Daniar Larasati

Daniar Larasati
Kesedihan Hati Ketua Klan



Daniar menatap bayangan dirinya di depan cermin dalam kamar mandi. Sambil menunggu air dalam bathup terisi penuh. Luka akibat tamparan dan perlakuan kasar dari Gio masih terasa sakit ia rasakan.


Sudah hampir satu jam Daniar merendam tubuh mungilnya. Orlando sudah sejak tadi menunggu gadis itu di meja makan.


"Jack! kemarilah," Orlando memanggil asisten pribadinya.


Jack menundukan setengah badanya" Iya tuan muda," jawabnya sopan.


"Suruh Gea memeriksa Daniar di kamarnya sekarang."


"Baik tuan."


Jack segera melaksankan perintah dari tuannya. Ia sangat paham dengan sifat tuannya karena sudah lama ia mengabdikan dirinya menjadi asisten pribadi Orlando. Orlando tidak suka di buat menunggu oleh sesuatu hal.


Gea yang menerima perintah melalui Jack segera pergi ke ke atas melalui lift yang di sediakan khusus untuk pekerja di vila itu.


Took,,, Took,,, Took


Gea berulang kali mengetuk pintu kamar namun tak kunjung mendengar jawaban dari Daniar.


Klekk,, Ia memutuskan masuk ke dalam kamar. Gea mengedarkan pandangan ke seluruh arah namun tak di dapat adanya sosok Daniar di ruangan itu. Lalu Gea mengetuk pintu kamar mandi berulang kali, namun tetap saja Daniar tidak menjawabnya. Karena khawatir dengan keadaan Daniar, ia memutuskan membuka pintu itu namun pintu dalam keadaan terkunci dari dalam.


Sontak ia mengambil telefon di atas nakas menghubungi seseorang di bawah.


Jack mengangkat panggilan "Jack!! pergilah ke atas. Non Daniar mengunci pintu kamar mandi dan,,,, Tutt--tutt--tutt


Jack menutup panggilan sebelum Gea selesai menyampaikan perkataannya. Orlando yang melihat Jack tergesa-gesa pergi refleks segera beranjak dari tempatnya ikut berjalan menuju ke kamar atas.


Sesampainya di atas "Kenapa??" tanya Orlando datar. "Non Daniar mengunci diri di dalam dan tidak menjawab panggilan dari saya tuan muda," jawab Gea gugup.


Orlando menatap Jack "Dobrak pintunya."


"Baik tuan."


Jack mengambil langkah mundur, bersiap meluncurkan tendangan kakinya ke arah pintu yang terlihat kokoh itu. Tiba-tiba,,,,


Klekk,,


Daniar membuka pintu kamar mandi dari dalam. Jack gelagapan segera menarik kembali kakinya.


"Ka--kalian kenapa semua berkumpul di sini," ucap Daniar yang sedang bingung.


"Kamu enggak papa??" balas Orlando.


Karena perasaanya yang sedari tadi di rundung rasa cemas, tanpa sengaja mata elang Orlando menatap tubuh sexy gadis di hadapannya dengan balutan handuk putih setengah paha. Rambutnya nampak basah terurai ke samping berbaur dengan lengannya yang putih mulus itu.


Orlando meneguk air liur di kerongkongannya. Menatap Jack dengan sengit "Jack tutup matamu!! lalu kalian semua keluar dari ruangan ini," perintah Orlando dengan nada sedikit tinggi.


Sambil memejamkan matanya "Aku tunggu kamu di bawah. Jangan membuat aku menunggu lebih dari 10 menit," kata Orlando sambil memalingkan tubuhnya berjalan keluar.


Daniar tertawa melihat tingkah lucu pria yang bernama Orlando itu. Ia nampak berbeda.


"Orlando! anda lucu sekali," gumamnya.


15 menit kemudian,,


Daniar segera pergi ke bawah, memenuhi permintaan dari Orlando. Selain itu banyak hal juga yang ingin Daniar tanyakan kepadanya.


Tingg,, Suafa lift berdenting dan pintu terbuka. Nampak Jack sudah berdiri di luar lift menunggu Daniar. "Nona Daniar, tuan Orlando menunggu anda di ruang makan. Silahkan lewat sini." Jack memandu arah menuju ruang makan. Sepanjang ia berjalan, Daniar mengamati bangunan vila yang begitu megah dengan ornamen bergaya eropa itu. Di bawah terdapat aula yang cukup luas dan beberapa ruangan.


"Non silahkan masuk, tuan Orlando ada di dalam," kata Jack sambil membuka pintu kaca di hadapannya.


"Terimakasih," balas Daniar.


Saat memasuki ruang makan, para pelayan berbaris rapi menyambutnya. "Silahkan nona," ucap pelayan itu dan menarikan kursi untukknya. "Terimakasih. Saya bisa melakukannya sendiri. Kalian tidak usah repot-repot melayani saya seperti itu."


"Tidak, ini sudah menjadi kebiasaan cara kami memperlakukan tamu di vila ini. Jadi tak perlu sungkan jika ingin meminta bantuan mereka," sahut Sean.


Daniar segera duduk. Di depannya nampak hidangan makan malam lengkap berjejer di atas meja. "Ayo makan yang banyak. Tubuhmu nampak kurus saat ini."


"Adhitama, bagaimana keadaanmu saat ini. Aku sangat merindukanmu," batinnya.


Seketika air matanya longsor membasahi pipinya yang putih. Setiap saat harus merasakan pergulatan batin menahan rindu dengan pria yang ia cintai.


"Kenapa kamu menangis?" tanya Orlando yang sudah berdiri berada di samping kursinya. Orlando membungkukan setengah badannya "Hei,, apakah aku menakutimu gadis kecil," ucap Orlando lirih sambil menyeka air mata Daniar.


Daniar menggelangkan kepalanya. "Lalu kenapa kamu meneteskan air mata," lanjut Orlando kembali bertanya.


"Aku ingin pulang bertemu calon suamiku," ungkap Daniar sambil perlahan menolehkan pandangannya ke arah wajah Orlando.


"Dari dulu kamu sangat cantik Daniar. Aku selalu terpesona saat melihat paras wajahnya. Tapi kenapa Adhitama duluan yang bertemu denganmu. Kenapa bukan aku," batinnya.


Orlando berdiri dan memalingkan tubuhnya membelakangi Daniar "Tunggu saatnya, nanti pasti aku antar kamu pulang." Lalu ia pergi meninggalkan Daniar sendiri.


Jack yang sedari tadi di situ melihat reaksi dari tuannya, bisa menilai saat ini tuannya itu sedang di rundung rasa cemburu.


*******


"Farel! Adhitama sudah sadar," ucap Doni.


"Syukurlah! baik aku akan ke ruang perawatan," ungkap Farel sambil menghela nafas lega.


Sepanjang Farel berjalan menuju ruang perawatan, ia merasa takut jika Adhitama mendengar kenyataan tentang kematian Daniar. Ya, Farel mengira Daniar sudah tewas bersama bom dari Sean waktu itu. Padahal Daniar saat ini masih hidup bersama Orlando yang membawa pergi Daniar jauh dari tempat tinggalnya. Saat Daniar tak sadarkan diri di dalam mobil, Orlando bersama Jack berusaha melepaskan bom yang menempel di tubuh gadis itu. Peperangan antara klan Tiger dengan anggota Sean di manfaatkan oleh Orlando untuk membawa Daniar. Jadi, tubuh siapa yang di temukan Farel hancur bersama bom waktu itu??.


Orlando memanipulasi keadaan. Mengganti tubuh Daniar dengan salah satu anggota Sean yang tewas. Untuk membuat Farel percaya dengan apa yang ia lihat, Orlando mengambil cincin lamaran dari Adhitama yang di sematkan di jari korbannya itu.


Klekk,, Farel membuka pintu ruangan.


"Dania!" ucap Adhitama lirih karena masih dalam keadaan lemah.


"I--ini aku Farel," balas Farel gugup.


"Di mana Daniar sekarang, Farel!" tanya Adhitama sambil berusaha bangkit dari posisi tidur.


"Bos! keadaanmu masih belum stabil. Jangan banyak bergerak dulu." Farel merasa takut luar biasa. Keringat dingin membulir jatuh membasahi keningnya. Wajahnya nampak pucat.


"Kamu meremehkan bosmu ya Farel. Aku sudah terbiasa tertembak seperti ini. Ini tak seberapa sakit jika di bandingkan sakitnya melihat gadisku terluka. Aku tak akan sanggup menahan sakitnya Farel jika terjadi apa-apa dengan Daniar. Tapi syukurlah, kita dapat mengalahkan Sean dan menyelamatkan Daniar."


Farel tertegun. Lidahnya terasa mati kaku. Serasa tidak mampu mengatakan kenyataan yang terjadi. Tapi, ia juga tidak bisa menyembunyikan fakta yang ada. Cepat atau lambat Adhitama juga akan tahu kenyataannya.


"Bos! maafkan aku," ucap Farel lirih dan berlutut di hadapan Adhitama.


"Farel kenapa berlutut seperti itu, cepat berdiri," balas Adhitama yang mulai terlihat panik.


Farel tetap berlutut di hadapan Adhitama walau bosnya memintanya untuk bangkit "Bos, Daniar sudah ti--tiada bos." Farel menundukan kepalanya dan air mata membasahi tangan yang berada di atas pangkuannya.


"A--apa katamu Farel. Jangan bercanda denganku saat seperti ini. Ini tidak lucu Farel!!!" teriak Adhitama tak percaya.


"Bos aku tidak bercanda. Daniar sudah tiada. Bom itu menewaskan Daniar. Aku melihat sendiri dengan ke dua mataku potongan tubuh Daniar yang hancur akibat ledakan. Dan aku menemukan ini (Farel merogoh saku jasnya mengambil cicin lamaran yang di berikan Adhitama kepada Daniar)


Adhitama meraih cincin berlian itu dari tangan Farel. Masih nampak noda darah yang sudah mengering membalur cincin. Ia menggenggam kuat cincin di tangannya "Daniar!!" teriak Adhitama. Tanpa peduli dengan lukanya yang belum pulih, Adhitama beranjak dari tempat tidur. Ia mencabut selang infus yang masih menempel di tangannya. Barang-barang yang berada di atas nakas, semua hancur terkena amukan luapan kemarahan yang sudah tak bisa ia bendung. Adhitama menjadi tak terkontrol. Kepalan tangan kanannya memukuli dinding berulang kali hingga berdarah.


Farel berusaha menghentikan luapan amukan bosnya itu. Ia menahan tubuh Adhitama dari belakang. "Adhitama tenanglah!!!" teriak Farel.


Adhitama memberontak kuat sehingga Farel tak dapat menahannya. Lalu ia mengambil pistol dari dalam jasnya.


"Bos sekarang bunuhlah aku. Aku pantas mati karena tidak bisa menjaga amanat darimu," Farel menyodorkan pistol kesayangannya ke arah tangan Adhitama.


Adhitama mengambil pistol yang di berikan Farel kepadanya. Farel menatap mata Adhitama yang penuh rasa marah bercampur sedih. "Lakukan bos, tarik pelatuk dari pistol itu," kata Farel. Adhitama menodongkan Pistol tepat di depan kening kepala dari sahabatnya itu.


Lalu ia berteriak "Farel!!! kamu sungguh bodoh!!"


Apakah Adhitama akan menembak Farel seperti yang di minta Farel terhadapnya? Tunggu dan baca part selanjutnya ya kakak semua. 😘


Bersambung ****


Mohon like, komen, dan votenya ya kak. Ini sangat mendukung author kedepannya. Terimakasih banyak yang sudah menambahkan novel Daniar Larasati di tombol favorite. Semoga kalian semua di lancarkan rezekinya. Terimakasih banyak author ucapkan. 🙏🙏🙏🙏