
Kehidupan Manda menjadi berubah setelah kejadian kemarin. Banyak yang menjadi tak suka dengan Manda karena di anggap telah mengambil gebetan teman sendiri.
Manda tak habis pikir dengan mulut orang-orang yang sok tahu seperti mereka, ingin sekali rasanya ia menyobek kan mulut mereka karena berani ngomong hal yang tidak benar.
"Ih gue sebel banget anjir!" geram Manda.
Bulan dan Mutia terus menenangkan Manda, jangan sampai emosi Manda kelewat batas bisa-bisa leher mereka yang membicarakan Manda patah karena di pukul Manda.
"Lan, lo bantuin gue napa." ujar Manda meminta bantuan pada Bulan.
"Iya gimana caranya? Gue pun gak tahu!" seru Bulan yang memang tidak tahu harus melakukan apa.
"Klarifikasi kek, atau apa gitu! Ah gue gak suka kaya gini Bulan!"
"Lagian sih lo, di jambak aja sampe begitu mana si Bintang terlalu manis lagi!" seru Mutia.
Manda menghela napasnya kesal, ia bingung harus bagaimana agar namanya kembali bersih dan tidak di sangkut pautin oleh hubungan Bulan dan Bintang yang tidak jelas kemana arahnya.
"Udah sih, nanti juga mereka capek sendiri ngomong lo. Tutup kuping aja dulu Man." ujar Bulan yang tidak ada solusi lain.
"Ah gak bisa, besok gue gak usah sekolah aja kali ya!" seru Manda.
Bulan menggeleng, "Jangan anjir, sebentar lagi kita ujian nanti lo ketinggalan materi kalau gak masuk."
Manda nampak berpikir, benar juga ucapan Bulan. "Ah gue mau Bintang, bersihin nama gue! Ini kan semua karena dia!" gerutu Manda lagi.
Tiba-tiba terdengar suara kekehan dari belakang mereka bertiga, "Manda, Manda dari dulu lo emang gak berubah ya. Sukanya sama punya temen sendiri terus, tapi sayang lo kalah terus." ujar Clara yang tengah berdiri di belakang mereka.
Ketiganya otomatis menoleh ke arah Clara, Manda yang mendengar cibiran itu tak terima langsung bangkit dari duduknya dan menampar pipi Clara dengan keras.
"Semua karena lo yang dateng lagi ke sini!" ujar Manda keras membuat suasana kelas menjadi hening.
Clara tertawa keras, lalu langkahnya menghampiri Bulan dan membisikkan sesuatu di telinga Bulan, "Lo hati-hati sama Manda, dia terlalu pinter mainin perannya!" bisik Clara membuat napas Bulan sempat terhenti beberapa detik.
Bulan menggeleng, seakan tidak percaya dengan omongan Clara yang menjelekkan Manda. Bulan mengenal Manda sudah hampir 3 tahun, sedangkan kenal Clara baru beberapa minggu lalu. Jelas Bulan lebih percaya Manda, meskipun akhir-akhir ini Bulan selalu di bohongi oleh Manda.
Balik lagi, pasti semua karena ada alasannya, itulah yang ada dipikiran Bulan saat ini.
Clara pergi begitu saja sambil terkekeh, keadaan di kelas menjadi riuh berisik, desas desus terdengar menjelekkan Manda saat ini.
"Gak nyangka gue sama sih Manda."
"Kok Manda bisa begitu ya sama Bulan, padahal selama ini Bulan baik sama dia."
"Yang gue denger sih, Manda sama Bintang udah sahabatan dari kecil."
"Yah tapi kalau namanya sahabat, gak sedeket kaya kemarin kali. Dia gak sadar apa, kalau itu nyakitin Bulan."
Begitulah kira-kira tanggapan dari teman sekelasnya. Manda, Bulan dan Mutia pun mendengar itu dengan jelas. Manda langsung bangkit lagi dari duduknya dan menggebrak meja.
"Eh lo pada, sini ngomongnya depan gue! Berani gak lo?" teriak Manda sambil menunjukkan beberapa orang yang tadi berbicara.
Tidak ada yang bergerak sama sekali dari tempatnya, takut tangannya di buat patah oleh Manda.
"Lo pada kalau gak tahu kebenarannya bisa diem gak sih!" teriak Bulan pada akhirnya yang jengah mendengar perkataan pedas untuk Manda.
"Tuh kan Man, Bulan aja masih belain lo tapi lo gak tahu diri deket-deket sama Bintang!" teriak salah satu yang bicara tadi.
Manda ingin menghampirinya lalu di cegah oleh Mutia dan Bulan, tidak mau Manda melakukan sesuatu yang bisa melukai orang lain. Bisa kena hukuman nanti dia dari guru.
"Kalian denger ya, Manda sama Bintang udah kenal jauh sebelum gue kenal Bintang. Wajar kalau Manda bisa sedeket itu sama Bintang! Gue aja gak masalah, kenapa lo pada yang kebakaran jenggot?" teriak Bulan lagi.
"Selama gue temenan sama Manda atau selama kalian kenal Manda, emangnya lo pernah lihat Manda deket-deket sama Bintang selain kemarin? Enggak kan?"
"Situasi dan kondisi kemarin itu mengharuskan Bintang mengambil tindakan seperti itu buat ngelindungi Manda, karena cuma Bintang yang tahu gimana Manda kemarin."
"Kalau Manda berniat ngambil Bintang dari gue, udah dari awal masuk sekolah mereka publikasiin persahabatan mereka kali! Coba punya akal di pake! Jangan cuma lihat dari satu sisi!" ujar Bulan memberi penjelasan agar mereka berhenti menghakimin Manda.
"Sebentar lagi kita bakalan lulus, dan setelah itu mungkin kita gak pernah ketemu lagi. Gue minta sama kalian, bikin hari-hari terakhir kita di sekolah itu menyenangkan bukan malah jadi begini! Kelas itu itu di kenal kelas yang solidaritasnya tinggi, masa cuma karena masalah Manda sama Bintang kita pecah!" ujar Hendra yang tiba-tiba datang dari luar kelas.
"Asal kalian tahu, gue juga sahabatan sama Manda sejak SMP dan gak pernah tuh gue lihat Manda berusaha buat deketin Bintang! Lo pada jangan termakan sama omongan Clara, dia anak baru yang bisanya mengacauin ini semua." ujar Hendra lagi menyindir sosok Clara yang orangnya entah kemana.
"Clara sama Manda itu punya masalah sejak SMP, jadi wajar kalau mereka masih membawa dendam masing-masing sampai sekarang!" beritahu Bulan pada semuanya dan membuat semuanya hanya bisa diam.
Semua fakta yang di sebutkan Bulan dan Hendra membuat siapapun kaget, ternyata Manda bukan orang sembarangan, maksudnya ternyata dia sahabatan dengan most wanted di sekolah ini.
"Man, sorry." ujar semua yang tadi menghakimi Manda, dan Manda hanya bisa mengangguk.
Hendra mendekat ke arah meja Manda, lalu duduk di samping Manda. Tanpa di duga Hendra mengelus punggung Manda pelan seakan menenangkan Manda, hal itu pun di lihat oleh Mutia.
"Sabar." hanya itu yang keluar dari mulut Hendra.
Mutia bangkit dari duduknya untuk keluar kelas, hatinya panas melihat Hendra mengelus punggung Manda tadi. Belum sempat melangkah, tangannya di cekal oleh Hendra.
"Mau kemana?" tanya Hendra.
"Mau cuci muka!" ketus Mutia membuat Bulan memicingkan matanya, seperti ada yang tidak beres pikirnya.
"Gue anter ya?"
"Gak perlu, gue masih punya kaki buat jalan sendiri!" ujar Mutia lalu menghempaskan tangan Hendra begitu saja dan melangkah keluar kelas.
Hendra pun ikut berdiri untuk mengejar Mutia, Hendra tahu Mutia pasti marah karena cemburu setelah apa ya ia lakukan tadi pada Manda. Hendra kira Mutia bukan tipe cewek yang cemburuan, makanya ia berani eh ternyata ia salah.
"Gue mau ngejar Mutia, Lan. Nanti aja ya?" seru Hendra yang ingin kembali bangkit.
Bulan menahan tangan Hendra, "Duduk sebentar doang!" seru Bulan galak.
Akhirnya mau tak mau Hendra duduk kembali, menunggu apa yang akan Bulan tanyakan padanya.
"Lo sama Mutia, ada hubungan lebih selain temen ya?" tanya Bulan dengan suara pelan.
Hendra tidak berpikir kalau Bulan akan menanyakan hal itu, apa karena tingkah laku Mutia dan dia terlihat seperti orang pacaran?
Hendra diam tidak menjawab, lalu melirik Manda dan Bulan secara bergantian. Ternyata yang di lirik sedang menatapnya tajam setajam silet!
"Jawab!" galak Manda.
Hendra mengangguk pelan, "Iya, gue jadian sama Mutia di ulang tahun Alex!" jujur Hendra dengan nada suara pelan yang hanya bisa di dengar oleh Bulan dan Manda.
Bulan dan Manda kaget, "Apa?" teriak keduanya membuat seisi kelas kembali menoleh ke arah mereka.
"Sorry." ujar Bulan sambil menyengir ke arah teman-temannya.
Hendra ingin bangkit, tetapi lagi-lagi di tahan, kali ini bukan sama Bulan tetapi dengan Manda.
Manda menoyor kepala Hendra cukup keras sampai terdengar suara meringis dari mulut Hendra.
"Lo pacaran sama dia, ngapain lo segala pake ngelus punggung gue sialan! Lo mau bikin Mutia salah paham lagi sama gue?" bentak Manda.
"Tahu lo, dongo banget anjir!" seru Bulan menimpali.
Hendra menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Gue kira dia gak cemburuan kalau lo Lan, eh ternyata gue salah!" seru Hendra jujur pada kedua sahabat kekasihnya.
Manda menoyor lagi kepala Hendra, begitu pula dengan Bulan. "Capek-capek gue klarifikasi tadi tentang gue sama Bintang, eh lo lagi bikin masalah! Emang ya temen-temen lo gak ada otaknya semua!" ujar Bulan.
"Termasuk gue Lan?" ujar Manda lalu di jawaban gelengan sama cengiran oleh Bulan.
"Yaudah makanya sekarang gue mau kejar Mutia buat minta maaf, eh malah di tahan sama lo berdua!" ujar Hendra membela diri.
"Yaudah sono buruan! Bawa dia kesini, gue juga mau minta maaf, takut dia juga salah paham sama gue!" ujar Manda dan di anggukin oleh Hendra.
Setelah kepergian Hendra, Bulan menceritakan apa yang terjadi kemarin saat berkunjung ke rumah Bintang dan bertemu dengan Soraya.
"Gue berharap, nyokapnya Bintang bisa segera sembuh." doa Bulan dan di aminin oleh Manda.
"Gue harap juga begitu, kasihan Bintang selama ini dia nanggung beban hidup sendiri, meskipun gue tau dia gak pernah kekurangan apapun." ujar Manda.
"Man, gue nanya sesuatu boleh?" Manda mengangguk mengizinkan Bulan bertanya.
"Memang benar, dulu lo juga suka sama Bintang sampai lo minta ke orang tua lo buat bikin perjodohan antara lo sama Bintang?" tanya Bulan yang dari tadi terus berputar di otaknya.
Bulan mengetahui itu dari Mutia, makanya Bulan pun kaget dengan fakta itu dan ingin menanyakan langsung pada Manda.
Manda mengangguk pelan, "itu dulu, awal gue masuk SMP Lan, tapi waktu terus berjalan dan perasaan itu menghilang."
"Lo yakin rasa itu udah hilang? Kalau lo masih simpen rasa itu, gue siap mundur kok Man."
Manda mengangguk cepat sangat yakin kalau perasaan itu sudah benar-benar hilang dari hatinya dan tergantikan dengan perasaan yang baru dengan seseorang.
"Seiring berjalannya waktu, gue malah jatuh cinta sama Arkana tapi sayang Arkana gak bisa bales perasaan gue waktu itu."
Bulan bingung dengan penjelasan Manda, "Kalau gak salah, waktu itu lo bilang mantannya Angga? Maksudnya lo pernah pacaran sama Angga tapi hati lo buat Arkana?"
Manda menggeleng, ia terjebak dengan situasi ini. Benarkan, kalau sekali berbohong akan terus berbohong dan sekarang waktunya kebohongan itu terungkap satu persatu. Kebohongan itu menjadi boomerang untuk diri sendiri.
"Waktu itu gue bohong soal Angga mantan gue, gue cuma gak mau lo bertanya lebih tentang Bintang, karena gue gak ada hak buat ngasih tahu lo semua tentang kehidupan Bintang."
Bulan mengangguk paham posisi Manda saat itu, "Man, kalau gue minta lo jangan pernah bohong lagi sama gue, bisa gak?"
Manda mengangguk cepat, "Bisa Lan, bisa banget. Gue minta maaf banget kalau selama ini belum jadi temen yang baik buat lo."
"Gue juga minta maaf soal kemarin Lan, maaf kalau gue terlalu berlebihan dan Bintang juga terlalu berlebihan. Lo mau kan maafin gue?"
Bulan mengangguk, "Kalau gue marah, gue gak mungkin deket lo sekarang pasti milih nge diemin lo kaya waktu gue kecewa dulu."
"Makasih banget Lan, lo bener-bener terlalu baik, gue harap lo sama Bintang cepat bersatu."
Bulan mengangguk lalu berkata amin dalam hati, meskipun hatinya sedikit kecewa karena Manda telah membohonginya lagi tentang Angga.
"Terus sekarang lo sama Arkana gimana?"
Manda mengangkat bahunya, "Dia bilang mau berjuang buat gue, tapi sampai sekarang gak pernah tuh gue lihat batang hidungnya!" gerutu Manda.
"Gue bantuin mau?"
Manda menggeleng, "Jangan, biarin, gue mau tahu sampai mana dia berjuang buat gue." Bulan akhirnya mengangguk.
"Gue juga do'ain biar lo sama Arkana bisa bersatu." doa balik Bulan untuk Manda dan di aminin Manda di dalam hati juga.
Bersambung....
Nah siapa nih yang salah sangka sama Manda?