
"Farel aku akan menemui Daniar malam ini!, siapkan restoran khusus untuk kami berdua."
"Baik bos. Akan aku urus semuanya sekarang."
Adhitama meraih Smart Phone miliknya dari atas meja. Mengirim pesan singkat kepada Daniar saat itu juga.
(Daniar aku sangat merindukanmu. Nanti malam aku menunggumu di restorant tempat kita melakukan Dinner pertama. Farel akan menjemputmu jam 7. I Love You. )
Saat jari tangan Adhitama menekan satu per satu huruf, tak terasa air matanya menetes jatuh mengenai layar ponselnya. Hatinya terasa sakit dan berat jika harus meng'akhiri semuanya.
Adhitama bertekad, tidak akan meneteskan air matanya lagi setelah kepergiaan ke dua orang tuanya. Namun kali ini berbeda. Hati CEO berdarah dingin itu, melemah saat berhadapan dengan wanita yang ia sayangi.
Tingg,,,
Notifikasi balasan pesan dari Daniar.
(Aku juga merindukanmu. Sampai bertemu nanti malam. I Love You Too.)
Adhitama membuka dan membaca balasan pesan dari Daniar. Terdapat emoticon berbentuk hati berwarna merah muda di akhir pesan tersebut.
Bugg,,
Adhitama mengepalkan tanganya, lalu memukul meja kaca ruang kerjanya dengan kepalan tanganya.
Darah segar menetes membasahi lantai. Serpihan kaca menggores kulit melukai tanganya.
"Daniar!, maafkan aku. Mungkin ini jalan terbaik untuk menjamin keselamatanmu. Aku hanya seorang pria pengecut, yang tak bisa memperjuangkanmu berada di sisiku. Tapi, aku lebih tidak sanggup jika melihatmu terluka karena aku" ghumam Adhitama.
---***---
Jam menunjukan pukul 7 malam. Farel, berangkat menjemput Daniar atas perintah dari bosnya. Sesampainya ia di depan rumah Daniar,
Tinnn.. Tinnn..
Farel membunyikan klakson mobilnya dua kali. Tak lama, nampak Daniar keluar dari pintu rumah dengan dress berwarna dusty pink dan heels dengan warna yang senada. Memberikan kesan classy look.
Daniar berjalan menuju mobil jemputan dari Farel. Ia masuk dan duduk di kursi bersandingan dengan Farel.
"Apakah Adhitama sudah menungguku di sana, Farel!" tanya Daniar menoleh kepada Farel.
"Sudah!, dari tadi dia sudah menunggumu di sana." jawab Farel lalu tersenyum.
Air wajah Daniar tampak berbunga-bunga. Hatinya bergejolak tak sabar, bertemu pria yang ia cintai setelah menahan rindu beberapa hari. Beberapa hari tak bertemu seperti serasa satu windu lamanya.
Laju mobil yang di kendarai oleh Farel mulai mengurangi kecepatanya dan menepi di depan sebuah restorant, tempat di mana Daniar dan Adhitama pernah melakukan dinner pertama kali.
Farel membukakan pintu mobil untuk Daniar. Nampak kaki jenjang Daniar menuruni mobil.
"Silahkan, Daniar! Bos sudah menunggu di dalam!" ucap Farel sopan.
Daniar segera mengayunkan kakinya menuju ke dalam. Jantungnya terasa berdetak sangat cepat. Seperti baru pertama akan bertemu dengan gebetan yang baru di kenal.
Sesampainya di dalam, Daniar di sambut langsung oleh pemilik restorant. Ia mengantar Daniar menuju meja yang sudah di pesan oleh Adhitama. Suasana nampak sepi. Hanya ada beberapa orang pegawai restorant. Nyatanya, tempat itu sudah di booking oleh Adhitama.
Daniar mempercepat langkah kakinya. Nampak dari belakang, sebidang bahu lebar dengan jas hitam membalutnya. Daniar meraba perlahan lengan kekar dari sosok pria itu. Pria itu menoleh dan melemparkan senyum menawan.
"Sayang!, maaf kamu jadi lama menunggu," kata Daniar sembari menarik kursi dan segera duduk berhadapan dengan Adhitama.
"Egak papa. Aku juga baru aja tiba."
Adhitama menatap Daniar dengan lekat. Mereka saling bertatapan. " Aku kangen banget sayang," ucap Adhitama lirih.
Adhitama meraih telapak tangan Daniar lalu menciumnya penuh mesra. Menunjukan bahwa Daniar sangat istimewa dan ber'arti bagi kehidupanya.
"Aku juga kangen, sayang!"
Takk,, takk,,
Suara langkah kaki pelayan menghampiri meja mereka. Membawakan pesanan yang sebelumnya sudah di pesan oleh Adhitama. Semua masakan yang tersaji di atas meja, ialah makanan kesukaan dari Daniar.
Adhitama perlahan melepaskan genggaman tanganya.
"Makanlah yang banyak sayang. Beberapa hari tidak bertemu terlihat tubuhmu nampak kurusan."
"Eh,,! Serius yank!!" Daniar mengamati tubuhnya.
"Iya, yank! Kamu sibuk mengurus ayahmu sampai tidak makan dan tidur tepat waktu."
"Ini buka mulutmu, yank." Adhitama menyododorkan potongan daging di depan bibir tipis milik Daniar.
Daniar membuka mulutnya dan menerima suapan potongan daging dari Adhitama.
"Emm!!, ini sangat enak."
"Apakah sayang mau lagi dagingnya?" tanya Adhitama.
"Tidak, yank. Makanan di piringku saja belum habis." elak Daniar.
Beberapa saat kemudian, Daniar selesai menyantap makanan di piringnya.
"Sudah selesai makanya!" tanya Adhitama sambil melihat Daniar yang sedang meneguk orange jus di gelas.
Daniar mengangguk, "Sudah sayang."
Adhitama beranjak dari kursi duduknya.
"Ayo ikut denganku," ajak Adhitama dan menarik tangan Daniar.
"Aww!! Kita mau kemana?" Daniar mengerang kesakitan.
"Ikut saja dan menurutlah." Adhitama tetap menarik paksa tangan Daniar walaupun ia sudah merintih sakit.
Makan malam penuh kehangatan itu akhirnya berakhir. Adhitama menarik tangan Daniar berjalan menuju mobilnya.
"Masuk sekarang!!" kata Adhitama sambil melepas kasar tangan Daniar.
Daniar hanya bengong, tercengang dengan perlakuan kasar dari Adhitama. Ia bingung mengapa Adhitama berubah secepat itu. Apakah aku berbuat salah? apakah aku membuatnya kesal? Daniar menatap aneh Adhitama penuh tanda tanya.
Daniar akhirnya menuruti ajakan Adhitama dan masuk ke dalam mobil sport berwarna hitam itu.
Brakk!!!!
Adhitama menutup pintu mobil dengan keras. Daniar kaget. ia hanya mengepalkan kedua telapak tanganya di atas pangkuanya dan mencengkram erat dress yang di kenakanya.
Adhitama menginjak pedal gas mobilnya dengan kecepatan tinggi. "Berhenti," teriak Daniar. Adhitama mengabaikan hal itu. Ia tetap mengemudikan mobilnya dan mengarahkan pandanganya hanya fokus ke depan tanpa menoleh sedikitpun kepada Daniar yang dari tadi meneteskan air mata ketakutan.
Ckittttt..
Suara rem mobil Adhitama yang berhenti di depan sebuah taman bermain.
Daniar menoleh menatap Adhitama. Terlihat pahatan wajah itu dari samping, ia menggigit bibirnya dan nampak rahangnya yang mengeras.
"Apa kamu marah? Jika ia, di mana letak kesalhanku!! Tolong katakan dan berhentilah berbuat kasar, itu sangat menyakitiku," ungkap Daniar.
Adhitama hanya diam, tanpa menjawab pertanyaan dari Daniar. Diam seribu bahasa dengan ekspresi datar.
Daniar meraih telapak tangan kiri Adhitama yang berada di atas kemudi. Serasa lembab dan dingin saat ia menggenggam erat tangan tersebut. "Maaf aku minta maaf!!, aku mohon jangan memperlakukan aku seperti ini. Aku sangat menyayangimu, Adhitama!!"
Adhitama menghela nafas lalu melakukan gerakan cepat menarik genggaman tangan Daniar. Membuat tubuh Daniar jatuh ke dalam pelukan hangat Adhitama. Terasa oleh Adhitama degupan jantung Daniar yang sangat kencang. "Aku minta maaf. Aku janji tidak akan membuatmu takut lagi, sayang!" bisik Adhitama di telinga Daniar.
Daniar memeluk erat tubuh Adhitama. Terasa nyaman dan tak ingin melepaskanya. Namun, Adhitama kembali berbisik "Maaf sayang, hubungan kita ber'akhir sampai di sini."
Daniar membelalakan matanya. Ia tersentak mendengar ucapan yang terlontar dari bibir lelaki yang baru saja melamarnya itu.
Pelukan yang tadinya erat kini ia lepaskan begitu saja. Ia masih tak percaya dengan hal yang baru saja ia dengar. Nampak kedua bola mata Daniar berkaca-kaca. Adhitama kembali lagi melakukan gerakan cepat meraih belakang rambut Daniar dan mendaratkan forced kiss.
Tetapi!, Daniar menolak, memberontak dan menggigit bibir Adhitama. Seketika Adhitama melepaskan ciumannya. Nampak bibir Adhitama berdarah. Ia hanya menyeka darah itu dengan jari jempolnya.
"Kenapa hubungan ini harus berakhir Adhitama!! kenapa!!" teriak Daniar sambil menangis terisak-isak.
"Aku--- mencintai wanita lain. Maaf!" jawab Adhitama memalingkan pandanganya.
"Tatap ke dua mataku, Adhitama. Katakan dengan jelas kalau kamu memang benar sudah egak cinta sama aku," Daniar memukul-mukul dada bidang pria di depanya itu.
"Cukup!! Daniar. Aku bilang ber'akhir ya ber'akhir. Kamu harus terima itu," teriak Adhitama dengan nada tinggi sambil menghentikan pukulan dari Daniar.
"Aku yakin itu bukan alasanmu meng'akhiri hubungan ini. Aku terima keputusan darimu, Adhitama. Terimakasih sudah hadir dalam hidupku, melukis kenangan indah bersamaku. Aku harap kamu tidak menyesal karena telah memutuskan meng'akhiri semua yang sudah kita lalui bersama."
Daniar pergi meninggalkan Adhitama sendiri di dalam mobil. Ia berjalan dengan menahan rasa sakit dan kekecewaan yang amat dalam. Tangisnya pecah menganak sungai membasahi pipinya. Membuat nafasnya terasa sesak.
****Bersambung...
Jangan lupa Like, komen, dan Vote seikhlasnya ya kakak. Hal ini sangat mendukung Author kedepanya. Saran dan kritik dari kalian pasti aku terima, jadi jangan lupa beri saran yang banyak agar aku bisa menyesuaikan diri dengan kalian.
Author mengucapkan terimakasih banyak 🙏😘****