
Sesuai janji Adnan tadi pagi, dia menemui Zevanya di kelasnya. Otomatis kelasnya ricuh dengan kedatangan senior yang terkenal berandalan tersebut. Jantung Zevanya berdentam berkali-kali lipat, dia sendiri tidak tahu mendeskripsikan perasaannya saat ini.
Tubuh Zevanya panas dingin. Sebisamungkin merilekskan diri agar tubuhnya tidak panas dingin oleh kebersamaan tersebut.
“Doi udah di luar tuh.”
Senyum Zevanya kian melebar. Rara menyenggol lengan sahabatnya ketika mereka hendak keluar dari kelas. Ternyata benar, Adnan ada di luar kelas sedang menunggunya. Wajah Zevanya memerah hingga ke leher. Luar biasa bahagia.
“Hai,” Sapa Adnan dengan senyum lebar.
“Ha-hai, kak.” Balas Zevanya nyaris diabetes. Rara kembali menyenggol lengan Zevanya dan bersiul menggoda. Baik Zevanya dan Adnan hanya tersenyum kikuk.
“Yaudah, gue duluan ya.” Pamit Rara. “Have fun. Semoga cepet jadian, ciyeee…”
“Rara…” Zevanya mencubit pinggang sahabatnya tersebut. Tidak sanggup kalau digoda terus menerus seperti itiu
“Semoga…” Timpal Adnan membuat Rara dan Zevanya menahan nafas. Rara lebih dulu tersadar dan kembali menggoda mereka. Kemudian berlalu sambil melambaikan tangan. Zevanya yang mendadak kaku sejak mengetahui Adnan di kelasnya hanya tersenyum tipis. Menjaga image di depan Adnan tentu saja. Jika saja Adnan tidak ada di sana, Zevanya sudah berteriak nyaring dan heboh seperti orang utan. “Yuk.” Ajak Adnan kemudian.
Keduanya berjalan beriringan. Tentu saja menjadi bahan ghibah anak-anak. Zevanya mendengar bisaik-bisik berupa mencemooh, ada juga yang memuji. Tetapi Zevanya bukan cewek lemah yang akan mundur hanya masalah spele begitu. Sebaliknya, dia akan membuktikan bahwa dia dan Adnan adalah pasangan yang serasi. Couple goals.
Sepanjang perjalanan, mereka membicarakan musik yang diputar di radio. Sesekali ikut bernyanyi untuk mencairkan suasana yang kadang-kadang kaku dan canggung. Zevanya tersenyum lebar, suara Adnan merdu. Dia harus pamerin itu pada Rara. Bodo amat kalau Rara nantinya mengejek cempreng atau sejenis apapun itu. Bagi Zevanya, suara Adnan yang terbaik.
Begitu sampai di toko buku, keduanya memasuk lorong-lorong rak dan memilih buku yang di cari. Adnan memilih buku ensiklopedia dan membuka acak. Buku tebal yang memiliki banyak warna gambar di dalamnya menarik perhatian Zevanya.
“Kakak suka baca ensiklopedia juga?” Tanya Zevanya.
“Iya. Jaman SMP dulu nih sering bli buku ginian.” Jelas Adnan.
Zevanya manggut-manggut. “Seru bukunya. Selain menarik karena gambar yang lengkap, warnanya juga cerah. Terus gampang dipahami.”
“Iya.”
“Kakak suka baca buku apa aja? Novel suka?” Zevanya tidak memutuskan topik pembicaraan.
“Kayak sihir-sihir gitu ya?” Tebak Zevanya.
Adnan membenarkan. “Iya, semacam itu.” Katanya. “Lo suka baca apa aja?”
“Gue juga suka baca novel, puisi juga. Tapi kalau novel sih, gue lebih suka yang romance.”
“Roman picisan?”
Zevanya menyengir lebar sembari mengangguk membenarkan. “Manis, sih, kak.” Katanya. “Sebagai penyembuh luka kalau dunia nyata nggak bersatu sama orang yang kita cintai.”
Adnan tergelak. “Novel romance sering bohong.” Zevanya mengerutkan dahi. “Kisah nyata dan novel berkebalikan.” Ungkapnya.
Giliran Zevanya yang tergelak. “Justru itu. Kalau baca novel endingnya happy. Jadi anggap aja kita juga happy ending dalam imajinasi.”
“Gila dong?”
“Sedikit.” Cengir Zevanya.
Adnan terkekeh lalu mengembalikan buku ensiklopedia di tangannya pada jajaran buku di rak. Mereka meneruskan ke lorong lain dan sesekali mengambil buku yang menarik perhatian oleh sampul dan
judul.
Zevanya tidak langsung serius mencari buku yang dibutuhkan. Dia lebih menikmati kebersamaannya bersama Adnan. Ingin waktu berhenti pada mereka agar keduanya bisa lebih saling mengenal lebih dalam.
Masalah tugas, sebenarnya Zevanya bisa mencari di situs internet. Mencari buku hanya sebuah taktik agar dekat dengan Adnan saja.
***
Medan, 19.08.19