
Doorr!!
Arghh**!!
"Bos!!" teriak Farel.
Farel berlari menghampiri Adhitama "Bos!! bertahanlah. Aku akan membawamu ke rumah." Farel ketakutan. Tangannya bergemetar hebat menekan luka tembak di perut Adhitama.
"Jangan pedulikan aku, Farel! Cepat segera urus Daniar. Ambil remot pengontrol bom itu, cepat!!!"
Farel memberi perintah kepada beberapa anak buahnya "Cepat bawa bos pulang!! Segera hubungi Doni, cepat!!" teriak Farel panik.
Adhitama terkena tembakan dari Sean tepat di bagian perutnya. Sedangkan Sean,, ia tewas seketika akibat peluru dari Adhitama yang menembus kepalanya.
Farel mengambil remot control di dalam saku jas hitam yang di kenakan Sean. Dan berlari gesit menuju mobil akan membebaskan Daniar dari bom yang menempel di tubuhnya.
Sesampainya di mobil,,
Klekk,, Farel membuka pintu mobil dan tersentak saat melihat Daniar tidak ada di tempatnya.
"Di--dimana Daniar! kenapa tidak ada di sini," ujar Farel terbata.
Ia segera memeriksa keadaan sekitar. Daniar menghilang begitu saja dengan bom yang masih melekat di tubuhnya. Brukk pukulan Farel mengenai body mobil.
"Kalian segera cari Daniar sampai ketemu. Sisir rata tempat ini. Cepat!!" Farel meneriaki anggotanya.
Drttt,, Drtttt,,, Lia menelfon Farel.
"Farel!! Di mana Daniar sekarang," teriak Lia khawatir.
"Ia menghilang, Lia." Farel menjawab dengan suara lesu.
"Apa katamu, menghilang!!"
Farel tak mampu lagi menjawab pertanyaan dari Lia. Hatinya merasa kacau saat ini. Ia merasa gagal dalam segala hal. Tak mampu melindungi sahabatnya sekaligus gagal dalam menjaga kepercayaan dari Adhitama.
"Bos! di dalam masih ada beberapa anak buah Sean yang masih hidup," ucap salah satu anggota Klan Tiger.
"Ciih,, tak akan aku biarkan satu pun dari mereka bisa keluar dari gedung itu. Bakar gedungnya!" jawab Farel.
"Baik!"
Terlihat dari luar, gedung markas dari anggota Sean di penuhi luapan si jago merah. Tiba-tiba,,
Bumm Duuoorr
Farel membalikkan pandangannya "Daniar!!!" teriak Farel dan lari tergopoh-gopoh. Suara ledakan itu berasal dari gedung bagian atap.
"Daniar kamu harus baik-baik saja," batin Farel.
Farel nekad menaiki tangga yang berada di samping luar gedung. Nampak api belum sampai ke bagian atap. Setelah menaiki anak tangga yang terakhir, Farel membelalakan ke dua matanya. Perlahan ia berjalan maju memberanikan diri untuk memastikan, apakah itu Daniar atau bukan.
Brugg,, Farel terduduk lemas tak berdaya di depan potongan-potongan tubuh yang berserakan hancur di sebabkan oleh ledakan. Farel mendapatkan cincin Daniar yang di berikan oleh Adhitama saat melamarnya.
"Tidakk!!!" teriak Farel tak bisa menerima kenyataan.
Aku tak berguna. Apa yang harus aku katakan di depan Adhitama. Aku tak sanggup menjaga baik-baik amanat darinya. Ia pasti akan sangat membenciku. Daniar! kamu gadis yang amat baik. Bagi Adhitama, kamu adalah secercah sinar cahaya kehidupan yang menerangi hidupnya. Maafkan aku, Daniar. Maafkan aku!
Air mata menganak sungai jatuh membasahi lantai. Farel sangat merasa sedih. Lagi-lagi dunia mafia menewaskan orang terdekat yang berarti bagi mereka. Dulu, calon istrinya yang tewas akibat kecelakaan saat Farel di serang. Sekarang giliran Daniar yang tewas di tangan musuh.
******
Drttt,, Drttt,,
"Don! ada apa."
"Adhitama kritis kehilangan banyak darah. Di rumah sakit lagi kehabisan stok darah golongan O."
"Ambil darahku. Kebetulan aku bergolongan O sama dengan Adhitama."
"Kalau begitu lekas kemarilah. Ini keadaan darurat."
"Iya aku sudah di jalan arah pulang. Aku mohon selamatkan nyawa Adhitama."
"Aku akan berusaha."
Farel memacu kecepatan mobil yang ia kendarai. Lampu merah isyarat berhenti tak ia hiraukan sama sekali. Fikirannya hanya tertuju kepada Adhitama. "Adhitama aku mohon kamu harus berjuang," batinnya.
Tinn,, Tiinn,,
Petugas rumah datang membuka pagar untuk Farel. Ia segera memarkir mobil dan berusaha berlari walau dadanya masih terasa sakit akibat tendangan dari musuh.
"Don cepat ambil darahku," ucap Farel sambil membuka pintu ruang perawatan.
******
Di mana ini? apa yang terjadi kepadaku. Apakah aku sudah di surga saat ini. Ibu, ayah, aku datang menemui kalian.
Daniar membuka perlahan ke dua kelopak matanya. Ia baru saja bangun setelah beberapa hari tak sadarkan diri. Pandanganya masih terasa sedikit kabur. Ia berulang kali memerjapkan mata.
Saat pandangannya mulai jelas, ia melihat keadaan di sekitarnya. Nampak sedikit gelap karena tirai yang menutupi jendela dan terasa sangat dingin menembus tulangnya.
Aku kira aku sudah mati dan berada di surga. Batin Daniar.
Kleekk,, Seseorang membuka pintu ruangan dan masuk ke dalam.
"Si--siapa kamu! tolong jangan sakiti saya," ucap Daniar ketakutan.
"Kamu sudah sadar! Tenang nona aku tidak akan menyakitimu. Justru aku yang menolongmu dari teror bom waktu itu."
"Kamu yang menolongku! Lalu aku di mana? dan bagaimana dengan Adhitama dan Farel sekarang?"
"Apakah dia pasanganmu??"
"Iya, Adhitama calon suamiku."
"Dia nggak pantes buat kamu."
"Jangan berbicara kurang ajar. Adhitama sangat mencintaiku!!"
"Kalau dia mencintaimu, dia pasti akan menyelamatkanmu dan tidak pergi begitu saja."
"Apa maksud dari perkataanmu? Tidak!!! itu tidak mungkin. Kamu pasti berbohong."
"Percaya atau tidak terserah kamu. Yang penting akulah yang menyelamatkan nyawamu dan mereka hanya pergi meninggalkan kamu saat pingsan di dalam mobil."
Daniar berusaha tak ingin mempercayai ucapan pria yang baru saja ia kenal sekaligus penolongnya saat ini. Ia berusaha mempercayai Adhitama yang sudah sejak lama ia kenal.
"Baiklah! makanannya aku taruh di nakas. Segeralah makan, mumpung masih hangat buburnya," ucap pria misterius itu dan pergi keluar meninggalkan Daniar.
Daniar menurunkan kakinya dari ranjang tidur. Ia menyibak tirai gorden dan terlihat di luar banyak pepohonan tinggi mengelilinginnya.
"Oh iya di mana ponsel milikku." Daniar merogoh saku jas yang ia kenakan.
"Ponselku nggak ada. Nanti akan aku tanyakan pada pria misterius itu,"katanya.
Daniar duduk di kursi pinggir jendela. Sambil melihat ke arah luar, ia memikirkan keadaan Adhitama dan yang lainnya. Ajakan menikah dari Adhitama yang di ucapkan padanya waktu itu, terngiang di telinga.
Tunggu aku Adhitama. Aku yakin kamu saat ini baik-baik saja. Aku akan menemuimu dan menagih janjimu kepadaku.
Sambil merenungkan sosok pria yang di cintainya, Daniar berniat memandangi cincin lamaran dari Adhitama di jari manisnya. Namun ia tersentak saat tahu cincin itu hilang.
"Loh! kok nggak ada cincinnya," ucap Daniar sambil meraba jari manisnya.
Took,, Took,, Took
Terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan.
"Siapa itu!!" tanya Daniar.
"Saya pekerja di villa ini non," jawab suara seorang perempuan.
"Masuklah."
Pelayan masuk ke dalam kamar Daniar. Menyampaikan pesan dari tuannya "Non! tuan Orlando meminta saya untuk mengurus penampilan anda.
Pelayan meletakkan beberapa helai baju baru di atas ranjang tidur Daniar.
"Orlando?? Apakah pria yang tadi masuk ke kamar?" batinnya.
"Non mandi dulu. Saya akan kembali setelah non selesai mandi." Pelayan itu keluar dari kamar.
Daniar mengendus aroma tubuhnya "Benar beberapa hari aku tidak menyentuh air sama sekali."
Ia bersegera pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
"Wahh! kamar mandi seluas dan semewah ini" Daniar tercengang. Bahkan ruangan kamar dan kamar mandi ini lebih besar dari tempat Adhitama.
Villa megah yang berada di kelilingi oleh hutan. Orang seperti apa yang memiliki semua ini? apakah ia orangnya, yang menyelamatkanku itu. Batin Daniar.
Bersambung ***
*Mohon Like, Komen, dan Votenya ya kaka. Ini sangat mendukung author untuk ke depannya. Terimakasih bagi yang sudah memberi like, komen dan vote. Terimakasih juga untuk para pembaca yang sudah mampir di novel pertama buatanku. 🙏🙏**