
“Kak lepasin! Gue mau pulang sama
kak Adnan!”
Zevanya berseok-seok mengikuti
langkah lebar Ryu. Cowok berdarah Jepang itu menulikan pendengarannya, tetapi
tangannya semakin kuat mencengkeram lengan Zevanya. Usaha cewek itu semakin
sia-sia saja, sehingga dia menyerah berontak.
“Naik!” Zevanya menggeleng enggan.
Cowok itu menaiki motor matic miliknya yang terparkir sendiri karena kendaraan lain sudah dibawa pergi
pemiliknya begitu jam pelajaran selesai.
“Gue bisa pulang sendiri!” Jawab
Zevanya tetap menolak. Dia memutar tubuhnya dan pergi, namun Ryu kembali
mencekal lengannya.
“Lo milik gue, Zevanya!”
“Nggak!” Zevanya menggeleng tidak
terima. “Gue nggak pernah jadi milik lo, kak!”
Ryu menyentak lengan Zevanya
sehingga cewek itu menumbruk tubuhnya di atas motor. “Lo duduk di depan atau belakang
gue?” Bisiknya pelan di telinga Zevanya. Cewek itu merinding, melebarkan mata
dan buru-buru melepaskan diri dari kungkungan Ryu.
“Be-belakang.” Zevanya terbata.
“Bagus!” Jawab Ryu datar. Zevanya gugup
luar biasa, dengan hati-hati memegang bahu Ryu ketika dia naik. Ryu mengeluarkan
motornya dari parkiran dan melewati beberapa pengendara yang tersisa di sekolah
tersebut.
Adnan tidak ada lagi di tempatnya
tadi. Zevanya menghela nafas berat, berharap cowok itu tidak salah paham dan
menjauhinya setelah ini. Tidak mudah bagi Zevanya sampai di posisi saat ini.
Adnan digilai satu sekolahan, Zevanya memiliki saingan di setiap sudut kelas.
“Kemana lagi?” Tanya Ryu di
persimpangan menuju rumah Zevanya.
“Belok kanan.” Zevanya menjawab
malas. Tidak sedikit pun tertarik dengan Ryu. Kejadian beberapa hari yang lalu
adalah kesialan yang tidak bisa dihindari olehnya. Karena kecerobohannya, Zevanya
terikat dengan cowok dingin tersebut. “Di sini.” Zevanya menunjukkan rumahnya.
Begitu Zevanya turun dari motor, Ryu
segera melesat pergi meninggalkan cewek itu sedang terbengong-bengong. Zevanya
sangat kesal. Dia mengumpat serapah dan mendoakan cowok itu dikejar banci
komplek.
Zevanya masuk ke dalam rumahnya, di
ruang tamu dia mendapatkan telpon dari Rara. Rara bersiul dari seberang
sedangkan Zevanya memutar bola mata jengah. “Gue bukan di anter sama kak
Adnan.” Katanya.
siapa?” Rara kepo berat.
“Kak Ryu.”
“OMG!!”
Rara histeris dari seberang line. “Lo di
anter pacar lo? Serius? Kok bisa?”
“Dia bukan pacar gue!” Zevanya
emosi, membuat Rara tergelak senang.
“Lo
nggak bisa menghindar, Zee!” Zevanya yang sedang membuka sepatu, menekan
ponselnya di antara bahu dan pipi kiri. “Dia
pacar lo.” Cewek itu menukan posisi ponsel di bagian kanan. “Eh, udah tukeran nomor belum?”
“Boro-boro, anjir!” Zevanya memaki
lalu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. “Dia pergi gitu aja setelah gue
turun dari motornya.”
“Gila!!”
Rara menggeleng dramatis. “Pacar lo
dingin bener.”
“Ra, gue nggak mau kak Adnan salah
paham. Gue khawatir banget.” Zevanya menarik nafas frustasi. “Gue harus gimana?
Jelasinnya gimana? Gue nggak sanggup.”
“Coba
lo telpon sekarang.” Usul Rara serius. “Tapi
jangan sampe dia tahu kalau lo udah pacaran sama kak Ryu.”
“Gue bukan pacar kak Ryu!” Zevanya
tidak terima.
Rara tergelak senang, tetapi sesaat
kemudian kembali serius. “Coba, geh,
telpon.” Zevanya menguatkan hatinya. Dia memang sudah memiliki nomor ponsel
Adnan, namun dia tidak berani menelpon duluan.
Setelah menimbang-nimbang, akhirnya
Zevanya memberanikan diri menelpon. Zevanya memejamkan mata menunggu
panggilannya direspon. Namun sialnya, nomor itu tidak aktif. Zevanya mencoba
lagi, kali ini lebih berani. Tetapi hasilnya sama saja. Nomor Adnan tidak
aktif.
Zevanya berteriak di atas tumpukan
selimut sehingga suaranya teredam. Kemudian mengacak rambut frustasi. Tidak
siap bertemu dengan Adnan besok di sekolah, tetapi dia juga ingin menjelaskan
semuanya.
***
Medan, 12.08.19