
“Ra, ya mapun. Gue kangen sama lo.”
Begitu melihat Rara di koridor sekolah, Zevanya berlari menghampirinya dan memeluk cewek berambut pendek tersebut erat. “Please, Zee, jangan curhat lagi. Kemarin lo udah ceritain semuanya. Gue udah bosen.” Elak Rara menusuk sambil mendorong agar cewek itu terlepas darinya, tetapi tidak berefek apa-apa bagi Zevanya.
Sebaliknya, dia menyengir lebar dan kembali memeluk sahabatnya tersebut. “Gue belum puas nyeritain ulang.” Jawabnya enteng, disertai gelak tawa bahagia.
Rara mmutar bola mata, kembali mendorong Zevanya menjauh darinya. “Gue lebih tertarik sama pacar lo. Kemarin kalian ngapain?”
“Dia bukan pacar gue! Ingat, Ra, dia bukan pacar gue!!” Tekan Zevanya tidak terima. Mendengkus sambil menyedekapkan tangan pura-pura ngambek.
Rara tergelak dan menggelengkan kepala. “Dia pacar lo!”
“Ra!” Zevanya berteriak nyaring. “Suara lo! Jangan sampe ada yang denger!”
Rara kembali tergelak senang bukan main. “Ngaku juga.” Ejeknya.
“Bodo ah!” Zevanya cemberut, lalu memicing curiga. “Ra, lo nggak ada kerja sama, kan, sama Ryu?” Rara mengerutkan dahi. “Dia tahu dari mana rumah gue?”
“Mana gue tahu?” Sewot Rara. “Dia pacar lo, bukan pacar gue!”
Zevanya mendelik tajam. “Jangan-jangan dia nguntit gue, Ra, selama ini? Astaga, gue nggak nyangka dia psikopat.”
“Anjir, pacar sendiri dicurigai begitu.” Rara memandang sahabatnya horror. Zevanya tetap curiga, dia yakin kalau Ryu pasti mengikutinya diam-diam selama ini. Barangkali naksir berat makanya maksa mereka pacaran.
“Eh, bentar.” Ponsel Zevanya berdering nyaring. Cewek itu berdecak menolak panggilan, namun rupanya si penelpon tidak mengalah. Ponselnya kembali berdering dengan nama id yang sama.
“Ke parkiran sekarang!”
Lalu sambungan telpon terputus. Zevanya menganga memandang ponselnya, serta Rara mengerutkan dahi. Nama id yang tertera di sana tidak lagi membuatnya bertanya-tanya. Pastinya pemilik id tukang paksa itu adalah Ryu, yang telah diganti oleh Zevanya dari sebelumnya sayang.
“Yuk, ke kelas.” Ajak Zevanya mengabaikan suruan dari sepenelpon tadi.
“Zee, lo nggak ke parkiran?” Tanya Rara memicing.
“Ogah!” Elak Zevanya. “Yuk, cepet.” Zevanya buru-buru menarik Rara pergi.
“Kabur?” Mereka berheti dan menoleh ke belakang. Di sana Ryu sedang berdiri dengan tangan kiri di masukkan ke dalam kantong.
“Bawa.” Ryu melempar ranselnya pada Zevanya yang ditangkap gesit oleh cewek tersebut.
“Gue nggak mau!” Zevanya mengembalikan ransel tersebut dan hendak bergegas pergi. Tidak ingin berurusan dengan Ryu pembuat masalah.
“Rekaman lo nembak gue masih ada.” Langkah Zevanya berhenti. “Bukan salah gue kalau rekaman itu tersebar.”
“Kenapa lo punya?” Zevanya menghampiri Ryu. “Jangan bercanda, Ryu!”
Ryu tersenyum miring, kembali melempar ranselnya pada Zevanya. “Bersikap baik kalau lo mau selamat!”
“Ryu!” Zevanya menggeram kesal. “Hapus rekamannya!” Ryu tidak bergeming, melanjutkan
langkah santai ke kelas.
Hal tersial dalam hidup Zevanya adalah ketika berurusan dengan Ryu. Meskipun Ryu seniornya, namun Zevanya tidak mau memanggilnya dengan sapaan sopan seperti pada Adnan. Lagi pula mereka tidak akrab, Zevanya mengenal Ryu tepat di hari mereka jadian.
Hais!
“Sepatu gue, ikat.” Ryu mengangkat kedua kakinya ke atas meja begitu mereka di kelas. Zevanya melempar ransel di tangannya pada cowok tersebut.
“Gue bukan pembantu lo!” Elak Zevanya kesal.
“Lo pacar gue!” Kata Ryu membenarkan.
“Ryu!” Ryu menunjuk sepatunya agar Zevanya mengikatnya.
Ryu mengeluarkan ponselnya karena cewek tak kunjung bergerak. “Ekspresi lo…”
“Ryu!” Zevanya tidak berhasil merebut ponsel dari tangan Ryu. “Jangan!”
***
Medan, 11.09.19