Daniar Larasati

Daniar Larasati
Terpesona



"Tuut..Tuttt.." Farel menelfon Lia.


"Hallo Farel, ada apa?"


"Begini maaf Lia, maukah kamu menemaniku hadir di pesta perusahaan TAMA malam ini? Daniar pergi bersama Adhitama sedangkan aku belum mempunyai pasangan. Heheheehe"


"Ohhh, kalau Farel mau di temani aku egak keberatan selagi Farel juga mau."


"Tentu saja mau Lia. Baiklah jam 7 malam nanti aku akan menjemputmu di rumah. Terimakasih banyak ya Lia sebelumnya."


"Ok Farel."


Pesta perayaan Perusahaan TAMA sebentar lagi akan di mulai. Para pejabat tinggi juga turut hadir dalam perayaan. Semua ini juga berkat kerja keras para Staf yang berada di balik kesuksesaan TAMA GROUP.


Waktu menunjukan pukul 06.30 ,,


Daniar berdandan dengan sangat cantik. Seperti biasa lipstik glossy merah muda menghiasi bibir sempurna miliknya. Rambut panjangnya perlahan ia sisir lalu sedikit ia curly pada bagian bawahnya. Gaun yang di belikan Adhitama juga ia kenakan malam ini. Tak lupa menyemprotkan parfum aroma oriental klasik di tubuh mungilnya.


"Taak..takkk" Suara langkah kaki bergema mendekat ke arah pintu kamar Daniar.


"Took..took.." suara ketukan terdengar perlahan.


"Siapa?" teriak Daniar dari dalam kamarnya.


"Ini aku Adhitama."


"Klekk...klekkk..." Daniar membuka pintu kamarnya.


Daniar melangkahkan kakinya keluar dari kamar berbalut Gaun berwarna merah muda kesukaanya. Pandangan Adhitama yang sedari tadi sama sekali tak mengedipkan kelopak matanya karena terpukau melihat kecantikan wanita yang ia sukai.


Adhitama mengulurkan tanganya kepada Daniar, dan dengan senang hati Daniar menerima uluran tangan dari pria yang ia cintai.


Bagaikan mimpi sehari menjadi seorang Putri. Semua ini tidak pernah terjadi dalam sejarah kehidupan seorang Daniar Larasati.


Pak Dedi datang menghampiri,,,


"Tuan mobilnya sudah siap sekarang" ucap pak Dedi sambil menundukan setengah badanya.


"Ok terimakasih" jawab Adhitama.


Adhitama selalu menggenggam erat tangan Daniar sampai ke dalam mobil


. Pak Dedi mengemudikan mobil dengan hati-hati menuju Hotel Aston tempat acara pesta di langsungkan.


"Kenapa tanganmu sangat dingin Daniar?? apa kamu sakit??" kata Adhitama perlahan bertanya.


"Tidak, aku hanya grogi karena baru pertama kalinya aku menghadiri pesta sebesar ini."


"Ada aku di sini tak perlu grogi ya" meyakinkan Daniar agar tetap nyaman berada di sampingnya.


Tiba di hotel pak Dedi segera turun dari mobil membukakan pintu mobil Adhitama. Setelah Adhitama turun, ia segera membukakan Pintu mobil Daniar dan lagi-lagi memberikan uluran tanganya pada Daniar.


Para awak Media sudah bersiap menunggu kedatangan dari CEO ternama Group TAMA.


"Coba lihat siapakah wanita yang bersama Tuan Adhitama itu" bisik para awak media.


"Cepat abadikan foto mereka berdua. Ini sungguh kejadian langka yang jarang terjadi" suara para awak media bergemuruh.


Tak lama berselang setelah Adhitama dan Daniar masuk, datanglah Farel dan Lia.


Farel juga membukakan pintu mobilnya untuk Lia dan perlahan mereka masuk melewati para awak media.


Luna sudah bersiap menyambut Adhitama dari dalam gedung. Melihat Adhitama yang datang menggandeng Daniar membuat ia sangat marah. Hatinya di penuhi kekesalan dan dendam yang membara.


"Jika aku tidak bisa memiliki Adhitama, kamu juga tidak boleh memilikinya Daniar" umpat Luna dalam hati.


Acarapun di mulai. Para tamu undangan terlihat sudah hadir dalam pesta. Sisa satu orang yang belum terlihat yaitu Sean Rahardian. Adhitama berusaha tenang berharap acara ini berjalan lancar sampai akhir. Semua penjagaan di perketat, semua anak buah di kerahkan pada malam ini. Menjaga di setiap sudut-sudut ruangan di gedung itu.


Pesta malam itu berjalan meriah. Semua tamu undangan terlihat sangat menikmati. Tiba-tiba di pertengahan berjalanya pesta,,,


"Sean ada di depan Bos" ujar Farel.


"Beritahu anak buahmu agar waspada jangan lengah. Di sini masih banyak orang jangan sampai terjadi hal yang tidak di inginkan. Aku tidak mau ada yang terluka."


"Baik Bos."


Sean datang memasuki gedung acara. Di dampingi oleh pengawal dan asisten kepercayaanya. Tampak wajah yang sama dan peringai yang sama dengan beberapa tahun silam.


Sean menghampiri Adhitama,,,


"Selamat malam Tuan Adhitama, terimakasih sudah mengundangku di acara ini. Tuan Adhitama terlihat berbeda sekarang, apakah Tuan Adhitama masih bersikap Naif seperti dulu?" ejek Sean.


"Aku tidak akan mengundangmu kalau aku tahu kamu yang memiliki Group Mulya. Jangan terlalu merasa bangga seperti itu."


"Ciihh.. Aku mengira kamu sangat teliti dan waspada terhadap musuh Adhitama. Sampai-sampai aku bisa masuk menyusup di perusahaan naunganmu. Apakah Tuan Adhitama sekarang sudah selemah itu?? atau jiwa membunuhmu sirna saat datangnya wanita itu dalam hidupmu??"


"Beraninya kamu berbicara seperti itu kepadaku. Kalau kamu menyentuh wanitaku walau ujung rambutnya saja jangan salahkan aku jika akan menghabisimu dan para anak buahmu dengan keji."


"Tatapan mata dingin dan kejam itu masih seperti dulu tidak berubah sedikitpun. Adhitama ketahuilah aku sudah menemukan kelemahanmu. Jadi berhati hatilah karena aku bisa sewaktu-waktu menghancurkan kehidupanmu. Jangan sampai aku kehabisan kesabaran dan menyakiti wanita kesayanganmu itu. Dengar ini baik-baik Adhitama" mengancam lalu pergi dari hadapan Adhitama.


Akhir dari acara ialah berdansa bersama dengan masing-masing pasangan. Lampu penyorot ruangan tertuju kepada Adhitama. Dengan bangga ia menghampiri Daniar yang sedang duduk di meja VIP paling depan.


Melangkahkan kaki, berjalan menghampiri Daniar,,,,,


"Nona manis maukah anda berdansa denganku malam ini??" berbicara dengan mengulurkan tanganya.


"Prook...prokkk.. sorak sorai tepuk tangan dari para tamu yang hadir.


"Daniar dengan senang hati menerima tawaran istimewa dari Adhitama."


Berdiri dari kursi duduknya dan maju ke depan bersama Adhitama. Perlahan Adhitama meraih pinggang mungil Daniar, mendekap dan menarik tubuh Daniar semakin dekat denganya. Berirama mengikuti gerakan kaki dan menyamakan dengan alunan musik yang di putar. Berlenggak lenggok dengan luwes membentuk tarian dansa Ballroom yang indah dan menawan.


Semua jutaan tatapan mata tertuju pada mereka. Daniar bagaikan Putri kerajaan yang sedang berdansa dengan seorang Pangeran tampan. Suara sorak sorai tepuk tangan menggema memenuhi gedung acara.


"Mataku tak bisa bila tidak memandang dan memperhatikanya" batin Adhitama sambil menatap bola kaca mata Daniar.


"Daniar tahukah kamu malam ini kamu sungguh mempesona."


Daniar hanya tersipu malu dengan pernyataan Adhitama.


"Waah kalian sungguh sangat serasi" ungkap Farel dan Lia bersamaan.


"Lia memuji terlalu berlebihan ihh" jawab Daniar.


"Kenyataanya Daniar. Kamu kan dari dulu memang jagonya berdansa."


Dari kejauhan Luna yang melihat hal ini mulai merasa geram. Ia melampiaskan semua amarahnya untuk meneguk whisky yang di sediakan tanpa henti. Dari awal acara sampai dengan akhir terlihat Luna memasang wajah kusutnya.


Tiba-tiba datang seorang pria menghampirinya di meja Bar,,,


"Waahh anda wanita yang kuat minum ya."


"Siapa kamu?? apakah kamu juga mau minum bersamaku?"


"Perkenalkan namaku Sean Rahardian. CEO dari Group Mulya" Sean berkata sambil menyodorkan tanganya.


"Aku Luna sekertaris dari Group Tama."


"Berarti anda sekertarisnya Adhitama??"


"Iya benar. Aku sekertaris dari pria berhati Es itu."


Luna tidak mengetahui bahwa pria yang duduk di sampingnya ialah musuh besar dari Adhitama. Sean menghampiri Luna memiliki tujuan tertentu. Perlahan ia ingin memanfaatkan Luna untuk menjadi bonekanya menghancurkan Adhitama. Sean tau persis orang-orang yang dekat dengan Adhitama. Semua sudah ia selidiki sejak sangat lama. Karena Sean tahu mengalahkan Adhitama ketua Klan Tiger tidaklah mudah.


Bersambung****