Daniar Larasati

Daniar Larasati
KECELAKAAN



Daniar ingin selalu berada di samping ayahnya. Ia berjaga bergantian bersama Nisa, adiknya. Adhitama juga sering datang menjenguk ke Rumah Sakit. Daniar sangat tersentuh dengan perlakuan Adhitama kepada keluarganya. Ia tahu persis jika CEO Tama Group itu sangat tidak menyukai Rumah Sakit, apalagi sampai mau datang mengunjungi ayahnya.


"Biip..biip" pesan masuk di ponsel Daniar.


Pesan dari Adhitama (Sayang aku sangat merindukanmu).


Membalas(Aku pun begitu sayang. Kamu jangan nakal saat aku gak ada di sampingmu)


(Aku egak akan tertarik dengan wanita lain selain dengan Daniar Larasati. Aku sangat mencintaimu Daniar, melebihi nyawaku. Aku mau kamu mengerti itu)


(Terimakasih sayang, aku juga sangat mencintaimu. Kondisi ayah sudah berangsur membaik, mungkin dalam waktu dekat sudah bisa pulang kerumah. Okay sekarang pergilah tidur. Jaga kesehatanmu ya sayang. Muachh)


(Baik sayang, kabari aku jika ada apa-apa di sana. Muachhh)


Hati dingin seperti bongkahan Es itu akhirnya perlahan meleleh oleh satu orang wanita di sampingnya. Kehadiran Daniar banyak mengubah Dunia Adhitama. Kegelapan itu perlahan menghilang di ganti oleh warna warni pelangi yang menerangi masa depanya.


Hari ini Adhitama sangat sibuk mengurus beberapa pekerjaan di kantor. Untuk sementara Daniar tidak masuk bekerja karena masih menunggu ayahnya sampai sembuh. Farel sedang berada di Luar Negeri mengurus urusan Klan Tiger. Melihat kesempatan ini menjadi celah terbaik bagi Luna untuk mendekati Adhitama. Rasa cintanya kepada Adhitama, membutakan hati nuraninya sebagai seorang sahabat yang sudah terjalin begitu lama.


Luna menghampiri Adhitama yang sedang sibuk di ruanganya.


"Adhitama apa kamu mau di buatkan kopi??"


"Tidak Luna. Saat ini masih belum pingin." Adhitama menjawab penawaran Luna sambil sibuk menatap layar Laptopnya.


Luna berjalan ke samping tempat duduk Adhitama. Meletakan ke dua tanganya di bahu Adhitama dan perlahan memijitnya dengan lembut. Adhitama yang merasa tidak suka dengan tindakan Luna, langsung menampik ke dua tangan Luna. Luna sangat kaget akan penolakan kasar dari Adhitama.


"Luna kita ini sahabat. Selamanya akan begitu. Aku sudah memiliki calon istri. Jadi tolong jaga sikap dan tindakanmu."


"Adhitama kamu selalu saja menolakku. Apakah aku kurang cantik di banding dengan Daniar wanita murahan itu??"


"Jaga ucapanmu." Adhitama mengangkat tangan kanan nya. Tersulut emosi oleh perkataan Luna dan ingin menamparnya. Akan tetapi tangan itu di raih oleh Luna dengan cepat. Ia menarik Adhitama lalu memeluknya dengan erat.


"Took..took.." suara karyawan mengetuk pintu ruangan Adhitama. Tak terdengar suara jawaban dari Adhitama. Karyawan itu memutuskan masuk ke dalam karna ada berkas penting yang harus di berikan.


"Permisi Tuan Adhitama ini berkas penting yang harus segera di tanda tangani."


"Letakan di meja dan cepat pergilah."


"Bukankah tuan Adhitama sudah melamar nona Daniar?? tapi hari ini mataku melihat jelas Tuan Adhitama sedang berpelukan mesra dengan nona Luna" ghumam karyawan itu saat keluar dari ruangan.


Lagi-lagi Adhitama melepaskan pelukan dari Luna. Ia sejak dulu tahu bahwa Luna menyimpan perasaan melebihi teman padanya. Berulang kali Adhitama sudah mengingatkan bahwa ia tak bisa menganggap Luna lebih dari sahabat.


"Luna ketahuilah semua hal yang kamu lakukan terhadapku, bagiku itu sangat menjijikan. Aku hanya mencintai Daniar. Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan hal buruk tentang Daniar. Sekarang keluar dari ruanganku."


Luna akhirnya pergi meninggalkan ruangan Adhitama dengan rasa hatinya yang teramat sakit. Ia mengambil tas nya di meja kerjanya, lalu pergi meninggalkan kantor. Pikiranya kacau balau, nafasnya terasa sesak. Sepanjang jalan, ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Menyalip satu per satu kendaraan yang berada di depanya. Berulang kali ia memukul-mukul setir mobilnya dan air matanya lolos membasahi pipinya.


Saat lampu lalu lintas berwarna merah, ia tak menghiraukan isyarat lampu bertanda kendaraan harus berhenti tersebut. Ia justru menerobos lampu lalu lintas. Menyelip kendaraan yang sedang berhenti menunggu isyarat lampu hijau. Tiba-tiba dari arah Selatan muncul truck berwarna merah dan "BRAKKKKK" truck itu menghantam mobil berwarna Silver milik Luna. Kecelakaan tak bisa di hindari. Terlihat mobil yang di kendarai Luna ringsek parah. Luna tergeletak dengan bercucuran Darah segar. Polisi segera datang ke TKP dan menghubungi keluarga terdekat.


Drrttt...Drrtttt


"Kenapa lagi Luna?? jika tak ada yang penting urusan kerja gak usah menghubungiku."


"Maaf apakah ini dengan keluarga saudari Luna?? Kami ingin memberitahukan bahwa pemilik ponsel ini sedang mengalami kecelakaan di jalan xxxx. Mohon segera datang ke Rumah Sakit xxxx."


Adhitama segera bergegas pergi ke Rumah Sakit setelah pihak kepolisian menghubunginya. Kebetulan Luna di larikan ke rumah sakit yang sama dengan tempat ayah Daniar di rawat.


Sesampainya di Rumah sakit, ia bergegas menuju ruang UGD. Kebetulan Dokter yang menangani Luna ialah Dony temannya.


"Bagaimana keadaan Luna, Don??"


"Dia harus segera di Operasi. Karna ada pendarahan serius di kepalanya."


"Ok lakukanlah sebaik mungkin Don."


"Iya Adhitama aku akan berusaha."


Luna segera di bawa ke ruang Operasi. Adhitama mengantarkan Luna sampai di depan ruangan. Lampu isyarat tanda bahwa operasi di langsungkan masih menyala. Adhitama menyerahkan semuanya kepada Dony, Dokter kepercayaanya.


Adhitama duduk menunggu di depan ruang Operasi. Tak terasa sudah berjalan 1 jam lebih Operasi berlangsung. Tak lama kemudian lampu yang berada di atas pintu ruang Operasi padam. Menandakan selesainya proses Operasi. Nampak Dony keluar dari ruang Operasi.


"Gimana keadaanya Don?" tanya Adhitama dengan tatapan khawatirnya.


"Tenang Luna sudah gak papa, dia sudah melewati masa kritis. Untung segera di bawa kesini kalau tidak bisa fatal."


Adhitama merasa lega mendengar penjelasan dari Dony. Terlihat ia menghembuskan nafas panjang, setelah khawatir memikirkan keadaan Luna.


"Baik don. Terimakasih atas kerja kerasmu" ucap Adhitama sambil menepuk pelan bahu Dony.


Setelah mengetahui keadaan Luna yang membaik, Adhitama pergi ke kamar ayah Daniar yang masih sedang di rawat di rumah sakit yang sama. Adhitama memasuki ruangan kamar dan melihat Daniar yang sedang tertidur di samping ayahnya. Ia duduk berjongkok, dan menyeka rambut Panjang daniar yang berserakan menutupi wajah cantiknya. Terlihat kantung mata yang menghitam seperti mata panda karena Daniar terlalu banyak begadang menjaga ayahnya. Sampai-sampai ia tak memikirkan kondisi kesehatanya sendiri.


Daniar yang tersadar akan sentuhan Adhitama spontan langsung terbangun dari tidurnya.


"Adhitama sejak kapan di sini, maaf sayang aku ketiduran tadi nungguin ayah soalnya semalam kurang tidur."


"Sayang kamu juga harus jaga kesehatan ya. Kalau perlu pulanglah dulu ke rumah. Nanti biar aku mengutus orang untuk menjaga ayahmu di sini."


"Tidak sayang, itu gak perlu. Lama aku jauh dari ayah. Pertama bertemu lagi dengan keadaan ayah seperti ini. Rasanya aku gak ingin jauh-jauh lagi dari ayah."


"Ok aku mengerti. Daniar, Luna juga di rawat di sini."


"Kenapa dengan Luna, Adhitama???"


"Dia mengalami kecelakaan saat mengendarai mobilnya. Syukur dia sudah melaui masa kritisnya sekarang."


"Syukurlah Adhitama, aku ikut lega mendengarnya."


"Ternyata Adhitama juga peduli dengan Luna jika ia terluka. Ahhh Daniar buang rasa cemburumu. Mereka kan sahabat baik dan Adhitama pasti gak akan macem-macem sama Luna. Pikiranmu terlalu jauh Daniar" batin Daniar dalam hati.


Sesuatu hal mengusik fikiran Daniar. Kenapa Luna pada waktu itu bisa mengalami kecelakaan?? bukankah di waktu jam seperti itu , seharusnya ia berada di kantor karena itu masih dalam jam kerja. Apakah ada sesuatu yang terjadi sebelumnya??


Daniar berusaha tidak akan memikirkan hal lain yang terlintas di fikiranya. Yang jelas ia sedikit bernafas lega Luna sekarang baik-baik saja.


Bersambung***