
Daniar tak menyangka, Orlando nekad memaksanya. Mengikuti semua rencananya meninggalkan kota ini. Bahkan, ia tega membius Daniar agar tak memberontak.
Kilat menyambar di sertai guruh. Menyadarkan Daniar dari tidur panjangnya.
"Arghh,, kepalaku sakit sekali," Daniar mengerang seraya membuka ke dua matanya.
Sepasang tangannya terikat. Membuatnya tak bisa bertindak untuk melawan.
Daniar tersentak, saat ia menyadari posisinya yang sedang berada di dalam sebuah pesawat.
"Orlando!! apa kau sudah gila. Tak kusangka kamu begitu tega," teriaknya memaki pria yang duduk di hadapannya.
Orlando mematung, terdiam, tak menjawab. Lalu membuang muka saat Daniar menatapnya dengan penuh kebencian bercampur rasa amarah. Mungkin juga kecewa.
Begitu bodoh, mengapa dari awal ia menuruti segala ucapan Orlando saat itu. Sekarang, apa yang harus ia perbuat. Posisi di atas ketinggian 35.000 kaki, tangan terikat erat, dengan batas kemampuan seorang wanita, ia hanya bisa pasrah untuk saat ini.
Air dari langit turun begitu deras. Mewakili perasaan hatinya saat ini yang sedang di rundung kesedihan. Entah kemanakah tujuan pesawat ini membawanya.
"Ya,, aku harus tenang menghadapi situasi ini. Sampai datang waktu yang tepat, aku akan menghubungi Adhitama. Memberitahukan posisiku," pikir Daniar menyusun rencana.
********
"Bos,, tenanglah. Kita pasti akan menemukan Daniar secepatnya," Farel berusaha menenangkan Adhitama yang nampak gusar.
Benar adanya, fakta mengenai pertaruhan nyawa orang terdekat dalam dunia mafia. Dunia hitam, sangat kelam.
"Tambah kecepatan," perintah Adhitama sambil menatap sahabatnya itu.
Farel balik mengalihkan pandangannya, kini 2 pasang mata itu saling bertatapan.
"Bos,, kau menguji kemampuanku," tanyanya.
"15 menit," balas Adhitama menyunggingkan senyum tipis.
Farel mengalihkan pandangannya, mengarah ke depan. Dengan sigap ia mengoper perseneling mobilnya, lalu memacu laju kecepatan. Percuma ia di juluki sebagai raja jalanan, jika tak bisa memenangkan tantangan dari bosnya. Jiwa adrenalinnya mulai mencuat.
Sepanjang jalan kendaraan di depannya, ia lalui begitu saja.
Wuhuuuu
Seru Farel.
Adhitama tertawa kecil, ikut larut dalam suasana penuh keseruan bersama Farel. Jujur, kegusaran hatinya sedikit mencair saat ini.
Ckiittt,,
Suara rem mobil memaksa menghentikan laju mobil. Adhitama melirik jam di pergelangan tangannya, tepat 15 menit. Sesuai dengan permintaanya.
"Bagus, tepat waktu. Sesuai yang aku katakan," ucap Adhitama seraya bergegas turun dari mobil.
Mereka tiba di bandara. Adhitama memutuskan menunggu Farel yang akan menemui rekannya di sebuah cafe coffe.
"Sekarang,, kau bisa mengakui julukan raja jalanan itu kan, bos," ungkap Farel lalu berlari menemui rekannya.
Adhitama hanya tersenyum, mendengar lontaran ungkapan kata dari Farel.
Ia mengedarkan pandangannya, mencari tempat kosong untukknya. Di ujung belakang nampak kosong.
Adhitama segera duduk di sana, lalu seorang pelayan datang menghampirinya.
"1 kopi hitam panas," ucapnya.
"Baik, tuan. Mohon di tunggu sebentar," jawab pelayan itu lalu pergi.
"Bos, pesawat itu membawa Daniar ke kota XXX. Informasi ini akurat karena rekan lamaku yang memberitahu,"
"Cihh,, bukankah kota XXX termasuk daerah kekuasaan kita! Tak perlu repot mengejar mangsa, dengan sukarela ia masuk sendiri ke dalam kandang rubah,"
"Kapan kita bergerak bos," tanya Farel.
"Malam ini juga," balasnya. Tatapan kejam iblis bermata gelap terlukis jelas di wajahnya.
******
"Lepaskan aku, Orlando!! Sampai matipun aku tak akan sudi meninggalkan Adhitama," teriak Daniar.
Tubuh mungil gadis itu di tarik paksa kesana kemari. Daniar tetap kekeh memberontak berusaha melawan anak buah Orlando.
"Masukan ia ke kamarku. Kunci pintunya lalu siapkan anak buah kita untuk berjaga," perintah Orlando kepada Jack.
Jack membungkukan setengah badannya " Baik tuan muda," ucapnya sopan.
Sifat lembut yang selama ini di tunjukan Orlando, berbalik berubah penuh kebengisan. Ia mulai kehabisan kesabaran menghadapi gadis keras kepala seperti Daniar.
Akibat rasa yang di sebut cinta, mata hatinya kini telah di butakan. Memaksakan egonya untuk memiliki.
Bruggg
Tubuh seringan kapas itu, di hempaskan begitu saja di atas ranjang mewah nan besar. Terbentang tirai kelambu putih di atasnya.
Penampilannya kini nampak buruk. Kantung mata membengkak, rambut panjang berwarna hitam legam itu nampak acak-acakan. Ekspresi wajahnya juga nampak kusut dan lesu.
Daniar mengabaikan penampilannya, yang ia mau hanya bisa bersama dengan Adhitama.
"Semoga, esok saat aku membuka ke dua mataku, kamu ada di sampingku Adhitama," batinnya berharap.
Daniar terlena dalam kantuknya. Tubuhnya terasa sakit dan pegal, persis beribu tonjokan memukulinya bersamaan. Fisik dan batinnya sangat lelah. Malam ini ia terlelap, bersiap menyapa harapan yang ia panjatkan untuk esok hari.
*******
"Bos,, pesawat kita sudah siap," ucap Farel.
Adhitama, ketua klan tiger. Mafia yang di takuti oleh dunia gelap ilegal yang kejam. Harta yang berlimpah, termasuk pesawat jett yang ia tumpangi saat ini adalah miliknya. Sosok Adhitama yang penuh kekejaman, namun tak terlalu suka memamerkan aset harta miliknya.
"Hallo, bos. Lama kita tak berjumpa. Ada apa menghubungiku larut malam begini," ucap seorang pria dalam panggilan telefon.
Adhitama menghubungi Yohan, rekan kepercayaan sekaligus pemimpin klan di kota XXX.
"Malam ini aku akan berkunjung. Ada misi yang harus kau kerjakan malam ini,"
"Katakan saja, bos. Aku siap menerima misi darimu,"
Adhitama menjelaskan misi yang ia perintahkan secara detail. Perjalanan jam terbang saat ini memakan waktu 3 jam. Ia meminta agar misi itu di selesaikan sebelum ia sampai di sana.
"Habisi semuanya, sisakan 1 nyawa untukku yang bernama Orlando, pimpinan dari group Mulya."
Perintah Adhitama di akhir panggilan telefonnya.
Bersambung*
*Tak lupa author ingatkan, mohon like, komen, dan vote nya ya. Ini sangat mendukung author untuk kedepan. Tunggu episode selanjutnya.
Terimakasih author ucapkan.
BYE_BYE 💜**