COOL BOY

COOL BOY
BAB 38



Bel pulang sekolah telah berbunyi, Bintang sudah menunggu Bulan di depan kelas gadis itu bersama dengan Angga dan Arkana. Tak lama yang keluar lebih dulu adalah Clara. Saat Clara melihat ada Bintang di sana, dengan cepat ia menghampiri lelaki itu.


"Bintang, nanti malam papah ngajakin makan malam." ujar Clara.


Bintang langsung terlihat emosi saat mendengar kata 'papa' di sebut oleh Clara. Sudah lama sekali Bintang tidak bertemu dengan Sony -ayah Bintang-


"Pergi!" usir Bintang.


Clara terkekeh pelan, "lo gak kangen sama papah?" pancing Clara semakin membuat Bintang emosi.


"Cabut lo cewek caper!" bentak Arkana.


Tawa Clara semakin terdengar, lalu sebelum pergi Clara sempat mengatakan, "Bye, kakak tiri gue yang paling tampan." ujarnya lalu pergi dari sana.


Emosi Bintang sudah meluap, ia lampiaskan dengan memukul tembok hingga tangannya sedikit berdarah. Angga dan Arkana yang melihat itu berusaha menghentikan Bintang.


"Stop Bintang, bisa roboh ini sekolah!" ujar Arkana karena Bintang masih terus memukuk tembok.


Perilaku Bintang itu di lihat langsung oleh siswa siswi yang sedang melintas di sana, baru pertama kali mereka melihat Bintang semarah ini entah apa penyebabnya.


Arkana dan Angga tidak berhasil memberhentikan Bintang, hingga akhirnya Bulan lah yang dapat menghentikan Bintang.


"Bintang, cukup!" teriak Bulan lalu menarik tangan Bintang.


Bintang yang mendengar suara Bulan langsung menghentikan kegiatannya itu, lalu menoleh ke arah suara dan langsung memeluk Bulan.


Bulan mengelus punggung Bintang agar lebih tenang, "Cukup ya, kita obatin tangan lo sekarang di UKS." ujar Bulan lalu melepaskan pelukan itu.


Bulan menggenggam tangan Bintang menuju UKS, begitu pula dengan teman-temannya yang mengikuti mereka hingga sampai.


Bintang di sebuah kursi di dalam UKS lalu Bulan mencari kotak P3K untuk mengobati luka di tangan Bintang.


"Sini tangannya." ujar Bulan lalu duduk di bawah lantai agar lebih mudah mengobatinya.


Bintang memberikan tangannya agar di obatin Bulan, dengan teliti Bulan melakukan itu.


"Kenapa bisa sampai semarah ini?" tanya Bulan ingin mengetahui bagaimana kronologinya.


"Clara!" ujar Bintang dan Bulan langsung paham maksudnya.


Bulan menggeleng, "Tapi gak usah sampai ngelukain diri sendiri juga Bintang!"


"Maaf."


"Minta maaf sama diri lo sendiri, bukan sama gue!" Bintang mengangguk.


Setelah selesai mengobati Bulan mengembalikan kotak itu pada tempatnya tadi.


"Makasih Bulan." Bulan mengangguk lalu tersenyum.


Keduanya keluar dari UKS ternyata masih ada teman-temannya, tak berkurang satupun.


"Gimana kalau hari ini kita pergi, ke puncak gitu atau ke mana kek." usul Angga tiba-tiba.


Hendra mengangguk, "Bener, mumpung besok kita libur." seru Hendra setuju dengan usul Angga.


"Ah bilang aja lo mau berduaan kan sama Mutia?" seru Bulan tahu maksud Hendra semangat liburan kali ini.


Mutia yang mendengar namanya di sebut langsung menatap Hendra tajam, "Najis!" seru Mutia yang belum mengetahui kalau Bulan dan Manda sudah mengetahui hubungannya.


"Gak usah sok najis, pacaran juga lo!" seru Manda dan membuat siapa saja yang baru tahu kaget.


"Serius?" ujar Angga dan Arkana secara bersamaan dan di anggukin Manda serta Bulan.


"Weh anjir, pajak jadian lah! Kita liburan semua biaya di tanggung Hendra!" seru Arkana dan di sorakin heboh oleh yang lainnya.


Wajah Mutia memerah karena malu, sedangkan Hendra menggaruk-garuk kepalanya, amsyong gue batin Hendra.


"Jadi kemana?" tanya Bintang.


Bulan menggeleng, "Hari senin kita udah ujian, bukannya belajar malah pergi liburan aneh lo pada!" seru Bulan tak setuju.


"Ah Bulan, kita refresing dulu sebelum menghadapi ujian." seru Angga lalu di anggukin yang lain.


"Yaudah terserah, gue gak ikut ya tapi." ujar Bulan.


"Yah gak seru lo!" ujar Hendra.


"Tahu, kalau lo gak ikut pasti Bintang gak akan ikut, iya kan?" Bintang mengangguk.


Bulan menghela napasnya, "Iya, iya gue ikut!" seru Bulan pada akhirnya.


"Kita ke villa keluarga gue aja, gimana?" seru Manda dan di setujui semuanya.


"Habis Magrib kita jalan, kita bawa 2 mobil aja, mobil Bintang sama mobil gue." seru Angga dan di setujui lagi oleh semuanya.


Setelah selesai menyusun rencana, semuanya bergegas pulang, begitu dengan Bulan dan Bintang. Hari ini memang mereka akan pulang bersama, karena pagi tadi Bulan di jemput oleh Bintang.


"Mau mampir ke mana dulu?" tanya Bintang.


"Kalau gue minta anterin lo, ke makam Vania dan Viona bisa gak?" ujar Bulan.


Bintang menatap Bulan dengan lekat, di dalam hatinya bertanya-tanya untuk apa Bulan ingin mengetahui ini semua sama sedalam ini.


"Tapi kalau lo keberatan gak usah." seru Bulan karena tidak mendapatkan jawaban dari Bintang.


Bintang menggeleng, "Gue anterin." seru Bintang dan membuat Bulan tersenyum.


"Terakhir kali lo ke sana kapan?"


"Seminggu yang lalu." Bulan mengangguk-anggukkan kepalanya.


Akhirnya Bintang melajukan mobilnya menuju pemakaman umum yang di mana Viona dan Vania di makamkan. Keduanya di makamkan berdampingan.


Perjalanan menuju pemakaman ini memakan waktu hampir 1 jam, setelah sampai Bulan lebih dulu turun lalu di susuk oleh Bintang. Sebelum melangkah Bulan menggenggam tangan Bintang.


Bintang melangkah menuju batu nisan di mana terdapat nama kedua orang yang ia sayangi.


"Assalamu'alaikum Vania dan Viona." sapa Bulan saat memilih berjongkok di antara makam keduanya.


Bintang hanya melihat apa saja yang akan Bulan lakukan di sini.


"Viona, kenalin gue Bulan. Maaf ya, gue kesini sama kekasih lo, Bintang. Lo sudah bahagia ya di sana?" seru Bulan pada batu nisan Viona.


"Viona, kalau suatu hari nanti Bintang jadi milik gue, gak papa kan? Gue tahu kok, sampai saat ini pun Bintang belum bisa lupain lo, lo terlalu sempurna buat dia Vio."


"Vio, izinin Bintang buat bahagia bersama gue ya?" tanpa sadar Bulan menangis, membayangkan betapa sedihnya dulu menjadi Bintang dan Manda.


Bintang mengelus punggung Bulan pelan, "Vio pasti izinin kita bersama kok, dia gadis yang baik." ujar Bintang begitu saja.


Bulan mengangguk, lalu berbalik ke arah batu nisan adiknya Bintang, Vania. Bulan mengelus batu nisan itu dengan pelan lalu tersenyum.


"Vania, pasti kamu cantik banget ya seperti mamah kamu. Sayang, kita belum sempat bertemu waktu itu. Kamu lagi bersama dengan kak Vio ya di sana? Berbahagia di atas langit bersama Tuhan."


"Vania, kakak boleh minta tolong gak sama kamu untuk datang ke mimpi mamah kamu, beritahu mamah kamu agar ikhlas membiarkan kamu pergi,"


"Kakak janji, suatu hari nanti kakak akan ajak mamah kamu untuk ngunjungin kamu ke sini, pasti kamu kangen banget kan sama beliau?"


"Kalau gitu, kakak sama kak Bintang pamit ya. Kalian berdua bahagia selalu di atas sana." ujar Bulan lalu kembali mengelus batu nisan keduanya secara bergantian.


Sebelum pergi, Bulan dan Bintang berdoa dulu di depan makam keduanya. Bulan berharap dengan begini, rasa bersalah Bintang semakin berkurang walau Bulan tahu Bintang belum bisa sepenuhnya melupakan Viona.


Setelah selesai berdoa, keduanya kembali menuju mobil, Bintang pun menanyakan hal yang serupa, mau pergi kemana lagi. Tetapi Bulan menjawab ingin langsung pulang ke rumah untuk bersiap-siap pergi nanti. Akhirnya Bintang mengantarkan Bulan pulang.


Sepanjang perjalanan hanya ada suara radio yang terdengar, Bulan yang dengan pikirannya sendiri sedangkan Bintang yang fokus pada jalanan di depannya. Hingga keduanya sampai tepat di depan gerbang rumah Bulan.


Saat Bulan ingin turun, Bintang menahan tangan Bulan, "Makasih Bulan." ujar Bintang tiba-tiba.


"Untuk apa?"


"Untuk semua ketulusan lo." Bulan mengangguk lalu mengusap lengan Bintang.


"Sama-sama Bintang." ujar Bulan sambil tersenyum.


"Lan, lo beneran mau bawa mamah ke makam?" tanya Bintang.


Bulan mengangguk, "Gue rasa itu salah satu cara agar mamah lo tahu kalau Vania dan Viona itu sudah tidak ada."


"Mungkin nanti setelah ujian gue akan ajak nyokap lo ke sana. Paling tidak gue akan minta bantuan Manda dan maminya juga. Lo setuju kan?"


Bintang mengangguk setuju dengan apa rencana Bulan nantinya.


"Yaudah kalau begitu gue masuk dulu ya?" izin Bulan.


"Nanti gue yang jemput ya?" Bulan mengangguk lalu turun dari mobil Bintang.


Saat ingin masuk ke dalam gerbang, suara Bintang kembali terdengar dengan di tangannya memegang sesuatu.


"Ini buat lo." ujar Bintang lalu memberikan Bulan permen lolipop berbentuk love lumayan besar.


Bulan terkekeh pelan, lucu dengan sikap dan tingkah Bintang akhir-akhir ini, "Lo belajar modus begini dari mana sih?" tanya Bulan sambil terkekeh.


"Dulu aja dingin banget, sekarang kayanya es batu lo udah cair ya? Makanya bisa modus begini sekarang, terus ucapan lo juga bukan cuma sepatah dua patah lagi, udah bisa berucap panjang sekarang!" cibir Bulan lalu terkekeh lagi.


Bintang mengacak pucuk kepala Bulan, "Udah pinter ngeledekin gue ya sekarang!" seru Bintang lalu menggelitiki perut Bulan membuat Bulan meronta.


"Bintang stop ih." ujar Bulan sambil tertawa.


Akhirnya Bintang berhenti, tanpa di duga Bintang malah memeluk Bulan sekarang.


"Bulan, tetap bersama gue ya." seru Bintang dan membuat Bulan mengangguk.


Setelah pelukan itu terlepas, Bulan mengusap lengan Bintang lembut, "Sudah sana pulang, prepare biar bisa jemput gue paling awal."


"Siap tuan putri!" seru Bintang membuat Bulan tertawa bahagia.


Bersambung.....