Daniar Larasati

Daniar Larasati
MALAM BERSAMANYA



POV: Daniar.


"Ron tunggu perintah selanjutnya dariku," Ucap Lina lirih di telefon.


"Ok aku tahu."


Aku tak akan pernah menyangka Lina menghianatiku seperti ini, memainkan drama dan mendorong paksa aku kedalam permainanya.


"Kenapa kepalaku sangat pusing, mataku mulai kabur untuk melihat. Kenapa aku kenapa," brukk!!, jatuh tak sadarkan diri.


********


POV: Author.


Di lain tempat Adhitama, Farel, dan Luna baru saja keluar dari sebuah club dj house.


"Farel antarkan Luna pulang, aku bisa menyetir mobil sendiri," perintah Adhitama.


"Baiklah bos."


"Sejak kapan aku jadi supir," ghumam Farel.


Mobil farel melaju pergi meninggalkan Adhitama sendiri.


Saat Adhitama akan menaiki mobil, tak sengaja pandanganya terarah kepada seorang wanita dan laki-laki yang sedang memapah wanita tak berdaya.


"Sepertinya aku kenal dengan mereka!, tapi siapakah lelaki di sampingnya?"


Adhitama penasaran dan mengikuti mereka diam-diam dari belakang.


"Apa yang mereka lakukan!, kenapa membawa perempuan itu ke hotel," ucap Adhitama curiga.


Adhitama berjalan cepat, melangkahkan kakinya masuk ke dalam hotel miliknya.


"Tuan Adhitama!, ada yang bisa saya bantu?"


"Tolong antarkan aku ke kamar hotel yang di pesan oleh beberapa orang yang barusan datang tadi. Aturkan kamar untuku bersebelahan dengan kamar mereka."


"Baik tuan Adhitama. Silahkan anda ikut dengan petugas kami."


"Kebetulan sekali mereka memasuki hotel miliku," ghumam Adhitama.


"Tuan ini kamar untuk anda. Dan orang-orang tadi berada di sebelah kanan kamar anda," kata petugas hotel sambil menyerahkan kunci kamar Adhitama.


"Baik!, sekarang berikan padaku kunci duplikatnya dan kamu boleh pergi sekarang."


Dari balik pintu, Adhitama mendengar lengkingan teriakan.


POV: Daniar.


"Tolong aku Lina!, siapa laki-laki ini."


Tubuhku yang tergolek lemas di atas ranjang hotel beralaskan seprei putih. Roni mencengkram erat tanganku ke atas. Berulang kali menampar wajahku tanpa rasa belas kasihan. Lina sejak tadi sibuk merekam hal menjijikan yang di rancang untukku.


"Tamatlah riwayatmu Daniar. Semua orang akan merendahkanmu dan mas Hendra akan menceraikanmu."


Ceklekk..ceklekk..


Suara orang membuka kunci pintu.


Prookkk prook prookk


suara tepuk tangan Adhitama memasuki ruangan.


"Bagus!!, dengan ini aku akan melaporkan kalian kepada polisi atas tindakan hukum pemerkosaan," ancam Adhitama.


"Siapa kamu!, ternyata kamu lagi," teriak Lina.


Tanpa basa basi Adhitama meraih kerah baju Roni dan memukulinya tanpa ampun. Darah segar menetes kemana-mana.


"Argh!! Ampun tuan ampun saya hanya di suruh," ucap Roni mengerang kesakitan.


Tanpa mengontrol dirinya sendiri, Adhitama terus memukuli Roni.


"Cukup!!, cukup. Jangan pukuli Roni lagi. Kami minta maaf, mohon maafkanlah kami," pinta Lina memohon dan menarik tangan Adhitama.


"Enyahlah!!!, singkirkan tangan kotormu. Beraninya kamu memegang tangaku," Adhitama membelalakan ke dua matanya dan mendorong lina sekuat mungkin.


Adhitama meraih ponsel Lina. Ia menghapus semua foto dan vidio tentang semua ini dan membuang ponsel Lina kedalam tong sampah.


Lina dan Roni pergi keluar dari kamar. Rencana yang mereka atur semua berantakan.


Adhitama datang. Meraih tubuh ku dan membopongku ke kamarnya.


"Wangi parfum yang sangat khas terasa manis untuk dicium," batinku dalam hati.


Seketika tubuhku terasa panas membara. Entahlah apa yang Lina lakukan kepadaku. Yang jelas aku sangat kepanasan.


"Tidurlah di sini. Kamu akan aman disini," kata Adhitama berbisik kepadaku.


Ia menaruh perlahan tubuhku di atas ranjang, lalu menyelimutiku. Entah kenapa tubuhku terasa tidak normal sekarang.


Adhitama perlahan melangkah pergi meninggalkanku, entah apa yang ada di fikiranku, spontan tiba-tiba aku menarik tanganya.


"Tolong tuan!, saya kepanasan."


Adhitama tertegun bingung dengan tingkah anehku. Terdengar suara degupan jantung yang ber'irama sangat kuat menembus telingaku.


"Nona maaf!, tenangkan dirimu."


"Maaf tuan, maaf aku tidak tau kenapa dengan tubuhku."


"Sepertinya mereka berhasil memberimu obat gairah."


Semakin lama tubuhku tak bisa kukendalikan. Aku seperti ******* yang sedang menggoda laki-laki hidung belang. Tanganku mulai liar meraba dada bidang pria bertubuh kekar itu.


"Baiklah jika itu maumu." Sebuah ciuman hangat mendarat di bibirku. Itu adalah ciuman pertamaku. Adhitama menuruti kemauanku sendiri. Malam itu keperawananku hilang di pelukan Adhitama. Lelaki yang baru saja aku kenal.


********


Pagi ini aku terbangun. Jantungku serasa ingin meloncat. Melihat seorang lelaki bertubuh kekar tidur di sampingku sambil memelukku dari belakang. Perlahan kubuka selimut itu dan aku terkejut memastikan tak ada sehelai benangpun menempel di tubuhku.


Aku ingat, akulah yang memintanya untuk melakukan hal ini karena pengaruh obat sialan itu. Akhirnya hal yang aku takutkan terjadi. Aku melakukan hubungan badan denganya.


Aku terheran heran kenapa tubuhku tidak menolak pelukan hangatnya pagi ini. Kenapa berada di sampingnya terasa nyaman, bagai perisai yang selalu bisa melindungiku.


Perlahan aku bangun dari ranjang tidur. meninggalkanya sendiri tanpa menunggu ia terbangun. Hatiku sungguh sangat malu. Harga diriku sudah tidak ada nilainya lagi.


Aku pergi pulang kerumah. Sesampai dirumah rasa marah dan benci yang mendera hati sudah tak bisa aku tahan.


"Lina!!!, kenapa kamu menghianatiku. Menjebakku seperti ini, apa kah kamu sudah puas bermain-main denganku??"


"Kamu terlalu bodoh Daniar. Kamu terlalu polos dan berhasil masuk perangkapku. seharusnya kamu tahu diri dan angkat kakimu pergi tinggalkan rumah ini," teriak Lina mengusirku.


"Baiklah kalau itu yang kamu mau. Aku justru berterimakasih karena aku bisa keluar dari rumah mirip neraka ini."


Aku berkemas mengemasi semua pakaianku. Aku tenteng koper bajuku keluar dari rumah keluarga Widjaya.


Akhirnya aku menghirup udara kebebasan.


Tapi!, apakah tuan Hendra bersedia begitu saja melepaskanku? Hal itu mengusik fikiranku.


Aku bergegas pulang kerumah ayah. Aku memantapkan hatiku jika ayah akan marah atas keputusanku keluar dari rumah tuan Hendra. Aku akan memberinya penjelasan nanti sesudahnya tiba di rumah.


**Bersambung,,,


Mohon Like, Komen, serta Vote seikhlasnya ya kakak. Ini sangat mendukung sekali untuk Author kedepanya.


Terimakasih banyak 🙏**