
"Ciiit ciiit ciit" suara burung berkicauan di jendela kamar Daniar.
"Ahhhh sudah pagi, ternyata ini semua bukan mimpi buruk" Kata Daniar.
Daniar beranjak dari ranjang tidurnya. Ia membuka jendela kamarnya. Menghirup udara pagi yang masih sejuk dan melihat segerombolan burung-burung kecil terbang dari ranting ke ranting.
"Alangkah bahagianya kau burung kecil manis, dengan bebas terbang kesana kemari.Andai aku bisa sepertimu" ucap Daniar sambil merenung.
"biiip biiip" suara telpon panggilan masuk dari Nisa adiknya.
"Hallo Nisa" sapa Daniar.
"Hallo kakak, bagaimana keadaan kakak.Apakah kakak makan dengan teratur dan tidur lebih awal??" tanya Nisa.
Menjawab agak lama "iii iyaa, kakak baik-baik aja nisa kamu tak perlu khawatir. Kakak sudah dewasa sudah menikah jadi bisa jaga diri sendiri" tegas Daniar.
"Daniar kamu sungguh jahat kepadaku, teganya kamu tidak mengundangku di acara pernikahanmu."
"Ahhh ituuu hehehe, Lia kenapa kamu bisa bersama Nisa.!!! Bukankah kamu sedang berada di luar negri."
"Jaman sekarang sudah ada handphone untuk komunikasi, kenapa tak menghubungiku kalau kamu sedang dalam masalah besar seperti ini. Aku sangat kesal Daniar terhadapmu. Apakah itu yang di namakan sahabat".
"Lia maafkan aku bukan seperti itu maksudku,semua ini kesalahan ayahku. Aku tak ingin melibatkanmu Lia karena semua sangat rumit."
"Iya aku sudah dengar semua dari Nisa adikmu. Mari kita bertemu ya. Lama kita tidak bertemu, Daniar".
"Emmmm nanti aku kabarin kamu ya Lia, aku atur waktunya dulu, ok."
"Ok baiklah aku tunggu kabar darimu. Jaga dirimu baik-baik."
"iya Lia. Baiklah aku tutup dulu ya telponya."
Daniar tak akan tega jika melibatkan Lia sahabatnya dalam masalah yang ia hadapi. Lia sudah cukup banyak membantunya dari dulu. Ia tak ingin terlalu membebaninya.
Selesai mandi, Daniar turun ke bawah memulai mengerjakan pekerjaan rumah.
"Nyonya ini bukan kewajiban anda, biar saya sendiri yang melakukan semua pekerjaan ini"
"tak apa bik, saya sudah terbiasa melakukan pekerjaan seperti ini".
"Tidak nyonya sini biar saya saja.nyonya duduk saja ya di sini sambil nonton tv, nanti kalau nyonya Lina turun saya kasih kode nyonya Daniar".
"Baiklah bik kalau begitu, terimakasih."
Daniar memutuskan mengikuti ucapan bibik tersebut. Ia duduk santai di depan tv, mengamati berita yang di siarkan.
"Berita seorang pengusaha muda berbakat berhasil menguasai pasar ekonomi di kota.Waah orang ini sungguh sangat hebat. Bukan hanya hebat dan pintar ia juga sangat tampan sekali" ucap Daniar.
"Takk takk takk suara langkah kaki menuruni tangga" .
"Daniar kamu dasar wanita ******..plakkkkk.."
Suara tangan Lina menampar wajah Daniar.
"Kamu sudah gila menamparku tanpa sebab" kata Daniar.
"Apa salahku, kenapa kamu begitu kejam."
"Masih tidak tau kesalahanmu huhhh!!! Hari ini mas Hendra mengirim sejumlah uang belanja untuk di bagikan tapi kenapa jatah uang mu lebih banyak dari yang aku dapat.Kamu hanya wanita ****** tidak pantas menerima apalagi merasakan harta mas Hendra."
"Lepaskan, lepaskan tanganmu" Daniar menepis cengkraman tangan Lina di rambutnya.
"Jadi karena itu kamu memperlakukanku seperti ini. Asal kamu tahu aku tidak pernah butuh uang dari tuan Hendra. Aku merasa jijik karena uang itu di dapatkan dari hasil mencekik orang di luar sana yang lagi kesusahan, termasuk ayahku. Ayahku menukarkan aku kepada tuan Hendra untuk melunasi semua hutangnya. Apakah kamu puassss mendengar penjelasanku."
"Dasar wanita ******, harus aku buat perhitungan agar kamu tau siapa lawanmu.Beraninya menjawabku seperti itu" batin Lina marah.
"Baik uang ini menjadi miliku, jika tuan Hendra tanya jawablah kalau kau sudah menerimanya. Awas kalau kamu berbicara sebaliknya".
Lina wanita yang serakah dan haus uang. Ia memiliki segala macam trik kotor demi mendapatkan apa yang menjadi keinginanya.
"Nyonya tidak apa-apa" ucap bibik yang panik.
"Saya tidak apa-apa" jawab daniar lirih sambil menahan sakit dan berjalan perlahan pergi ke kamar.
"Biiip biiip" suara handphone berbunyi.
"Hallo Lia".
"Besok aku tunggu di cafe pesona jam 7 malam ya."
"Baiklah tunggu aku disana."
"Ok ya sudah selamat bertemu besok ya."
Tutttt tutt telpon berakhir.
Lina tidak sengaja mendengar obrolan Daniar dan Lia di telepon. Timbul ide kotor di pikiran Lina untuk menjebak Daniar agar tuan Hendra menceraikanya.
"Ini kesempatan emas mengambil tindakan.Tunggu saja Daniar riwayatmu sebagai nyonya Widjaya akan segera berakhir" batin Lina sambil cekikikan tertawa dalam hati.
Lina segera pergi sebelum Daniar mengetahui ia menguping pembicaraanya dengan Lia sahabatnya. Lalu Lina menelpon roy, teman laki-laki Lina sebelum menikah dengan tuan hendra.
"Hallo Roy, ini aku Lina. Aku mempunyai tugas yang penting untukmu aku berjanji akan memberimu imbalan uang cash 50juta.bagaimana apa kamu mau".
"Tugas apa yang harus aku kerjakan."
"Aku ingin kau menculik seorang gadis muda dan membawanya ke hotel bersamamu,selanjutnya nanti serahkan kepadaku, sesampainya kamu di hotel hubungi aku."
"Baiklah itu tugas yang mudah untukku."
"Ok aku kirim foto gadis itu kepadamu sekarang."
"Tuuuutt tutttt" Suara panggilan berakhir.
"Daniar Larasati besok tamatlah riwayatmu" haaahaaahaaahaaaaahaa . Ucap Lina sambil tertawa jahat terbahak bahak.
Bersambung*****