
Bintang emosi saat mendengar percakapan antara Bulan dengan Andre di telepon tadi, apalagi Bintang mendengar bahwa Andre tengah menjemput Bulan.
Maka dari itu jalan satu-satunya agar Bulan tidak jadi menemui Andre adalah menarik paksa Bulan untuk ikut bersamanya. Tetapi sayang, ternyata Bintang malah melukai pergelangan tangan Bulan karena terlalu keras menariknya tadi.
Bintang merasa bersalah pada Bulan yang kini sedang menangis tersedu-sedu. Hatinya tersentuh mendengar tangisan pilu itu.
"Maaf Bulan," ujar Bintang meminta maaf pada Bulan berharap Bulan menghentikan tangisannya.
Bulan menggeleng, "Maaf lo gak pernah tulus Bintang!"
Bintang menggeleng tidak terima dengan ucapan Bulan, "Gue cuma gak mau lo pergi sama Andre." ujarnya.
"Kenapa? Lo bukan siapa-siapa gue Bintang, lo gak berhak ngatur gue!" ujar Bulan sedikit emosi.
Bintang terdiam sebentar membenarkan apa yang Bulan bicarakan tadi, memang ia tidak ada hak untuk itu tetapi mengapa perasaannya sakit saat melihat Bulan bersama dengan Andre.
"Kita pacaran sekarang!" ujar Bintang pada akhirnya setelah apa yang tadi ia pikirkan.
Menurutnya dengan cara inilah yang membuat Bulan akhirnya menjauh dari Andre, toh bukankah hal ini pula yang sejak dulu Bulan impikan? Berpacaran dengannya?
Bulan sedang menangis langsung terhenti karena mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Bintang. Setelah sekian tahun akhirnya itu terucap juga. Bulan bingung antara senang atau sedih karena ia berpikir bahwa Bintang melakukan ini karena terpaksa.
"Gue bukan cewek murahan yang bisa di ajak pacaran karena sebuah keterpaksaan!" ujar Bulan sedikit emosi.
Bintang menaikkan alisnya bingung dengan respon Bulan, ia kira Bulan akan langsung menerimanya.
"Cukup buat semuanya, dan jangan pernah lo atur-atur hidup gue lagi!" ujar Bulan lagi dan ingin segera turun dari mobil Bintang.
Untung saja mobilnya tidak di kunci jadi ia bisa kabur dari sana dan segera menghampiri Andre yang sudah berada di depan gerbang sekolah untuk menjemputnya.
Bintang yang melihat Bulan keluar dari mobilnya berusaha untuk mengejar, tetapi sayang saat berlari ia tidak sengaja menabrak Clara dan membuat keduanya jatuh bersamaan dengan posisi Bintang di atas tubuh Clara.
Hal itu membuat siapa saja yang melihat langsung mengeluarkan ponselnya untuk memotret mereka dan akan di sebarkan di grup sekolah atau angkatan mereka masing-masing.
"Itu kak Bintang sama siapa?"
"Kasihan banget ya Bulan, dia yang ngejar Bintang malah anak baru yang di tindihin gitu."
"Mereka cocok ya."
Begitulah kira-kira komentar dari siswa yang melihat mereka jatuh di tanah dengan kondisi yang sangat tidak baik.
Dengan cepat Bintang bangkit dan membersihkan seragamnya yang sedikit kotor, begitu pula dengan Clara.
"Bulan, pacar lo yang baru?" tanya Clara sambil tangannya membersihkan roknya.
Bukannya menjawab Bintang malah meninggalkan Clara begitu saja ke arah gerbang sekolah. Clara yang di abaikan seperti itu hanya bisa berdengus kesal.
"Makanya, gak usah caper!" ketus Manda yang sengaja lewat di depan Clara bersama dengan Mutia.
Clara lagi-lagi hanya berdengus sebal dan melangkah sambil menghentakkan kakinya menuju mobil.
****
Sedangkan di sisi lain, Bulan yang sudah bersama dengan Andre menceritakan apa yang barusan terjadi. Andre menggeleng tak percaya dengan kelakuan Bintang pada Bulan tadi. Senakal-nakalnya Andre, ia tidak akan pernah menyakiti perempuan.
Keduanya berhenti sejenak di sebuah kedai es campur di pinggir jalan.
"Gue sebel banget deh ih!" Bulan masih saja menggerutu.
Andre mengelus kepala Bulan pelan, "Udah ah, dia begitu karena cemburu kali."
Bulan langsung menatap Andre, "Iya kah itu artinya cemburu? bukan karena terpaksa?"
Andre mengangkat bahunya, "Gak tahu sih, yang tahu jawabannya cuma Bintang sama Tuhan aja itu mah."
Bulan menghela napasnya kecewa, "Tapi Ndre, sebenernya lo sama dia punya masalah apa sih?"
Andre diam mengingat beberapa kejadian dulu yang membuat dirinya dan Bintang menjadi musuh sampai sekarang.
"Ada lah kejadian di masa lalu, dan gue males ceritanya." jawabnya pelan.
"Karena cewek?"
Andre diam tidak menjawab, dan membuat Bulan menghela napasnya lagi.
Kenapa sih Bulan selalu di diemkan begini kalau bertanya!
Andre langsung menatap Bulan dengan tatapan penuh tanya, "Clara Adriana?"
Bulan mengangguk antusias, siapa tahu Andre mengetahui tentang Clara dan siapa Clara sebenarnya di hidup Bintang.
"Lo tahu dari mana tentang Clara?" tanya Andre.
"Gue gak tahu tentang dia, tapi sekarang Clara sekolah di Prada Jaya dan satu kelas sama gue."
Andre nampak kaget dengan informasi itu, "Dia balik ke Indonesia?"
Bulan mengangguk, "Lo kenal dia?"
Andre mengangguk, "Iya dia temen sekolah gue dulu."
"Iya gue tahu kalau itu, maksud gue lo kenal dia lebih jauh gak? Maksudnya lo tahu tentang dia gak? Tentang dia sama Bintang gitu?"
Andre kembali terdiam. Buat apa Clara kembali ke Indonesia lagi setelah apa yang dulu pernah terjadi di sini pikir Andre.
"Andre ih." seru Bulan sambil menepuk paha Andre untuk menyadarkan Andre dari lamunannya.
"Clara itu mantannya Bintang ya?" tanya Bulan lagi.
Andre langsung menggeleng, "Bukan, dia sama kaya lo."
"Maksudnya?"
"Iya, dari dulu dia selalu ngejar Bintang, sama kaya lo yang sampai sekarang terus ngejar Bintang."
Bulan terdiam, ternyata dugaannya salah. Jadi posisinya dengan Clara sama, Sama-sama pengejar seorang Bintang.
"Lagi buat apa sih ngejar Bintang yang jelas-jelas dia gak akan ngelihat lo Lan. Di sini ada gue padahal, kenapa gak lo coba ke gue aja?" ujar Andre pelan di beberapa kata terakhirnya.
Bulan menatap Andre dengan seksama, terlihat sekali ketulusan di mata Andre. Tetapi sayang hati Bulan benar-benar belum bisa di berikan kepada orang lain. Bulan tidak mau menyakiti Andre terus menerus kalau ia dengan terpaksa menerima ajak kan Andre untuk membangun sebuah hubungan.
"Karena Bintang masih terpaku di satu cewek ya Ndre?"
Andre mengangguk, "Gue rasa kaya gitu,"
"Lo tahu gak sih siapa cewek itu?"
Andre lagi-lagi terdiam tidak menjawab pertanyaan Bulan.
"Apa cewek itu Manda?"
"Manda?"
Bulan mengangguk, "Gue ngerasa kalau Manda sama Bintang itu sebenarnya punya hubungan. Apa cewek itu Manda, Ndre?"
Andre menggeleng, "Bukan, Manda itu sahabat Bintang dari kecil."
"Serius?" tanya Bulan kaget dengan hal ini, karena Manda hanya bilang kalau Bintang hanya teman SMP nya saja.
"Iya, Manda gak pernah kasih tahu lo?" Bulan menggeleng.
"Hem, mungkin karena dia mau ngejaga perasaan lo kali," ujar Andre menenangkan agar Bulan tidak menilai Manda buruk.
"Tapi kenapa Manda kalau gue tanya tentang Bintang dia gak pernah mau jawab?"
Andre mengangkat bahunya, "Gue gak tahu alasan dia apa begitu, tapi pesen gue lo jangan marah sama Manda karena masalah ini ya."
"Kenapa?"
"Yah, menurut gue kalau lo marah karena masalah ini lo kaya anak kecil tahu gak. Memang sih lo secara tidak langsung di bohongin sama Manda tapi kan pasti dia punya alasan sendiri kenapa gak ngasih tahu lo. Gue yakin lo pasti ngerti maksud gue." Bulan akhirnya mengangguk, benar apa yang Andre bilang.
"Terus siapa cewek itu?"
"Kenapa lo penasaran banget sama sosok cewek itu Lan?"
"Gue cuma mau tahu aja, setidaknya gue bisa introspeksi diri kenapa gue gak bisa ngambil hati Bintang."
"Lo gak akan pernah bisa ketemu dia Lan," ujar Andre pelan.
Bersambung.....