Daniar Larasati

Daniar Larasati
SALAH PAHAM



"Drrrrttt...Drttttt"


"Iya Farel!!! Katakan ada apa kamu menelponku sepagi ini??"


"Bos, Louis sedang dalam perjalanan ingin bertemu denganmu sekarang."


"Lalu kenapa?? Bukankah bagus ia ingat kepada anak angkatnya ini."


"Tidak bagusnya perihal hubunganmu dengan Daniar bos.. Apakah Louis akan menerimanya begitu saja??? Sedangkan dari dulu Louis menyuruhmu berkonsentrasi mengurus Klan dan Perusahaan. Melarang keras jika semua ini di kaitkan oleh rasa terhadap seorang wanita.


"Tak perlu khawatir.. Masalah itu biar aku yang mengurus. Jika urusanmu di sana sudah selesai segeralah kembali, Farel. Luna berada di Rumah sakit. Ia mengalami insiden kecelakaan kemarin."


"Apa bos?? baaaiik bos aku segera kembali jika urusan di sini sudah selesai" jawab Farel dengan terbata-bata karena masih shock mendengar kabar tentang Luna.


Dulu, saat Adhitama masih dalam masa pelatihan menggunkaan senjata, ayahnya berpesan agar ia mengesampingkan perasaan terhadap wanita. Bagi Louis wanita hanya membuat seseorang menjadi lemah.


Pagi ini, Dokter Dony memeriksa keadaan ayah Daniar. Dony menyatakan kesehatan ayah Daniar saat ini sudah membaik. Hanya perlu memperhatikan asupan makanan dan rutin meminum obat yang di berikan.


Daniar menghubungi Adhitama, ingin memberitahunya tentang hal ini. Dari tadi ia menghubungi Adhitama tetapi tidak ada jawaban.


Akhirnya Daniar memutuskan akan membawa pulang ayahnya kerumah tanpa memberi kabar Kepada Adhitama.


*********


Setelah selesai mengurus urusan kantornya, Adhitama bergegas pergi ke rumah sakit. Ia mendapatkan kabar dari Dony bahwa Luna telah sadar.


Sesampainya di Rumah sakit, Adhitama berjalan cepat masuk ke dalam kamar perawatan. Membuka pintu lalu berjalan maju menghampiri Luna,,


"Bagaimana kondisimu sekarang Lun?? apa yang kamu rasakan sekarang" Adhitama bertanya dengan menatap wajah Luna. Terlihat linangan air mata membasahi pipi Luna.


"Sakit Adhitama... Yang aku rasakan saat ini sangat sakit" jawab Luna lirih.


"Tunggu aku akan memanggil Dokter untuk memeriksamu."


Luna menarik jas yang di kenakan Adhitama. Menghentikan Adhitama agar tidak memanggil Dokter. Adhitama menghentikan langkah kakinya.


"Kenapa Lun?? bukankah tadi kamu merintih sangat kesakitan??"


"Aku gak butuh Dokter Adhitama!! Aku cuma butuh kamu yang mengobati rasa sakitku. Yang paling sakit ada di sini" Luna menjawab sambil memukul-mukul dadanya."


Mengetahui hal itu, Adhitama spontan memegang erat tangan Luna, menghentikan tindakanya. Luna terlihat sangat terguncang.


"Apa yang kamu lakukan Luna?? jangan bertingkah sangat bodoh dan ceroboh!!!"


"Apa katamu bodoh, Adhitama?? semua ini karenamu. Kalau kamu tidak menolak perasaanku, semua ini gak akan terjadi. Ayolah Adhitama!!!! Aku yang pertama mengenalmu, aku yang lebih lama bersamamu. Kenapa kamu gak memberikan aku sedikit saja ruang di hatimu."


"Maaf Luna aku gak bisa... Kamu tahu!!! Perasaan apalagi tentang Cinta tak bisa di paksakan... Daniar satu-satunya wanita yang aku sayangi.. Jadi terimalah kenyataan ini mulai dari sekarang."


Luna yang geram mendengar pernyataan Adhitama, spontan mengambil pisau buah yang ada di meja. Ia menyodorkan pisau itu ke lehernya, mengancam akan mengakhiri hidupnya jika tidak bisa memiliki Adhitama.


"Lebih baik aku mati, aku memilih mati jika harus melihatmu bersanding bersama Daniar" teriak Luna histeris.


Daniar yang melintasi kamar rumah sakit, sedang dalam perjalanan mengurus administrasi biaya berobat ayahnya. Tiba-tiba ia mendengar suara teriakan seorang wanita yang menyebut seperti namanya. Rasa penasaran menghantuinya. Ia memutuskan berhenti sejenak di depan pintu kamar sumber teriakan itu lalu memutuskan untuk masuk kedalam. Setelah membuka pintu kamar, betapa ia di buat terkejut ketika melihat Adhitama memeluk seorang wanita dan memegang erat tanganya. Seketika punggungnya seperti di siram air es yang sangat dingin. Tak bisa lagi merasakan aliran darah di tubuhnya, tak berdaya.


"Adhitama apa yang kamu lakukan."


"Daniar??? Tunggu aku bisa menjelaskan semua ini!!!!"


Luna menoleh ke arah Daniar. Daniar tak menyangka wanita yang di peluk Adhitama saat itu ialah Luna.


"Adhitama, gak perlu di jelasin. Mungkin Luna lebih butuh kamu daripada aku. Permisi...!!!"


Daniar memalingkan tubuhnya dan berjalan cepat meninggalkan mereka berdua. Terlihat ia menggigit erat bibirnya. Menahan rasa sakit yang ia rasakan.


Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya longsor juga membasahi pipinya. Hati batinya penuh dengan kata-kata umpatan kekesalannya kepada Adhitama.


"Lun aku harus mengejar Daniar" Adhitama melepas pelukanya terhadap Luna. Ia tak memiliki maksud berlebihan. Adhitama hanya menenangkan Luna saat ia ingin menusuk dirinya sendiri dengan pisau. Tetapi, Daniar melihat itu semua dan salah paham akan apa yang di lihatnya.


Sepanjang lorong Rumah Sakit, Adhitama berlari kecil mencari Daniar. Tapi ia tak menemukan sama sekali bayangan dari Wanita yang sedang di rundung kekecewaan itu.


"Tuut..Tutttt.." sambil mencari ia menghubungi ponsel Daniar, tetapi sama sekali tidak di jawab.


Terlihat di notifikasi Ponselnya, Daniar pagi tadi berulang kali menelfonya. Mungkin ini juga menjadi faktor kesalah pahaman pada pemikiran Daniar.


Sama sekali tidak menemukan Daniar, Adhitama berhenti sejenak dan duduk di kursi yang berada di lorong rumah sakit. Dony juga memberitahunya bahwa ayah Daniar hari ini sudah di izinkan untuk rawat jalan di rumah. Kemungkinan saat ini Daniar sudah berada di rumah.


Tiba-tiba gerombolan orang berbadan kekar dan tinggi berjalan menuju ke arah Adhitama. Di ikuti keberadaan Louis di depan para anak buahnya. Adhitama membuang nafas panjangnya melihat kemunculan Louis ayah angkatnya. Tatapan mata dan peringai kejam itu tak terlihat berubah dari sosok Louis.


"Kenapa datang kemari?? bukankah kamu bisa menungguku di kantorku???"


"Jaga ucapanmu terhadap orang tuamu."


"Hanya ayah angkatku bukan ayah kandungku!!! Jadi jangan harap semua bisa di samakan."


"Hmmmm anak ini dari dulu sifat dingin dan ketusnya terhadapku tidak hilang-hilang" ghumam Louis perlahan.


"Sudah hentikan berbicara soal sifatku.. Katakan ada apa menemuiku??"


"Ayah datang bukanya di sambut terlebih dahulu, malah blak-blakan seperti ini!!"


"Aku tidak suka hal yang bertele-tele. Jangan membuatku mengulang kalimat yang sama lagi."


"Baiklah-baiklah... pukul 7 malam datanglah ke Hotel xxx. Aku menunggumu di sana."


Louis perlahan pergi meninggalkan Adhitama. Kedatangan Louis pasti ada maksud tujuan tertentu. Sementara saat Louis masih berada di kota ini, Adhitama tidak akan pergi menemui Daniar terlebih dahulu. Baginya ini belum saat yang tepat untuk memperkenalkan Daniar. Ia takut Louis akan menyakiti Daniar.


Adhitama mengambil ponsel di sakunya..


"Tuuutt...Tuttt..." Adhitama menelfon Lia.


"Hallo Lia"


"Ada apa Adhitama??"


"Bisakah aku meminta bantuanmu??"


"Tentu, jika aku bisa membantu maka akan aku bantu."


"Lia, selama beberapa hari ada urusan yang harus aku kerjakan. Aku minta tolong jaga Daniar dan kabari aku jika ada sesuatu yang terjadi. Tadi Daniar salah paham terhadapku karena melihatku memeluk Luna."


"Adhitama jangan sampai kamu menyakiti Daniar sahabatku. Kalau ia sampai menangis karenamu akan aku beri pelajaran kamu Adhitama" teriak Lia garang.


"Tunggu dengar dulu penjelasan dariku. Ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Luna berusaha bunuh diri dengan pisau buah yang ada di meja kamar inapnya. Aku cuma berusaha menenangkan dia dengan memeluknya, lalu aku mengambil pisau yang ia pegang di tanganya. Cuma itu saja Lia. Tapi Daniar datang dan melihat aku memeluk Luna."


"Itu tandanya Daniar cemburu karna ia sangat menyayangimu, Adhitama!!!"


"Iya aku juga mencintainya. Bagiku Luna cuma sahabat baik. Tolong jelaskan ini kepadanya Lia. Aku yakin ia akan mendengarkan perkataanmu."


"Baiklah Adhitama aku akan berusaha menolongmu meyakinkan Daniar."


"Terimakasih Lia. Kalau begitu aku sudahi dulu telefonya."


BERSAMBUNG***