
Empat hari menyandang status nyonya Widjaya. Mengikuti dan menuruti semua perintah dan kemauan tuan Hendra. Tiba saatnya Daniar pulang ke rumah keluarga Widjaya. Rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman justru sebaliknya menjadi neraka tempat penyiksaan bagi Daniar. Wajah lesu menghiasi raut wajah Daniar setelah keluar dari pintu hotel tersebut.
"Mari non saya bantu memasukan tas nya" ucap pak sopir sambil meraih tas bawaan Daniar.
"Terimakasih banyak pak" Sahut Daniar .
Tuan Hendra sudah menunggu Daniar di dalam mobil. Daniar pun masuk ke mobil,memantapkan hatinya menjalani kehidupan yang baru.
"Bersiaplah sebentar lagi kita akan sampai di rumah. Akan aku kenalkan kamu kepada istri pertama dan kedua" tutur tuan Hendra sambil mengelus rambut panjang Daniar.
"Baik tuan" jawab Daniar lirih.
Mobil yang ia tumpangi perlahan berhenti.Belum sampai menuruni mobil, Daniar sudah di jemput oleh Asisten rumah tangga keluarga Widjaya.
"Mari silahkan masuk saya bantu nyonya sampai ke kamar."
"Terimakasih bik, tidak perlu sampai begini. Saya bisa sendiri."
Nurul dan Lina menghampiri, memandang Daniar dari ujung kaki ke ujung kepala. Daniar pun kebingungan dengan ekspresi ke dua istri tuan Hendra. Mereka memandang daniar seperti melihat hal yang menjijikan.
"Mas kamu sudah pulang. Sudah selesai ya waktu bersenang-senangnya??" ejek Lina istri ke dua.
"Apa nya yang bersenang-senang saya belum melakukan apapun kepadanya. Ohh iya kalian perkenalkan ini Daniar, Daniar kenalkan ini Nurul istri pertama dan ini Lina istri ke dua" tutur tuan Hendra sambil menunjuk ke arah ke dua istrinya.
Daniar menganggukan kepala nya tanpa berkata apapun.
"Iya sudah saya mau istirahat dulu, nanti sore saya akan pergi ke luar kota. Ada urusan yang harus segera di urus" tutur tuan Hendra.
Setelah sesaat tuan Hendra pergi.
"Ciiihhhhh wanita kampungan jangan harap kamu bisa menjadi nyonya besar di keluarga Widjaya. Walau statusmu adalah istri mas Hendra tapi kamu tidak berhak berkuasa disini" Teriak Lina.
"Saya tidak ada niat berkuasa di sini. Saya melakukan pernikahan ini bukan atas kemauan sendiri" Tegas Daniar.
"Cuihhhh jangan sok suci jaman sekarang semua wanita itu membutuhkan harta yang banyak. Tidak mungkin kalau kamu tidak mempunyai niatan terselubung" Kata Lina.
"Apakah sudah selesai anda menghina saya?? kalau begitu saya permisi dulu mau ke kamar" jawab Daniar sengit.
"Dasar wanita ******, berani nya menjawabku.Lihat nanti apakah kamu akan betah menginjakan kaki di rumah ini" teriak Lina mengancam.
Seketika Daniar bergegas pergi ke kamar, ia merasa malas harus meladeni istri tuan Hendra. Memasuki kamar kakinya pun terasa lunglai lemas. Berjalan sempoyongan, merebahkan badan nya di atas rajang tidur.Pandanganya menuju ke langit-langit kamar tidurnya. Air mata menggenang menetes tak terhenti. Ia teringat sosok mendiang ibunya.
"Andai ibu masih ada pasti akan sedih melihat nasibku seperti ini. Ibu air mataku tak dapat aku tahan lagi, hatiku hancur berkeping keping.Ibu aku merindukanmu" batin Daniar sedih.
"Nyonya tuan Hendra menunggu anda di bawah".
"Iya saya akan turun".
Daniar menyeka mata nya yang bekak dengan es. Ia tak ingin menunjukan bahwa ia selesai menangis pada saat itu.
"Kenapa lama sekali, saya mengumpulkan kalian ber tiga disini karena saya akan berangkat keluar kota dalam waktu yang lama. Kalian berhati-hatilah dirumah" Kata tuan Hendra.
"Tak perlu khawatir mas Hendra, kami akan baik-baik saja" jawab Nurul.
Setelah tuan Hendra pergi meninggalkan rumah, Lina merasa senang karena ia bisa leluasa menyiksa Daniar.
Tuan Hendra pun pergi meninggalkan rumah dan entah kapan akan kembali lagi.
"Siapkan makanan untuk kami sekarang juga" teriak Lina sambil melototi Daniar.
Sambil mengepalkan tangan, "baiklah" Ucap Daniar.
Daniar pergi ke dapur untuk memasak hidangan yang di perintahkan oleh Lina. Nurul istri pertama lebih terkesan acuh, tidak mau mengurusi mereka berdua dan selalu mengabaikan Daniar. Hanya Lina yang memperlakukan Daniar dengan begitu kejam bagai pembantu dirumah itu.
Hidangan tertata rapi di meja makan. Aroma yang sedap menyelimuti ruang makan. Daniar cukup jago memasak karena ia sering mengikuti ibu nya memasak di saat beliau masih ada.
Lina dan Nurul tiba, bersiap-siap menyantap hidangan yang di suguhkan. Tiba-tiba....
"Uhukkk uhukk makanan ini sangat asin dan pedas. Apa kamu mau membunuhku" Tegas lina.
"Tidak. Aku memasak semuanya dengan benar, tidak ada yang aku lebihkan ataupun aku kurangi sedikitpun dari bahan-bahan yang di gunakan" Jawab Daniar.
Tanpa pikir panjang Lina berdiri dari tempat duduk nya. Ia mengambil piring sajian masakan yang di hidangkan dan menyiramkan semua masakan di atas rambut daniar.
"Ja jangan arghhhhh" Daniar kaget dan menjerit.
"Kamu sudah sangat keterlaluan. Kamu sangat tidak punya rasa belas kasihan."
Daniar pergi meninggalkan ruang makan tersebut, Air mata nya lagi-lagi menetes. Ia merasa sangat terpuruk dengan perlakuan kasar dari Lina. Ia tak pernah menyangka jika di perlakukan serendah ini di hari pertama ia memasuki kediaman tempat tinggal keluarga Widjaya.
Di bawah kucuran air Daniar menangis sesenggukan sambil perlahan membersihkan diri. Apa yang terjadi hari ini sulit untuk bisa ia terima.
"Semua ini karena ayah. Kalau ayah tidak berhutang begitu banyak, sampai saat ini hal buruk ini tak akan pernah terjadi."
Bersambung*****