
Mengapa terasa sangat sulit*, untuk bisa bertahan di sampingmu.
Dalam hidup cinta sejati tak selalu berjalan mulus.
Aku tak akan berhenti walau sangat lelah. Namun, aku akan berhenti ketika selesai*.
Setelah berfikir keras, Daniar memutuskan untuk tidak mengikuti kemauan pria yang baru dalam hitungan minggu ia kenal. Walau Orlando terkesan sangat baik memperlakukannya selama ini.
Klekk
Orlando tiba-tiba masuk ke dalam kamar Daniar tanpa mengetuk pintu seperti biasanya. Kedatangan pria itu membuat Daniar tersentak.
"Kebetulan Orlando datang kemari," Daniar menundukan pandangannya.
"Maaf, aku tak akan ikut keluar kota," ucapnya lesu.
Orlando menghela nafas panjang "Cinta telah membutakanmu sampai menaruhkan keselamatan dirimu sendiri, Daniar."
Kali ini pria itu nampak kesal. Air wajahnya berubah seketika.
"Walau harus merasakan ketegangan menghadapi semua musuh Adhitama, tak masalah. Asal aku bisa berada selalu di sisinya. Adhitama, juga pasti akan selalu melindungiku," ungkapnya menyangkal perkataan Orlando.
"Bodoh sekali.. Apa kamu tak bisa merasakan walau sedikit saja isi perasaan seseorang di sampingmu saat ini," Orlando mengepalkan tangannya menahan segala derita.
"Apa maksudmu, Orlando," tanya Daniar.
"Aku mencintaimu, menyayangimu, Daniar. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama,"
Akhirnya Orlando mengutarakan isi hatinya. Perasaan ini tak lagi bisa ia simpan sendirian.
Orlando mendekat ke arah Daniar yang sedari tadi mematung terduduk di atas ranjang tidur.
"Maukah kamu memberiku kesempatan untuk membahagiakanmu, Daniar," tanya Orlando lembut sambil membungkukan setengah badannya menyamakan posisinya.
"Tapi aku tidak mencintaimu, Orlando. Yang aku cintai hanyalah Adhi---,"
Belum sampai Daniar menyelesaikan ucapannya, Orlando terlebih dahulu menjepit pipi Daniar dengan jarinya.
"Kenapa!!! Apa kurangnya aku di banding dengannya. Bahkan kekayaanku berada di atas, jauh melebihi Adhitama," teriak Orlando membuat Daniar tercengang. Tak ia sangka sisi lain dari Orlando, yang nampak teduh penuh dengan kedewasaan itu bisa meluapkan amarahnya seperti ini.
Plakk
Telapak tangan Daniar refleks menampar pipi pria itu dengan keras. Sampai membuat Orlando melepaskan jepitan jari di pipi Daniar begitu saja.
"Kamu salah menilaiku, Orlando. Aku tak pernah memandang seseorang dari materinya," tegasnya dengan nada tinggi. "Apakah jabatan, kekuasaan, limpahan harta, itu semua bisa membuat bahagia??" tanyanya mengunci sorot mata pada wajah Orlando.
Selama ini, dari sekian banyak wanita yang mendekatinnya, hanya Daniarlah yang berani menolak keras permintaanya. Dan, hanya gadis inilah yang tak di butakan oleh materi saat berada di dekatnya.
"Tuan muda, pilot dan pesawat sudah siap," lapor Jack yang baru saja tiba.
"Baiklah, kita berangkat sekarang. Kunci ruangan ini dan suruh beberapa anak buah untuk berjaga," perintah Orlando seraya membalikkan arah tubuhnya meninggalkan kamar.
Jack sedikit tersentak, saat mendengar perintah dari tuannya. Namun apa daya, ia juga tak bisa menolak perintah. Sejujurnya ia juga tak tega berlaku kasar kepada Daniar.
"Orlando!! Biarkan aku pergi dari sini. Aku mohon!!," Daniar meneriaki pria yang baru saja meninggalkannya. Jack menahan tubuh Daniar yang bersiap ingin pergi meninggalkan kamar.
Jack membopong paksa tubuh gadis yang sedari memberontak keras. Tidak membalas saat sepasang kepalan tangan memukuli punggungnya bertubi-tubi.
Dengan mudah, ia meletakkan tubuh seringan kapas itu di atas ranjang tidur.
"Maafkan saya non, saya hanya menuruti perintah langsung dari tuan muda," ucapnya sopan.
Jack melangkahkan kaki segera keluar dari kamar lalu mengunci pintu itu dari luar.
******
Waktu menunjukkan pukul 20.00
"Bawa saja 50 orang untuk malam ini," perintah Adhitama kepada Farel. Dari ribuan anak buah Klan Tiger , hanya 50 orang yang akan ia bawa malam ini.
Siapa yang tidak kenal dengan Adhitama Elvan Syahreza. ketua klan berhati dingin dan keji. Membantai musuh dengan sadis, bahkan orang-orang yang berani menghianatinya tanpa belas kasihan.
Tak lupa Farel membawa pistol kesayangannya. Entah sudah berapa nyawa melayang, tertembak peluru dari pistolnya. Ia dan Adhitama sama-sama berbakat menguasai segala jenis senapan api.
"Baiklah. Habisi semua orang yang sudah berani menculik wanita bos Adhitama. Bawa pulang Daniar dengan selamat. Kalian mengerti!!" teriak Farel menegaskan.
"Mengerti bos," jawab mereka serentak.
Mereka bergegas masuk ke dalam mobil dan mulai bergerak.
Adhitama yang sedari tadi duduk santai, dengan posisi ke dua kaki menumpang di atas meja, akhirnya menurunkan kakinya lalu beranjak dari tempatnya.
"Habiskan, jangan tersisa satupun,"
"Siapp,"
Farel memacu mobil berlogo kuda itu, menyalip semua mobil yang berda di depannya.
Pandangan Adhitama menatap lurus kedepan "Tunggu aku sayang. Aku datang menjemputmu," batinnya.
Perjalanan menuju vila itu memakan waktu cukup lama. Tempatnya berada di atas perbukitan. Jauh dari jangkauan keramaian. Orlando sangat pintar menyembunyikan Daniar dari Adhitama.
30 menit kemudian,,,
Nampak dari jauh, sebuah bangunan tinggi dan besar. Ya, mereka akhirnya sampai.
Brakkk
Farel menabrakan mobilnya ke arah pintu gerbang yang tertutup. Mereka bergegas turun dari mobil dan segera masuk ke dalam vila. Anak buahnya yang lain membagi kelompok menyebar di beberapa titik, menyergap vila tersebut.
Nampak gelap gulita, semua penerangan di dalam rumah itu redup. Farel dan Adhitama melangkahkan kaki penuh siaga. Mengechek satu per satu ruangan di lantai bawah. Nihil, kosong, tak ada siapapun di sana.
"Daniar!!," teriak Adhitama yang mulai merasa kesal.
Dorr..Dorr
Terdengar suara berulang kali letupan tembakan dari luar. Anak buah Orlando mulai menyerang anggota dari Klan Tiger.
Tak lama, suara hentakan gerombolan orang berlari mendekat ke arah Adhitama dan Farel.
"Maju kalian semua," tantang Adhitama seraya membuang rokok di sela jemarinya.
Kyaaa!!!
Mereka yang berjumlah lebih dari 10 orang itu memulai serangan. Adhitama maupun Farel tak gentar menghadapi mereka yang berjumlah banyak itu.
Berbondong-bondong serangan pukulan mengarah kepada mereka, namun semua dengan mudah di tangkis dan di hindari.
Adhitama meradang. Desiran darahnya mulai muak. Menghadapi musuh yang tak sebanding dengan mereka.
"Ciihh,, segitu saja," ucap Farel merendahkan kemampuan lawannya.
Kyaaa!!!
Farel melancarkan serangan pukulan tanpa ampun. Darah segar merembes dari hidung dan mulut lawan.
Giliran Adhitama,, menyerang musuh dengan sentuhan mautnya. Menonjok kuat Menargetkan di daerah dada. Menghentikan denyut jantung lawan. Dalam sekali pukulan saja musuh tersungkur tak berdaya.
Mereka semua tumbang, melawan 2 orang pria yang nampak tak terluka sedikitpun.
"Katakan!! di mana bos kalian," kata Adhitama sambil menindih dada musuh dengan satu kakinya.
"Arghh!! Pe--pergi bersama seorang wa--wanita meninggalkan kota ini," jawabnya terbata-bata menahan sakit.
"Arghh!! Br*ng*ek," teriak Adhitama frustasi.
"Farel, ayo pergi ke bandara. Cari tahu tujuan mereka pergi," perintahnya seraya pergi meninggalkan vila.
Sampai lubang semut sekalipun, akan ku kejar. Jangan main api denganku, Orlando.
Batinnya mengancam.
BERSAMBUNG **
MOHON LIKE, KOMEN, DAN VOTE SEIKHLASNYA YA KAK.
INI SANGAT MENDUKUNG AUTHOR KE DEPANNYA.
SARAN DAN KRITIK DARI KALIAN PASTI AKU TERIMA.
JANGAN LUPA SARANNYA AGAR AKU BISA MENYESUAIKAN DIRI DENGAN KALIAN PARA PEMBACA.
TERIMAKASIH AUTHOR UCAPKAN. TUNGGU EPISODE DANIAR LARASATI SELANJUTNYA.
BYE BYE*.