COOL BOY

COOL BOY
Episode 3



            “Kak lepasin! Gue mau pulang sama


kak Adnan!”


            Zevanya berseok-seok mengikuti


langkah lebar Ryu. Cowok berdarah Jepang itu menulikan pendengarannya, tetapi


tangannya semakin kuat mencengkeram lengan Zevanya. Usaha cewek itu semakin


sia-sia saja, sehingga dia menyerah berontak.


            “Naik!” Zevanya menggeleng enggan.


Cowok itu menaiki motor matic miliknya yang terparkir sendiri karena kendaraan lain sudah dibawa pergi


pemiliknya begitu jam pelajaran selesai.


            “Gue bisa pulang sendiri!” Jawab


Zevanya tetap menolak. Dia memutar tubuhnya dan pergi, namun Ryu kembali


mencekal lengannya.


            “Lo milik gue, Zevanya!”


            “Nggak!” Zevanya menggeleng tidak


terima. “Gue nggak pernah jadi milik lo, kak!”


            Ryu menyentak lengan Zevanya


sehingga cewek itu menumbruk tubuhnya di atas motor. “Lo duduk di depan atau belakang


gue?” Bisiknya pelan di telinga Zevanya. Cewek itu merinding, melebarkan mata


dan buru-buru melepaskan diri dari kungkungan Ryu.


            “Be-belakang.” Zevanya terbata.


            “Bagus!” Jawab Ryu datar. Zevanya gugup


luar biasa, dengan hati-hati memegang bahu Ryu ketika dia naik. Ryu mengeluarkan


motornya dari parkiran dan melewati beberapa pengendara yang tersisa di sekolah


tersebut.


            Adnan tidak ada lagi di tempatnya


tadi. Zevanya menghela nafas berat, berharap cowok itu tidak salah paham dan


menjauhinya setelah ini. Tidak mudah bagi Zevanya sampai di posisi saat ini.


Adnan digilai satu sekolahan, Zevanya memiliki saingan di setiap sudut kelas.


            “Kemana lagi?” Tanya Ryu di


persimpangan menuju rumah Zevanya.


            “Belok kanan.” Zevanya menjawab


malas. Tidak sedikit pun tertarik dengan Ryu. Kejadian beberapa hari yang lalu


adalah kesialan yang tidak bisa dihindari olehnya. Karena kecerobohannya, Zevanya


terikat dengan cowok dingin tersebut. “Di sini.” Zevanya menunjukkan rumahnya.


            Begitu Zevanya turun dari motor, Ryu


segera melesat pergi meninggalkan cewek itu sedang terbengong-bengong. Zevanya


sangat kesal. Dia mengumpat serapah dan mendoakan cowok itu dikejar banci


komplek.


            Zevanya masuk ke dalam rumahnya, di


ruang tamu dia mendapatkan telpon dari Rara. Rara bersiul dari seberang


sedangkan Zevanya memutar bola mata jengah. “Gue bukan di anter sama kak


Adnan.” Katanya.


siapa?” Rara kepo berat.


            “Kak Ryu.”


            “OMG!!”


Rara histeris dari seberang line. “Lo di


anter pacar lo? Serius? Kok bisa?”


            “Dia bukan pacar gue!” Zevanya


emosi, membuat Rara tergelak senang.


            “Lo


nggak bisa menghindar, Zee!” Zevanya yang sedang membuka sepatu, menekan


ponselnya di antara bahu dan pipi kiri. “Dia


pacar lo.” Cewek itu menukan posisi ponsel di bagian kanan. “Eh, udah tukeran nomor belum?”


            “Boro-boro, anjir!” Zevanya memaki


lalu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. “Dia pergi gitu aja setelah gue


turun dari motornya.”


            “Gila!!”


Rara menggeleng dramatis. “Pacar lo


dingin bener.”


            “Ra, gue nggak mau kak Adnan salah


paham. Gue khawatir banget.” Zevanya menarik nafas frustasi. “Gue harus gimana?


Jelasinnya gimana? Gue nggak sanggup.”


            “Coba


lo telpon sekarang.” Usul Rara serius. “Tapi


jangan sampe dia tahu kalau lo udah pacaran sama kak Ryu.”


            “Gue bukan pacar kak Ryu!” Zevanya


tidak terima.


            Rara tergelak senang, tetapi sesaat


kemudian kembali serius. “Coba, geh,


telpon.” Zevanya menguatkan hatinya. Dia memang sudah memiliki nomor ponsel


Adnan, namun dia tidak berani menelpon duluan.


            Setelah menimbang-nimbang, akhirnya


Zevanya memberanikan diri menelpon. Zevanya memejamkan mata menunggu


panggilannya direspon. Namun sialnya, nomor itu tidak aktif. Zevanya mencoba


lagi, kali ini lebih berani. Tetapi hasilnya sama saja. Nomor Adnan tidak


aktif.


            Zevanya berteriak di atas tumpukan


selimut sehingga suaranya teredam. Kemudian mengacak rambut frustasi. Tidak


siap bertemu dengan Adnan besok di sekolah, tetapi dia juga ingin menjelaskan


semuanya.


***


Medan, 12.08.19