COOL BOY

COOL BOY
BAB 44



Mendengar apa yang telah di katakan sahabat-sahabatnya membuat Bintang jadi berpikir kalau apa yang tadi ia lakukan kepada Bulan sangatlah salah.


Maka dari itu, ia ingin kembali berusaha lagi untuk meyakinkan Bulan, bagaimana pun caranya akan Bintang lakukan agar Bulan mau memaafkan kejadian tadi dan mulai menerima kembali Bintang.


Tetapi sayang, mungkin ini bukan waktunya yang tepat untuk meminta maaf karena bel masuk sudah berbunyi dan mereka harus memulai ujian kelulusan hari ini.


****


Bel pulang berbunyi, dan Bulan langsung melangkah pergi keluar kelas tanpa menyapa siapapun lagi. Tujuan Bulan saat ini adalah ingin segera sampai ke parkiran dan pergi dari sekolah tanpa hambatan alias tanpa bertemu siapapun apalagi bertemu dengan Bintang.


Bulan butuh waktu sendiri dulu, butuh waktu untuk berpikir apa yang akan ia lakukan ke depannya setelah ini. Bingung, itu lah yang ada di hati Bulan. Sudah di tarik maju eh sekarang seakan di dorong mundur lagi.


Kalau kalian jadi Bulan, apa yang akan kalian lakuin?


Berjalan sendirian dengan menggunakan earphone di telinganya membuat Bulan merasa sedikit tenang. Bulan melangkah terus tanpa mau menoleh ke siapapun yang memanggilnya.


Hingga sampai di parkiran, Bulan bernapas lega karena jalannya sangat lancar menuju ke sini. Tetapi Bulan salah, ternyata ada Bintang yang tengah bersandar di samping motornya bahkan duduk di atas motornya.


Dengan berat hati dan berat langkah, Bulan menghampiri motornya berniat mengusir Bintang dari sana agar ia bisa cepat pergi dari sekolah.


"Minggir!" ketus Bulan mengusir Bintang.


Bintang tidak bergeming sama sekali, malahan Bintang terus menatap Bulan sejak gadis itu sampai di parkiran sekolah.


Bulan menarik napasnya, lalu tangannya mendorong bahu Bintang agar segera turun dari motornya.


"Awas kek lo, gue mau pulang!" seru Bulan kesal.


Bintang tetap diam saja, seakan dorongan Bulan tadi tidak ada apa-apanya. Sedangkan Bulan terus saja menggerutu.


Karena kesal, Bulan membalikkan badannya ingin segera meninggalkan Bintang. Tetapi tangannya langsung di cekal oleh Bintang membuat tubuh Bulan kembali menghadap Bintang.


"Mau minta maaf." ujar Bintang pelan.


Bulan hanya diam memperhatikan wajah Bintang yang tampan itu, yang selalu membuatnya terkagum-kagum dengan pahatan indah.


"Bulan." panggil Bintang pelan.


Bulan menaikkan alisnya, seakan sedang bertanya "kenapa". Bulan sengaja bersikap seperti ini, ingin tahu lagi bagaimana perjuangan Bintang agar bisa mendapatkan maafnya.


"Gue butuh waktu!" ketus Bulan dan membuat cekalan tadi terlepas begitu saja.


"Sampai kapan?" tanya Bintang.


"Minggir!" bukannya menjawab Bulan malah kembali mengusir Bintang dari atas motornya.


Tetapi Bintang tetap tidak turun dari motor Bulan, dan kembali membuat Bulan emosi. Bulan kembali membalikkan badannya dan pergi dari sana, dan Bintang pun membiarkan itu.


Bulan melangkah menuju ke toilet lantai bawah di sekolah. Bulan mencuci tangannya, lalu merapikan tatanan rambutnya kembali, dan memoles sedikit lip gloss di bibirnya agar terlihat lebih fresh.


"Jadi cewek munafik banget sih!" ujar seseorang yang tiba-tiba berada di belakang Bulan.


Bulan menoleh ke arah orang tersebut yang ia sudah ketahui siapa, karena ia bisa melihatnya lewat kaca di depannya itu.


"Jadi orang suka banget ikut campur urusan orang!" ujar Bulan ketus sekalian menyindir orang tersebut.


"Bulan,,, Bulan lo kenapa jadi cewek munafik banget sih! Apa-apa di buat rumit tahu gak sih sama lo!" ketus Puput.


"Masalah buat lo?" sahut Bulan tak kalah ketus.


"Lo udah nolak Andre demi Bintang, tapi nyatanya Bintang gak setulus Andre!"


"Lo tahu apa tentang tulus nenek lampir!" geram Bulan.


Puput tertawa keras seakan meremehkan Bulan, "Dasar cewek munafik!" cibir Puput lalu keluar dari toilet membuat Bulan semakin emosi.


"Dasar lo nenek lampir!" teriak Bulan emosi.


Bulan mengatur napasnya lebih dulu, sebelum keluar dari toilet. Setelah merasa cukup tenang, barulah Bulan keluar dari sana dan kembali melangkah menuju parkiran berharap kalau Bintang sudah pergi dari atas motornya.


Dan ternyata benar, Bintang sudah tidak ada di sana dan membuat Bulan melangkah cepat agar bisa cepat pergi dari sana. Tetapi lagi-lagi ia di halangin oleh dua orang, yaitu sahabatnya, Manda dan Mutia.


"Lan, kok lo langsung cabut gitu gak nungguin kita?" ujar Manda.


Mutia mengangguk, "Iya tumben, lo marah juga sama kita?"


Bulan menggeleng, "Engga kok, gue cuma mau langsung pulang aja, gue ngerasa gak enak badan soalnya." elak Bulan.


Manda dan Mutia mengangguk bersamaan, "Kalau gitu kita ikut ke rumah lo ya?" ujar Manda.


Bulan menggeleng, "Jangan deh, kalau kita belajar bareng yang ada bukannya belajar tapi malah ngerumpi!" tolak Bulan yang memang sedang malas menerima tamu saat ini.


Terdengar helaan napas kecewa dari Manda dan Mutia, "Lo kenapa Bulan?" tanya Manda pelan.


Bulan langsung tersenyum, "Gue gak papa Man, serius deh. Gue cuma gak enak badan aja, gue balik duluan ya?" pamit Bulan.


Manda akhirnya mengangguk begitu pula dengan Mutia, mereka tidak ingin memaksa Bulan karena mereka tahu kondisi Bulan mungkin memang sedang gelisah alias galau. Membiarkan Bulan sendiri adalah jalan terbaik.


"Kalau mau curhat atau minta saran, hubungin kita ya Lan!" seru Mutia dan di anggukin oleh Bulan.


Bulan segera melakukan motornya keluar dari sekolah. Sedangkan Manda dan Mutia berjalan ke kantin yang tak jauh dari parkiran itu untuk menghampiri pasangan mereka.


"Gimana?" tanya Bintang saat Manda dan Mutia sudah duduk di hadapan mereka.


Memang Bintang lah yang menyuruh Manda dan Mutia untuk menemui Bulan, untuk membantunya meminta maaf pada Bulan tetapi sayang Manda dan Mutia pun di tolak oleh Bulan.


"Gue rasa dia kecewa banget deh, gue sama Mutia aja di tolak buat main ke rumahnya!" beritahu Manda.


"Lo sih keterlaluan Tang!" sambung Manda lagi.


Yang lain hanya mengangguk setuju dengan ucapan Manda.


"Terus gue harus gimana?" ujar Bintang.


Semuanya hanya mengangkat bahunya, tidak tahu apa yang harus mereka lakukan untuk membantu Bintang saat ini.


Saat suasana hening, tiba-tiba mereka di kagetkan dengan teriakan Hendra, membuat Angga dan Mutia langsung menoyor kepala cowok humoris itu.


"Gue tahu gimana caranya!" ujar Hendra membuat mereka mendekatkan kepala mereka semua dan berujar pelan.


Setelah Hendra memberikan idenya dan di setujui oleh semuanya, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah. Hendra bersama dengan Mutia, Manda bersama dengan Arkana sedangkan Angga bersama dengan Bintang.


Di tengah perjalanan, Angga terus berceloteh tak jelas membicarakan apapun yang ada di pikirannya membuat Bintang pusing.


"Diem bisa gak!" seru Bintang membuat Angga langsung menutup mulutnya.


"Sorry," seru Angga meminta maaf pada Bintang.


Bintang kembali fokus pada jalanan, dan tiba-tiba otaknya terlintas wajah Viona dan Vania. Bintang memutuskan untuk mampir sebentar ke makam mereka sebelum pulang ke rumah.


"Nga, mampir ke makam dulu gak papa?" Angga mengangguk lalu tersenyum.


Angga memang sengaja ikut ke rumah Bintang, karena ia bosen sudah dua hari tidak keluar rumah dan malam ini mungkin ia akan menginap di rumah Bintang karena ini malam terakhir ujian.


Bintang melajukan mobilnya menuju makam Viona dan Vania. Entah mengapa rasanya seperti sangat rindu pada kedua gadis yang Bintang sayangi itu.


Saat sampai di makam itu, Bintang dan Angga langsung turun dan melangkah menuju makam Viona dan Vania. Bintang melihat ada yang aneh di makam tersebut, karena ada bunga yang sepertinya baru saja di tabur di atas makam.


Bintang mencari seseorang siapa yang menaburkan bunga itu, tetapi makam sepi tidak ada orang satu pun kecuali mereka berdua.


"Siapa yang ke sini Tang?" tanya Angga yang juga penasaran.


Bintang mengangkat bahunya, ia pun tidak tahu siapa yang tadi ke sini dan menaburkan bunga itu.


Angga mencabutin rumput yang sudah terlihat panjang di kedua makan tersebut, sedangkan Bintang sedang berdoa dalam hati.


"Viona, aku datang ke sini lagi. Vania kakak juga datang buat jenguk kamu."


"Kalian lagi apa di sana? Pasti kalian lagi tertawa ya ngelihat aku yang lagi galau begini,"


"Vio, sama kaya Bulan kemarin, aku mau minta izin sama kamu. Kalau suatu saat kamu tergantikan sama Bulan, gak papa kan?"


"Menurut kamu Bulan pantas gak buat gantiin posisi kamu di hati aku? Kalau iya, nanti malam kamu datang ya ke mimpi aku."


"Aku kangen kamu Viona, coba kamu masih di sini pasti kamu bisa kasih aku saran yang tepat untuk situasi kaya gini, aku bingung Viona!"


Bintang menghela napasnya lalu bangkit, begitu pula dengan Angga setelah mengucapkan sesuatu untuk mereka berdua yang ada di dalam tanah.


"Tang, kalau masih ada Viona gak mungkin ada Bulan di hidup lo!" ujar Angga.


"Lo di pisahin sama Viona dan akhirnya ketemu sama Bulan itu sudah takdir, dan takdir gak bisa lawan bukan? Jadi, lo harus bisa nerima Bulan sepenuh hati seperti lo terima Viona dulu, karena hidup itu akan terus berjalan Bintang!"


Bintang mengangguk lalu merangkul bahu Angga dan berjalan bersama menuju mobilnya sambil bercanda kecil. Sedangkan di sisi lain seseorang yang baru saja datang ke makam tersebut yang sedang mengumpat di balik pohon langsung memunculkan diri saat melihat Bintang dan Angga sudah pergi dari sana.


"Lo memang gak akan pernah bisa lupain Viona, Tang!" seru Bulan yang memang sengaja datang ke makam Viona dan Vania tak sepengetahuan Bintang.


Bersambung...