COOL BOY

COOL BOY
BAB 48



Malam perpisahan sudah berlalu, begitu pula dengan perjuangan seorang Bulan sudah berlalu. Pada akhirnya ia bisa memetik hasil manis karena Bintang telah menjadi miliknya sekarang.


Dari Bulan kita belajar, kalau mau sesuatu butuh perjuangan dan pengorbanan tidak semua bisa instan. Lihat saja mie instan, harus di masak dulu kan baru bisa di makan? Apa sih gak nyambung!


Setelah ke pulangan mereka dari Bandung, mereka kembali mengambil liburan ke puncak bersama dengan yang lain, alias 7 sekawan itu. Kalian sudah tahu kan siapa saja?


Dua hari di puncak, karena hari ini mereka semua di wajibkan untuk ke sekolah. Melihat pengumuman kelulusan tahun ajaran 2022. Bulan datang bersama dengan Bintang, sejak dari parkiran Bintang selalu menggenggam Bulan.


"Aku ke toilet dulu ya?" izin Bulan.


Bintang mengangguk, "Aku anter." seru Bintang yang tidak mau meninggalkan Bulan.


Bulan menggeleng lalu mengusap lengan Bintang pelan, "Cuma sebentar, kamu duluan aja ke mading."


Bintang yang menggeleng sekarang, "Aku takut kamu di culik."


Bulan terkekeh, "ini sekolah gak mungkin ada penculik Bintang, udah sana duluan aku cuma sebentar kok." akhirnya Bintang mengangguk tidak mau membuat Bulan marah.


Bintang melangkah lebih dulu menuju mading, yang di mana tertempel kertas pengumuman di sana. Sedangkan Bulan masuk ke dalam toilet.


Tak lama saat Bulan sudah selesai, ada seseorang yang masuk ke dalam toilet dan Bulan mengenalinya. Bulan tersenyum sekilas, lalu kembali menata rambut nya lewat cermin besar di depannya.


"Lan, selamat ya akhirnya lo bisa jadian juga sama Bintang." ujar Clara memberi selamat pada Bulan.


Bulan langsung menatap Clara dan tersenyum simpul, "Thanks Cla." sahut Bulan cuek.


"Soal yang waktu itu gimana, Lan? Lo bisa ketemu sama bokap gue?" tanya Clara.


"Bokap Bintang, Cla." ketus Bulan, entah mengapa ia jadi tak suka dengan Clara setelah Bintang memberitahu semuanya tentang Clara. Tapi Bulan tidak memberitahu pada Bintang soal ini.


Clara terkekeh pelan, "Tapi pada kenyataannya sekarang dia bokap gue Lan, bukan Bintang."


Bulan menatap Clara tajam, "Gue rasa lo harus ke psikolog deh Cla sebelum penyakit lo makin parah."


Tangan Clara melayang ke udara, ingin menampar pipi Bulan tetapi sayang Bulan sudah sigap lebih dulu menangkap tangan Clara.


"Gue baru pertama kali ketemu cewek jahat macam lo Cla, lo gak bisa menghalalkan segara cara cuma buat kepentingan diri lo sendiri." seru Bulan.


Dan lagi-lagi Clara terkekeh, "Lo gak usah sok paling benar Lan, lo tuh cewek gak punya malu, gue ingetin kalau lo lupa!" marah Clara.


Kali ini Bulan yang terkekeh, "Setidaknya gue gak mencelakai atau merugikan orang! Gak kaya lo dan nyokap lo, perebut nyawa dan kebahagiaan orang. Bukannya lo lebih rendah dari gue kalau kaya gitu?"


Clara emosi mendengar itu semua, tanpa di duga menonjok wajah Bulan dengan keras hingga Bulan terhuyung ke belakang dengan darah yang mengalir dari hidungnya.


Clara bisa melakukan itu, karena pernah belajar dengan Manda pada waktu itu.


"Lo lihat pembalasan gue Bulan, bakal lebih dari ini!" ancam Clara lalu keluar dari toilet.


Bulan langsung membersihkan darah dari hidungnya, agar tidak ada yang melihat kejadian ini. Tetapi sayang, Bintang telah masuk ke dalam toilet dan melihat jelas darah masih mengucur dari hidung mancung milik Bulan.


"Bulan!" teriak Bintang saat melihat kondisi Bulan.


Bulan menggeleng, seakan menenangkan Bintang kalau ia tidak apa-apa. "It's okay Bintang, cuma kecapekan!" ujar Bulan sebelum Bintang bertanya.


"Kita ke rumah sakit ya!" ajak Bintang seakan percaya kalau itu memang hanya kecapekan bukan karena hal lain.


Bulan menggeleng, "Gak usah Tang, anterin aku ke mading yuk!" seru Bulan sambil tangannya mencari tisu di dalam tas.


Setelah ketemu, Bulan langsung membersihkan darahnya dengan tisu dan mulai melangkah keluar toilet, ia tidak mau berlama-lama di dalam apalagi hanya bersama dengan Bintang. Bisa berabe nanti....


Bintang terus merangkul Bulan hingga sampai di depan mading, dan Bulan sedang mencari namanya di dalam daftar kelulusan itu. Akhirnya ketemu, ia di nyatakan lulus! Dan sekedar informasi kalau ternyata tahun ini semua di nyatakan lulus!


"Kita lulus Tang!" seru Bulan sambil tangannya terus memegang hidung.


Bintang mengangguk, "Iya, yaudah kita ke rumah sakit ya." ajak Bintang lagi.


Bulan menggeleng, "Gak perlu Bintang, ini udah berhenti kok." dan memang benar darahnya sudah berhenti mengalir.


Tak lama datanglah para sahabat mereka, "Anjir lo kenapa Bulan?" teriak Angga saat melihat tisu yang Bulan pegang banyak darah.


Yang lain pun jadi ikut fokus ke tisu tersebut, "Lo mimisan?" tanya Manda.


"Mending ke rumah sakit Lan, lo udah beberapa kali mimisan kaya gini." seru Mutia yang ia ingat Bulan pernah beberapa kali mengalami mimisan ini.


"Udah Mut, gak perlu di suruh juga gue bakal lakuin, tapi nyatanya emang gak ada masalah serius." jawab Bulan sedikit kesal karena temannya tak percaya dengannya.


Akhirnya semua mengangguk, "Selamat ya buat kalian berdua yang namanya atas bawah juara paralel." seru Arkana.


"Iya anjir, lo berdua pasangan sempurna, sama-sama punya otak cerdas dan punya wajah cantik dan ganteng lagi. Gue gak bisa bayangin kalau kalian nikah dan punya anak. Anaknya secakep dan se pinter apa anjir!" seru Hendra membuat yang lain menyetujui.


"Itu lah namanya cerminan jodoh Dra, kayanya Mutia lebih cocoknya sama gue deh, secara dia cakep gue ganteng, kalau sama lo kaya lagi jalan sama kang kebun tau!" seru Angga membuat yang lain tertawa.


Itu hanya bercanda ya guys, Hendra juga ganteng kok tapi memang yang paling akhir di antara mereka.


"Enak aja lo Angga, gini-gini dia pacar gue dan gue terima dia apa adanya meskipun mukanya gak setampan lo tapi gue sayang dia!" seru Mutia seakan membela kekasihnya.


"Setidaknya lo ngakuin kalau gue lebih tampan di banding dia." kekeh Angga merasa menang.


Hendra hanya bisa diam sambil mempererat genggamannya di tangan Mutia. Sedangkan yang lain hanya tertawa melihat ekspresi Hendra, tetapi mereka yakin kok kalau Angga hanya bercanda dengan ucapannya.


"Man, nyokap lo ada di rumah gak?" ujar Bulan mengingat janjinya pada Bintang.


Manda menggeleng, "Lagi keluar kota dari kemarin Lan, kenapa emang?"


"Oh, kalau tanpa nyokap lo bisa kali ya, lo mau bantuin gue kan tentang itu?" seru Bulan.


Manda langsung mengangguk paham, "Oh, gue rasa sih bisa. Mau kapan?"


"Hari ini bisa?" tanya Bulan.


"Kamu harus istirahat hari ini, besok lusa aja gimana?" seru Bintang yang sudah tahu maksud dari pembicaraan Bulan dan Manda.


Bulan akhirnya mengangguk, "Oke besok lusa, Man."


Manda mengangguk setuju.


"Kita boleh ikut gak Lan?" seru Arkana. Angga, Hendra dan Mutia pun mengangguk.


Bulan menatap Bintang, seakan meminta izin pada pemilik rahasia itu, meskipun mereka semua sudah tahu, tapi kan balik lagi ke Bintang boleh atau tidak.


Bintang mengangguk, "Tapi kalian langsung ke makam aja," seru Bintang.


Bulan mengangguk, "Bener, biar tante Soraya nyaman juga."


Semuanya mengangguk setuju.


"Nongkrong di cafe yuk?" seru Arkana.


"Gas!" sahut Hendra begitu pun yang lainnya.


"Gue harus nganter Bulan pulang." sahut Bintang.


Bulan menggeleng, "Kita ikut mereka ya sebentar aja."


"Kamu harus istirahat Bulan."


"Aku gak papa Bintang! Please, ikut sama mereka ya?"


Bintang menghela napasnya lalu mengangguk membuat Bulan langsung memeluk Bintang, "Makasih sayang." seru Bulan membuat darah Bintang mendesir.


Sudah lama ia tidak mendengar kata itu, kata "Sayang" dari siapapun, dan sekarang Bulan mengatakan padanya membuat dunia Bintang seakan berhenti beberapa detik.


Akhirnya semua berangkat menuju cafe yang biasa mereka kunjungin akhir-akhir ini. Semua bahagia karena telah lulus dan akan melangkah ke jenjang selanjutnya.


Kira-kira pertemanan ini akan tetap terjaga gak ya?


Bersambung... 


Part santai kan? Tapi bapernya dapet gak?