Daniar Larasati

Daniar Larasati
TAMAN BERMAIN



"Tringgggg.... tringggg" suara Alarm berbunyi.


"Hoammmm..." ternyata sudah pagi, rasanya aku masih ingin kembali pergi tidur, masih sangat kangen sama ranjang tidurku yang empuk" desah Daniar.


Perlahan Daniar berjalan menuju jendela kamar, membuka gorden dan jendela "Hmmmm" sungguh sangat segar udara di pagi hari di kelilingi pepohonan yang rindang di sekitar halaman rumah Adhitama.


"Tookk tokk tokk" suara seseorang mengetuk pintu kamar Daniar.


"Siapa"


"Saya non bibik Eryati"


"Ohhh tunggu sebentar bik"


"Ceklek...Krekk" Daniar membuka pintu kamarnya.


"Non tuan Adhitama mengutusku


memanggilmu untuk sarapan Pagi bersama di bawah."


"Baiklah, bibik terimakasih. Aku akan segera turun setelah mandi."


"Baik non, kalau begitu saya permisi dulu."


Setelah bibik Eryati pergi, Daniar bergegas pergi mandi lalu bersiap turun ke bawah.


"Takkk..Takkk..Takkk" suara langkah kaki Daniar menuruni tangga.


"Kenapa lama sekali,dari tadi aku sudah menunggumu " ucap Adhitama kesal.


"Maaf tadi aku masih pergi mandi dulu" jawab daniar sambil memainkan jari tanganya.


"Lekas duduk dan habiskan sarapan pagimu."


"Baik."


Daniar makan dengan perlahan. Menikmati hidangan enak yang di masak oleh bibik Eryati. "Emmmmm, masakan bibik Eryati memang paling enak " ghumam Daniar.


"Dari kecil aku sudah di rawat oleh bibik Eryati. Dari dulu memang masakan yang di bikin olehnya selalu enak" jawab Adhitama.


"Selesai makan ikutlah denganku."


"Sepagi ini mau kemana??? Bukankah bahumu masih terluka??."


"Diam dan menurutlah saja ikut denganku."


"Kenapa jawabanya sangat ketus sekali, hufffttt" gerutu Daniar lirih.


Adhitama menyelesaikan sarapan paginya terlebih dahulu. Ia beranjak dari kursi tempat duduknya dan pergi ke ruang baca.


"Tuuutttt...Tuttttttt" suara sambungan telpon Hp Adhitama.


"Hallo Bos"


"Farel apa semua hal yang aku perintahkan sudah kamu bereskan???"


"Tenang Bos semua sudah beres, sudah aku atur dengan baik agar Bos hari ini bisa bersenang-senang dengan gadis itu."


"Ok, Terimakasih banyak Farel. Kamu memang tepat untuk di andalkan. Bulan depan gajimu aku naikan."


"Waaahhh Serius Bos.. Asiiiikkk terimakasih Bos. Bos memang yang terbaik."


Adhitama kembali berjalan ke ruang makan.


"Daniar ayo ikut denganku keluar."


"Ok".


"Permisi Tuan, hari ini anda ingin memakai mobil yang mana??" tanya Pak Dedi pegawai sopir di rumah Adhitama.


"Pakai yang warna merah saja, sebentar lagi kita akan berangkat."


"Baik Tuan."


Adhitama bergegas keluar rumah bersama Daniar menuju mobil. Tanpa bertanya tujuan, Pak Dedi sudah mengetahui tujuan tempat yang akan di tuju Bos nya hari ini.


Sesampainya di depan gerbang Taman Bermain,,,


"Daniar ayo turun."


Daniar segera turun dari mobil. Sangat tak menyangka Adhitama akan mengajaknya ke tempat seperti ini. Di nilai dari sifatnya yang terkesan dingin dan kejam, ternyata Adhitama juga memilki sisi yang hangat dan kekanakan.


"Ayo masuk" Ucap Adhitama sambil memberikan uluran tanganya.


Tanpa berfikir panjang Daniar menerima uluran tangan dari Adhitama dan mereka berjalan memasuki Taman Bermain dengan bergandeng tangan.


"Daniar apa kamu suka dengan semua ini???"


"Syukurlah kalau kamu menyukai semua ini."


"Tunggu, apa maksudnya Adhitama??? Apakah ini semua khusus kamu rancang untukku???"


"Gadis bodoh, kenapa kamu lelet sekali berfikir. Jelas semua ini aku siapkan untukmu. Aku meminta Farel membooking tempat ini khusus untuk kita berdua."


"Apa katamu??? Pantas aku tidak melihat ada seorangpun di sini. Dasar orang kaya bisanya menghambur-hambur uang."


"Tidak peduli tentang uang yang penting kamu menyukai semua hal ini, Daniar."


Daniar tersenyum Manis mengarahkan wajahnya ke arah Adhitama sembari mengucapkan "Terima Kasih Adhitama untuk semuanya."


"Ayo pergi ke sana Daniar, kita naik Kincir Baling-baling itu" Ajak Adhitama sambil menggeret tangan Daniar.


"Ayo" kata Daniar tersenyum.


Saat menaiki Baling-baling, terlihat sangat indah Pemandangan dari atas. Adhitama melihat raut wajah Daniar yang sangat senang akan semua kejutan yang ia siapkan. Adhitama selamanya mau melihat Daniar senang seperti ini, mengganti kesedihan dan tetes air mata dengan senyum kebahagiaan.


Saat Baling-baling berhenti, mereka segera turun. Tiba-tiba Daniar berlari menghampiri Ibu penjual Permen Kapas.


"Bu saya mau dua permen kapas"


"ini nak, wahh suamimu sangat serasi nak denganmu" Ucap ibu penjual permen kapas sambil melihat Adhitama.


"Bukan bu, itu Bos saya bukan suami saya" jawab Daniar."


"Oh maaf nak aku pikir dia suamimu, tapi kamu sangat serasi denganya."


Daniar hanya tersenyum menanggapi ucapan ibu penjual permen kapas lalu pergi sembari mengucapakan " Terimakasih".


"Adhitama ini satu untukmu" Daniar berkata sambil memberi Adhitama permen kapas yang ia pegang.


"Aku tidak mau, itu tidak baik untuk gigiku."


"Dasar orang kaya, kalau makan hanya satu biji tidak akan merusak gigimu, kecuali kalau kamu makan sepuluh biji permen kapas. Tidak hanya gigimu yang rusak tapi badanmu pasti cepat bertambah gemuk. Hahahahha" ejek Daniar.


"Sini kasih padaku" kata Adhitama sambil meraih permen kapas di tangan Daniar.


"Waah seketika kamu berubah menjadi sangat rakus" Ucap Daniar melihat Adhitama dengan Ekspresi bengong.


"Adhitama lihatlah disana ada Danau buatan, kita kesana ya".


"Tunggu aku belum selesai makan permen gulaku" gerutu Adhitama yang sedang di tarik tanganya oleh Daniar.


"Ayo duduk sini Adhitama...sini..sini" kata Daniar sambil menepuk nepuk bangku kosong di sebelahnya.


Adhitama menghampiri Daniar dan duduk di sebelahnya. Pemandangan Danau yang sangat menenangkan hati, dengan Angsa yang sedang berenang di atas Danau buatan tersebut. Duduk bersama di bawah rindangnya pepohonan hijau di sekitar danau, angin sepoi-sepoi yang berhembus membuat Daniar merasa mengantuk. Tiba-tiba Adhitama merasakan kepala Daniar yang bersandar di bahu kananya. Terlihat Daniar sedang tertidur.


"Daniar, dasar wanitaku yang bodoh" ucap Adhitama sambil mengelus rambut Daniar yang sedang tertidur di bahunya.


"Daniar, andai aku bisa mengumpulkan keberanian untuk mengatakan perasaanku kepadamu, apakah kamu akan mau menjadi wanitaku dan seutuhnya menjadi milikku???" Ungkap Adhitama sambil tetap mengelus rambut panjang Daniar yang masih tertidur.


"Drtttttt..Drtttttt.." getaran Hp Adhitama.


Panggilan masuk dari Farel,,,,


"Iya hallo ada apa Farel???"


"Bos maaf aku tak bermaksud mengganggu kencanmu, tapi aku harus menyampaikan informasi penting tentang Dygta Wang, aku sudah menyelesaikan Misiku mengumpulkan Informasi tentangnya. Kabar yang tidak di sangka Dygta Wang terlibat dalam Kasus penyelundupan Narkotika yang sedang di tangani kasusnya oleh kepolisian. Ia juga terlibat mendalangi Kasus jual beli Wanita berjaring International."


"Baiklah, temui aku di tempat biasa. Tunggu aku disana."


"Tapi bagaimana dengan kencanmu hari ini Bos??"


"Kami belum Resmi Berpacaran. Apa itu bisa dinamakan Kencan???"


"Tunggu apa lagi Bos, kenapa kamu tidak menyatakan saja perasaanmu kepadanya."


"Sudah Farel kamu sangat cerewet."


Tuuut..tuttt.. Panggilan telpon berakhir.


Tanpa di sadari oleh Adhitama, Daniar bangun dan mengangkat sandaran kepalanya.


"Daniar kapan kamu bangun, apa kamu mendengar pembicaraanku di telfon tadi??"


Daniar hanya menganggukan kepalanya dan berkata "Iya aku dengar".


"Jadi apa yang kamu tahu??" Tanya Adhitama dengan nada terbata-bata.


"Aku dengar kamu mengatakan kata Berpacaran, apa kamu menaksir seseorang Bos???"


Bersambung *****