
"Drtttt..Drttt.." suara panggilan masuk ponsel Adhitama. Terlihat di layar ponsel No tidak di kenal
"Hallo"
"Tuan Adhitama bagaimana kabar anda??" terdengar suara parau.
"Siapa?"
"kenapa baru beberapa tahun tak bertemu sudah lupa dengan suaraku."
"Kamuuu.... Katakan kenapa menelponku??"
"Bukankah aku di undang pada pesta acara yang diselenggarakan oleh Group TAMA??"
"Siapa yang mengundangmu??"
"Ohhh iya, apakah kamu belum tahu saham terbesar dari Group MULYA yang bekerjasama dengan Perusahaanmu adalah milikku, Tuan Adhitama" berkata pelan berusaha menusuk musuh.
"Ohh begitu (sambil tertawa menyeringai), trik kotormu sangat membuatku semakin bergairah membuatmu gulung tikar. Baiklah Tuan Sean Rahardian aku menunggumu di Pesta besok. Aku sudah tidak sabar bertemu denganmu lagi setelah kejadian waktu itu."
"Baiklah, tak perlu khawatir. Tuan Adhitama sudah mengundangku suatu kehormatan terbesar untukku."
"Tutt..Tuttttt" suara panggilan berakhir.
"Sean sekarang apa maumu? berani sekali kamu muncul dan menyusup masuk melalui celah perusahaanku " ucap Adhitama sambil mengepalkan telapak tanganya.
Seketika otaknya memutar kembali memori masa lalu yang terjadi saat itu denganya dan Sean.
"Sean bertahanlah aku akan menyelamatkanmu !!!" teriak Adhitama.
"Adhitama akhirnya kamu datang mencariku" dengan tatapan yang menyeringai.
"Apa maksudmu?? bukankah kamu teman baikku, sudah pasti aku datang menolongmu."
"Kenapa kebodohan dan kenaifanmu itu masih saja menempel pada dirimu, aku bukan lagi temanmu."
"Kamu pasti bercanda Sean, katakan kamu hanya bercanda."
"Cepat tangkap dan kurung dia di penjara bawah tanah, siksa dia walau sampai mati" perintah Sean pada anak buahnya.
"Sean apa maumu? kenapa kamu seperti ini, jelaskan kepadaku".
"Adhitama, perlu kamu ketahui untuk mendapatkan hal yang kamu tuju, terkadang kita harus menjadi sosok baik terlebih dahulu, pada saatnya tiba baru kita akhiri sandiwara permainan membosankan itu. Tentu dengan kesan mirip dengan penghianatan".
"Jadi selama ini kehadiranmu hanya upaya untuk mencapai tujuanmu !!! ciih,,, tapi sayangnya rencanamu semua gagal. Sekarang aku baru mengerti, jadi semua ini hanya sandiwaramu agar menggiring ayah angkatku datang kesini lalu membunuhnya. Ketahuilah bukan hal yang mudah jika ingin menumbangkan ayah angkatku dan berhati-hatilah karna di hadapanmu sekarang berdiri seorang iblis yang tak akan mengenal kata ampun. Hahahaaa" lengkingan suara tertawa jahat.
"Hahaahaaa kenapa?? membunuh Ayah dan Ibumu saja aku bisa kenapa susah untuk membunuh Ayah angkatmu yang tidak berguna itu." "Brakkk" membalik meja yang berada di depanya.
"Apa maksud ucapanmu??" Ucap Adhitama sambil melihat dengan tatapan tajam dan mata yang memerah.
"Ketahuilah bahwa yang membunuh Ayah dan Ibu mu adalah aku. Apa ayah angkatmu tidak memberitahumu tentang hal ini? Lama aku mengabdikan hidupku menjadi tangan kanan ayahmu, tapi kenapa ia lebih mempercayai Louis daripada aku orang yang setia mengabdi kepadanya. Sampai-sampai memberi tempat pengganti ketua Klan Devil kepadanya. Bagiku ini penghinaan pada harga diriku."
"Bukan salah ayahku seperti itu, ia hanya salah mengapa mempercayai orang sepertimu dan membiarkanya hidup sampai sekarang. Nyawa harus di bayar nyawaaaaa." Teriak Adhitama marah.
"Braakk" kaki Adhitama menendang musuh.
"Brakk...Bughhhh" Adhitama melawan musuh dengan tangan terikat.
"Dooorr..Dorrrr" suara tembakan pistol Farel yang baru datang menyelamatkan Adhitama.
"Adhitam apa kamu baik-baik saja?"
"Lepaskan ikatan ini sekarang,"
"Sreek" ikatan di lepas.
"Dooor..Dorrr.." suara tembakan pistol Sean menembaki Farel dan Adhitama.
Terjadi baku tembak bersenjata antar dua kubu.
Saat Sean lengah "Dooorrr" Adhitama berhasil menembakkan peluru pistol kesayanganya ke perut Sean.
"Argghhh..Brukk" terluka lalu terhempas ke tanah.
Semua anak buah Sean sudah terkapar di lantai. Sean juga terluka. Tiba-tiba,,,
"Door..door" suara tembakan salah satu anak buah Sean. Mereka datang menyelamatkan Sean.
Tak ada pilihan lain untuknya selain kabur saat itu dan suatu saat akan datang membalaskan dendamnya.
Memori ingatan kelam yang tak pernah bisa Adhitama hapus dari pikiranya. Dari semenjak itu Adhitama menjauhi Ayah angkatnya dan perlahan merangkak membangun Klan sendiri bersama Farel dan menjajaki Dunia Bisnis yang menghasilkan sampai saat ini.
********
"Adhitama ayo kita pergi sekarang" ajak Luna.
"Baiklah duluan pergi ke mobil."
Suasana hati Adhitama jadi terganggu karena kemunculan Sean saat ini. Hatinya di penuhi rasa marah yang menggebu-gebu. Sepanjang perjalanan ia mengacuhkan Luna sampai saat tiba di sebuah Butik ternama,,,,,
"Tuan Nona selamat datang."
"Aku ingin memilih beberapa gaun yang pas denganku."
"Warna apa yang bagus untukku Adhitama???"
Adhitama tak menjawab hanya menunjukan Ekspresinya yang dingin.
"Adhitama apa kamu keberatan aku ajak kesini" Ucap Luna sambil berekspresi raut wajah sedih.
"Haiyeuh,,, semua bagiku bagus untukmu."
"Kenapa tiba-tiba berubah tadi di kantor sangat semangat sekarang kok mendingin."
"Yang ini bagus untukmu." Adhitama menunjuk satu gaun.
"Baik akan aku coba."
Setelah berganti pakaian dan keluar dari ruang ganti baju,,,,,
"Bagaimana Adhitama bagus gak?"
"iya" jawab singkat dengan eskpresi wajah datar.
Luna lari memeluk Adhitama.
*********
"Bibik hari ini aku ingin memasak ayam asam manis kesukaan Nisa. Aku akan pergi ke pasar dulu ya bibik Eryati" ucap Daniar sambil berjalan keluar dari rumah Adhitama.
"Non...tunggu non" teriak bibik Eryati.
"Non Daniar memang tidak bisa diam walau sedang kurang enak badan. Betul-betul wanita yang Mandiri" celetukan batin bibik Eryati.
Daniar bergegas pergi ke pasar di temani oleh Pak Dedi, sopir keluarga Adhitama. Sepanjang jalan mereka berbincang-bincang lebih dalam tentang sifat Adhitama yang dingin.
"Kalau belum kenal lebih dalam sama Tuan Adhitama pasti egak tau non kalau tuan itu sebetulnya orang yang baik" ujar Pak Dedi.
"Iya pak saya tau Adhitama orang yang baik. Hanya saja sifat dinginnya itu yang lebih mencolok. Kadang hangat kadang juga dingin kaya dispenser pak. Hahahhaa"
"Non bercandanya bisa aja." kata Pak Dedi sambil cekikikan tertawa.
"Drtttttt...Drtttt" suara ponsel Daniar.
"Hallo Farel"
"Daniar besok malam ada acara pesta, kamu akan datang kan!!!"
"Pesta???? aku gak datang Farel"
"Kenapa?? bukanya Adhitama akan mengajakmu??"
"Bahkan kabar ini aku tahu dari kamu Farel. Adhitama belum memberitahuku soal pesta."
"Mungkin sebentar lagi dia akan memberitahumu dan mengajakmu bersama menghadiri acaranya."
"Aku juga memilih tidak akan hadir Farel."
"Aku tahu pasti gak ada gaun yang di kenakan buat pesta ya. Tenang saja ayo aku antar kamu cari gaun biar aku yang bayar."
"Bos Adhitama sudah menaikkan gajiku waktu itu, sekalian cariin gaun Daniar biar jadi kejutan buat si Bos pas pesta nanti" ghumam Farel lirih.
"Iyaa, kamu sangat pintar menebak ya Farel" menjawab dengan terbata-bata.
"Baiklah sekarang aku tunggu di Butik di Jalan Limau, suruh antar Pak Dedi jangan pergi sendiri ya."
"Ok."
Daniar pergi ke Butik terlebih dahulu. Selama ini Daniar tak pernah merasakan rasanya memakai Gaun. Koleksi bajunya sangatlah minim tak seberapa. Ia lebih memilih menabung uangnya Karena kebutuhan keluarga yang sangat membengkak tiap bulanya.
Setelah tiba di Butik ia perlahan turun dari mobil lalu berjalan menuju pintu masuk butik yang di maksud oleh Farel. Sebelum masuk,dari balik kaca transparan di hadapanya terlihat Gaun-gaun cantik dan mewah terpajang di beberapa patung. Saat ia mengamati gaun dari luar kaca butik, Tiba-tiba tanpa sengaja pandanganya tersorot ke sisi lain, melihat Luna memeluk tubuh Adhitama di dalam Butik.
"Tuuttt...Tuuuut.." suara ponsel Daniar menghubungi Adhitama.
"Hallo Daniar" sapa Adhitama penuh bahagia.
"Adhitama kamu di mana?? dari tadi aku menunggumu makan bersama-sama di rumah"
ucap Daniar lembut berharap Adhitama tak akan membohonginya.
"Emmm aakku masih lembur di kerjaan banyak tugas menumpuk jadi harus segera aku selesaikan. Daniar maaf gak bisa nemanin kamu makan bersama."
"Baiklah egak apa-apa kok" berusaha sedikit bersuara ketawa agar keliatan tidak terjadi apa-apa padahal air matanya sudah mau mulai longsor jatuh ke bawah."
"Tutttt.." Daniar mengakhiri panggilan telfonya.
Mohon like dan comment yang membangun ya semua pembaca yang baik hati.
Yang bermurah hati vote nya juga boleh 😊😁
Terimakasih 😘😘😘
Bersambung***