COOL BOY

COOL BOY
BAB 39



Selama bersekolah hampir 3 tahun mereka bertujuh baru kali ini pergi berlibur bersama. Entah mengapa hubungan mereka menjadi lebih dekat saat ujian sebentar lagi di adakan. Artinya mereka tidak lama lagi bersama, kecuali mereka memilih universitas yang sama nantinya.


Kita doakan saja, semoga persahabatan mereka terus terjalin hingga tua. Aamiin.


Bintang sudah berada tepat di depan gerbang rumah Bulan, dan Bulan pun ternyata sudah berdiri di sana karena Bintang sudah mengabarinya akan sampai dalam beberapa menit lagi.


Bintang berjalan menghampiri Bulan, "Sudah siap liburan sama gue buat pertama kalinya?" tanya Bintang saat sudah berdiri di hadapan Bulan.


Bulan mendorong bahu Bintang pelan, "Apaan sih pertanyaan lo gak jelas banget!" ujarnya salah tingkah lalu meninggalkan Bintang begitu saja.


Bulan melangkah ke arah mobil dan langsung masuk ke dalam di kursi belakang, Bintang yang melihat Bulan memilih duduk di belakang langsung menegurnya.


Bintang kembali membuat pintu belakang yang di mana ada Bulan, tanpa ikut masuk Bintang hanya menundukkan badannya agar bisa berbicara dengan Bulan.


"Emangnya gue supir!" ketus Bintang.


Bulan pun terkekeh pelan, "mirip." sahut Bulan.


"Pindah." Bintang mode dingin.


Bulan menggeleng, "Gue di belakang aja, biar Manda yang di depan kan dia yang tahu jalannya." celetuk Bulan.


"Gue juga tahu jalannya." sahut Bintang jujur.


Bulan menepuk keningnya pelan, "Iya gue lupa, lo kan sedeket itu sama keluarga Manda." seru Bulan seakan menyindir Bintang.


Bintang tersenyum kecil, "Cemburu?" ujar Bintang membuat Bulan salah tingkah.


Terdengar kekehan kecil dari Bintang dan membuat Bulan langsung menoleh ke arah suara itu, lalu tersenyum.


"Lo lucu kalau lagi cemburu." ujar Bintang semakin membuat Bulan salah tingkah dan kalian tahu jantung Bulan rasanya ingin copot saat ini.


"Pindah di depan ya, duduk samping gue."


Bulan terdiam, "Apa ada alasan kenapa gue harus pindah ke depan?"


"Manda itu cuma sahabat gue, sedangkan lo masa depan gue. Jadi lo yang lebih pantas duduk di samping Bulan." ujar Bintang lembut dan terdengar sangat tulus.


Jantung Bulan semakin tidak karuan, tanpa pikir panjang Bulan keluar dari mobil lalu berpindah posisi duduk jadi di depan di samping Bintang.


Bintang tersenyum karena Bulan menuruti apa permintaannya, setelah itu Bintang ikut masuk ke dalam mobil.


Sebelum mobil melaju, Bintang sempat berkata, "Selalu di samping gue ya Lan." ujar Bintang membuat Bulan mengangguk lalu tersenyum.


Lalu Bintang melakukan mobilnya menuju rumah Manda, di sepanjang perjalanan keduanya terlibat pembicaraan yang tidak ada habisnya. Selalu saja ada yang di bahas, Bulan berpikir ternyata Bintang tidak seburuk itu sama seperti Andre yang ternyata nyambung saat di ajak bicara dengannya. Maksudnya satu pemikiran juga dengannya ternyata.


Setelah hampir menghabiskan waktu 35 menit keduanya telah sampai di depan rumah milik Manda, dan ternyata sudah ada yang lainnya juga di sana terlihat ada mobil Angga terparkir di depan gerbang.


Bintang dan Bulan turun untuk masuk ke dalam rumah Manda, karena sepertinya yang lain masih di dalam rumah Manda. Setelah di persilahkan masuk, keduanya masuk ke arah ruang tamu dan terlihat yang lainnya sedang makan cemilan yang di sediakan.


"Tuh dia, sih Star sama Moon." seru Hendra saat melihat kedatangan keduanya.


"Lama banget sih lo berdua, abis ngapain dulu sih?" gerutu Arkana.


Bintang dan Bulan hanya diam tidak menjawab pertanyaan dari mereka, setelah itu mereka memutuskan untuk segera berangkat karena sekarang sudah pukul 7 malam. Saat ingin keluar rumah, terdengar suara yang memanggil Manda dan juga Bintang.


"Manda, Bintang." panggil Niko otomatis membuat mereka semua menghentikan langkahnya lalu berbalik ke arah Niko.


"Iya pi?" jawab Bintang lebih dulu.


"Ini kunci villa nya, kalian hati-hati dan jangan berbuat macam-macam inget kalian semua masih sekolah, masa depan kalian masih panjang jangan berbuat di luar batas. Paham?" Niko memberi nasihat pada semuanya.


Semuanya mengangguk, "Paham om." sahut semuanya serentak.


Bintang mengambil alih kunci itu, "Terima kasih pi. Kalau gitu kita berangkat dulu ya." pamit Bintang lalu mencium punggung tangan Niko.


"Iya, papi titip Manda ya." ujar Niko tanpa sadar membuat hati Bulan sedikit sakit mendengarnya.


Manda pun langsung paham dengan kondisi seperti ini, "Bintang khusus buat jagain Bulan pi, karena sekarang mereka pacaran. Iya kan Tang?" ujar Manda membuat yang lain hanya diam.


Niko menatap Bintang, "Oh ya? Serius kamu sudah pacaran sama Bulan? Selamat ya Bintang, semoga kamu bisa jagain Bulan terus seperti kamu jagain Manda terus dulu." ujar Niko.


Bintang mengangguk, "Makasih banyak pi, Bintang bakalan jagain Bulan lebih dari apa yang pernah Bintang kasih buat Manda." jawab Bintang membuat hati Bulan tersentuh.


"Yaudah kalau gitu, kita pamit ya om takut sampainya nanti kemalaman." ujar Arkana pada akhirnya bermaksud menyudahkan situasi seperti ini, hatinya pun sakit mendengar itu semua.


Niko mengangguk, lalu semuanya keluar dari rumah Manda. Rombongan di bagi menjadi 2, Angga, Hendra dan Mutia. Sedangkan Bintang, Bulan, Manda dan Arkana.


Manda sudah memberitahu Hendra di mana letak villa nya, dan Hendra pun sudah tahu di mana karena ternyata tidak jauh juga dari villa keluarganya.


Di dalam mobil Bintang telihat suasana yang canggung, mungkin karena situasi yang tadi. Dengan keberanian Manda membuka suara lebih dulu.


"Lan, sorry ya kalau ngomongan bokap gue tadi bikin lo jadi kepikiran." ujar Manda meminta maaf pada Bulan.


Bulan langsung menoleh ke belakang untuk melihat Manda, "Gak papa kok Man, wajar kali. Bokap lo pasti percaya banget sama Bintang, makanya lo di titipin sama dia. Iya kan Tang?"


Bintang tidak menjawab, ia takut jawabannya salah dan akan membuat situasi semakin kacau.


"Ar, sorry juga ya." ujar Manda pelan dan Arkana hanya mengangguk.


Akhirnya mereka kembali diam, hanya suara radio yang terdengar di mobil Bintang, tidak seperti di mobil Angga yang sangat berisik padahal jumlah mereka hanya bertiga tetapi sangat berisik, karena seperti biasa Hendra mengadakan konser dadakan dan sekarang penyanyinya di tambah 2 yaitu Angga dan Mutia pun ikut bernyanyi.


"Guys, gimana kalau nanti kita bikin rencana biar Bulan sama Bintang bisa jadian?" ujar Mutia tiba-tiba membuat Angga dan Hendra menghentikan nyanyinya.


"Gimana caranya?" tanya Hendra.


Mutia nampak seperti berpikir, "Bulan itu takut sama hantu, kita jahilin Bulan buat pura-pura jadi hantu, nanti kan pasti Bulan teriak dan yang paling sigap pasti Bintang terus kita kunciin deh mereka di dalam, pasti setelah itu mereka jadian."


Angga mengangguk, "Iya, bener malah enak-enakan mereka bikin gue ngiri karena gak ada bahan."


Mutia menoyor kepala kedua lelaki di kursi depan, "Lo berdua otaknya parah ih, Bintang gak mungkin kaya begitu lah, kalau lo berdua baru gue percaya." seru Mutia.


"Maksud kamu, aku udah gak perjaka gitu? Tega banget kamu nuduh aku kaya gitu." ujar Hendra dengan nada sok dramatis.


"Emang iya kan?" sahut Angga membuat tangan Hendra terulur memukul kepala Angga.


"Tuh kan, gue mah udah tau Dra." seru Mutia.


Hendra menggeleng, "Engga yang, belum pernah demi dah. Angga kamu percaya, dia mah suka kalau ngelihat kita berantem soalnya dia iri gak punya pasangan sendiri. Percaya sama aku yang."


Angga tertawa terbahak, hingga mengeluarkan air mata di sudut matanya, "Iya Mut, gue cuma bercanda. Tenang semua sahabat gue masih perjaka semua kok termasuk gue." seru Angga.


"Gue tetep gak percaya." seru Mutia.


"Yaudah kalah gak percaya, ayo coba aja nanti di villa." ujar Hendra membuat Mutia menarik rambut Hendra dari belakang.


"Anjing emang mulut lo!" seru Angga lalu tertawa lagi karena melihat Mutia dan Hendra sedang perang.


Setelah menghabiskan waktu hampir 4 jam akhirnya mereka telah sampai di villa keluarga Manda. Villa nya sangat luas dan bersih meskipun jarang di kunjungi tetapi villa nya selalu di bersihkan oleh penjaganya.


Kedua mobil terpakir tepat di garasi villa tersebut, dan semuanya turun dari mobil sambil membawa barang bawaan mereka masing-masing. Tidak dengan Mutia, yang barang bawaannya di bawa oleh Hendra.


"Kita taro barang dulu di kamar, setelah itu kita ke halaman belakang ya soalnya kata papi gue sudah di sediain buat kita barbeque -an di sana." ujar Manda di anggukin yang lain.


Yang cewek mengikut Manda untuk ke kamar mereka, sedangkan yang cowok mengikuti Bintang. Setelah menaruh barang, semuanya kembali keluar kamar dan bertemu di halaman belakang. Benar saja, semua sudah tersedia dengan lengkap.


"Dari dulu kek liburan kaya gini." seru Hendra.


"Emang maunya lo mah yang gratisan!" cibir Angga dan Hendra hanya menyengir.


Semuanya berbaur membagi tugas untuk acara malam ini, acara malam ini membuat mereka lupa kalau 2 hari lagi mereka akan ujian kelulusan. Biarlah namanya refreshing, melupakan hal-hal yang lain dulu, bikin hati senang dulu hari ini.


"Eh guys, gimana kalau kita main truth or dare?" Seru Manda dan di setujui oleh semuanya.


"Pakai ini gimana? Kita puter aja di meja terus kita berdiri ngelilingin mejanya." ujar Arkana sambil mengangkat botol bekas air mineral.


Semua mengangguk lalu mengambil posisi masing-masing, putaran pertama di mulai dan berhenti tepat di hadapan Mutia.


"truth or dare?" seru Hendra.


"truth!" jawab Mutia cepat.


"Lo sayang beneran gak sama Hendra? Alasannya?" tanya Angga cepat.


Mutia nampak berpikir lalu akhirnya mengangguk, "Karena Hendra humoris!" seru Mutia membuat mereka bersorak "cie" pada Hendra.


Putaran keduanya, kali ini berhenti di depan Manda.


"truth or dare?" tanya Bulan.


"truth!" seru Manda.


"Lo masih ada perasaan gak sama Bintang?" tanya Mutia membuat Manda menghela napasnya.


"Enggak ada!" jawab Manda cepat.


Mutia mengangguk-angguk.


"Ah gak seru, gak ada yang pilih dare, pokoknya sekarang pertanyaannya di ganti jadi dare or dare!" seru Angga.


Putaran ketiga tepat berhenti di depan Bintang.


"Dare or dare?" tanya Hendra membuat kepalanya di toyor oleh Arkana.


"Gak perlu pake di tanya lagi dongo!" seru Arkana.


"Tembak Bulan sekarang juga!" teriak Mutia dan di anggukin oleh semuanya.


Bulan langsung salah tingkah, tidak berpikir kalau permintaan mereka akan ke arah sana. Bulan sedang berpikir, akan menjawab apa kalau Bintang benar melakukan itu.


Bintang menggeleng, "Gue gak mau maksa Bulan, untuk saat ini Bulan belum sepenuhnya yakin sama gue soalnya." ujar Bintang menolak permintaan mereka semua.


Bulan menghela napas kecewa, entah mengapa ia seperti sedih mendengar itu, ia mengira itu akan terjadi malam ini, dan tadi ia sudah sempat berpikir kalau akan menjawab iya.


"Yah, gak seru lo!" ujar Hendra kecewa.


"Yaudah, ganti deh. Peluk Bulan sekarang!" seru Manda.


"Eh, belum jadian udah main peluk-peluk aja!" sahut Arkana.


"Gak papa, pacaran juga dosa." ujar Mutia dan di anggukin yang lain.


Tanpa aba-aba Bintang langsung menubruk tubuh Bulan untuk di peluknya. Bintang mengeratkan pelukkannya seakan tidak ingin melepaskan Bulan.


"Lan, gue sayang lo." ujar Bintang di tengah pelukan mereka dan Bulan mendengar jelas ucapan itu.


Bersambung..... 


Nah siapa yang baper nih sama mereka??? 


Lanjut?