Daniar Larasati

Daniar Larasati
BERNAFAS LEGA



Tanpa menunggu kedatangan Farel, Daniar memutuskan pergi dari butik.


Berlari kecil menuju mobil,,


"Pak ayo kita pulang."


"Loh non kok cepat sekali."


"Iya pak kepala saya agak pusing. Tolong antar saya pulang ya pak."


"Baik non."


"Entah apa yang harus aku katakan dengan Farel,, yang jelas aku tidak akan hadir di pesta itu."


"Drttttt..Drtttt" ponsel Daniar berbunyi.


"Iya Farel"


"Kamu dimana Daniar? aku sudah di depan butik."


"Maaf Farel aku memutuskan pulang, kurang enak badan nihh. Maafkan aku ya."


"Tuttt" daniar mengakhiri panggilan telfon dari Farel.


10 menit farel berdiri di depan butik,,,


"Farel ngapain kamu disini??" tanya Adhitama.


"Seperti suara Adhitama" berfikir lalu menoleh


"Loh si Bos ada di sini. Luna juga ada di sini. Kalian pergi bersama berdua???"


"Kenapa kalau aku pergi bersama Luna"celetuk Adhitama sambil pasang wajah dingin.


"Farel kamu juga kenapa ada di sini" Tanya Luna.


"Ohh itu sebenarnya aku tadi janjian sama Daniar Bos. Tapi saat aku sampai di sini Daniar malah pulang."


"Ohh, Daniar tadi di sini. Bagus, jadi dia melihat aku bersama Adhitama tadi di dalam butik. Daniar wanita bodoh kamu tak selevel berdampingan dengan Adhitama. Jangan mimpi" batin Luna dalam hati.


"Apa katamu, Daniar?? bukankah ia berada di rumah sedang sakit??"


Tanpa basa basi Adhitama masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan Luna juga Farel.


"Lohh Adhitama, kok pergi duluan. huhhhhh sebel."


"Luna sini aku antar pulang. Kamu kaya egak tau Adhitama aja kalau sudah suka sama sesuatu harus bisa dia dapetin."


"Apa maksudmu Farel??"


"Aduh(ngomong sambil tepok jidat). Adhitama itu suka sama Daniar."


"Egak boleh" teriak Luna.


"Idih sejak kapan Luna kalau marah persis emak lampir, duh ngeri liatnya. Jadi ini mau egak di anterin pulang, kalau egak mau aku pulang duluan masih banyak urusan."


"Pergi sana, aku naik taksi aja."


"Untung Luna nolak penawaranku hahahaa" ghumam Farel lirih.


Sesampainya Adhitama di rumah,,,,


"Bik mana Daniar?"


"Ada di kamar atas Tuan."


"Apa dia tadi keluar?"


"Iya Tuan tadi non Daniar pamit mau ke pasar belanja ayam. Tapi pulang malah egak bawa ayam. wajahnya sembab kaya habis nangis Tuan."


Tanpa mendengar ucapan Bik Eryati sampai selesai, Adhitama bergegas pergi mencari Daniar.


"Huhhhh rileks Adhitama jangan gugup. Duh ngadepin musuh bersenjata aja berani, masa ngadepin wanita marah kok egak berani" menyemangati diri sendri.


Memberanikan diri mengetuk pintu kamar Daniar,,,,


"Toook...Tookk" (Egak ada jawaban)


Ketuk lagi "Took...Took" Daniar aku mau bicara.


(Hening tanpa jawaban)


"Kalau egak mau buka aku dobrak ya pintunya" gertak Adhitama.


"Ceklek" Daniar membuka pintu.


"Kenapa??" tanya Daniar sambil pasang wajah datar tanpa ekspresi.


"Cleguuk" suara Adhitama menelan air liur sambil ngumpulin keberanian.


"Ituu maaf aku tadi bohong sama kamu."


"Bohong???? maksudnya" pasang ekspresi seperti gak tahu apa-apa padahal tahu.


"Ayolah Daniar, aku tau aku salah aku bohong masalah di butik. Sebenarnya itu...." mau ngomong tapi gengsi.


"Sudah belum ngomongnya?? kalau sudah selesai aku mau masuk kamar lagi."


Tanpa basa basi Adhitama nyelonong masuk ke kamar Daniar.


"Lohh kok tiba-tiba masuk gitu aja" kata Daniar kesal.


"Hmmmm mulai kumat sifat sok kayanya"


"Daniar dengar baik-baik penjelasanku dulu ya. Sebenarnya tadi aku mau nolak ajakan Luna ke butik. Tapi karena aku juga mau beliin kamu gaun buat ke pesta jadi aku setuju sama ajakan Luna terus minta tolong Luna milihin gaun yang cocok buat kamu."


" Aku sebetulnya egak marah kok kamu pergi sama Luna, toh aku juga bukan siapa-siapa. Jadi egak ada hak untuk marah."


Adhitama berusaha tidak mendengarkan ucapan Daniar.


"Tuuuttt...Tuuuttt" Adhitama menelfon Farel.


"Hallo Farel, hubungi butik langganan kita. Suruh mereka mengantarkan semua koleksi gaun pesta terbaik yang mereka miliki. Dalam satu jam sudah harus di antar kerumah."


" Baik Bos laksanakan."


"Orang kaya yang aneh" ghumam Daniar lirih sambil membuang pandangan wajahnya.


Satu jam kemudian,,,,,


"Bos semua yang kamu inginkan sudah di siapkan" Ucap farel.


"Bawa semua gaun itu ke kamar Daniar."


"Bawa gaun ini semua ke kamar atas" suara Farel memerintah pelayan butik.


Daniar bergegas setengah berlari menuruni tangga dan menghampiri Adhitama.


"Adhitama kenapa begitu banyak gaun pesta di kamarku??"


"Itu buat kamu. Besok pakailah salah satu dari gaun itu dan temanilah aku pergi hadir di pesta."


"Kenapa aku yang harus menemanimu? Luna kemana??"


"Daniar hentikan celotehanmu, aku egak suka. Aku dan Luna itu hanya sebatas sahabat dan rekan kerja."


"Bukankah wanita yang kamu maksud itu Luna? wanita yang kamu ceritakan ke aku waktu di tepi danau. Bukankah Luna wanita yang kamu sukai??"


"Appa??" ucap Farel sambil melongo kaget.


"Daniar, Adhitama egak mungkin suka sama Luna karena kita bertiga dari waktu kuliah di luar negri sudah sama-sama bersahabat. Tapi kalau Luna yang suka sama Adhitama aku juga tidak akan menyangkalnya. Tapi Adhitama egak mungkin mau bersanding sama Luna" tegas Farel.


"Apa benar begitu, Adhitama??" tanya Daniar sambil mengalihkan pandanganya ke wajah Adhitama.


"Ya begitulah. Yang jelas aku tidak ada perasaan melebihi sahabat kepada Luna."


Daniar menepuk nepuk dadanya. Mendengar pernyataan Adhitama dan Farel nafasnya kembali terasa sedikit lega setelah kemarin melihat kejadian di Restoran membuatnya sangat kesal.


"Ok aku mau menemanimu pergi ke pesta besok malam" kata Daniar sambil bergegas pergi menuju kamarnya.


"Inilah salah satu hal yang aku suka dari Daniar" ucap Adhitama kepada Farel.


"Farel besok saat acara aku minta kerahkan semua anak buahmu."


"Apa ada hal yang mengusikmu Bos?"


"Ingatkah kau dengan Sean??" bercerita sambil menuangkan whisky di gelas.


"Sean??? maksudmu Sean Rahardian???" menatap serius wajah Adhitama.


"Iya,, kita harus lebih waspada. Harus bergerak cepat memperluas wilayah kekuasaan karena musuh yang bersembunyi sekarang sudah muncul ke permukaan."


" Apakah urusan dengan Dygta Wang sudah kamu selesaikan Farel??"


"Beres Bos sudah di tangani."


"Bagus aku selalu percaya kepadamu Farel."


"Bukankah kita sahabat baik dari dulu Adhitama. Aku sudah berjanji akan melewati semuanya bersamamu."


Adhitama tersenyum bahagia. Ia menemukan sahabat yang tepat. Banyak hal yang sudah mereka lalui bersama.


********


"Nisa, apa kakak boleh masuk?"


"Masuklah kak" Daniar membuka pintu kamar Nisa.


"Nisa maafin kakak gak jadi masakin makanan favorite Nisa. Besok kakak janji ya masakin Nisa."


"Iya kakak Nisa egak apa-apa. Kak aku kangen sama ayah" kata Nisa sambil menundukan kepalanya.


"Iya Nisa kakak juga kangen sama ayah. Gimana kalau hari minggu nanti kita jengukin ayah di rumah??"


"he'em baik kak" nisa menjawab sembari memeluk Daniar.


"Iya sudah, sekarang nisa tidur dulu ya. Kakak pergi ke kamar dulu . Selamat malam adik kakak yang cantik."


"Selamat malam kakak."


Daniar keluar dari kamar adiknya. Berjalan perlahan melewati lorong menuju kamar tidurnya. Terlihat Adhitama berdiri di dekat pintu kamarnya.


"Takk takk takk" Daniar berjalan menuju ke arah pintu kamarnya. Berusaha tenang menghadapi Adhitama.


"Daniar besok berdandanlah yang cantik, karena besok kamu akan berdampingan dengan lelaki tertampan di kota ini" bisik Adhitama di telinga Daniar.


"Ahhh geli tau Adhitama. aku egak tuli jadi kalau ngomong egak usah terlalu deket begitu".


Sambil pergi berjalan meninggalkan Daniar "Selamat Malam Daniar."


Bersambung*****