Daniar Larasati

Daniar Larasati
INGATAN YANG MENJENGKELKAN



Daniar beranjak ikut pergi tanpa menyentuh makanan yang tadi sudah ia pesan. Perutnya seketika terasa penuh melihat kejadian luar biasa hari ini. Hanya meminum sedikit air putih mineral yang tersedia di atas meja.


"Apa mungkin wanita yang di sukai Adhitama adalah Luna?? mau Luna mau siapapun aku berusaha tidak mau tahu."


Setelah Daniar keluar dari Restoran, tiba-tiba hujan mengguyur sangat deras di sertai angin. Memang dari awal datang tadi awan terlihat sudah pekat menghitam. Daniar berlari kecil, Terlihat dari kejauhan bangunan emperan ruko di tepi jalan. Daniar bergegas lari untuk berteduh.


"Biip...Biip" Suara notifikasi ponsel.


Terlihat nama Adhitama muncul di layar ponselnya.


(Di mana?? Hujan turun sangat lebat**)


"Haruskah aku balas chat dari Adhitama?? lebih baik biarkan saja."


Daniar mengabaikan semua pesan dan panggilan telfon dari Adhitama. Bayangan kejadian di restoran itu selalu menghantuinya. Selalu terputar di kepalanya seperti sedang menonton putaran Film di Tv.


Hujan tak kunjung reda. Haripun sudah larut malam. Dari tadi mencari taksi online juga tidak ada yang merespon. Taksi yang melintaspun juga tidak ada sama sekali. Tiupan angin yang kencang membuat tubuh mungil Daniar gemetar. Tanganya membeku bagai dinginnya es.


"Aku harus lekas pulang. Aku takut nisa mengkhawatirkanku."


********


"Daniar di mana kamu sekarang?? mengapa tidak mengangkat panggilan telefon dariku?? Kamu sangat membuatku khawatir" ucap Adhitama.


Adhitama melihat jam tanganya, waktu menunjukan pukul 10 malam. Ia bergegas mengambil kunci mobilnya dan bergegas mencari Daniar.


"Tuuut...Tuttttt..." Adhitama menelpon Farel.


"Hallo Bos"


"Farel tolong cari Daniar sekarang, sampai saat ini ia belum pulang kerumah. Kerahkan anak buahmu untuk mencarinya sampai ketemu. Jangan kembali sebelum menemukanya."


"Baik bos, tenanglah aku akan segera menemukanya."


Adhitama mengendarai mobilnya dengan perlahan, sembari menengok ke kanan dan kiri jalan. Memastikan keberadaan bayangan Daniar.


"Daniar apa kamu bodoh tidak tahu jalan pulang. Atau kamu sedang dalam bahaya?? Daniar di mana kamu".


Perasaan Cemas Adhitama semakin menjadi. Jalanan Kota semua sudah ia telusuri. Saat melintas melewati ruko bangunan tua ia melihat seorang wanita terduduk di lantai dengan Rambutnya yang panjang terurai.


"Apakah itu Daniar???."


Sekejap Adhitama menginjak pedal rem mobilnya, turun dari mobil dan menghampiri Wanita itu.


Sontak Adhitama menunjukan Ekspresinya yang kaget,,,


"Daniar... Daniar... Sadarlah" kata Adhitama sambil memegang dahi Daniar.


"Kamu Demam."


Tanpa berkata-kata lagi Adhitama membopong Daniar ke dalam mobil dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Tuuut....tuttttttt..." Adhitama menelpon Dokter Dony.


"Hallo."


"Dony segera pergi kerumahku sekarang."


"Ada apa Adhitama?? Apa sekarang gantian Farel yang tertembak?? "


"Bukan, cepat bergegaslah datang kerumahku sekarang."


"Ok aku segera datang."


Sesampainya tiba di rumah Adhitama membopongnya menuju kamar.


"Dony dia demam!!!!"


"Iya aku akan memeriksanya dulu."


"Aku akan tunggu diluar."


Setengah jam kemudian:


"Dia Demam akibat kehujanan. Aku akan memberi obat dan tolong di minum tiga jam sekali sampai demamnya turun."


"Ok Terimakasih, Dony"


Adhitama masuk ke dalam kamar. Duduk di sebelah Daniar sambil menatap dalam wajah wanitanya itu lalu ikut tertidur.


Daniar terbangun di tengah malam. Ia terkejut saat melihat Adhitama yang sedang tertidur di sampingnya, sambil memegang erat tanganya. "Kenapa aku berada di kamar Adhitama?? oh iya aku ingat dia menjemputku lalu membawaku pulang ke rumah."


Perlahan ia melepaskan genggaman tangan Adhitama. Daniar berfikir semua kepedulian terhadapnya hanya karna di dasari rasa kasian dan tidak lebih. Dan semua hal kepedulian darinya membuat hati Daniar makin terasa sakit.


*******


Pagi-pagi sekali Daniar bangun terlebih dahulu. Sengaja ia bangun sangat awal karena ingin segera pergi dari kamar Adhitama.


"Kenapa dia membawaku ke kamarnya?? bukankah aku juga mempunyai kamar sendiri" ghumam Daniar yang kesal.


Daniar berjalan menuju kamar Nisa. Nisa tampak masih tertidur pulas. Ia memutuskan tak ingin mengganggu tidur pulas adiknya itu, hanya mencium keningnya lalu pergi meninggalkannya.


"Rasanya badanku masih demam, aku ingin istirahat lagi di kamar" kata Daniar sambil berjalan terhuyung-huyung menuju kamar.


********


"Bik tolong jaga Daniar saat aku pergi bekerja. Pastikan ia meminum obatnya setiap 3jam sekali" ucap Adhitama pada bibik Eryati.


"Baik Tuan".


Pagi ini Adhitama memutuskan bekerja kembali setelah seminggu mengurus lukanya. Luka tembak Adhitama perlahan mulai membaik.


Berjalan perlahan memasuki kantor...


"Selamat pagi Tuan Adhitama" sapaan dari para staf kantor.


"Iya pagi" sambil tersenyum.


"Ada apa dengan Tuan Adhitama?? biasanya ia jarang tersenyum kepada para Staf di kantor


ini !!!"


"Sudah selesai berbincangnya?? berkumpul sekarang di ruang metting" kata Adhitama dengan Ekspresi dingin.


Mendengar perintah Presedir mereka, para Staf bergegas pergi. Setelah mereka semua berkumpul Adhitama masuk di dampingi oleh Luna dan Farel. Tanpa basa basi Adhitama memimpin metting hari ini.


"Terimakasih sebelumnya aku ucapkan kepada kalian semua, berkat kerja keras dan usaha kalian anggaran pendapatan tahun ini semakin meroket naik. Kesuksesan perusahaan TAMA tidak lepas dari usaha kalian semua. Maka dari itu aku berencana mengadakan Pesta untuk merayakan keberhasilan kita semua."


"Proookkk..proookkk...proookkkkkk" sorak sorai tepukan kegembiraan para Staf.


"Baik selebihnya waktu dan tempat acara aku serahkan kepada Luna untuk menyampaikan kepada kalian".


Adhitama beranjak dari tempat duduknya. Perasaanya merasa ada yang kurang saat berada di kantor tanpa adanya Daniar di sampingnya.


Muncul perasaan rindu di benak Adhitama. Pandanganya selalu di penuhi oleh raut wajah cantik wanita pujaanya itu.


"Daniar, andai kamu tahu perasaanku. Pergi sebentar berpisah denganmu saja membuat aku sangat merindu " tutur Adhitama sambil memandang foto Daniar di layar Ponsel miliknya.


Flashback...


Saat Daniar tertidur di tepi danau buatan, diam-diam Adhitama mengambil kesempatan memotret dirinya yang sedang lelap tertidur lalu menyimpan foto itu di Ponsel miliknya.


"Took...tokk..tokk" suara seseorang mengetuk pintu.


"Iya masuk."


Luna datang menghampiri Adhitama dengan senyum memikatnya. Ia berharap di Pesta nanti Adhitama akan memilihnya menjadi pasanganya.


"Adhitama untuk tempat dan semua kebutuhan untuk pesta sudah aku bereskan."


"Bagus, lalu undang juga para atasan pihak yang bekerjasama dengan perusahaan TAMA"


"Ok.. Oh hampir lupa, bisakah aku minta bantuan kepadamu Adhitama?? Mobilku sedang berada di bengkel, bisakah kamu mengantarku ke butik untuk memilih gaun untuk pesta besok??"


"Kebetulan Luna akan mencari gaun untuk pesta besok malam, sekalian aku akan meminta bantuan dia untuk memilihkan gaun yang cocok untuk Daniar" celetuk Adhitama dalam hati.


"Ok bisa saja aku juga kebetulan ingin mengajakmu pergi ke butik. Sepulang dari kantor kita akan pergi bersama."


"Apa kah aku tak salah dengar?? Adhitama juga mempunyai niat mengajakku pergi ke butik. Apakah dia ingin memilihkan gaun untukku dan memohon kepadaku untuk menjadi pasanganya?? Luna kamu sangatlah beruntung" ghumam Luna lirih.


"Ok terimakasih Adhitama" tutur Luna girang.


Bersambung****