
"Daniar kembalilah istirahat biar aku yang menjaga Adhitama di sini." Perintah Farel terhadap Daniar.
"Tidak Farel, aku akan menjaga Adhitama di sini. Kamu pergilah beristirahat. Jangan mengkhawatirkan aku." Jawab Daniar.
"Baiklah jaga juga kesehatanmu ya."
"Baik aku tidak apa-apa."
Daniar sangat khawatir dengan keadaan Adhitama. "Kenapa kehidupanmu mengerikan sekali Adhitama" ghumam Daniar lirih.
"Kenapa??? apa kamu khawatir padaku??" Jawab Adhitama sambil perlahan membuka matanya.
Adhitama sebenarnya hanya berpura-pura tertidur. Ia mendengar semua gemuruh perkataan dari Daniar kepadanya.
"Looh bukannya kamu tadi sedang tidur !!!"
"Aku sudah sejak tadi bangun tapi aku tetap memejamkan mataku supaya kamu tetap berada di sini menjagaku."
"Kamu terlalu Adhitama. ini tidak lucu. Aku merasa khawatir akan keadaanmu tapi kamu malah seperti itu."
"Sudahlah aku minta maaf. Mulai hari ini kamu liburlah bekerja selama aku masih menjalani masa pemulihan. Tugasmu sekarang merawat aku sampai sembuh!!!"
"Appppaaa??? bagaimana bisa seperti itu."
"Kenapa tidak bisa. Aku bosnya jadi aku yang menentukan. Ingat Daniar kamu sudah menandatangani Kontrak perjanjian kerja. Di situ di jelaskan kamu akan mematuhi semua perintahku baik di kantor maupun di luar kantor. Tentu kamu masih mengingat isi Poin penting ini bukan??? "
"Dasar orang kaya. Mereka selalu suka menindas orang yang lemah, selalu suka bertindak seenak hati. Baiklah kalau itu maumu Adhitama. Tunggu pembalasanku. Hahahaaa." Ucap Daniar lirih menggerutu dalam hati.
"Iya...iya aku mengingatnya. Bahkan semua isi kontrak aku mengingatnya dengan jelas. Tenang saja aku akan merawatmu" Ucap daniar sambil tertawa kecil.
"Bagus. Kalau begitu aku mau kamu menyuapiku Sup Ayam yang sudah di sediakan oleh bibik Eryati itu" Kata Adhitama sambil menunjuk Sup yang tersedia di atas meja kamar.
"Bukankah kamu bisa makan sendiri?? tanganmu yang terluka yang sebelah kiri jadi aku rasa kamu bisa melakukan hal itu sendiri tanpa bantuanku"Jawab Daniar terbata-bata karena gugup.
"Cepatlah Daniar, sungguh kamu sangat tega membiarkan orang sedang sakit makan
sendiri !!!. Ingat kontrak kerja antara kita." Ejek Adhitama.
"Arghhhhh baiklah." Ghumam Daniar.
Daniar pergi mengambil Sup ayam di atas meja dan kembali menghampiri Adhitama.
"Cepat buka mulutmu, makan yang banyak agar lekas sembuh dan tidak menyusahkanku."
"Kalau dengan aku sakit bisa membuatmu berada dekat denganku, aku tak merasa keberatan jika harus sakit terus" Tutur Adhitama merayu.
"Arghhh kenapa lelaki ini harus berbicara seperti itu. Bikin orang salah tingkah dengarnya. Bikin aku jadi tak sampai hati kalau mau mengerjai dia. Dasar Adhitama kamu selalu bisa membuatku tersentuh" Ucap Daniar dalam hati.
"Dasar bodoh. Cepatlah sembuh dan jangan berkata seperti itu lagi. Sakit itu egak enak tau.Harus meminum obat dan harus merasakan di suntik jarum. Ahhh pokoknya sungguh gak enak. Ayo cepat buka lagi mulutmu dan habiskan segera Sup nya" pinta Daniar.
"Daniar terimakasih ya." Ucap Adhitama sambil menatap wajahnya.
Daniar membalas ucapan Adhitama dengan senyum manisnya. "Baiklah sudah selesai makan dan sekarang minumlah obat terlebih dahulu." Ucapnya seraya berdiri dari tempat duduknya. Saat akan melangkahkan kakinya, saat ingin mengambilkan obat, tiba-tiba...
"Bruukk"....
"Arggghhh. Maafkan aku Adhitama. Katakan bagian mana yang sakit. Apakah ini sakit?" tanya Daniar panik berusaha bangun dari atas tubuh Adhitama sambil memegang bahu Adhitama yang terluka.
Tanpa basa basi Adhitama justru menarik lagi tangan Daniar. Menariknya agar terjatuh lagi di dalam pelukanya. Ia menatap Daniar penuh dengan kehangatan, merasakan hembusan nafas Daniar yang sedang terengah engah karena gugup. Perlahan ia memejamkan matanya dan mendaratkan ciuman tepat di bibir Daniar.
"Kenapa di cium oleh Adhitama bibirku tidak menolak ciuman hangatnya. Kenapa mataku ikut terpejam dan merasakan rasa kenyamanan dan bahagia."
"Kleekkk" suara pintu di buka.
"Ahhhh maaf aku tidak sengaja mengganggu kalian. Lanjutkan saja aku akan keluar." Ujar dokter dony yang datang karena ingin memeriksa Adhitama.
Spontan dengan rasa malu yang menggunung Daniar mendorong tubuh Adhitama lalu meninggalkan ruangan tanpa mengucapkan satu kalimat apapun.
"Daniar kamu wanita yang sungguh menarik." Ucap Adhitama bahagia.
"Dokter Dony masuklah sekarang." Teriak Adhitama dari dalam ruangan.
"Adhitama maaf aku tidak bermaksud mengganggumu tadi bersamanya. Maafkan aku ya."
"Sudahlah cepat periksa bagaimana lukaku."
Dokter Dony perlahan membuka perban di bahu Adhitama. Memeriksa lukanya dengan teliti dan hati-hati.
"Lukamu tidak terlalu parah, asal jangan terkena air dulu ya selama seminggu ini." Pinta Dokter Dony.
"Iya baiklah aku mengerti."
"Baik kurasa cukup pemeriksaanya. Aku pamit pulang dulu."
Luka tembak yang di alami Adhitama tak sebanding sakitnya dengan luka yang dulu pernah ia alami. Kejadian beberapa tahun yang lalu saat ia masih berumur belia ia pernah tertembak saat markas ayah angkatnya di kepung oleh puluhan anggota Gangster dari kubu musuh. Saat itu Adhitama terkena tembakan di dadanya berdekatan dengan organ jantung. Tapi keberuntungan memihaknya setelah koma beberapa hari akhirnya Adhitama bangun tersadar lewat dari masa kritisnya dan perlahan sembuh.
Adhitama memiliki seorang ayah angkat bernama Louis Siregar. Adhitama di angkat anak oleh Louis saat ayah dan ibunya di bunuh oleh musuh. Saat itu Louis ialah teman dekat ayah Adhitama. Ayah Adhitama juga menjabat sebagai ketua Klan Devil pada masa itu.
Setelah kepergian Ayah dan Ibu Adhitama, Klan Devil yang di naungi Ayahnya berpindah pimpinan di bawah naungan Louis Siregar. Adhitama hidup tumbuh dan berkembang di dunia Gangster. Saat kecil ia sudah di kenalkan oleh Louis dengan beberapa macam senjata api. Jiwa darah membunuh musuh tanpa ampun dari ayahnya mengalir turun temurun pada diri Adhitama.
Saat Adhitama berumur 25 tahun ia membangun Klan Tiger bersama dengan Farel dan sampai sekarang kekuasaannya semakin menyebar di beberapa wilayah. Adhitama tidak pernah lagi pulang ke rumah Louis setelah ia sanggup membuktikan bahwa ia mampu berdiri sendiri tanpa bantuan ayah angkatnya itu.
Adhitama berhasil menjajaki pasar ekonomi dan Bisnis perhotelan dengan peringkat teratas serta juga mempunyai wilayah kekuasaan yang sudah menyebar luas. Sejak saat Ayah dan Ibunya tiada, Adhitama berjanji pada dirinya sendiri tidak akan membiarkan orang yang ia cintai di sakiti orang lain. Ia juga tidak akan membiarkan hal menyakitkan itu terulang kembali dalam perjalanan hidupnya.
"Tuuuut..tutttt.." suara Hp Adhitama menelpon Daniar.
"Hallo"
"Hallo Daniar lekas kemari bantu aku mencuci rambutku."
"Apppaa.. Tapiiii."
"Tidak ada tapi-tapi. Bukankah kamu tahu lukaku tak boleh terkena air dulu. Kalau terjadi sesuatu apakah kamu mau bertanggung jawab????" Ujar Adhitama seraya memotong ucapan Daniar.
"Hmmmm iya aku mengerti. Aku segera kesana." Jawab Daniar kesal.
"Arghhhh Adhitama sampai kapan kamu akan terus menghantuikuuuuuuu. Aku sungguh tak tahan lagiiiiiii. Kamu terus membuatku jadi bingung mengartikan perasaanku terhadap semua tingkahmu."
Bersambung *****