Daniar Larasati

Daniar Larasati
TERINGAT IBU



"Kenapa harus aku yang membantunya mencuci rambut??? selalu mengancamku dengan kontrak yang sudah aku setujui. Dia pikir aku apa???? Ohhh Daniar kamu gadis kuat yang tak mudah menyerah akan hal-hal kekanakan seperti ini" ghumam Daniar kesal sambil berjalan menuju kamar Adhitama.


"Took..tokk..tokk, Adhitama !!!!"


"Kenapa dia tidak menjawabku, kenapa suasananya sangat hening" sembari menempelkan telinganya di pintu kamar Adhitama.


Tiba-tiba "Krekkkkk" Adhitama membuka pintu kamarnya. Dan "Bruk" Daniar terjungkang maju mengenai dada Adhitama.


"Arghhhh Adhitama kenapa kamu bertelanjang dada seperti itu, di manakah bajumu !!!!" Teriak Daniar marah sambil menutup matanya dengan ke dua telapak tanganya.


"Heiii Daniar kenapa tiba-tiba kamu seperti seekor landak. Aku sama sekali tidak menyentuhmu, dan juga hal ini karena kecerobohanmu, menguping melalui pintu kamarku ."


"Apaaaa katamuuu ????


Jelas-jelas aku mengetuk pintu dan memanggilmu dari luar tapi kamu tidak menjawab panggilanku sama sekali."


"Haaahaahaa, Daniar semakin kamu marah semakin menggemaskan."


"Apa katamu...Menggemaskan???"


"Apa kamu suka dengan pujianku, Daniar."


"Tidak,,,, kamu jangan sok tau ya Adhitama. Hufftttttttttt."


"Lagi dan lagi. Terus menerus Adhitama mengucapkan kata-kata yang membuat jantungku terasa ingin melompat keluar. Huhhhh tarik napas dalam keluarkan. Rileks Daniar jangan gugup akan tingkahnya" ujar Daniar sembari menepuk nepuk dadanya dengan telapak tangan kanannya.


"Ayo masuklah dan lekas bantu aku mencuci rambutku. Bahuku belum sepenuhnya pulih kembali dan luka ini tidak boleh terkena air jadi maaf aku merepotkanmu" terang Adhitama.


"Baik sekarang berbaringlah di Bathup itu, aku akan mencuci rambutmu perlahan dari atas agar airnya tidak mengenai lukamu."


Setelah Adhitama berbaring di Bathup, Daniar perlahan menuangkan shampo di telapak tanganya dan mencuci rambut Adhitama dengan sesekali memijat perlahan kepalanya.


"Wahh, Adhitama apa kamu tidak sayang membuang-buang uang untuk membeli sampho merk premium seperti ini??. Aku lihat semua perlengkapan mandimu semua cukup sangat mahal " ucap Daniar sambil memijat kepala Adhitama.


"Apakah kamu juga mau Daniar?? kalau kamu mau besok akan aku pesankan untukmu."


"Tidak, aku tidak terbiasa dengan barang-barang seperti ini. Dari kecil aku menjalani kehidupan yang sederhana bersama ayah, ibu, dan nisa adikku."


"Apa kesederhanaan membuat kalian hidup bahagia???"


"Tentu, karna kebahagiaan bukan di ukur dari adanya banyak uang. Selaginya kami bisa melewati hari-hari bersama keluarga, itu sudah suatu kebahagiaan bagiku. Tapi semua berubah semenjak ibu pergi untuk selama-lamanya" Jawab Daniar dengan kepala menunduk dan menghentikan sejenak pergerakan tanganya.


Tanpa di sadari air mata membendung dan menetes, membasahi pipi putih Daniar.


"Daniar apa kamu baik-baik saja???"


"Aku tak apa-apa" ungkap Daniar terbata-bata.


Daniar melanjutkan membilas busa shampo yang ada di rambut Adhitama, lalu mengambil handuk kecil untuk mengeringkan rambut Adhitama.


Selesai mengeringkan rambut, Adhitama beranjak dari Bathup. Ia memegang tangan Daniar sembari berkata "Jangan larut dalam kesedihan ya" ucapnya sambil tersenyum. Daniar pun menganggukan kepalanya sambil menggigit bibirnya menahan air matanya agar tidak tumpah.


"Baiklah Adhitama aku kembali dulu ya ke kamar."


Daniar keluar dari kamar Adhitama. Air mata yang sedari tadi ia tahan-tahan akhirnya jatuh juga membasahi pipinya. Daniar sangat merindukan ibunya. Sosok penghangat dan penenang hatinya di saat ia bersedih.


Ibu Daniar tiada saat Daniar masih duduk di bangku SMA. Waktu itu Nisa juga masih kecil. Ibu mengidap penyakit jantung kronis. Saat itu setiba nya Daniar pulang dari sekolah ia memasuki rumah sambil berkata "Aku Pulang".Biasanya setelah mengucapkan Salam Ibunya pasti menyambut Daniar pulang sembari menjawab salam darinya. Tapi hari ini justru yang terdengar suara Nisa sedang menangis terisak isak. Aku bergegas masuk ke dalam dan betapa kagetnya aku saat melihat ibu sudah tak sadarkan diri tergeletak di bawah. Nisa menangis makin jadi, dan Ayah menundukan kepalanya sambil memegang erat tangan Ibu yang sudah dingin seperti es.


Hari itu awal kesedihan duka yang mendalam bagiku dan ayah serta Nisa adikku. Ibu yang sangat kami sayangi, yang sangat kami butuhkan harus pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya.


Sampai sesaat setelah Ibu pergi, Ayah makin tak terkendali. Ayah menjadi mudah marah, jarang berada di rumah, makin sering berjudi dan mabuk-mabukan. Sampai tiba di titik Ayah mempunyai hutang yang menggunung karena kecerobohanya, dan aku harus rela di tukarkan sebagai penebus hutang Ayah di waktu itu dengan menikah bersama Tuan Hendra.


Tapi sekarang aku bisa sedikit bernafas lega, Tuan Hendra sudah tidak bersamaku lagi berkat pertolongan dari Adhitama. Iya Adhitama,, lelaki yang di kenal berhati dingin tapi di balik itu semua tersimpan hati yang Baik. Dan sekarang aku serumah, seatap, bersama denganya. Dan kenyataan mengatakan Keperawananku terenggut olehnya karena kebodohanku di malam itu.


Hari tak terasa sudah larut malam. Aku segera merebahkan tubuhku di atas ranjang tidurku. Memejamkan mataku dan Berusaha melupakan semua kejadian kelam yang sudah terjadi.


Tiba-tiba suara notifikasi Whatsap masuk "Biip...biip". Bergegas aku meraih Hp yang tergeletak di atas meja kamarku, melihat siapa yang mengirim pesan saat larut malam seperti ini.


Terlihat pesan dari Adhitama yang berisi "Daniar selamat malam, mimpi yang indah."


Seketika jantungku kembali berdegup sangat kencang tak teratur.


"Apakah harus aku balas isi pesan ini, Ahh tapi kalau aku balas kesanya keliatan aku suka mendapat Whatsap darinya, Tapi intinya hatiku memang sangat bahagia saat membaca pesan dari Adhitama. Iya sudah aku balas saja lah."


Daniar mengetik keyboard di Hp nya (Iya kamu juga) lalu di kirim ke Adhitama.


"Biiip..bippp" balasan pesan masuk dari Adhitama (Tidurlah dengan cepat. Besok pagi aku akan mengajakmu keluar ke suatu tempat).


"Kemanakah ia akan mengajakku besok??. Entahlah yang jelas aku hanya bisa mengikuti kemauanya kalau tidak pasti dia akan mengungkit perihal kontrak dan kontrak kerja lagi."


"Drttttt...drttttt..." Hp Daniar berbunyi lagi.


Panggilan masuk dari Lia....


"Hallo, Lia"


"Hallo Daniar, bagaimana keadaanmu di sana?? apakah kamu baik-baik saja??"


"Aku di sini baik-baik saja Lia tak perlu khawatir."


"Syukurlah kalau begitu Daniar... Oh iya ada yang mau aku sampaikan."


"Ada apa Lia???"


"Hari Sabtu nanti aku akan berkunjung ke Amerika menjenguk Ayahku di sana Daniar dan aku agak lama berada di sana. Apakah kamu tidak apa-apa jika aku tinggal Daniar?? "


"Aku tidak apa-apa Lia. Kamu jaga diri di sana baik-baik ya Lia. Aku pasti akan sangat merindukanmu Lia. Nanti sabtu akan aku antar kamu ke Bandara."


"Baiklah Daniar. Ya sudah aku tutup ya telfonya. Jaga dirimu baik-baik. Selamat Malam Daniar."


"Selamat Malam Lia."


Bersambung ****