Daniar Larasati

Daniar Larasati
Pengenalan wajah tokoh karakter



Daniar Larasati



 


Adhitama Elvan Syahreza


 



 


Lia Kartika Sari


 



Farel Radhika Putra



 


Khairun Nisa


 



Wajah Mas Orlando sama asistennya si Jack author kasih di part selanjutnya ya. HAPPY READING.


___________________________________________________________________________________________________________


"Wahh,, pengantin baru ini masih pagi sudah main kuda-kuda'an," Lia menggoda sepasang pengantin baru yang baru saja keluar dari kamar. Setelah tak sengaja matanya menangkap beberapa gambaran cap merah di leher putih Daniar.


"Lia,, ehemm,, apa kau tak ingin seperti mereka," timpal Farel seraya melirik Lia yang duduk di sampingnya.


Lia memutar bola matanya jengah, kikuk tak dapat menjawab lontaran pertanyaan dari Farel. Rona pipinya mulai memerah. Dari awal mereka kenal, kecocokan dan kenyamanan masing-masing mereka rasakan. Hati Farel kembali hidup saat mendapati bahwa wajah Lia memiliki kemiripan dengan calon istrinya dahulu yang kini telah tiada. Seiring berjalannya waktu, tumbuh benih-benih cinta di hati mereka. Namun, Farel tak memiliki keberanian cukup untuk mengutarakannya. Dan Lia, sampai saat ini hanya menunggu pria yang menjadi tangan kanan Adhitama itu untuk menyatakan perasaanya.


"Tuan,, segala yang di butuhkan atas perintah anda sudah kami siapkan," ucap salah satu pelayan rumah Adhitama.


"Baik,, Terimakasih,"


Mereka segera bergegas pergi. Menanti malam dan menghabiskan hari di sana. Daniar mengaitkan tangan di lengan suaminya. Berjalan menuju bibir pantai seraya sesekali menempelkan kepalanya di lengan Adhitama. Tentu Adhitama semakin suka dengan perlakuan Daniar yang bertambah manja padanya.


Farel berjalan berdampingan dengan Lia. Sesekali matanya melirik, mencuri pandang, mengamati wajah Lia yang masih nampak merona. Berulang kali Lia menyentuh pipinya yang terasa memanas. Serasa desiran darah panas sedang berkumpul di rahangnya. Sedangkan Nisa, jangan di tanya, ia malah sibuk memainkan ponselnya sedari tadi. Sedikit menjaga jarak jalannya dengan pasangan dewasa yang saat ini berjalan berdampingan.


"Wahh,, cuaca kali ini sangat mendukung," kata Lia sembari menyunggingkan senyuman menoleh ke Farel.


"Ideku tadi bagus juga kan," jawab Farel tak luput memberikan senyum hangatnya.


Melihat senyummu semanis itu, membuat rasa cintaku makin terkoyak untuk segera menyatakannya, Lia. Tapi aku takut hal yang dulu pernah menimpaku, akan terjadi lagi di saat kita bersama.


"Farel,, bantu aku mendirikan tenda," pinta Adhitama.


Farel mengangguk. Mengalihkan pandangannya, meninggalkan Lia di sana.


"Lia," Daniar tiba-tiba muncul di sampingnya. Sedari tadi Daniar mengamati dari jauh kedekatan antara sahabatnya itu dengan Farel. Bahkan, tertangkap oleh Daniar kini ia sedang tersenyum-senyum sendiri.


"Eh,, Daniar.."


"A--apaan sih Daniar,," Lia memalingkan pandangannya. Menjawab ucapan Daniar terbata-bata.


"Kalau suka bilang aja, Lia. Kamu juga cocok sama Farel. Farel juga jomblo, belum ada yang punya. Jadi, bagaimana kalau kamu nyatakan saja perasaanmu itu, Lia,"


"Masa iya aku duluan yang harus nembak dia. Geng--gengsii tau," Lia mengerutkan bibir.


Apa yang di katakan oleh Lia juga ada benarnya. Nyatanya praktek itu tak semudah menyusun teori. Jika di ingat dulu, ia juga sempat salah mengartikan perasaan Adhitama. Sering kemakan cemburu padahal kala itu statusnya sekedar asisten kontrak. Lebih tepatnya dulu Daniar hanya bisa memendam perasaanya, menambahkan kesabaran dalam mengaggumi Adhitama. Mengingat Luna selalu saja berusaha memisahkan mereka.


"Sabar ya Lia. Aku yakin Farel juga menyayangimu. Suatu saat akan tiba saatnya kalian bersama."


"Terimakasih Daniar. Kamu selalu memahami perasaanku. Ohh iya,, Selamat atas pernikahan kalian ya. Aku turut bahagia dengan akhir perjalanan panjang cinta kalian Daniar. Tak mudah kan pastinya melewati ini semua Daniar,"


"Doa yang menyelamatkan cinta kami, Lia. Dalam setiap doaku selalu ku selipkan harapanku kelak bersamanya," Daniar tersenyum. Seraya menatap Adhitama dari kejauhan yang sedang sibuk mendirikan tenda bersama Farel.


Yakinlah, pertemuan itu tak akan salah tempat. Tidak akan salah waktu apalagi salah orang.


Daniar dan Lia segera membantu Nisa yang sedang mengalami kesusahan saat mendirikan tenda. Mereka mendirikan dua tenda. Tentunya, satu tenda khusus untuk Adhitama dan Daniar saja. Adhitama tak ingin melewatkan sedikitpun waktu terindah bersama Daniar. Mencangkul, menanam benih di ladang Daniar dengan giat sampai membuahkan hasil.


Semua selesai. Tenda berhasil di dirikan. Kayu untuk membuat api unggun juga telah siap. Makanan minuman juga tak ketinggalan. Senja bersiap pergi tergantikan oleh malam. Angin bertiup di sertai suara ombak yang berdesir. Adhitama memainkan gitar seraya menyanyikan sebuah lagu khusus di tunjukan untuk Daniar. Dua pasang mata saling beradu tatap, membuat Farel dan Lia iri melihat kemesraan di antara mereka.


Lia berulang kali menggesekkan kedua telapak tangannya sembari meniup-niup pertanda ia sedang kedinginan. Pakaian yang di kenakannya memang berlengan pendek, angin malam menembus pori-pori kulitnya. Farel yang menyadari Lia kedinginan, segera menghidupkan api unggun untuk penghangat. Setelah api berhasil menyala, ia melepaskan jas yang di kenakannya lalu menyelimutkan dengan lembut kepada Lia. Adhitama tertawa kecil melihat tingkah kebingungan Farel bermaksud memberi perhatian. Ia heran, bagaimana Farel bisa kikuk seperti itu. Padahal, saat mendekati Daniar Farel-lah yang memberi anjuran jurus menaklukan hati wanita kepadannya. Sampai-sampai Ia harus mengalah memanggil Farel dengan julukan suhu (guru).


Tak terasa malam semakin larut. Nisa memilih masuk dalam tenda sedari tadi. Farel dan Lia sibuk berbincang berdua di pinggir api unggun. Daniar, hanya diam. Menunggu instruksi dari sang suami.


"Emm,, sayangku," Adhitama memulai pembicaraan. Dari nada bicaranya yang genit Daniar sudah bisa menebak ada maksud tertentu di baliknya.


"Iya masku," jawab Daniar juga tak kalah menggoda.


Mata Adhitama membulat kala mendengar Daniar memanggilnya dengan sebutan Mas yang baginya terdengar kalem dan teduh. "Coba,, tadi bilang apa manggilnya," Adhitama mulai senang dengan panggilan yang di tujukan padannya. "Mas,, Mas Adhitama," Daniar mengulangi ucapannya. Adhitama mengembangkan senyumnya seraya cupp,, mengecup bibir Daniar.


"Mas,, kita bobok yuk," ajak Daniar seraya menarik pelan lengan suaminya.


"Tapi jagoan kecil nggak pingin tidur, sayang,"


Daniar diam sambil mencerna ucapan Adhitama yang tak dapat ia cerna dengan pikirannya. Adhitama semakin merasa gemas melihat kepolosan istrinya. "Mas,, jagoan kecil maksudnya siapa," Daniar akhirnya memberanikan diri bertanya karena tak kunjung menemukan jawaban dari ucapan Adhitama.


Adhitama terbahak refleks mendengar pertanyaan dari Daniar. "Jagoan kecil yang ini, sayang. Yang ngerasa ketagihan sama punyamu," jawab Adhitama seraya menarik tangan Daniar, menempelken telapak tangannya di atas organ vital miliknya. "Ya kan dia mulai berkembang biak mengeras sekarang," goda Adhitama.


Puk!! Daniar menepuk dada bidang suaminya. Menarik tangannya dari benda mengeras yang tadi di sebut jagoan kecil oleh Adhitama.


"Kenapa sayang. Jangan malu-malu. Aku selalu akan menagih hak-ku. Itu juga sudah jadi kewajibanmu, sayang"


Adhitama mengelus lembut pipi putih Daniar dengan punggung jarinya. Menangkup rahang tirus istrinya lalu mengecup bibir dengan lembut di iringi lumatan dan lidah yang saling agresif menyerang. Selang beberapa menit Adhitama melepaskan serangan french kiss. Di pandanginya lekat sepasang mata sayu seakan menolak meneruskan keinginan seorang suami. Daniar masih merasakan nyeri di pusat intinya, akibat melayani Adhitama yang sangat bernafsu tinggi. Di tambah saat ia membasuhnya, terasa perih, panas, sampai menitikan air mata.


"Maafkan aku sayang, hasratku sulit untuk ku-tahan. Aku mohon izinkan aku meminta hak-ku malam ini," Adhitama mengiba.


*Dia kini suamiku. Yang sudah jadi tugas dan kewajibanku melayani kebutuhan biologisnya. Aku harus ikhlas jika ia menginginkannya lagi malam ini.


BERSAMBUNG ***


Like, komen, vote ya kak.


Maafkan ya part ini kedepan di iringi adegan 18+


Kasih masukan supaya aku dapat menyesuaikan diri dengan kalian.


Terimakasih yang selalu setia baca novelku yang masih banyak kurangnya.


Tunggu part selanjutnya ya. BYE BYE*