
Mengandung unsur 18+
Selamat membaca
Sepasang pengantin baru sedang berjalan bergandeng tangan di pinggir pantai. Terangnya sinar rembulan dengan kemerlip bintang di langit menambah kehangatan suasana malam ini. Di tambah dengan suara alunan desiran ombak pantai yang tenang. Daniar Larasati, gadis lembut penuh ambisi itu kini resmi berstatus istri untuk kedua kalinya.
Daniar terperangah, saat melihat kejutan yang di berikan Adhitama kepadannya. Sebuah rumah mewah berdiri menghadap ke arah pantai.
"Wooww,, bagus sekali rumahnya, sayang." ungkap Daniar. Matannya nampak berbinar saat Adhitama melepas sehelai kain merah penutup matanya.
"Apa kamu suka," tanya Adhitama.
"Suka banget sayang. Tunggu! ini rumah siapa sayang," Daniar nampak belum mengerti.
"Ini rumah untukmu, sayang. Sudah lama aku persiapkan untuk kita setelah menikah. Dan, semua desain rumah ini hasil dari karyaku sendiri,"
Daniar kontan terkaget, menutup mulutnya yang ternganga dengan tangan. Tak menyangka dengan pemberian Adhitama yang sama sekali tak terpikirkan olehnya. Rasa bahagia tak dapat lagi ia utarakan dengan kata-kata.
Adhitama meletakkan kedua tangannya di atas bahu istrinya "Sayang,, aku akan selalu membuatmu bahagia sampai akhir nafasku," ucapnya lalu mengecup lembut kening Daniar.
Daniar memeluk erat tubuh suaminya. Air mata bahagia lagi-lagi menganak sungai.
"Jangan menangis sayang. Seterusnya kau tak akan kuijinkan meneteskan air mata," bisik Adhitama dengan lembut.
Adhitama membopong tubuh istrinya masuk ke dalam rumah. Beberapa pelayan menyambut kedatangan sepasang pengantin baru yang tidak lain ialah nona dan tuan majikan mereka.
"Selamat datang tuan dan nyonya," ucap mereka serentak seraya membungkuk setengah badan.
Adhitama nampak diam tanpa menjawab sambutan dari mereka.
"Terimakasih atas sambutannya. Kalian lekas istirahat ya. Hari sudah sangat larut malam," ucap Daniar lalu menunjukan senyum lembutnya.
"Baik nyonya. Terimakasih,"
Adhitama membawa Daniar menuju kamar utama. Ranjang tidur yang besar berwarna putih dengan taburan bunga mawar merah di atasnya. Bisa di bilang ini ranjang pengantin untuk mereka.
Brukk
Adhitama melempar tubuh mereka bersamaan jatuh di atas ranjang pengantin. Nafasnya mulai terengah bercampur panas di sekujur tubuhnya.
Kamar utama mereka juga di desain khusus oleh Adhitama. Di depan ranjang tidur terdapat pintu kaca transparan membentang. Bertujuan, agar dapat langsung melihat pemandangan laut dari dalam.
Suasana berubah hening. Hanya terdengar suara nafas Adhitama yang sedikit memburu. Mereka terdiam mematung di atas kasur beralas sprei putih.
"Arghh! Sungguh, ia sangat menggoda malam ini. Memandangnya saja sudah membuat nafsuku memuncak," batin Adhitama.
"Ya tuhan,, ini bukan yang pertama kali untuk kami. Namun, bagaimana cara memulainya. Tapi aku harus memberikan yang terbaik untuk Adhitama. Aku tak ingin mengecewakannya," pikir Daniar dalam batinnya.
Tangan gadis lembut itu bergerak spontan, meraba bahu kekar suaminya terus bergeser turun ke dada. Memberi sinyal bahwa ia siap memberi tubuhnya serta kepuasan.
Degg
Adhitama tercengang. Merasakan sentuhan lembut yang mendarat di tubuhnya. Ia menatap lekat sepasang mata yang kini seolah menggodannya. "Sayang, kamu yakin malam ini siap," tanyanya lembut penuh arti.
Daniar mengangguk "Yakin," jawabnya lalu mengukir senyuman manis nan manja.
Muachhh,, Adhitama mengecup bibir mungil itu, lalu hanyut dalam lumatan bibir yang saling menyerang.
Ia bergerak lagi, melepas lumatan sapuan lidahnya berpindah menempel di leher putih istrinya. Mengecup gemas membentuk bundaran merah di sekujur tubuh moleknya.
Tangan kanan pria itu menjalar, meraba semakin ke bawah. Di dapatinya gundukan pertama dan ia pun menguasainya. Meremas perlahan penuh pasti. Matanya melirik raut wajah istrinya yang nampak sangat menikmati setiap pergerakannya.
Daniar menggerakan kedua tangannya, jarinya bergerak melepas jas dan kemeja pria yang pasrah akan perlakuannya.
Putih, mulus, sexy
Kini tubuh Adhitama terasa sangat memanas. Nafsunya memburu. Siap menerkam kelinci mungil yang sedang tergeletak pasrah di depannya.
Arghh!!
Daniar menggeliat manja saat organ vital itu memaksa mendorongnya masuk ke dalam. Mereka sama-sama menikmati malam pertama di status mereka sebagai sepasang suami isteri.
Huffttt,,,, Huffttt**
Nafas memburu di akhir adegan panas malam ini. Desahan nafas menyimpulkan banyak arti.
"Sayang, makasih ya," ucap Adhitama sembari mengelus rambut Daniar yang sedang tertidur di pelukannya.
"Sudah jadi kewajiban seorang isteri melayani suaminya," bisik Daniar hangat di telinga Adhitama.
Selimut putih menutupi tubuh tanpa busana. Malam indah penuh gairah yang tak akan terlupakan seumur hidup.
*********
"Apa!!! Jangan bercanda ya kamu Farel," teriak Luna tersentak. Mendengar Farel mengatakan Daniar kini menjadi isteri sah Adhitama.
"Aku serius. Aku sendiri yang menjadi saksi mereka menikah," kata Farel meyakinkan.
Brakkk
Luna melempar ponselnya. Tangannya mengepal, giginya mengerat kuat-kuat menahan diri.
Kecewa, kesal, sakit hati, semua bercampur menjadi satu. Ia tak mengira, jika Daniar masih hidup dan merusak segala keinginanya. Setiap hari ia selalu berharap agar Adhitama dapat menerima cinta tulus darinya. Namun jodoh memihak pada Daniar, gadis biasa yang menjijikan bagi Luna.
"Aku nggak akan kehabisan cara untuk memisahkan kalian. Walaupun untuk saat ini kamu menang, Daniar," batinnya penuh pemikiran licik.
*******
Sinar mentari menyinari, menerobos masuk membangunkan Daniar.
"Morning baby," sapaan lembut dari Adhitama di pagi hari.
Adhitama sengaja bangun lebih awal. Menyiapkan sendiri sarapan pagi untuk istri tercinta. Ia sudah berjanji akan selalu memberikan hal bahagia untuknya.
"Morning kesayanganku. Loh,, sayang sudah pakai baju. Sayang bangun duluan ya. Astaga ini jam berapa. Aku harus buatin sarapan kamu dulu." Daniar segera beranjak dari ranjang pengantinnya, menarik selimut putih menutupi tubuhnya yang penuh bekas kecupan. Namun, langkahnya terhenti oleh tarikan tangan suaminya. Tak mengizinkannya beranjak dari kasur.
"Sayang, jangan kemana-mana dulu. Aku masih kangen," rayuan manja dari Adhitama.
"Terus!" Daniar melirik menatap tenang.
Adhitama mengalungkan kedua tangannya di pinggang Daniar "Aku mau lagi, sayang," ucapnya seraya bergerak cepat merebahkan tubuh yang baru saja tersadar dari tidur.
Daniar mengiyakan menuruti permintaan suaminya. Selimut tanpa dosa itu menjadi saksi membaranya cinta di kala nafsu sedang berada di puncak.
BERSAMBUNG **
Mohon like, komen, dan votenya ya kakak.
Aku akan selalu update cerita novel ini untuk memuaskan kalian para pembaca.
Jadi, mohon sekali dukungannya ya kakak.
Semua langkah di atas sangat mendukung author kedepannya.
Terimakasih **