
Pagi yang cerah di hari kedua ujian kelulusan pada tahun ini, seperti biasa Bulan selalu menebarkan senyumannya pada setiap orang yang melintas di depannya baik yang ia kenal maupun ia tidak kenal.
Tetapi bedanya hari ini, Bulan berangkat sendiri membawa motor. Entah mengapa pagi ini Bintang tidak menjemputnya bahkan panggilannya sejak semalam saat ia membuka ponselnya tidak ada jawaban atau balasan dari cowok itu.
Bulan sampai bertanya pada Arkana, Angga dan Hendra tetapi mereka semua pun tidak sedang bersama Bintang malam itu. Makanya pagi ini tujuan Bulan yang pertama adalah ke ruangan Bintang.
Bulan melangkah menuju ruangan Bintang dengan hati riang, baginya gak masalah tidak di jemput pagi ini toh memangnya Bintang tukang ojek pikirnya. Tetapi yang ia bingung sekarang, mengapa Bintang seperti menjauhinnya? Apa Bintang marah karena pesan dan panggilannya tidak ia angkat?
Saat sampai di depan ruangan Bintang, ternyata Bintang belum sampai ke sekolah. Itu informasi yang Bulan dapat dari Arkana yang tengah duduk di depan ruangannya bersama dengan Angga.
"Kayanya tuh anak kesiangan deh." ujar Arkana.
Bulan mengangguk, "Berarti dia gak jemput gue bukan karena marah, karena kesiangan kali." ujar Bulan dalam hati.
Saat hendak pamit dari sana, Bulan melihat Bintang yang sedang berjalan ke arahnya alias ke ruangnya dengan Hendra di sampingnya.
Bulan langsung tersenyum dan menunggu Bintang sampai di depannya, tetapi sayang Bintang melewatinya begitu saja, tidak ada sapaan bahkan tidak melirik Bulan sama sekali yang tengah berdiri di sana.
Bulan membalikkan badannya lalu melangkah menuju Bintang tengah bergabung dengan sahabatnya yang lain, belum sampai di depan Bintang, suara Bintang membuat Bulan menghentikan langkahnya.
"Gue masuk." pamit Bintang lalu pergi ke dalam ruangan tanpa melihat ke arah Bulan sedikit pun.
Arkana dan Angga yang melihat respon Bintang seperti itu pun bingung, ada apa sebenarnya? Apa mereka sedang ada masalah? pertanyaan mereka dalam hati.
Sedangkan Hendra yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya, Hendra sudah tahu masalahnya dan Hendra sudah memberikan masukan pada Bintang tetapi sepertinya tidak di jalankan.
"Lo lagi ada masalah sama Bintang?" tanya Arkana pada Bulan yang sedang melihat ke arah pintu ruangan Bintang.
Bulan menggeleng, "Lo yakin gak sih Bintang marah sama gue cuma karena gue gak bales chat dia?"
Arkana menggeleng, "Gue rasa Bintang gak separah itu deh!"
"Apa lo semua lagi nge-prank gue ya? Mau ada sesuatu ya buat gue makanya di bikin skenario kaya gini?" ujar Bulan sangat percaya diri.
Angga, Arkana dan Hendra langsung menggeleng cepat, menghilangkan apa yang Bulan pikirkan karena itu semua tidak benar. Bulan menghela napasnya kecewa, bingung harus bagaimana.
"Gue samperin jangan nih temen lo?" tanya Bulan meminta solusi pada sahabatnya Bintang.
"Coba aja samperin, kasih Bintang penjelasan!" sahut Hendra dan membuat Angga dan Arkana bingung.
"Penjelasan apa?" tanya Angga.
"Yah tadi Bulan kan bilang kalau dia gak bales pesan Bintang, siapa tahu Bintang salah paham tentang itu?" elak Hendra membuat Bulan mengangguk lalu melangkah ke dalam ruangan tersebut.
Arkana menatap Hendra curiga, "Lo udah tahu ya masalah mereka?" tuduh Arkana langsung.
Hendra mengangguk lalu menceritakan semuanya apa yang tadi Bintang ceritakan padanya. Angga dan Arkana terkejut dengan cerita itu, dan tidak langsung percaya begitu saja karena menurutnya Bulan bukan tipe cewek yang seperti itu. Pasti ada alasan Andre melakukan itu pada Bulan di balik perlakuannya semalam.
Bulan masuk ke dalam dan langsung menghampiri meja Bintang, sedangkan pemilik meja sedang membuka aplikasi game kesukaannya dan ingin memulai permainan.
"Bintang." sapa Bulan.
Bintang tidak menjawab sapaan itu dan juga tidak menoleh sedikitpun ke arah Bulan yang duduk berhadapan dengannya.
"Bintang, gue salah ya?" tanya Bulan lagi.
Tetap saja tidak ada suara apapun dari Bintang alias Bintang kembali ke mode awal yang dingin seperti tak mau tersentuh.
"Bintang, sorry semalem gue ketiduran jadi gak bales dan angkat telepon dari lo!"
Bulan menghela napasnya, capek. Entah capek dalam hal apa tetapi ia merasa seharusnya masa ini sudah lewat dan gak ke ulang lagi. Tetapi ia salah, Bintang kembali seperti dulu dan bukannya itu sama saja Bintang mempermainkannya?
Saat hatinya sudah percaya lagi pada Bintang, dan saat itu pula hatinya di buat patah. Bulan harus bagaimana kalau seperti ini?
Dulu sudah berniat mundur untuk ini semua tetapi seperti di tarik lagi masuk ke dalam dunia Bintang, eh setelah semua berjalan dengan baik sampai Bulan pikir Bintang mau memperjuangkannya malah akhirnya seperti ini. Bulan merasa di tarik ulur oleh Bintang, tidak ada penjelasan sama sekali membuat Bulan bingung harus melangkah seperti apa setelah ini.
"Yaudah kalau lo gak mau ngomong sama gue lagi! Gue rasa memang lo gak sepenuh hati buat bikin gue percaya lagi sama lo." ujar Bulan.
"Cuma karena gue gak bales pesan, lo bisa semarah ini? Anak kecil banget njir!" cibir Bulan lalu bangkit dari duduknya ingin keluar dari ruangan itu.
Belum sempat melangkah, suara Bintang terdengar membuat Bulan membalikkan badannya kembali untuk menatap Bintang.
"Lo bohong!" teriak Bintang membuat siswa yang berada di kelas melihat ke arah mereka.
Siswa yang lain sampai menggeleng-geleng kepala, karena tak habis pikir dengan kisah Bulan dan Bintang yang tidak pernah ada ujungnya. Padahal simple, kalau sama-sama suka ya tinggal bersama. Benar gak?
Bintang bangkit dari duduknya dan segera menarik paksa Bulan pergi dari ruangan itu, tetapi karena Bintang menariknya cukup keras membuat Bulan memberontak dan mengaduh kesakitan.
"Bintang, lepasin tangan Bulan!" teriak Angga.
Bukannya di lepas, Bintang malah menarik tangan Bulan menuju ruang musik. Sedangkan yang lainnya masih terus berusaha membantu Bulan yang sudah menangis karena menahan sakit, sampai akhirnya tangan Bintang bisa di lepaskan.
Mereka berada di depan tangga, belum sampai ke ruang musik. Membuat mereka kembali menjadi perhatian di sekolah.
"Lo kasar banget!" teriak Angga tak suka dengan perlakuan Bintang terhadap Bulan.
Bulan menangis sesegukan menahan perih di pergelangan tangannya dan juga menahan perih di hatinya. Tak menyangka Bintang bisa melakukan itu lagi padanya.
"Gue udah kasih saran sama lo, bicarain baik-baik dengerin penjelasan dia bukan malah kaya gini!" tegas Hendra mengingatkan Bintang.
"Banci tahu gak lo!" ujar Arkana menimpali.
Tak lama dari arah bawah tangga, datang Mutia dan juga Manda. Keduanya bingung melihat semua temannya berada di depan tangga dengan posisi Bulan sedang menangis.
Dengan cepat keduanya menghampiri Bulan dan menanyakan apa yang terjadi, tetapi Bulan tidak menjawab mungkin karena masih shock dengan kejadian barusan.
"Jelasin!" ujar Bintang membuat Bulan bingung.
Hendra yang paham kalau Bulan bingung harus menjelaskan apa langsung memberi clue agar Bulan menjelaskan hal itu.
"Tentang Andre semalem." sahut Hendra membuat Mutia dan Manda menoleh ke arahnya, bingung.
Bulan kaget dengan pernyataan itu, dari mana Hendra tahu kalau Andre berada di rumahnya tadi malam. Apakah Hendra sengaja memata-matainnya dan mengadukan ini pada Bintang, makanya Bintang bisa sampai semarah ini?
"Lo tahu dari mana?" tanya Bulan masih dengan sesegukkannya.
"Gue lihat sendiri!" ujar Bintang.
Bulan melotot tak percaya.
"Ternyata lo bukan cewek baik seperti apa yang orang lain bilang!" cibir Bintang.
"Maksud lo?"
"Apa yang lo lakuin sama Andre semalem?"
Bulan menghela napasnya, ia sudah tahu sekarang mengapa Bintang semarah itu pasti dia melihat kejadian di mana Andre memeluknya tadi malam. Belum sempat menjawab suara Bintang kembali terdengar.
"Gue udah bilang sama lo, gue gak suka lo deket sama Andre Lan, tapi apa? Lo malah pelukan bahkan sampai dia cium kepala lo dan lebih parahnya lagi lo diem aja gak nolak ataupun marah sama dia!"
"Gue udah berusaha buat lo percaya lagi sama gue, apapun gue akan lakuin buat lo tapi setelah gue ngelihat kejadian itu gue jadi mikir kalau lo yang mainin gue di sini!"
"Gue tahu Lan, perjuangan gue belum ada apa-apanya di bandung perjuangan lo dulu buat gue, atau mungkin juga perjuangan gue kalah sama Andre yang lebih ngerti gimana lo!"
Bulan menggeleng, "Lo salah, seharusnya lo bisa dengerin dulu penjelasan gue baru lo bisa bicara kaya gini Tang."
"Tapi kayanya percuma deh, gue udah jelek juga kan di mata lo, dan percuma juga gue jelasin apa yang sebenarnya terjadi." ujar Bulan yang entah mengapa hatinya sangat terasa sakit.
Bulan pergi begitu saja dari sana tanpa menoleh lagi ke arah mereka,Bulan pikir dirinya membutuhkan waktu sendiri lebih dulu saat ini.
Sedangkan masih di tempat yang sama, Manda langsung menghampiri Bintang dan tanpa di duga Manda malah menampar pipi Bintang.
"Gue udah sering bilang Bintang, lo kalau gak bisa nerima Bulan setidaknya tidak nyakitin dia!" marah Manda.
"Sekarang lo lihat, bahkan bukan hatinya doang yang lo bikin sakit tapi fisiknya juga. Lo gak lihat tadi pergelangan tangan di luka pasti itu ulah lo kan!" ujar Manda lagi.
Arkana langsung menarik Manda menjauh dari sana. Saat Manda sudah pergi, Hendra yang mendekat ke arah Bintang dan menepuk bahu Bintang dua kali.
"Gue udah bilang, minta penjelasan baik-baik. Sekarang lihat Tang, lo seakan ngehakimin Bulan dengan kata-kata lo yang belum tentu benar!"
"Gue juga jadi ragu sama lo Tang, bener apa yang lo bilang tadi ke Bulan. Perjuangan lo mah masih kecil menurut gue, bahkan gak terlihat sama sekali keseriusan lo buat Bulan, gak kaya Bulan yang benar-benar ngelakuin itu semua dengan tulus!" timpal Angga.
"Gue rasa kisah lo cukup sampai di sini aja deh Tang, gue gak mau ngelihat sahabat gue lebih sakit dari ini nantinya." ujar Mutia seakan menjadi tak setuju jika Bintang kembali mengejar Bulan.
Hendra menggeleng, "Kita gak bisa ngelarang begitu Mut, semua keputusan ada di tangan mereka. Kita sebagai teman, cuma bisa mendukung apa keputusan mereka nantinya. Tapi kayany untuk sekarang, lebih baik lo gak usah deketin Bulan dulu deh, biarin dia nenangin dirinya dulu."
"Semoga lo paham maksud gue!" ujar Hendra lalu mengajak Mutia dan Angga pergi dari sana.
Hendra tahu rasanya jadi Bulan, dan ikutan sedih melihat kondisi Bulan tadi. Kalau saja ia bisa mengejar Bulan saat itu tanpa membuat Mutia marah ia pasti akan lakukan, untuk sahabatnya Bulan.
Bersambung...