
Berusaha kuat di depan orang yang kita sayang itu bukanlah hal yang mudah. Apalagi orang tersebut terus saja menceritakan sosok orang lain yang dia sayangin.
Seperti sama halnya dengan Andre, ia harus kuat menahan gejolak cemburu di hatinya saat Bulan menceritakan Bintang di depannya. Dulu ia sudah kalah dengan Bintang, masa sekarang pun harus kalah lagi.
Tetapi satu hal yang harus kalian tahu, kalau ia menyukai Bulan tulus dari hati bukan karena ia takut kalah lagi dari Bintang. Kalau ia berhasil mendapatkan Bulan bukankah itu bonus karena menang dari Bintang.
****
Berbicara panjang lebar dengan Andre membuat Bulan lega, Bulan bisa mengekspresikan dirinya di depan Andre.
Sejak awal Bulan memang sempat berpikir kalau perempuan mantan Bintang adalah Manda, tetapi ternyata dia salah. Manda adalah sahabat dekat Bintang sejak kecil, wajar kalau Manda tahu banyak hal tentang Bintang. Tetapi apa alasan Manda tidak memberitahu itu semua pada Bulan?
"Cewek itu Manda ya Ndre?" tanya Bulan yang ternyata sudah salah sangka.
Andre menggeleng, "Bukan Lan."
"Terus siapa?"
"Kenapa lo mau tahu banget tentang cewek itu?"
Bulan diam sebentar, "Gue cuma mau tau aja, setidaknya gue bisa introspeksi diri kenapa Bintang gak bisa buka hati buat gue, dan kenapa sampai sekarang dia masih terpaku sama itu cewek?"
Andre menghela napasnya gusar, "Lo gak akan bisa ketemu dia Lan." ujarnya pelan.
Bulan yang mendengar itu langsung menatap Andre dengan tatapan bingung, maksudnya tidak bisa bertemu lagi apa?
"Maksud lo?"
"Dia udah meninggal Lan." ujar Andre, ada nada sedih di sana dan itu sangat terdengar jelas di telinga Bulan.
Bulan yang mendengar fakta itu langsung kaget, bahkan napasnya sempat berhenti beberapa detik. Tatapan Bulan kepada Andre berubah, yang awalnya bingung menjadi merasa bersalah. Andre terlihat sangat sedih, dan itu terlihat dari matanya.
"Ndre sorry, gue gak tahu." ujar Bulan pelan.
Andre mengangguk, "it's okay Lan."
"Tapi gue nanya lagi boleh? Atau lo keberatan buat ngejawab pertanyaan gue?" ujar Bulan ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang mantan Bintang itu.
"Lo mau nanya apa? Kalau gue tahu pasti gue jawab."
Bulan mengambil napasnya dalam-dalam sebelum memulai percakapan yang lebih serius dan menurutnya ini sangat penting.
"Pertama, cewek itu namanya siapa?"
"Nama dia, Viona. Gadis ceria sama kaya lo, semua tingkah laku dan sifatnya sama persis kaya lo Lan."
Fakta yang sangat mengejutkan bukan? Kalau sifat dan tingkah laku Viona sama dengan Bulan mengapa Bintang tidak menerima Bulan saja?
"Tapi bedanya, yang ngejar itu Bintang." ujar Andre lagi memberitahu apa yang membuat Viona berbeda dengan Bulan.
Bulan menghela napas, "Mungkin itu yang buat Bintang gak bisa buka hatinya buat gue, Viona gadis yang di kejar Bintang sedangkan di sini gue yang ngejar dia tanpa tahu malu."
Andre mengelus pucuk kepala Bulan sambil menggeleng, "Jangan sedih, kan lo sendiri yang mau tau tentang Viona."
Bulan mengangguk lalu tersenyum lirih, "Kalau boleh tahu, dia meninggal karena apa?"
Andre terdiam cukup lama, seakan sedang mengingat apa yang menyebabkan Viona meninggal waktu itu.
"Kecelakaan." jawabnya singkat. Sedih, itulah yang Andre rasakan saat ini.
Bulan pun ikut merasakan sedih itu, karena Bulan meng bayangin bagaimana hancurnya Bintang pada waktu itu.
"Viona pasti cewek yang sangat sempurna ya, sampai lo aja ngerasa sedih banget begini."
Andre mengangguk, "Sangat, ini adalah salah satu penyebab gue sama Bintang bertengkar sampai sekarang!"
Andre mengangguk, "Gue yang lebih dulu dekat sama Viona, tapi entah mengapa Bintang pun kekeuh mendekati Viona. Berbagai cara Bintang lakuin buat dapetin Viona, sampai akhirnya mereka pacaran dan gue kalah."
Bulan mengelus punggung Andre pelan, "Apa karena ini lo ngedeketin gue? Maksudnya lo mau bales dendam sama Bintang?" tanya Bulan hati-hati takut membuat Andre tersinggung.
Andre dengan cepat menggeleng, "Gue beneran suka lo tulus Lan, waktu awal iya gue berpikir begitu tapi percaya sama gue Lan, sekarang gue beneran suka sama lo Lan." ujar Andre jujur.
Bulan mengangguk, iya pun merasakan ketulusan itu dari Andre makanya Bulan sangat nyaman bersama dengan Andre akhir-akhir ini walau hatinya tetap terpaku pada Bintang.
"Viona pasti beruntung banget ya bisa di sayangin sama dua cowok tulus sekaligus, gak kaya gue yang malang ini." ujarnya sambil terkekeh pelan.
Andre mengambil alih tangan Bulan dan di genggamnya erat, "Lan lo lebih beruntung karena lo masih di kasih sehat sama Tuhan sampai sekarang."
"Gak kaya Viona yang harus pergi lebih dulu sebelum cita-cita dia terwujud." ujar Andre lirih sambil mengingat moment di saat Andre dekat dengan Viona dulu.
Bulan mengangguk setuju dengan ucapan Andre tadi, seharusnya ia lebih banyak bersyukur akan hal itu bukan malah membandingkan meskipun memang itu kenyataannya.
"Andre, boleh gue tanya satu hal lagi?"
Andre mengangguk lalu tersenyum, tangan Bulan masih berada di genggamannya dan itu membuat dirinya sangat nyaman.
"Viona kecelakaan karena apa?"
Tak di sangka air mata Andre turun begitu saja setelah mendengar pertanyaan itu, kepergian Viona waktu itu membuatnya mengurung diri sampai seminggu karena ia tidak menyangka.
Bulan yang melihat Andre menangis langsung mengusap air mata Andre dengan sebelah tangannya yang tidak di genggam.
"Andre, sorry. Kalau lo gak kuat buat jawab, gak perlu jawab kok. Gue paham gimana rasanya." ujar Bulan merasa bersalah.
"Lo bisa tanya Bintang tentang ini Lan, karena dia yang lebih tahu tentang kecelakaan itu." ujar Andre jujur, karena memang yang ia tahu hanya Viona kecelakaan dan membuat meninggal saat di perjalanan menuju rumah sakit.
Bulan hanya mengangguk sebagian respon, ia tidak bisa memaksa Andre karena itu akan membuat Andre semakin sakit mengingat peristiwa waktu itu.
"Lan, sekarang lo udah tahu kan gimana sosok Viona? Lalu apa yang akan lo lakuin setelah ini?" tanya Andre.
Bulan berdeham lalu menatap Andre dengan intens, "Ndre, kalau misalnya gue bakalan tetap memperjuangkan Bintang nanti lo akan bagaimana? Apa lo akan dendam lagi sama Bintang?"
Andre kembali menatap Bulan dengan intens dan semakin mempererat genggaman di tangannya.
"Hidup itu pilihan Lan, dan lo berhak atas itu. Kalau gue mau maksa lo, itu akan gue lakuin sekarang sebelum lo kembali memperjuangkan Bintang."
"Tapi gue gak bisa maksa lo, karena sesuatu yang di paksa bukannya gak baik?" ujar Andre dengan pikiran dewasanya.
Bulan tersenyum, "Tapi lo gak akan dendam lagi sama Bintang kan?"
Andre menggeleng, "Kita udah dewasa Lan, gue gak mau permusuhan ini terus berlarut. Tapi inget satu hal Lan, kalau lo udah menyerah lo bisa balik ke gue lagi, gue akan selalu nunggu lo Lan." ujar Andre penuh ketulusan.
Bulan menggeleng, "Gak bisa gitu Ndre, lo harus jalanin hidup lo. Lo gak bisa terpaku sama gue yang entah kapan waktu itu akan datang gue gak bisa janji sama lo. Lo juga berhak memilih Ndre, gue gak mau jadi beban karena lo selalu nunggu gue kaya gini."
"Terpaku sama orang yang gak bisa ngebalas perasaan lo itu menyakitkan tahu Ndre, dan gue gak mau lo ngerasain. Lo cowok baik, lo dewasa pasti banyak yang mau sama lo."
Andre mengangguk mengerti maksud dari ujaran Bulan, "Iya paham Bulan cantik, gue akan cari pacar setelah ini." ujar Andre sambil terkekeh pelan.
Tangan Bulan yang bebas terulur merapikan rambut Andre sambil tersenyum cantik khasnya.
"Tapi ingat, setelah punya pacar jangan pernah sombong sama gue ya."
Sekarang gantian Andre yang mengusap pucuk kepala Bulan, "Lo akan tetap menjadi prioritas gue, tenang aja. Kapan pun lo butuh gue, pasti gue akan datang."
Akhirnya keduanya tertawa bersama, entah apa yang lucu. Setelah itu mereka pergi dari kedai itu setelah membayar es yang tadi mereka pesan. Ternyata mereka sudah berada di kedai itu cukup lama, untung saja tidak di usir sama pemiliknya hehehe.
Bersambung...
Nah kan sudah kebuka satu kan faktanya...