
Kalian tahu merasa di bohong sama orang yang kita percaya selama ini sakitnya itu berpuluh-puluh kali lipat. Kecewa, marah itu sudah pasti di rasakan tetapi rasa itu tidak boleh berlarut-larut. Biar bagaimana pun hidup itu akan terus berjalan, bukan?
Belajar mengikhlaskan apa yang pernah terjadi itu lah yang sangat penting. Sama seperti yang Bulan lakukan saat ini, mengikhlaskan apa yang telah terjadi kemarin. Semua pasti ada alasan yang logis yang mungkin bisa Bulan mengerti.
Karena tidak mungkin ada 'Mengapa' kalau tidak ada 'Karena'.
Paham?
Begitulah kehidupan, selalu di sandingkan dengan masalah. Tidak ada hidup yang lurus dan selalu sesuai dengan kemauan kita. Karena kalau tidak ada masalah, kita tidak bisa menjadi dewasa. Iya gak sih?
****
Pagi hari memang Bulan tidak menampakkan senyuman, dan pagi ini juga Bulan pergi sekolah di antar supir karena kebetulan Andre sedang ada urusan keluarga makanya ia tidak bisa menjemput Bulan.
Bulan tidak masalah karena itu, yang jadi masalah pagi ini adalah ia sangat malah bertemu dengan Bintang. Karena kemarin Bintang lah yang mengantarkannya pulang dan kembali memaksa Bulan menjadi pacarnya.
Kalian ingat saat kemarin Bintang berbicara panjang lebar pada Bulan dengan kondisi Bulan yang sedang pingsan? Di situ Bulan sebenarnya sudah sadar dan sengaja berpura-pura masih pingsan agar mendengar semua perkataan Bintang. Betapa terkejutnya Bulan mendengar itu semua.
Flashback
Setelah selesai makan di suapin oleh Hendra dan minum di berikan oleh Bintang. Bulan menerima ajakan Bintang untuk di antarkan pulang dengannya. Terlalu lemas untuk berdebat waktu itu, makanya ia mengalah saja.
Di tengah perjalanan, tidak henti-hentinya Bintang mencuri pandang ke arah Bulan yang tengah bersandar di pintu mobil sambil memejamkan matanya.
Hatinya sangat sesak melihat pemandangan itu, selemah itu kondisi Bulan karenanya. Dan baru pertama kali pula Bulan seperti selama sekolah.
"Bulan." panggil Bintang membuat Bulan membuka matanya.
"Kenapa?" tanya Bulan singkat.
"Maaf." ujar Bintang sambil menghentikan mobil di pinggir jalan dekat komplek perumahan Bulan.
"Stop bilang maaf Bintang." ujarnya bosen dengan kata itu hari ini.
"Tapi cuma itu yang bisa gue bilang."
"Yah kalau gitu lo gak perlu bilang apa-apa kalau cuma kata maaf yang bisa keluar dari mulut lo."
Bintang terdiam sebentar, "Bulan."
"Kenapa lagi?"
"Lo beneran gak mau jadi pacar gue?" ujar Bintang pelan.
Bulan yang di hadiah ini pertanyaan seperti itu langsung terkekeh, "Lo ceritanya nembak atau maksa sih sebenernya?"
Bintang menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Ia pun bingung dengan tingkah lakunya, mengapa bisa jadi berbalik seperti ini.
"Dulu lo nembak Viona kaya gini? Maksud gue gak ada romantis-romantis gitu?"
Bintang yang mendengar nama Viona kembali di sebut membuatnya kembali merasa bersalah lagi. Ah susah sekali menghilangkan rasa ini.
"Bulan, please jangan pernah sebut nama itu." pinta Bintang pada Bulan.
Bulan mengerti dan akhirnya mengangguk, "Sorry," ujar Bulan pelan.
Bintang pun ikut mengangguk, "Bener apa yang lo bilang, seharusnya gue ikhlasin dia pergi."
"Biar dia lebih bahagia di atas sana. Gue yakin kalau lo masih begini terus yang ada dia sedih terus ngelihat lo terpuruk sama kejadian itu." sambung Bulan dan di setujui oleh Bintang.
"Kenapa lo gak bilang dari dulu tentang ini Tang? Setidaknya lo beritahu gue kalau hati lo sudah ada yang memiliki, tapi kenapa setelah hampir 3 tahun gue berjuang dan gue baru tahu masalah ini."
"Sorry." hanya itu yang keluar dari mulut Bintang.
Bulan menggeleng, "Gue bukan butuh kata sorry Tang,tapi gue butuh penjelasan."
"Bahkan Manda pun gak pernah ngejelasin tentang ini sama gue, gue ngerasa gak di percaya sama kalian semua." ujar Bulan lirih.
Bintang mengambil tangan Bulan untuk di genggamnya, "Maaf Bulan, sekali lagi maaf. Semua orang pasti punya masa lalu bukan?"
Bulan mengangguk, "Maka dari itu, dia kan cuma masa lalu lo dan dia pun gak bisa balik lagi sama lo. Sorry kalau terdengar sedikit kasar tapi memang itu kenyataannya."
"Lo harus ikhlas, itu kunci utamanya Tang." ujar Bulan.
Bintang terdiam cukup lama, merenungkan apa yang Bulan ucapkan. Semua yang Bulan bilang sangat benar, kunci utamanya itu ikhlas.
Mungkin Bintang bisa mengikhlaskan kepergian Viona perlahan mulai dari sekarang, tetapi Bintang tidak akan pernah bisa mengikhlaskan kepergian adiknya sampai kapan pun.
"Lan, bisa ajarin gue?" ujar Bintang membuat Bulan bingung.
Bintang kan sama pinternya dengan Bulan, ngapain minta ajarin lagi.
"Ajarin apa?" jawab Bulan.
"Ajarin gue ikhlas dan ajarin gue biar bisa sayang sama lo."
Bulan menggeleng, "Gak bisa Bintang, itu semua harus dari hati lo sendiri."
"Tapi Lan, gue butuh guru buat ngingetin gue."
"Lo punya Manda, Bintang. Manda lebih tahu lo dari pada gue." ujar Bulan sedikit sedih karena ternyata posisi Manda lebih berarti di hidup Bintang.
Bulan menghela napasnya, "Oke, gue mau." Bulan mengalah pada akhirnya.
"Mau jadi pacar gue?"
Bulan menggeleng dengan cepat.
"Kenapa?"
"Semenjak gue tahu masalah ini, gue jadi ragu sama lo. Maaf kalau terkesan nya gue egois, gue cuma gak mau rasa sayang lo masih terbagi meskipun sama orang yang sudah gak ada." ujar Bulan.
Setuju gak sama omongan Bulan?
"Gue harus apa biar lo gak ragu lagi sama gue?"
Bulan mengangkat bahunya, "entahlah gue juga gak tahu."
Bintang mengela napasnya, ia pun tidak tahu harus melakukan apa pada Bulan agar Bulan kembali percaya padanya. Ah biar nanti Bintang tanya ke teman-temannya saja.
Flashback off
Entah mengapa Bulan takut untuk bertemu Bintang pagi ini. Sejak semalam ia terus memikirkan kata-katanya di mobil Bintang kemarin dan ia menyadari kalau itu terlalu egois dan terlalu berlebihan.
Di tengah perjalanan menuju kelas, hal yang tadi ia pikirkan terwujud. Iya, Bulan bertemu dengan Bintang di koridor sekolah. Loh bukankah seharusnya Bulan dan Bintang bertemu di langit?
"Bulan." panggil Bintang pelan.
Bulan yang mendengar itu langsung menoleh, "Iya Bintang?" jawab Bulan.
"Lo cantik." puji Bintang membuat Bulan ingin sekali berteriak saat ini.
"Makasih, dari dulu kali gue cantik." ujar Bulan setenang mungkin.
Bintang mengukir senyuman tampan di bibirnya dan itu semakin membuat jantung Bulan tidak karuan.
"Udah siap?" ujar Bintang membuat Bulan bingung dengan pertanyaan itu.
"Siap apa?"
"Siap jadi guru gue." ujar Bintang membuat Bulan mengangguk pelan.
Seharusnya Bulan tidak menerima tawaran ini, karena secara tidak langsung mereka akan sering bertemu.
"Ke kelas bareng?" ajak Bintang.
Saat akan menjawab, ada seseorang memanggil Bulan di belakang mereka dan membuat mereka menoleh ke arah sumber suara.
"Bulan." panggil Alex di ujung sana.
Bulan dan Bintang menunggu Alex hingga sampai di hadapan mereka berdua. Bulan tersenyum sedangkan Bintang memasang wajah dinginnya.
"Bulan, dateng ya ke acara ulang tahun gue besok malam." ujar Alex sambil memberikan undangan pesta ulang tahunnya pada Bulan.
Bulan menerima undangan itu lalu di bacanya, "wih, Alex dah 17 tahun ey. Pasti gue dateng Lex, btw Bintang gak di undang?" ujar Bulan menanyakan undangan untuk Bintang.
"Gue ngundang seangkatan kok, undangan Bintang udah gue titip sama Angga tadi. Dateng ya bro." ujar Alex sambil menepuk bahu Bintang pelan.
Jawaban Bintang hanya berdehem tanpa mengeluarkan suara apapun, dan itu membuat Bulan menggeleng. Kalau sudah dari setelan pabriknya begitu yang bakalan susah berubah batin Bulan.
"Yaudah kalau gitu gue balik ke kelas dulu ya." pamit Alex.
Bulan mengangguk sedangkan Bintang hanya diam saja.
"Dandan yang cantik ya Bulan." ujar Alex sambil mengacak rambut milik Bulan dengan pelan.
Bintang yang melihat tingkah Alex seperti itu hanya bisa meremas tangannya sendiri. Tak suka, itulah yang di rasakan Bintang saat ini. Apakah rasa sayang itu sudah benaran tumbuh untuk Bulan?
"Dateng bareng?" ajak Bintang.
Bulan lagi-lagi menggeleng alias menolak ajakan Bintang.
"Kayanya gue bakalan ngajak Andre deh." pancing Bulan ingin melihat bagaimana reaksi Bintang.
Bintang yang mendengar nama Andre langsung terlihat emosi, "Terserah!" ujar Bintang lalu pergi begitu saja membuat Bulan melongo tak percaya.
Bulan kira Bintang akan marah-marah, akan melarangnya atau apalah yang membuat Bulan mengubah kata-katanya. Eh tetapi malah di tinggal pergi begitu saja, dasar menyebalkan!
"Oh yaudah bener ya, jangan marah tapi." teriak Bulan supaya Bintang mendengarnya.
Tidak ada jawaban sama sekali dari Bintang dan malahan Bintang sudah masuk ke dalam kelasnya.
"Dasar cowok aneh!" gerutu Bulan memaki Bintang.
Tak di sangka ternyata Manda mendengar gerutuan itu, "Lo juga aneh Lan, dia udah berusaha ngedeketin lo malah buat dia marah gitu." ujar Manda.
"Berisik." ketus Bulan lalu meninggalkan Manda.
Bersambung...
Nah lo, ada yang teliti gak nih?