COOL BOY

COOL BOY
BAB 52



Kalian tahukan bagaimana perjuangan seorang Bulan selama ini untuk mendapatkan hati dari seorang Bintang?


Yang seharusnya, Bintang lah yang berjuang dan ini malah kebalikkannya, membuat Bulan di cap menjadi cewek tidak tahu malu atau apalah. Tetapi selama itu pula Bulan tidak pernah menghiraukan itu semua omongan dari mereka.


Tetapi kalian pernah dengarkan, kalau usaha tidak pernah menghianati hasil, entah hasil apa yang akan di dapat nantinya yang terpenting sudah usaha bukan? Tinggal dari diri kita sendiri yang bisa menerima atau tidak, itu saja.


Dan ternyata, hasil perjuangan Bulan selama ini adalah manis alias ia telah sampai di tujuannya dengan mendapatkan hati Bintang. Meskipun banyak cobaan dan drama yang telah mereka lewati selama ini. Bulan menganggap itu semua adalah ujian untuk lebih baik lagi kedepannya.


Bulan selalu berharap dan berdoa, kalau Bintang lah yang terakhir untuknya nanti. Apa kah Bintang pun berharap seperti itu? Semoga saja iya!


****


Hidup Bulan semakin sempurna sepertinya, memiliki otak yang cerdas, memiliki keluarga yang harmonis dan sekarang di miliki oleh orang yang selama ini ia sayang dan cintai. Bukan kah itu salah satu bentuk kesempurnaan hidup?


Siapa yang iri dengan Bulan?? Acung!!


Sore ini, Bulan sudah janjian dengan Bintang untuk jalan, sebelum besok mulai di sibukkan oleh kegiatan kampus. Iyaps, besok mereka sudah mulai masuk ke kampus, tahun ini tidak ada masa ospek.


Meskipun besok hanya sekedar pengenalan kampus dan jurusan, tapi pasti akan sibuk. Belum lagi mencari teman baru, atau mungkin nanti ada hal-hal lainnya. Ah pasti akan beda deh nantinya.


Bintang sudah sampai di rumah Bulan, dan sekarang sedang menunggu Bulan selesai rapi-rapi. Bintang menunggu Bulan, di ruang tamu rumah itu.


Tak lama Bulan turun dari kamarnya dan langsung menghampiri Bintang yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya.


"Sorry, lama ya? Abis kamu bilang jemput jam 4 sekarang baru setengah 4" seru Bulan.


"Udah kangen!" sahut Bintang membuat Bulan salah tingkah.


Tanpa menunggu lama lagi, Bintang menggandeng tangan Bulan untuk mengajaknya segera pergi. Tetapi langkah mereka terhenti di depan pintu utama karena melihat kedatangan orang tua Bulan yang baru saja turun dari mobil.


"Eh ada nak Bintang, ayo masuk dulu." seru Hanum.


Bintang langsung melepas genggamnya pada Bulan, dan mengambil tangan Hanum untuk di kecupnya, begitu pula ke Brian.


"Ehem, kita mau jalan keluar mah." sahut Bulan memberitahu tujuan Bintang kesini.


Hanum mengangguk, "Oh gitu, mau kemana?" tanya Hanum.


"Kepo deh sih mamah." sahut Brian membuat Bulan terkekeh sedangkan Bintang hanya tersenyum kecil.


"Tahu, kakak aja gak pernah di tanyain kalau pergi woo!" seru Bulan.


"Yaudah sana pergi, jangan pulang terlalu malam ya." seru Hanum.


Bulan dan Bintang mengangguk, "Izin bawa Bulan keluar dulu ya om, tante." seru Bintang.


Brian dan Hanum mengangguk, "Iya Bintang, titip Bulan ya, jagain takut hilang soalnya dia gak bisa diem anaknya!" seru Brian membuat Bulan menepuk bahu ayahnya pelan sedangkan Hanum dan Brian tertawa.


Bintang tersenyum berusaha menahan tawa, lalu kembali menyalimi tangan kedua orang tua kekasihnya itu, begitu pula dengan Bulan. Setelah itu keduanya langsung masuk ke dalam mobil Bintang, dan mulai melakukannya menuju lokasi di mana pertama kali mereka jalan.


Kalian ingat dimana?


Yap benar, pasar malam yang tak jauh dari rumah Bintang. Tempat pertama kali mereka jalan bareng, dan pertama kali pula Bulan mampir ke rumah Bintang. Setelah itu terjadilah kesalahpahaman atau kebodohan yang Bintang lakukan pada waktu itu.


"Kita mau kemana?" tanya Bulan yang memang tidak tahu kemana tujuan Bintang saat ini.


"Ke tempat dimana pertama kali jalan bareng, kamu ingat?" seru Bintang.


Bulan mengangguk cepat, "Inget banget dan gak akan pernah lupa, Bintang." seru Bulan antusias.


Bintang tersenyum lalu mengelus kepala Bulan dengan penuh kelembutan membuat Bulan lagi-lagi di buat salah tingkah oleh kekasihnya.


Setelah menghabiskan waktu di perjalanan, akhirnya mereka telah sampai di tujuan. Karena waktunya masih sore, jadi tidak seramai dan seindah waktu malam.


"Bintang, kenapa kamu ajak aku kesini?" tanya Bulan yang sedang berjalan di samping Bintang sambil bergandengan tangan.


Bintang menoleh ke arah Bulan dan tersenyum tipis, "Karena tempat ini menurut aku cukup bersejarah untuk kita. Bukannya di tempat ini, pertama kalinya kamu tahu tentang masa lalu aku?" seru Bintang dan di anggukin Bulan.


"Kamu dulu suka ajak Viona juga kesini?" tanya Bulan sedikit ragu, ia takut jawaban Bintang menyakitkan hatinya.


Tetapi kalian kan tahu sendiri, cewek itu kepo padahal itu bisa menyakiti hatinya sendiri. Alias cari penyakit sendiri!


"Cuma dua kali, aku lebih sering ajak Vania, dia sama kaya kamu suka makan ice cream dan naik wahana itu." ujar Bintang sambil menunjuk satu wahana yang waktu itu pernah ia naikin bersama Bulan.


Masih ada yang ingat wahana apa?


Bulan mengangguk, "Pasti Vania gadis yang lucu ya, aku jadi pengen ketemu dia, Tang. Tapi-" seru Bulan menggantungkan ucapannya.


"Semoga aja Vania, mampir ke mimpi kamu ya, biar kamu tahu gimana Vania." seru Bintang seakan memberi solusi agar Bulan bisa bertemu dengan Vania.


"Lihat dulu dong siapa abangnya." seru Bintang membuat Bulan terkekeh.


"Kamu sekarang kepedean deh ih!" seru Bulan sambil berjalan meninggalkan Bintang.


Bintang segera menyusul Bulan, "Kan kamu yang bilang sendiri, di Indonesia kalau gak pede gak akan punya temen!" seru Bintang menirukan ucapan Bulan waktu itu.


Bulan terkekeh, lalu mencubit perut Bintang pelan, "Kamu mah copy paste ucapan aku!" gerutu Bulan.


Bintang terkekeh, "Kita kesana yuk," sambil menunjuk salah satu kedai makan lesehan.


"Makan?" Bintang mengangguk.


Bulan mengikuti langkah Bintang ke arah warung tersebut, sebenarnya Bulan belum mau makan, tetapi ah sudahlah demi kenyamanan selama jalan!


Bintang memesan nasi dengan pecel ayam, sedangkan Bulan hanya memesan ikan bawal bakar tanpa nasi. Untung saja Bintang tidak mempermasalahkan itu.


"Kamu tahu gak kalau Manda katanya kuliah di Bandung." seru Bintang.


Bulan kaget mendengar berita itu, karena Manda tidak memberitahunya tentang hal ini, dan malah Bintang duluan yang lebih tahu. Bulan langsung berpikir positif, kalau Bintang tahu dari mamahnya, mungkin! Tapi tetap saja ia overthinking, maklumlah ya cewek!


Bulan menggeleng, "Gak tahu sama sekali tentang ini, kok kamu tahu?"


Bintang mengeluarkan ponselnya dan memberikan kepada Bulan untuk melihat sendiri pesan singkat dari Manda yang mengabarkan hal itu.


"Dia chat kamu langsung?" pertanyaan itu yang keluar dari mulut Bulan, dan di anggukin oleh Bintang.


Bulan sempat terdiam beberapa lama, pikirannya kemana-mana. Merasa ada yang aneh di hatinya, entah apa itu Bulan pun bingung. Kalau di bilang cemburu, ya jelas! Kalau kalian jadi Bulan pun pasti cemburu kan?


"Bulan?" panggil Bintang saat melihat Bulan melamun.


Beberapa kali memanggil tapi tidak ada respon apapun dari Bulan, sampai Bintang menggenggam tangan Bulan baru lah sadar.


"Eh iya, kenapa?" seru Bulan gagap.


"Kamu mikir yang macam-macam tentang Manda, ya?" tanya Bintang seakan tahu apa yang sedang Bulan pikirkan.


Bulan menarik napasnya, "Bintang, kalau aku cemburu sama Manda itu hal yang wajar gak sih?" tanya Bulan sedikit takut.


Bintang semakin mengeratkan genggamnya lalu mengangguk, "Wajar kok, tandanya kamu sayang sama aku. Tapi kamu kan tahu gimana hubungan aku sama Manda?"


Bulan mengangguk lalu tersenyum, tetapi terlihat jelas kalau senyumannya itu menyembunyikan sesuatu.


"Iya tahu kok, tapi kalau aku minta sama kamu untuk jaga jarak sama Manda, bisa gak ya?"


Kali ini Bintang yang menghela napas, "Sayang, gak perlu khawatir tentang itu. Emang kamu gak percaya sama aku, atau sama Manda? Kita gak akan ada hubungan apapun sampai kapanpun. Percaya sama aku, Bulan!"


Bulan akhirnya pasrah dan hanya mengangguk, tidak mau acara jalannya sore ini hancur karena kecemburuannya pada sahabatnya sendiri yang mungkin apa yang di bilang Bintang tadi benar. Tidak akan pernah terjadi apapun antara Manda dan Bintang!


Tak lama pesanan mereka datang, dan keduanya makan sambil mengobrol ringan. Setelah makan keduanya langsung kembali berbaur di pasar malam itu. Menaiki wahana satu persatu, Bulan terlihat sangat bahagia begitu pula Bintang yang melihat Bulan.


Tanpa sadar, langit sudah gelap tandanya malam sudah tiba. Keduanya memutuskan untuk menaikin wahana bianglala.


"Bulan, lihat deh di sana ada kamu." tunjuk Bintang pada bulan yang tengah bersinar di atas langit malam.


Bulan tersenyum lalu melihat ke arah bulan di atas sana, lalu matanya juga menatap bintang yang ada di langit yang sama.


"Di sana juga ada kamu, tapi gak cuma satu, gak kaya aku yang cuma satu." seru Bulan karena melihat beberapa bintang di atas sana.


Bianglala masih berputar, mungkin menambah kesan romantis untuk keduanya yang sedang berbunga-bunga hatinya.


"Tandanya, masih banyak Bintang lain di luar sana. Kamu akan tetap memilih Bintang, ini atau yang lain?" seru Bintang sambil menunjuk dirinya sendiri.


Bulan menatap Bintang lekat, lalu tersenyum teduh, "Tentu akan tetap milih kamu, karena menurut aku, kamu lah Bintang yang paling bersinar di hidup aku." ujar Bulan tulus.


Tanpa di duga, Bintang langsung memeluk Bulan dengan erat, "Jangan pernah tinggalin aku demi bintang yang lain ya!" seru Bintang di tengah pelukan mereka.


Bulan mengelus punggung Bintang pelan, "Gak akan pernah Bintang, kamu juga jangan pernah cari Bulan yang lain selain aku ya!"


"Bulan cuma satu, yaitu kamu. Gak mungkin ada yang lain lagi, jangan khawatir tentang Manda ya!" seru Bintang dan Bulan mengangguk.


Tanpa di duga lagi, Bintang mengecup bibir tipis milik Bulan dengan penuh kelembutan. Bulan yang di serang seperti itu, bingung harus merespon bagaimana, dan dia pun hanya menikmatinya.


Astaga, dosa deh gue ngetik kaya gini! 


Bersambung....