
Senja hilang meninggalkan bumi berganti malam. Daniar masih saja terduduk sendiri di balcon kamarnya. Di temani sinar rembulan yang begitu menggodanya malam ini.
Hatinya sedih, di terpa kerinduan. 1 minggu sudah ia tinggal di vila milik Orlando. Tapi di balik itu semua, ia masih bersemangat memperjuangkan kebahagiaannya. Tak peduli seberapa sulit jalan ke depan yang harus ia hadapi untuk bisa bersama dengan Adhitama.
"Daniar!" Ucap Orlando yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
"Eh,, Orlando! ada apa?" kata Daniar sedikit terkejut dengan kedatangan pria itu.
"Tidak papa. Aku melihat lampu balconmu masih menyala. Maka dari itu aku datang kemari. Apakah aku mengganggumu?" Orlando menatap Daniar.
"Oh,, nggak kok. Ehmm itu, aku hanya tidak bisa tidur malam ini. Jadi aku duduk di sini sambil cari angin," ungkap Daniar lalu tersenyum kecil.
"Aku tahu Daniar, kamu pasti sedang memikirkan Adhitama. Bisakah posisi Adhitama di hatimu, di gantikan saja oleh namaku?" batin Orlando.
"Besok mau nggak keluar sama aku? kita makan siang di luar. Supaya kamu nggak bosen di vila terus," ajak Orlando.
Raut wajah yang tadinya terlihat sedikit lesu, kini berubah menjadi bersemangat. Mata Daniar nampak berbinar-binar mendengar ajakan dari pria di hadapannya.
"A-aku pasti mau Orlando. Tapi, apa kamu nggak banyak kerjaan di kantor? Sedangkan kata Gea kamu tu orangnya super sibuk kan,"
"Kalau untuk menyenangkan Daniar, aku rela mengesampingkan urusan kantor sementara," jawab Orlando dan melemparkan senyum manisnya.
"Baiklah! sekarang pergilah tidur. Anginnya makin malam terasa sangat dingin loh. Aku takut kamu flu," ucap Orlando sambil mendaratkan ke dua tangannya di atas bahu Daniar.
Orlando memberi perhatian kepada Daniar. Membuat pipi gadis itu merona memerah seperti tomat.
Daniar dan Orlando masuk ke dalam.
"Selamat malam. Mimpi indah ya," ucap pria itu sambil berjalan meninggalkan kamar Daniar.
Daniar segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang tidur yang terbilang besar, empuk, dan mewah itu. Vila sebesar dan semewah ini di miliki oleh pria yang meraih kesuksesan di usia yang terbilang masih muda.
Bisa di katakan, Orlando sangatlah hebat dalam memimpin perusahaan. Bahkan perusahaan yang ia miliki sejajar dengan perusahaan ternama milik Adhitama.
*******
Daniar beranjak dari ranjang tidurnya. Segara pergi ke kamar mandi lalu pergi turun ke bawah untuk sarapan.
"Selamat pagi, Orlando," sapa Daniar kepada Orlando yang sedang duduk di ruang makan.
"Pagi, Daniar."
Orlando menatap Daniar. Memperhatikan baju yang di kenakan oleh gadis itu.
"Nanti kita cari beberapa baju sekalian," kata Orlando sambil menyuil roti tawar di tangannya.
"Ok! aku bisa bantu Orlando mencari baju yang cocok buat kamu," jawab Daniar.
"Bukan untukku. Tapi baju buat kamu. Dari kemarin aku lihat baju yang kamu pakai itu-itu terus. Padahal aku sudah menyuruh Gea menyiapkan beberapa baju baru di lemarimu. Mungkin kamu tidak suka dengan modelnya ya?"
"Nggak perlu Orlando. Aku nyaman dengan baju yang aku kenakan saat ini. Jadi nggak kepikiran mau pakai yang lain," balas Daniar.
"Pokonya nanti beli. Ok. Pilih yang mana yang kamu suka," tegas Orlando.
Orlando segera menyelesaikan sarapannya dan bergegas berangkat ke kantor. Di temani Jack yang juga berpangkat wakil presedir.
Tak jauh beda dengan Adhitama dan Farel.
Yang selalu bersama di setiap harinya.
"Gea bisa minta tolong buatkan saya teh melati," pinta Daniar.
Bagi Daniar, teh beraroma melati dapat menenangkan fikiran. Aromanya yang wangi dan lembut semakin menambah kenikmatan.
Daniar menyelesaikan sarapanya, dan beranjak dari kursinya menuju ruang santai. Nampak Gea menghampirinya membawakan secangkir teh beraroma melati sesuai dengan permintaannya.
"Non, ini tehnya," ucap Gea sambil menaruh cangkir teh di atas meja.
"Terimakasih ya Gea. Emm,, Gea bisa duduk sebentar di sini. Temanin saya ngobrol ya," ajak Daniar.
"Ada apa non?" tanya Gea yang segera ikut duduk di sofa.
Daniar meraih secangkir teh di hadapanya, dan meneguk sedikit teh hangat tersebut.
"Sudah berapa lama Gea kerja di sini," tanya Daniar sambil meletakkan cangkir teh di genggamannya.
"Sudah lama non. Sebelum tuan muda pindah ke vila ini saya sudah ikut dengan tuan muda," jawab Gea.
"Kalau begitu, Gea tau orang tua dan keluarga dari Orlando?"
"Tuan muda sejak kecil sudah di tinggal oleh orang tuanya non. Dan keluarganya hanya tersisa kakak laki-lakinya saja. Namun sayangnya ikut pergi juga meninggalkan tuan," kata Gea dan menundukan kepalanya.
"Kasian banget ya Orlando. Di vila sebesar ini hidup tanpa di dampingi orang tua dan keluarga,"
"Maka dari itu, saya dan Jack sudah di anggap keluarga sendiri oleh tuan muda non. Tuan muda juga sangat baik," sahut Gea lalu menceritakan sosok tuan mudanya itu.
Tak terasa Gea dan Daniar berbincang cukup lama. Suara telfon rumah berdering, menjeda obrolan mereka berdua.
Gea segera menjawab telfon panggilan yang sudah jelas itu pasti dari Oroando, tuannya.
"Hallo, tuan."
"Gea,, katakan kepada Daniar agar bersiap-siap. 15 menit lagi saya sampai di vila."
"Baik tuan. Segera saya sampaikan."
Gea menutup telfon dan segera menyampaikan pesan dari tuannya kepada Daniar.
Mengetahui Orlando sebentar lagi tiba, Daniar beranjak dari tempatnya dan segera menuju ke kamar.
Satu per satu pakaian yang tersedia di lemari, ia keluarkan dan mencocokan dengan tubuhnya.
Daniar menatap bayangan dirinya di kaca.
"Aduh yang ini terlalu pendek dressnya," gumamnya lirih.
Nampak Gea menghampiri Daniar, berniat membantunya memilih pakaian yang cocok.
"Non,, bagaimana dengan dress yang ini," ucap Gea sambil menunjukan dress berwarna dusty.
"Pilihanmu nampak bagus, Gea. Ok saya memilih dress ini," puji Daniar.
Gea membantu Daniar dari memilihkan dress untuknya hingga menata rambut panjangnya. Setelah selesai, Daniar kembali berdiri di depan cermin menatap bayangan dirinya di sana.
"Dress dusty ini sama warnanya dengan dress yang aku kenakan di makan malam bersama Adhitama," gumamnya.
Sampai kapan, Daniar akan menyembunyikan keberadaanya. Menahan setiap pergulatan batin yang ia alami. Sebenarnya ia tak hanya memikirkan Adhitama. Namun juga khawatir akan keadaan Nisa dan Lia sahabatnya. Pasti mereka juga mengira bahwa Daniar tewas bersama dengan bom yang meledak pada hari itu.
Bersambung**