
Banyak yang bilang, masa SMA itu adalah masa paling indah. Masa di mana kita mulai beranjak dewasa, masa di mana kita mulai mengenal apa arti pertemanan atau persahabatan, dan masa di mana akan mengenal namanya cinta.
Hari Senin, tepat hari ini adalah hari di mana ujian kelulusan akan berlangsung untuk siswa dan siswi kelas 12 di seluruh Indonesia. Semua siswa dan siswi di wajibkan untuk ikut ujian ini sebagai syarat kelulusan nantinya.
Setelah hampir 5 bulan lamanya, mereka terus di gencar dengan berbagai ujian, mulai dari try out, ujian praktek, ujian sekolah sampai yang terakhir ini adalah Ujian Nasional atau Ujian kelulusan.
Nilai yang di dapat di ujian ini sangat berpengaruh nantinya untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya, entah masuk universitas atau untuk melamar kerja nantinya.
Maka dari itu, pihak sekolah selalu memberi wejangan kepada murid-murid agar belajar dengan tekun sebelum waktu ini tiba agar semua bisa mendapatkan nilai tinggi nantinya.
Dan paling penting, agar mereka semua bisa lulus sekolah tanpa ada yang mengulang lagi di tahun depan. Itu lah harapan orang tua serta guru kepada anak-anaknya.
Gimana nih, di sini ada gak yang kelas 12??
****
Pagi ini sangat cerah, secerah senyuman Bulan yang sudah mengembang sejak ia menginjakkan kakinya ke sekolah bersama dengan Bintang.
Bulan melangkah berjalan menuju ruangan yang ia dapatin untuk ujian nanti, begitu pula dengan Bintang. Mereka berjalan berdampingan, desas desus terus terdengar sampai mereka tiba di depan ruangan Bulan.
"Lo ruangan berapa?" tanya Bulan pada Bintang.
"Ruang 5" jawab Bintang dan di anggukin oleh Bulan.
"Yaudah sana masuk, gue juga mau masuk mau ngulang materi lagi."
Bintang menggeleng, "Ikut." seru nya membuat Bulan tersenyum kecil lalu mengangguk.
Bulan memasukin ruangan di ikuti oleh Bintang di belakangnya, Bulan duduk di bangku yang sudah bertuliskan namanya di sana. Begitu pula dengan Bintang yang mengambil kursi dari meja orang lain.
"Lo semalem belajar gak?" tanya Bulan dan Bintang hanya menggeleng.
"Kenapa? Ah iya gue lupa, lo kan juara 2 paralel ya ngapain belajar." seru Bulan mengingat Bintang memiliki otak yang cukup cerdas.
"Lo juara satunya." sahut Bintang membuat Bulan terkekeh.
Iya, benar. Bulan juara 1 paralel dan Bintang juara 2 nya. Pasangan yang serasi bukan? Sama-sama memiliki otak yang cerdas dan wajah yang cantik dan ganteng. Bayangkan kalau mereka sampai menikah, anaknya pasti cakep dan cerdas juga! Huuu, membayangkan saja bikin senyum-senyum sendiri.
Tak lama terdengar suara deringan ponsel dari saku rok Bulan, dengan cepat Bulan menerima panggilan tersebut.
"Halo, Andre."
"...."
"Lo juga ya, semangat!"
"...."
Bip
Bintang yang mendengar itu masih tetap emosi, padahal Bulan sudah sering bilang pada Bintang tidak perlu cemburu dengan Andre karena ia tak memiliki rasa apapun pada Andre tetapi tetap saja, Bintang tak suka melihat Bulan masih berhubungan dengan Andre.
"Andre lagi?" tanya Bintang ketus.
Bulan mengangguk jujur, "Iya, stop gak usah marah!" ujar Bulan to the point.
"Stop berhubungan sama Andre!" seru Bintang kembali menyuarakan isi hatinya.
Bulan menggeleng, "Kita mau ujian, gak perlu bahas masalah ini terus!"
Tanpa menjawab Bintang bangkit dari duduknya lalu keluar ruangan Bulan begitu saja, Bulan hanya menghela napasnya.
"Nanti juga baik sendiri." ujar Bulan pelan lalu melanjutkan belajarnya.
"Bulan, kita satu ruangan." ujar Clara seakan-akan mereka sangat akrab.
Bulan hanya mengangguk lalu tersenyum, sejauh ini menurut Bulan ia tidak memiliki masalah apapun pada gadis di depannya. Kisah antara Bintang dan Clara sudah berlalu, dan selama ini pula menurut Bulan, Clara tidak mengganggunya. Jadi sebisa mungkin Bulan akan tetap bersikap baik pada Clara.
"Bulan, setelah ujian nanti, papahnya Bintang mau ketemu sama lo. Lo bisa gak?" ujar Clara tiba-tiba membuat Bulan kaget.
"Lo gak usah ngomong sama Bintang ya, dia pasti gak akan izinin lo ketemu sama bokapnya." ujar Clara lagi.
Bulan bingung harus jawab apa, kalau ia tolak sama aja gak sopan gak sih? Apalagi ini orang tua kandung cowok yang selama ini ia suka, biar bagaimana pun dia tetap papahnya Bintang kan?
"Bisa kok, nanti lo kasih tahu gue aja mau ketemu kapan." jawab Bulan pada akhirnya.
Clara mengangguk, "Thanks ya Lan, nanti gue sampein ke papah kalau lo bisa ketemu sama dia." Bulan mengangguk.
Setelah itu Clara pergi dari meja Bulan dan berjalan ke arah mejanya sendiri, tak lama Hendra masuk ke dalam ruangan lalu menghampiri meja Bulan.
"Lan, lo apain sih Bintang? Manyun noh di ruangannya!" seru Hendra memberitahu kondisi Bintang yang sedang merajuk padanya.
"Bodo ah Dra, capek gue bilangin tuh orang! Di bilang gue gak ada apa-apa sama Andre, tapi nyuruh gue jauhin Andre terus!" gerutu Bulan memberitahu alasan Bintang merajuk padanya.
"Yah lo lagian, Bintang sama Andre itu musuh dari dulu, wajar kalau Bintang marah, lo masih deket-deket sama Andre."
"Permusuhan itu gak akan hilang kalau kita masih terus nyimpen dendam Dra, seharusnya mereka sudah menjadi sahabat lagi, karena kejadian itu udah lama banget!"
Hendra terdiam tidak bisa menjawab ucapan Bulan, karena apa yang Bulan bilang memang benar. Lagi pula yang salah di sini bukannya Bintang? Kan dia yang mengambil Viona dari Andre? Atau ada masalah lain sebenarnya makanya Bintang masih belum bisa memaafkan Andre?
"Lan, sebenernya perasaan lo sama Bintang sekarang itu gimana sih? Dulu lo ngejar-ngejar dia, sekarang saat dia ingin lo jadi pacarnya tapi lo tolak terus! Bingung gue!" seru Hendra yang memang bingung dengan hubungan Bulan dan Bintang.
"Apa karena lo udah tahu tentang masalah keluarga Bintang, yang hancur makanya seakan lo mencoba buat ngejauh dari tuh anak?" ujar Hendra mengira-ngira.
Bulan langsung melayangkan buku paketnya tepat di depan wajah Hendra, membuat Hendra mengaduh karena buku paket itu sangat tebal.
"Sialan lo!" gerutu Hendra.
Bulan menghela napasnya, "Kenapa lo nuduh gue begitu jahat?" seru Bulan dengan nada dramatis.
"Yah gue heran aja sama lo, dulu lo sampe rela putusin urat malu lo cuma buat Bintang, di kacangin, di teriakin, di ketusin tetap aja ngejar tuh star!"
"Gue begini karena udah tahu masa lalu dia, bukan karena keluarganya ya, tapi karena dia masih nyimpen Viona di hatinya. Gue tahu Viona itu udah gak ada lagi di bumi ini, tapi gue gak bisa kalau sayang atau hati Bintang terbagi. Lo ngerti gak sih maksud gue?"
Hendra mengangguk, "Ngerti Lan, ngerti. Tapi kesannya lo egois gak sih? Lo gak rela hati Bintang terbagi pada orang yang jelas-jelas udah gak ada, yang gak akan pernah gangguin hubungan lo sama Bintang nantinya."
"Gini deh simplenya, apa lo juga gak rela kalau sayangnya Bintang terbagi buat ibunya?"
Bulan nampak berpikir, sebelum suara Hendra kembali berseru, "Lan, semua punya porsi masing-masing, Bintang gak bisa ngelupain Viona bukan karena rasa cinta dia yang belum hilang tapi mungkin karena rasa bersalah. Gue yakin, Bintang sudah nempatin Viona di ruang berbeda di hatinya, begitu juga lo."
"Gue rasa lo gak perlu khawatir tentang ini seharusnya, Lan. Semua orang pasti punya masa lalu, termasuk lo kan? Memang Bintang pernah nanyain masa lalu atau permasalahin masa lalu lo? Enggak kan?"
"Gue berharap lo bisa mikirin apa yang tadi gue bilang, jangan bikin lo nyesel nantinya. Semua orang pasti punya batas kesabaran bukan, kaya lo aja, gue tahu sebenarnya lo sempet jenuh kan dan milih buat ngejauhin Bintang, eh sekarang waktunya malah terbalik."
"Kita gak tahu kan rencana Tuhan ke depannya gimana, gue harap lo sama Bintang bersatu. Bukan karena Bintang temen gue makanya gue bela dia, tapi gue ngerasa lo memang orang yang tepat buat dampingin hidup dia yang hancur selama ini."
Tepat saat akhir pembicaraan Hendra tadi, suara bel masuk terdengar. Sebelum Hendra menuju tempat duduk nya Hendra menepuk kepala Bulan dua kali lalu tersenyum.
"Thanks Dra." ujar Bulan dan di anggukin oleh Hendra.
"Sekarang fokus ujian dulu, jangan di pikirin dulu omongan gue tadi setelah ujian selesai baru boleh pikirin, oke?" Bulan mengangguk.
Bersambungg.....
Enak banget ya punya temen cowok kaya Hendra. Siapa di sini yang punya teman modelan Hendra??