Daniar Larasati

Daniar Larasati
LIA KEMBALI



Daniar masuk ke dalam kamar. Membanting tubuhnya di atas kasur empuknya. Entah mengapa sekarang ia menjadi sangat bersemangat menghadiri pesta setelah mendengar semua penjelasan dari Adhitama. Daniar Membolak balikan tubuhnya di atas kasur, fikiranya terpenuhi oleh bayangan pria berhati dingin itu, membuat matanya tak bisa terpejam seperti biasanya.


"Kepikiran Adhitama terus, dia sudah tidur atau belum ya. Coba kirim pesan deh"


Mengetik pesan (Selamat tidur Adhitama) lalu kirim.


Beberapa detik kemudian,,,


Adhitama membalas pesan (Apa kamu merindukan aku , Daniar?)


(Tidak. Aku cuma mengucapkan selamat tidur. Lagian kita setiap hari juga bertemu.)


(Padahal aku berharap kamu merindukan aku. Cepatlah tidur. Selamat Malam. Mimpikan aku dalam mimpimu.)


Perlahan pipi Daniar memerah terasa hangat saat membaca balasan pesan dari Adhitama. Akhirnya Daniar pun memejamkan matanya dan seketika tertidur dengan lelap.


*********


Mentari datang menyinari pagi. Sebelum bangun Daniar mengecek notifikasi di ponsel miliknya. Pesan masuk dari Lia dan Adhitama.


Pertama membuka pesan dari Adhitama


(Selamat pagi wanitaku) membaca pesan Adhitama sambil tersenyum-senyum sendiri.


membalas (Kapan aku jadi wanitamu? tambah emotion bibir menyeringai ke atas.)


(Secepatnya. Tunggu saja. Siapapun egak boleh dekat-dekat dengan wanita milik Adhitama. Cepat bersiaplah kita pergi ke kantor bersama-sama. Pagi ini ada pertemuan* dengan klien penting* )


( Ok Tuan Adhitama).


Lalu membuka pesan dari Lia.


Pesan dari Lia (Daniar pagi ini aku pulang dari Amerika. Bisakah kamu menjemputku?)


Membalas (Lia aku senang kamu kembali dari Amerika. Aku usahakan jemput kamu pagi ini di bandara. Ok.)


Daniar beranjak dari ranjang tidurnya. Segera bergegas ke kamar mandi dan bersiap-siap pergi ke kantor.


Berlari kecil menuruni tangga. Terlihat Adhitama sudah menunggunya di ruang tamu.


"Maaf jika membuatmu lama menunggu" kata Daniar lirih.


"Tiiddak masalah, ayo berangkat" jawab Adhitama sambil menatap dalam wajah Daniar.


Sesampainya mereka di kantor, Adhitama turun dari mobil terlebih dahulu. Tak lama Daniar menyusul berjalan di sampingnya dan menyeimbangkan pergerakan langkah kaki dari Adhitama.


Luna menyapa Adhitama


"Selamat Pagi Adhitama."


"Iya Selamat pagi" menjawab tanpa senyuman dan tatapan yang dingin.


Luna merasa kesal dan terabaikan. Ia berfikir Daniar akan marah melihat hal kemarin yang terjadi antara ia dan Adhitama. Apa yang ia fikirkan ternyata salah.


Luna menghampiri Daniar,,,


"Siapkan semua berkas untuk pertemuan dengan klien kita pagi ini" perintah Luna kepada Daniar.


"Luna tapi aku belum tahu berkas mana yang di butuhkan untuk pertemuan hari ini, apakah kamu mau membantuku?"


"Kamu harus belajar sendiri jangan seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa" teriak Luna.


Adhitama berjalan keluar dari ruanganya karena mendengar lengkingan suara Luna.


"Ada apa ini" tanya Adhitama.


Luna segera angkat bicara memojokan Daniar.


"Daniar tidak mengetahui berkas yang akan di gunakan dalam pertemuan pagi ini, dia sangat lelet" ucap Luna sengit.


"Maafkan aku, aku belum lama bekerja di sini jadi belum mengetahui banyak tentang hal ini" jawab Daniar lirih.


Luna mengetahui sifat Adhitama yang paling tidak suka dengan orang yang lelet mengerjakan sesuatu. Adhitama tidak menyukai hal itu, maka dari itu Luna berusaha memojokkan Daniar agar terkesan salah di pandangan Adhitama.


"Luna bukankah kamu paham Daniar ini sekertaris baru di kantor kita. Seharusnya kamu membantunya menyiapkan berkas itu semua. Kamu juga tahu klien kita pagi ini sangat penting jadi aku mau jangan sampai ada yang salah pada pertemuan nanti" tegas Adhitama lalu pergi kembali ke ruang kerjanya.


Daniar yang sudah merasa takut akan kemarahan Adhitama tak menyangka akan hal yang ia lihat. Adhitama secara tak langsung justru berpihak padanya.


"Drttttt...Drtttt" suara panggilan masuk dari Lia.


"Daniar aku sudah di bandara. Kamu di mana?"


"Astaga aku lupa Lia maafkan aku hari ini aku sibuk mempersiapkan berkas jadi lupa kalau berjanji mau jemput."


"Begitu ya, kalau gitu aku naik taksi aja ya Daniar."


"Jangan panggil taksi dulu. Tunggu biar temanku menjemputmu."


Daniar segera menghubungi Farel. Meminta tolong kepadanya agar menjemput Lia sahabatnya. Farel pun mengiyakan permintaan tolong dari Daniar dan memberi kontak No ponsel Lia agar Farel menghubungi Lia sesampainya di bandara. Tak terduga dari hal ini menjadi awal antara Farel dan Lia tumbuh perasaan suka.


Dahulu Farel hanya menyukai seorang wanita yang kini sudah pergi jauh meninggalkanya. Meninggalkan Farel untuk selama-lamanya. Kejadian kelam beberapa tahun lalu, saat Farel dan Dera kekasihnya sudah mendekati hari Pernikahanya. Tak terbayangkan sebelumnya oleh Farel di malam itu mobil yang mereka tumpangi terperosok ke dalam jurang dan menewaskan Dera kekasihnya. Kecelakaan itu terjadi bukan karena kelalaian dari Farel, melainkan karena saat bersama Dera musuh datang menyerang tiba-tiba dan akhirnya Farel harus merelakan kekasihnya itu pergi untuk selamanya.


Beberapa tahun dari kejadian itu, banyak wanita yang menggoda mendekatinya. Tetapi hatinya sudah tak tergerak akan kedatangan wanita lain. Hati dan perasaanya waktu itu seakan ikut di kubur bersama menjadi satu dengan hati Dera.


Kehidupan meliputi Mafia Gangster memang selalu membahayakan nyawa orang terdekat dengan mereka.


*********


Farel menginjak pedal gas mobilnya menuju bandara. Menerobos keramaian macetnya jalanan kota pada pagi itu.


Sesampainya di bandara Farel segera menghubungi Lia.


"Hallo Lia ya!!"


"Iya benar, ini teman Daniar ya!!"


"Iya aku di suruh jemput kamu, sekarang kamu di mana?"


"Tunggu 10 menit lagi ya, aku masih ngambil koperku, sebentar lagi aku keluar."


"Ok.. aku berada di pintu penjemputan no 2."


10 menit kemudian,,,,,


"Temen nya Daniar bukan??" tanya Lia.


"Iya, kenalin sekalian aku Farel" sambil bengong menatap wajah Lia yang sekilas sedikit mirip dengan Dera.


"Aku Lia sahabat Daniar. Ohh iya, maaf ya Farel jadi merepotkanmu. Padahal aku bisa saja naik taksi tapi Daniar melarangku."


"Tidak apa-apa. Jangan sungkan kalau butuh pertolongan" jawab farel tersenyum.


Farel meraih koper bawaan Lia. Sambil berjalan perlahan menuju ke mobil mereka saling berbincang-bincang. Farel mulai merasa cocok dan nyambung dekat dengan Lia. Lia pun juga demikian.


Tak terasa akhirnya mereka sampai di rumah. Lia turun dari mobil Farel dan menawari Farel untuk mampir ke dalam rumah, tapi Farel menjawab " Lain kali saja."


************


Setelah selesai menemui klien penting di kantor, Adhitama mengajak Daniar untuk makan siang bersama. Daniar mengiyakan ajakan Adhitama terhadapnya. Para staf di kantor saling bergunjing membicarakan kedekatan mereka berdua.


Luna yang setiap kali melihat kedekatan mereka sangat merasa kesal. Ia berfikir dialah yang pertama mengenal Adhitama tapi kenapa Adhitama sangat mengabaikanya dalam urusan asmara.


"Adhitama kelihatanya kamu tidak akan mau meninggalkan Daniar, tapi aku di sini akan membuat Daniar yang pergi meninggalaknmu" ucap Luna sambil memikirkan menyusun rencana jahat.


Farel kembali ke kantor setelah mengantarkan Lia pulang ke rumah. Memberhentikan mobil Sportnya di depan kantor dan melemparkan kunci mobilnya kepada bang Tedi. Bang Tedi adalah petugas parkir valet bisa di katakan ia bertugas memarkirkan mobil para pekerja ke tempat parkir yang disedikan kantor Perusahaan TAMA.


Farel bertemu Adhitama di Koridor. Seperti biasa Daniar selalu mengekor pada Adhitama saat berada di kantor.


"Farel terimakasih ya kamu sudah mengantar Lia pulang kerumah!!!"


"Ok sama-sama Daniar" Farel menjawab dengan wajah gembira.


Tiba-tiba Farel terfikir sesuatu. Ia teringat belum mempunyai pasangan untuk pesta nanti malam.


"Daniar, kira-kira bisakah aku mengajak Lia pada pesta nanti malam??"


"Appa katamu?? "Tersentak mendengar ucapan Farel.


" jika kamu ingin mengajak Lia pergi, hubungi saja dia sendiri. Tadi kan aku sudah kasih no ponselnya ke kamu Farel."


"Baiklah kalau begitu" jawab Farel.


"Sudah selesai kalian mengobrolnya?? ayo Daniar kita pulang. Bersiap-siaplah malam ini jutaan mata tertuju kepada kita berdua" kata Adhitama sambil meraih tangan Daniar lalu pergi.


Bersambung****