadaku?"
"Tak masalah anggap saja itu uang terimakasih karena telah merelakan putrimu menjadi istriku" jawab tuan Hendra sambil tertawa kecil.
Hati sang ayah sudah di butakan oleh materi.Tanpa memikirkan kesengsaraan putrinya sendiri. Ia berbahagia di atas penderitaan anaknya. Rasa haus uang pun muncul, rasa rakus pun merasuki.
Daniar keluar dari kamar menghampiri tuan Hendra yang sudah sejak tadi menunggu.
"Sini gadis kecil duduk di sebelahku" sambil menepuk-nepuk kursi
Ekspresi wajah daniar menjadi kosong, ia masih berfikir apakah ini semua hanya mimpi.
"Daniar kamu dengar apa yang ayah ucapkan" tegas sang ayah.
spontan Daniar langsung melengkungkan mulut nya membentuk senyuman.
"*A*pakah aku seperti boneka* bagi ayah, yang harus menuruti semua keinginanya*" batin Daniar sedih.
Daniar menahan sekuat kuatnya agar ia tak meneteskan air mata. Tanganya mengepal kuat bertopang di atas pangkuanya.
"Ini mas Hendra ada hadiah kecil buat kamu" sambil mengeluarkan kotak merah dan di sodorkan kepada Daniar.
"Maaf saya belum pantas menerimanya" sahut Daniar.
"Daniar terima itu, calon suami memberi tanda kasih sayang kok di tolak begitu saja.Ayo terima jangan bikin tuan Hendra kecewa" pekik sang ayah.
"Iya betul apa yang di ucapkan ayahmu, aku akan sedih kalau kamu menolak pemberianku. Ayo terima dan bukalah aku yakin kamu akan senang"
Daniar akhirnya menerima pemberian tuan Hendra atas paksaan ayahnya. Sungguh Daniar tak menyangka ayahnya sangat-sangat berubah di butakan oleh materi. Jika Daniar bisa pergi menghindari pernikahan ini pasti sudah ia lakukan sejak dulu. Tapi Daniar pun tak tau akan pergi kemana lagi dan hanya bisa menerima semua ini.
"Terimakasih banyak tuan Hendra atas hadiahnya."
"Sini aku bantu pakaikan kalung itu di lehermu. Pasti kamu keliatan sangat cantik kalau memakai satu set perhiasan yang aku berikan ini."
Perlahan sedikit demi sedikit Daniar ibarat di dorong paksa masuk kedalam lubang neraka.Mungkin ini baru langkah awal penderitaanya akan dimulai.
"Nahh cantik sekali calon pengantinku, ini yang di namakan nyonya Hendra Widjaya.kalau begitu saya pamit pulang dulu, tentang pernikahan biar semua saya yang urus. Kamu cukup mempersiapkan dirimu bersanding denganku nanti" Ucap tuan Hendra.
Daniar bergegas lari ke kamar. Air mata yang sejak tadi ia tahan-tahan pecah seketika membasahi pipinya. Tak ada yang bisa ia lakukan. Hanya berdiam diri menunggu hari pernikahan itu tiba.
Bersambung****