
"Adhitama Elvan Syahreza," ucap Sean lantang begitu melihat kedatangan sosok pria itu ke wilayah kekuasaanya.
Pria itu tidak bergeming saat Sean menyebutkan namanya.
Ia nampak tenang menghisap sebatang rokok yang menempel di bibirnya. Tak ketinggalan sahabat setia sekaligus menjadi tangan kanannya bernama Farel selalu mendampinginnya.
"Hei, Sean. Jangan seperti banci. Melibatkan wanita dalam hal seperti ini. Cihh!!" ungkap Adhitama.
"Tak ada cara lain. Karena wanita ini ialah titik kelemahanmu Adhitama."
"Lepaskan dia sekarang. Setelah itu terserah apa yang akan kamu lakukan kepadaku."
Adhitama melihat gadis kesayangannya itu tergolek lemah dengan kondisi tangan yang terikat. Mata elangnya menangkap gambaran darah segar mengalir di sudut bibir Daniar.
Beraninya mereka melukai wanitaku.
Hatinya di kuasai rasa amarah. Nafsu membunuhnya seketika menggebu ingin segera menghabisi musuh di depannya.
Tapi semua itu ia tahan. Sesuai rencana yang sudah di sepakati bersama Farel saat di markas. Adhitama tidak boleh gegabah saat mengambil langkah.
"Kamu kira aku bodoh Adhitama! Mana mungkin semudah itu kamu menyerahkan diri kepadaku."
Adhitama membuang rokok di tangannya. Ia merogoh pistol yang ia sembunyikan di balik jas hitam miliknya. Lalu meletakkanya di atas lantai.
"Farel milikmu juga," perintahnya kepada Farel.
Mereka menyerahkan semua senjata.
Hal ini di lakukan Adhitama agar meyakinkan Sean dan mencari celah untuk segera menghabisinnya.
"Wah!! sungguh bernyali besar kamu Adhitama. Berani kemari tanpa anggota klan Tiger yang berjumlah ratusan ribu itu. Ku akui kamu hebat seperti ayahmu."
Mendengar kata ayah, Adhitama spontan menundukan kepalanya. Ia menggigit bibir dan mengepalkan genggamanya dengan kuat. Ya, mengingat kedua orang tua Adhitama tewas di tangan penghianat.
"Gio, lepaskan gadis itu,"perintah Sean.
Gio segera melepaskan ikatan tali pergelangan tangan yang mencengkram Daniar. Lalu menyeret tubuh gadis itu dan mendorongnya ke arah Adhitama.
"Farel bawa dia ke mobil."
"Pergilah Adhitama!! Tinggalkan aku. Di dalam bajuku ada bom yang di pasang oleh Sean," teriak Daniar.
Seketika mendengar kata bom membuat Adhitama dan Farel tersentak. Sungguh ini di luar rancangan rencana mereka. Sean sangat pintar mengetahui siasat Adhitama.
Tubuh Daniar bergemetar hebat " Pergilah Adhitama. Aku mohon." Daniar menangis terisak-isak.
"Tenang! Jangan panik. Dan jangan meneteskan air mata. Itu membuatku sangat sakit sekali," ucap Adhitama sambil mengusap perlahan air mata gadis itu.
"Farel kamu tau apa yang harus di lakukan." Adhitama mempercayakan Daniar kepadannya.
"Baik bos. Serahkan kepadaku," jawab Farel meyakinkan.
Farel menarik Daniar. Membawanya keluar dari ruangan tempat penyekapan. Membuat genggaman tangan Adhitama terlepas dari tangan Daniar.
"Daniar!! kamu harus baik-baik saja. Karena kita akan menikah setelah semua ini selesai," teriak Adhitama.
Farel memiliki pengetahuan dalam hal menjinakkan bom. Walau ini baru pertama kali ia mencobanya. "Daniar kamu percaya kepadaku kan," Farel menatap Daniar. Daniar mengangguk.
Bom waktu yang di gunakan Sean sangat rumit untuk di pahami. Banyak kabel cabang berwarna merah, kuning, dan hijau. Farel berfikir keras penuh konsentrasi. Ia mengambil pisau dari dalam sepatunya. Perlahan ia memotong kabel berwarna merah tapi nihil waktu dalam bom itu tetap berjalan.
"Farel apa aku akan mati di sini."
"Aku tak akan membiarkan itu terjadi."
Cara satu-satunya hanya melepaskan bom ini dan meledakkanya di tempat terbuka. Namun tidak semudah itu, jika Farel merusak pengait bom ini akibatnya bom akan meledak seketika dan bahkan bisa membunuhnya dan Daniar. Satu-satunya jalan hanya remote pengontrol yang ada di tangan Sean.
Farel memegang erat ke dua pundak Daniar "Tunggulah di dalam mobil dengan tenang. Ok. Kamu harus percaya dengan Adhitama dan aku."
Farel bergegas masuk kembali ke dalam gedung. Membantu bosnya menumbangkan musuh dan segera mengambil alih remote control bom itu dari tangan Sean.
Nisa pasti kamu sangat khawatir sekarang. Maafin kakak nis, kakak tidak menepati janji makan malam bersama. Kalau kakak tiada, Nisa harus terus berjuang menjalani kehidupan sebaik mungkin.
Srusshh!!
"Arghh!! sialan kamu, Adhitama!!"
Lemparan pisau lipat dari Adhitama, tepat mengenai tangan kanan Sean. Darah segar mengalir deras membasahi lantai.
Saat Farel sampai di dalam, nampak Gio yang sudah dulu tergeletak di atas lantai.
Bugg,, Bagg,, perkelahian tangan kosong antara Adhitama dan Sean berjalan sengit.
Kedatangan Farel di sambut amukan anak buah dari Sean. Mereka maju bersama mengkeroyok Farel. Farel sempat terjatuh di lantai saat kaki musuh menendang kuat dadanya.
Takkk,, Takk,, takk,,!!
Suara gemuruh langkah kaki semakin mendekat.
Para anggota klan Tiger tiba. Mereka bersatu melawan musuh. Suasana gedung terasa mencekam. Lantai berubah menjadi lautan merah. Dan akhirnya anak buah Sean mengalami kekalahan.
"Kalian luar biasa. Hidup klan Tiger," teriak Farel yang merasa puas.
"Lihatlah Sean, anak buahmu kalah telak oleh anggotaku. Jangan pernah menganggap remeh klan Tiger."
Mereka semua membalikkan tubuh ke arah dua orang pria yang masih berduel. Tubuh Sean nampak tidak seimbang untuk berdiri. Nafasnya naik turun. Ia mengalami banyak lebam dan luka akibat pukulan dari Adhitama.
Saat Sean menyadari bahwa dirinya akan kalah, ia bergerak cepat mengambil pistol dari tangan Gio yang tergeletak di lantai.
Farel yang mengetahui bosnya dalam bahaya segera melemparkan pistol miliknya ke arah Adhitama. "Boss!!! tangkap"
Doorr!!!
Arrgghh!!!
Bersambung**
*Siapakah yang terlebih dahulu terkena tembakan. Adhitama atau Sean?? Tunggu di part selanjutnya.
Mohon Like, komen, dan votenya seikhlasnya ya kaka. Ini sangat mendukung author kedepannya. Jangan lupa klik tombol faforite di layar ponsel kalian. Terimakasih 🙏🙏*