
Sesampainya daniar di kantor adhitama, ia menatap gedung yang menjulang tinggi di depanya. Perlahan masuk ke dalam menuju ruang resepsionis.
"Permisi saya ingin mencari tuan adhitama".
"Maaf nona tuan adhitama sedang sibuk tidak bisa menerima tamu".
"Tapi saya sudah ada janji dengan dia sebelumnya".
"Maaf tuan adhitama jarang menerima tamu selain orang penting".
"Ciiihh wanita ini berani sekali mau bertemu dengan tuan adhitama, memang siapa dia. Tuan adhitama tidak menerima tamu wanita apalagi wanita sok cantik seperti itu" gumam para wanita resepsionis mengejek daniar.
"Tuuut tuuutt" suara Hp daniar menelpon adhitama.
"Hallo adhitama, maaf aku mengganggumu. Aku sudah di bawah di resepsionis kantormu. Tapi para wanita itu bilang kamu sedang sibuk tidak bisa menerima tamu!!! ".
"Maaf daniar, tunggulah sebentar aku sendiri yang akan menjemputmu di bawah".
"Maaf merepotkanmu adhitama".
Adhitama turun ke bawah menjemput daniar.
Sesaat setelah telfon panggilan terputus.
"Tiiinggg" suara pintu lift terbuka".
"Daniar maaf kamu harus menunggu lama di sini".
"Tidak apa-apa adhitama" jawab daniar sambil tersenyum manis.
"Benar-benar wanita ini sangat cantik, tatapan lembutnya membuatku sangat terpana" gumam adhitama dan menatap daniar tanpa mengedipkan matanya.
"Haiii adhitama.. permisi adhitama .. Apa yang kamu liat" sapa daniar sambil mengayunkan tanganya ke pandangan adhitama yang bengong.
"Ohh iya maaf aku sedikit kurang fokus hehehe".
Daniar pun tertawa kecil melihat tingkah aneh dari adhitama. Tak di sangka lelaki yang di kenal kejam itu juga mempunyai sisi lucu seperti ini.
"Kalian berani sekali berbicara begitu terhadap tamuku, kalian keluar dari kantor ini mulai besok tidak usah datang lagi ke kantor ini" tegas adhitama memarahi petugas jaga di resepsionis.
"Maafkan kami tuan adhitama. Kami tidak tahu kalau nona ini tamu penting anda. Sekali lagi maafkan kami tuan, mohon jangan pecat kami".
"Adhitama maaf kalau aku ikut campur, aku mohon jangan pecat mereka. Aku tidak apa-apa adhitama. Tidak perlu sampai memecat mereka ya" pinta daniar pada adhitama.
"Baiklah kalian masih bisa bekerja di sini karna nona ini yang memohon kepadaku. Lain kali lakukan tugas kalian dengan baik dan sopan".
"Terimakasih tuan adhitama, terimakasih nona".
"Tidak perlu berterimakasih kepadaku" ucap daniar sambil tersenyum.
Setelah itu daniar pergi ke ruangan adhitama. Lia tidak ikut masuk. Ia menunggu daniar di ruang tunggu tamu di bawah.
Daniar dan adhitama memasuki lift. Suasanapun menjadi hening dan sangat canggung.
"Apakah aku dulu yang harus mengajaknya berbicara agar suasananya tidak menjadi canggung seperti ini???" batin daniar dalam hati.
"Kenapa denganku, kenapa aku menjadi sangat deg-deg an seperti ini" ghumam adhitama dalam hati.
"Adhitama maaf merepotkanmu ya, kamu repot-repot menyusulku di bawah".
"Tidak itu tidak apa-apa. Jangan sungkan akan hal itu". Kita sudah sampai mari ikuti aku".
"Baik daniar silahkan duduk, Ohh iya perkenalkan ini sekertarisku namanya luna".
"Hallo luna, salam kenal".
Luna sama sekali tidak menjawab sapaan hangat dari daniar. Dari cara perlakuan luna dan tatapan mata sengitnya memberitahu daniar bahwa luna tidak menyukainya.
"Apa aku salah, kenapa ia sepertinya membenciku" ghumam daniar lirih.
"Baiklah daniar langsung saja, aku memintamu untuk bekerja di sini, apakah kamu mau bekerja bergabung bersama kami ?". Perusahaan ini berjalan di bidang perhotelan dan sudah menyebar di beberapa wilayah dan beberapa titik negara besar".
"Aku sangat mau adhitama. Apapun itu aku akan berjuang keras untuk bekerja dengan hasil yang optimal" jawab daniar optimis.
"Baik kamu akan mengisi posisi sama seperti luna. Menjadi sekertaris ke dua di sini dan khusus perjalanan urusan kantor keluar negri kamulah yang akan menemaniku. Luna akan mengurus kantor saat kamu bersamaku".
"Adhitama aku keberatan, bagaimana bisa ia orang baru langsung menduduki posisi seperti itu, bahkan dia belum mempunyai pengalaman yang cukup sepertiku. Ucap luna dengan nada tinggi.
"Tak masalah, aku yakin ia bisa belajar dengan cepat. Aku juga akan pelan-pelan membantunya" jawab adhitama tegas.
"Betul adhitama apa yang di katakan luna. Aku masih belum banyak pengalaman. Tapi aku berjanji akan selalu berusaha meberikan yang terbaik".
"Baik luna serahkan kontrak kerja itu pada daniar, biarkan ia membaca semua persyaratan tersebut".
Luna menyodorkan sejumlah kertas berisi kontrak persyaratan kerja. Daniar perlahan dan teliti membaca dari awal hingga akhir.
"Maaf adhitama ada beberapa point di sini yang tidak aku mengerti dan ini menurutku bukan tentang perihal di kerjaan".
"Sebutkan point mana yang kamu maksud itu".
"Mengenai aku harus mengikuti semua perintahmu di kantor maupun di luar kantor. Dan mengenai tempat tinggal mengapa aku harus tinggal di rumahmu. Ini jelas-jelas berpaling jauh dari hal pekerjaan" jawab daniar sambil menundukan kepalanya.
"Yang jelas itu syarat utama yang harus kamu setujui..Ingat daniar kamu berhutang uang dan berhutang budi kepadaku. Jadi kamu harus mengikuti dan menandatangani kontrak itu sekarang juga".
Entah apakah ini semua sudah di atur dari awal oleh adhitama. Yang jelas aku tidak bisa berkutik selain menerima keterangan isi kontrak ini.
"Baiklah aku setuju, tapi aku memiliki adik dan dia harus ikut bersamaku".
"Tidak masalah di rumahku ada banyak kamar, kamu bisa membawanya bersamamu".
Setelah aku menandatangani kontrak kerjaku, aku harap kedepan hidupku menjadi lebih baik lagi. Yang terpenting hutangku padanya bisa segera lunas terlebih dahulu. Adhitama menawarkan gaji yang cukup fantastik. Aku bisa menabung lebih banyak uang dan membiayai kehidupan nisa. Tentunya aku juga akan memberi ayah uang setiap bulanya. Bagaimanapun ayah memperlakukanku, tapi aku tetap harus berbakti kepadanya.
"Baiklah adhitama aku pamit pulang dulu. Besok aku akan datang tepat waktu memulai bekerja di sini".
"Baik daniar, hari ini juga kamu bisa pindah ke rumahku. Semua sudah aku urus".
"Bukankah ini terlalu mendadak !!!, aku belum bersiap-siap mengemasi barang-barangku dan belum memberitahu adiku akan hal ini".
" Tenanglah, anak buahku sudah berada di rumah lia sahabatmu, saat ini sudah mengemasi semua barang-barangmu. Jadi sepulang dari sini kamu bisa langsung tinggal di tempatku".
"Aaaapppaaa!!!!! ,,, kenapa jadi sepertii itu. Dasar orang kaya melakukan hall yang ia kehendaki sesuka hati" gemuruh daniar lirih.
"Ingat tidak ada kata tidak daniar. Karena kontrak sudah kamu tanda tangani" . Adhitama berkata sambil tersenyum kecil.
"Baiklah aku menurut saja".
"Tenangkan hatimu daniar.. Ini semua di jalani juga demi kebaikanmu. Kamu harus menerimanya" batin daniar.
Bagaimana aku memulai menjelaskan ini semua kepada lia dan nisa. Semoga mereka bisa menerima semua keputusanku ini.
Bersambung****.