COOL BOY

COOL BOY
BAB 28



Yang mau mendengar belum tempu mampu memahami, itu lah mengapa beberapa hal lebih baik di simpan diri sendiri.


Seperti Bulan, seharusnya ia memiliki privacy pada dirinya sendiri tidak semuanya harus di ceritakan pada orang lain. Tetapi itu lah Bulan, ia ingin selalu membagi rasa sedih dan senangnya kepada orang sekitar dan ternyata itu salah, lihat saja sekarang ia terlihat seperti badut bukan yang di tertawakan oleh teman-temannya karena tidak mengetahui apapun.


"Benerkan Ndre apa yang gue bilang, gue yang terlalu malang hidup di dunia." batin Bulan.


"Meskipun Viona sudah lebih dulu pergi, setidaknya dia sempat merasakan apa itu bahagia bersama dengan orang tersayangnya." batin Bulan lagi.


"Enggak seperti gue, orang tua gue jauh gue gak bisa peluk mereka kalau lagi sedih kaya gini, di tambah gue gak bisa ngerasain bahagia bersama Bintang plus kedua sahabat gue bikin gue kecewa saat ini." batin Bulan lagi.


Bulan merasa sangat kecewa dengan semuanya, termasuk dengan dirinya sendiri. Kecewa karena tidak pernah mendengar saran apapun dari orang sekitar.


"Bulan, lo kenapa?" tanya Clara yang entah dari mana muncul di perpustakaan di mana Bulan berada saat ini.


Bulan menggeleng, "Gak papa, lo bisa tinggalin gue sendiri?"


Bukannya pergi, Clara malah duduk di bangku samping Bulan, "Lo bisa cerita sama gue, siapa tahu gue bisa bantu."


Bulan menggeleng, "Gue mau sendiri, lo bisa pergi?"


"Dengan lo bercerita setidaknya mengurangi sedikit rasa sedih."


Bulan bangkit dari duduknya, "Di bilang gue mau sendiri!" ujarnya ketus lalu meninggalkan Clara begitu saja.


Menurut Bulan saat ini yang cocok untuk di jadikan teman ceritanya adalah Andre. Andre yang selalu mendengarkannya tanpa pernah menghakimi apapun yang Bulan ceritakan.


Tetapi ia tidak mau egois, karena masalahnya malah menyuruh Andre buat bolos sekolah. Itu tidak akan mungkin Bulan lakukan, nanti saja ia akan bercerita setelah pulang sekolah.


Bulan melangkah masuk ke dalam kelas, wajahnya yang tadi cerah sekarang menjadi murung dan terlihat sedikit pucat. Saat sampai di bangkunya, Bulan langsung mendudukan diri tanpa menyapa kedua sahabatnya.


"Lan," panggil Mutia.


Bulan menaruh jari telunjuknya di depan bibir bermaksud agar Mutia tidak berisik.


"Bulan, dengerin dulu penjelasan gue." kali ini Manda yang bersuara.


"Berisik Man, gue butuh ketenangan!" ketus Bulan dan menaruh kepalanya di atas meja dan wajahnya di tutupi tas.


Manda mengela napasnya, membiarkan Bulan menenangkan diri dulu adalah hal yang tepat mungkin pikir Manda.


Tak lama guru pengajar masuk kelas dan mau tidak mau Bulan mengangkat kepalanya untuk ikut belajar seperti biasa. Pendidikan adalah nomer satu itulah yang membuat Bulan semangat lagi untuk belajar.


****


Saat bel istirahat berbunyi, Bulan memutuskan untuk berdiam diri di kelas. Bulan kembali menidurkan kepalanya di atas meja dan menutupi wajahnya dengan tas jangan lupakan juga dengan telinganya yang di sumpal dengan earphone.


Manda dan Mutia yang melihat Bulan seperti itu merasa bersalah, Bulan yang cerita menjadi murung. Manda ingin berbicara pada Bulan, tetapi di larang Mutia.


"Biarin dia sendiri dulu, dia pasti kecewa banget sama kita. Gue yakin dia gak akan lama kok kaya gini, lo kan tahu sifat Bulan." ujar Mutia membuat Manda mengangguk.


Akhirnya keduanya memilih meninggalkan Bulan di dalam kelas. Hendra yang melihat Bulan seperti itu langsung menghubungi Bintang untuk datang ke kelasnya melihat kondisi Bulan.


Tak sampai 5 menit, Bintang sudah berada di dalam kelas Bulan dan melihat kondisi Bulan yang wajahnya tertutup tas milik gadis itu.


Dengan langkah pasti, Bintang menghampiri meja Bulan untuk mengecek kondisi Bulan. Entah mengapa perasaan Bintang tidak enak saat ini, seperti ada sesuatu yang terjadi pada Bulan.


Dengan pelan Bintang mengangkat tas milik Bulan, dan betapa terkejutnya Bintang melihat kondisi Bulan.


"Dra!" panggil Bintang pada Hendra untuk melihat juga kondisi Bulan.


"Astaghfirullah Bulan, bawa ke UKS cepet Tang!" ujar Hendra saat melihat kondisi Bulan.


Wajah Bulan pucat dan keluar darah dari hidungnya alias mimisan, plus badannya sedikit demam hingga mengeluarkan suara dengkuran dari mulutnya.


"Mamah." suara itu keluar dari mulut Bulan.


Bintang segera mengangkat tubuh Bulan untuk segera di bawa ke UKS, Hendra mengikuti langkah Bintang di belakang. Hal itu membuat mereka lagi-lagi menjadi pusat perhatian dan heboh.


Mata Bulan sama sekali tidak terbuka, tetapi mulutnya terus memanggil mamah dan papahnya. Setelah sampai di UKS Bulan langsung di tanganin oleh dokter di sekolah ini.


Perasaan Bintang cemas, sangat cemas. Seperti perasaannya dulu saat menemani Viona di dalam ambulans menuju rumah sakit. Tetapi sayang, Viona tidak dapat tertolong sebelum sampai rumah sakit.


Dokter telah selesai memeriksa Bulan, dan memberitahu kalau Bulan tengah kecapekan dan banyak memikirkan sesuatu makanya sampai mimisan seperti ini, dan dokter menyarankan agar Bulan izin pulang lebih dulu agar bisa istirahat di rumah.


"Terima kasih banyak dok." ujar Hendra pada dokter Citra yang cantik itu.


"Terima kasih sekali lagi dok." ujar Hendra lagi.


Dokter Citra keluar dari UKS dan hanya menyisakan mereka bertiga. Bintang menggenggam tangan Bulan dengan erat dan wajahnya terlihat sangat panik.


"Gue ke kantin dulu ya, beliin Bulan bubur sekalian mau ngasih tahu Manda sama Mutia." ujar Hendra dan hanya di anggukin oleh Bintang.


Setelah ke pergian Hendra, Bintang mulai membuka suaranya bahkan terdengar suara isakan dari bibir Bintang.


"Bulan, maafin gue karena semuanya salah gue. Apa yang lo bilang tadi pagi benar, seharusnya gue stop nyalain diri gue sendiri atas meninggalnya Viona."


"Seharusnya sejak dulu gue bisa buka hati buat lo, lo yang selalu memperjuangkan gue tanpa lo mikirin diri lo sendiri. Lo egois Bulan, lo gak mau ngelihat orang sakit tapi lo sendiri nyiksa diri lo."


"Jujur, gue udah mulai sayang sama lo sejak kita jalan berdua waktu itu, makanya gue larang lo deket-deket sama Andre."


"Lo pasti tahu ini semua dari Andre kan? Gue gak bisa marah sama dia karena memang itulah kenyataannya. Tapi Lan, gue beneran gak bisa lupain Viona karena dia cinta pertama gue, dia akan tetap di hati gue walaupun di ruang yang berbeda."


"Tapi gue yakin kok, kalau hati gue udah bener-bener ke buka buat lo. Gue harap lo ngerti Lan."


Bintang menghapus air matanya setelah menyelesaikan perkataannya tadi, Bintang sangat merasa bersalah pada Bulan saat ini.


Tak lama pintu terbuka dan terlihatlah Manda dan Mutia di sana, Bintang bergeser memberikan ruang untuk Manda dan Mutia untuk melihat kondisi.


"Ya ampun Lan, kenapa lo bisa sampai kaya gini!" isak Manda sambil mengelus lengan Bulan.


Mutia pun sama terisak melihat wajah Bulan yang sangat pucat, "Lan, maafin gue karena ikut ngebohongin lo!" ujar Mutia.


Tiba-tiba mata Bulan berkedip hingga akhirnya terbuka sempurna, Bintang yang melihat itu langsung menghampiri tempat tidur Bulan.


Bulan yang melihat ketiganya hanya tersenyum kecil, tubuhnya sangat lemas. "Gue gak papa kok." ujar Bulan pelan sangat pelan.


"Lan, maafin gue maafin-" seru Manda sambil menggenggam tangan Bulan.


Bulan menggeleng, "Cukup Man." ujar Bulan.


Tak lama Hendra, Angga dan Arkana datang sambil membawakan bubur ayam untuk Bulan. Hendra memberikan bubur itu pada Bintang dan di terima dengan baik.


"Makan dulu." ujar Bintang membuat Bulan menggeleng.


"Makan setelah ini gue anter pulang!" ujar Bintang lagi.


Lagi-lagi Bulan menggeleng, "Gue bisa telepon Andre buat nganterin gue pulang!" ujar Bulan pelan.


Bintang yang mendengar nama Andre menjadi emosi, saat akan pergi tatapan Manda membuatnya mengurungkan niat.


"Harus sama gue!" kekeuh Bintang.


Melihat perdebatan akan di mulai, Hendra mengambil alih lagi bubur itu dan mendorong pelan tubuh Bintang agar memberinya ruang untuk berdiri di samping tempat tidur Bulan.


"Makan, gue yang suapin!" ujar Hendra membuat Bulan mengangguk.


Hendra tersenyum, sedangkan Bintang mendengus kesal. Bulan yang melihat wajah Bintang hanya bisa tersenyum kecil, hatinya tersentuh.


Bulan memakan buburnya hingga habis, saat Hendra ingin memberi Bulan minum, Bintang malah mengambil alih gelas itu dan mendorong Hendra agar menjauh.


Bulan yang tahu kalau Bintang yang ingin memberinya minum langsung menutup mulutnya rapat sambil menggeleng.


"Dia gak mau sama lo Bintang." ujar Manda terkekeh pelan melihat tingkah Bulan.


"Tahu, maksain banget. Kemarin di paksa Bulan buat jadi pacarnya gak mau!" sahut Arkana.


"Udah sini, kasihan tuh Bulan seret mau minum." ujar Hendra kembali mengambil alih gelas yang di pegang Bintang, dengan berat hati Bintang memberikan gelas itu dan mendengus sebal lagi pada Hendra.


Saat akan meminum Bulan menghentikan tangan Hendra dan mengambil alih gelas itu, "Biar gue yang pegang, pasti lo masih lemes." ujar Hendra khawatir pada Bulan.


Bulan menggeleng, lalu memberikan gelas itu pada Bintang. Dengan cepat Bintang mengambil gelas itu dan menggantikan posisi Hendra untuk memberikan minum pada Bulan.


"Kasih minum aja banyak drama anjir." kesal Angga melihat itu semua.


Sedangkan yang lain hanya terkekeh pelan. Begitulah sifat Bulan yang selalu mudah memaafkan. Eits, tapi apa iya Bulan sudah memaafkan mereka semua?


Bersambung...