Daniar Larasati

Daniar Larasati
Bertemu Kembali



Tinn,,, Pelayan segera membuka pintu gerbang setelah mendengar klakson sebuah mobil yang baru saja tiba.


"Jack! segera siapkan mobil BMW putih. Hari ini aku akan menyetir mobil sendiri," Perintah Orlando yang masih duduk di dalam mobil.


"Baik tuan," jawab Jack sembari menganggukan kepalanya.


Mobil BMW putih dengan plat bernomor cantik favorite Orlando. 7 unit koleksi mobil mewah terparkir rapi di garasi bawah tanah di vilanya. Semua berharga fantastis. Bahkan salah satu mobil koleksinya termasuk kategori mobil Limited Edition. Hanya beberapa unit yang di produksi. Dan mereka yang memiliki mobil ini tergolong triliyuner dari beberapa penjuru dunia. Ya, Orlando ialah salah satunya. Triliyuner muda penuh bakat. Terkenal di seluruh penjuru negeri.


Orlando segera turun dari mobil dan masuk ke dalam vila. Seperti biasa pelayan menyambut kedatanganya di depan pintu masuk.


"Selamat datang tuan muda," ucap mereka serentak sembari membungkuk setengah badan.


Jack mengekor di belakang tuan mudanya. Berusaha menyeimbangkan langkah kakinya mengikuti Orlando. Langkah kaki mereka terhenti seketika. Saat Orlando melihat gadis cantik berkulit putih memakai dress dusty selutut bersiap-siap menapakkan kakinya menuruni anak tangga.


Kedua mata Orlando terbelalak sempurna. Mulutnya ternganga spontan. Melihat paras ayu Daniar dengan rambut panjangnya. Terlihat sangat *Perfect.


"Sungguh bagaikan bidadari turun dari langit," gumam Orlando terkesima*.


"Su--sudah siap, Daniar!" tanya Orlando sedikit gugup.


Daniar mengangguk sembari melemparkan senyumnya yang lembut. Di balas Orlando dengan sambutan uluran tangannya.


"Terimakasih," ucap Daniar menerima uluran tangan dari Orlando.


Mereka berdua melangkahkan kaki menuju mobil yang sudah di siapkan oleh Jack sebelumnya.


"Wahh,, mereka berdua sangat cocok dan serasi ya Jack," seru Gea melihat tuannya berdampingan dengan Daniar.


"Iya. Aku bisa merasakan pancaran kebahagiaan dari raut wajah mereka," jawab Jack yang sedari tadi mengamati ekspresi keduanya.


"Semoga ada celah untuk tuan di hati non Daniar. Gadis itu juga berhati baik. Aku yakin tuan pasti bahagia jika bisa bersama dengannya," kata Gea penuh harap. Tanpa sadar Gea menitikan air mata. Lalu segera mengesut kasar air matanya sebelum Jack melihatnya.


*******


"Haii Bos!!" teriak Farel saat memasuki ruangan kantor Adhitama.


Teriakkan Farel memecah lamunan Adhitama.


"Ada apa?? bukannya ini jam istirahat. Kenapa masih mencariku," jawab Adhitama yang merasa terganggu.


"Bos! aku tahu perasaanmu saat ini. Tapi, mau sampai kapan bos. Sampai kapan kamu bisa menerima hal ini. Belajarlah melupakan semua hal sedih yang sudah terjadi. Aku tahu, pasti tidak mudah. Di mana sosok Adhit,,,"


BUGGG


Pukulan bogem mentah dari Adhitama mendarat di pipi Farel. Sebelum ia menyelesaikan ucapannya.


"Cukup Farel!! Kamu tidak berhak mengaturku. Urus saja dirimu sendiri," teriak Adhitama menegaskan.


Farel hanya terdiam. Mengalihkan pandangan sambil menyeka darah di sudut bibir dengan jari jempolnya.


"Kamu tahu Farel, seperti apa berharganya sosok Daniar dalam kehidupanku. Rencana pernikahan sudah di depan mata untuk menyatukan cinta kami. Tapi ia pergi dengan tragis karena aku, Farel. Bagaimana bisa semudah itu melupakannya begitu saja!!" tungkasnya kesal.


"Bos maafkan aku,"


Tokk,,tokk


Seseorang mengetuk pintu ruangan menghambur ketegangan antara mereka


"Masuk," kata Adhitama.


Luna masuk ke dalam dan spontan mendekat ke arah Farel.


"Itu bibir kenapa," tanyanya.


"Aku menonjoknya," sahut Adhitama.


"Sudah nggak usah di bahas. Aku pantas merasakan nikmatnya tonjokan dari bos,"


Luna menghela nafas panjang "Ayo makan siang bareng," ajak Luna kepada dua sahabatnya itu.


Sampai saat ini, Luna masih menyimpan rasa cintanya kepada Adhitama. Di tambah dengan anggapan Daniar telah tiada. Ia sangat merasa yakin, suatu saat bisa meluluhkan hati pria pujaanya itu.


"Ayo Farel makan siang bersama," balas Adhitama sambil menatap Farel.


"Baiklah,, ayo berangkat." Farel berdiri segera menghampiri Adhitama dan merangkul bahunya.


********


"Setelah ini kita cari pakaian untukmu. Ok," ucap Orlando setelah menyelesaikan hidangan makan siang.


Daniar mengangguk. Tak ada alasan lagi untuk menolak penawaran dari Orlando. Ia segera menghabiskan irisan daging steak terakhir di atas piring.


"Silahkan tuan. Suatu kebanggan di restoran kami atas kedatangan tuan kemari," ucap pelayan memberi sambutan.


"Siapkan meja di lantai atas," jawab seorang pria yang baru saja datang.


Daniar tersentak, saat indera pendengarannya menangkap suara seorang pria yang baru saja tiba. Suara itu tak asing baginya.


"Ini suara Adhitama" batinnya.


Daniar mengarahkan perlahan pandangannya ke arah pintu masuk restoran tersebut. Di dapatinya sosok Adhitama bersama dengan Farel dan Luna yang baru saja tiba. Spontan ia segera menundukan kepalanya, melirik Orlando yang sedang menatap layar ponsel di genggamannya.


Orlando tak sadar dengan kedatangan Adhitama saat ini. Daniar menarik perlahan ujung kain lengan jas yang di kenakan Orlando. Membuat Orlando mengalihkan pandangan dari layar ponselnya ke arah Daniar "Adhitama di sini," bisik Daniar.


Sepasang mata itu terbelalak saat mendengar bisikan dari gadis di hadapannya. Orlando melirik ke arah kanan. Menangkap gambaran dari belakang bahu lebar dari Adhitama yang bersiap menaiki anak tangga.


Gesit, Orlando segera meraih tangan Daniar. Menariknya segera keluar dari restoran.


"Daniar, ayo pergi dari sini."


"Tapi itu Adhitama calon suamiku," ucap Daniar sambil berusaha melepas tarikan tangan Orlando.


"Bukankah sudah kubilang ini belum saatnya kamu terlihat oleh mereka. Bagaimana kalau di tempat umum ini ada musuh yang mengenalimu dan terjadi perkelahian melibatkan Adhitama lagi," tegas Orlando membujuk.


Tarikan kuat dari tangan Daniar, perlahan melemah setelah menerima penjelasan dari Orlando. Kali ini ia menurut saat Orlando menarik tangannya keluar dari restoran.


Daniar pergi meninggalkan restoran dengan linangan air mata membasahi pipinya. Ingin rasanya bagi Daniar berlari menemui Adhitama. Menunjukan jika dirinya masih hidup sampai detik ini dalam keadaan baik-baik saja. Namun, ucapan Orlando menggugurkan keinginanya.


Adhitama bersiap duduk di tempatnya di pinggir jendela. Namun tuhan mempunyai rencana lain. Tanpa sengaja mata elang Adhitama menangkap sosok Daniar yang bersiap memasuki mobil putih di bawah sana.


"Itu Daniar," gumamnya.


Dua pasang mata menatap spontan ke arah Adhitama


"Bos, apa yang kamu lihat," tanya Farel merasa penasran.


"Da--Daniar. Itu tadi Daniar," jawab Adhitama yang masih berdiri mentap ke arah bawah.


"Cukup Adhitama. Daniar sudah tewas dan kamu harus menerima itu," tegas Luna mengingatkan.


"Tidak aku yakin itu Daniar. Aku sangat yakin," bantah Adhitama.


Adhitama bergegas pergi ke bawah menanyakan kepada petugas restoran daftar pengunjung yang datang. Untuk memastikan keyakinannya saat ini. Hatinya penuh dengan harapan.


"Aku minta catatan daftar list pengunjung yang datang," pinta Adhitama kepada manager restoran.


"Maaf, tapi ada keperluan apa tuan?" tanya manager restoran yang membuat Adhitama geram.


"Aku menyuruhmu dan jangan balik bertanya. Aku bisa membuat restoran ini bangkrut jika kamu mempersulit keinginanku," ancam Adhitama dengan tatapan iblis berhati kejam.


"Ba-baik tuan," kata manager itu. Tubuhnya bergetar hebat serasa hampir mati melihat tatapan tajam pria yang mengancamnya.


Petugas restoran yang lain memberikan lembaran kertas daftar pengunjung yang datang. Adhitama mengecek satu per satu dengan teliti nama yang tertera. Ia tak menemukan nama dari Daniar. Namun ia merasa tertarik dengan nama Orlando. Terasa tak asing baginya.


"Tunjukan kepadaku rekaman cctv siang ini," perintahnya.


"Baik tuan. Mari ikut kami ke control room,"


Sesampainya di sana, petugas menunjukan detail rekaman siang itu.


Adhitama tersentak saat melihat seorang wanita keluar dari mobil putih BMW.


Keyakinannya benar. Wanita itu adalah Daniar. Jari tangan kanan Adhitama mengelus gambaran sosok Daniar yang muncul di layar pantauan "Kamu masih hidup sayang," ucap Adhitama. Pertahanannya jebol tak sanggup menahan air matannya lagi. Akhirnya ia kalah, air mata longsor turun membasahi pipinya.


Aku berjanji akan segera menjemputmu sayang. Tunggu aku.


Bersambung***