COOL BOY

COOL BOY
BAB 45



Hari terakhir ujian kelulusan di SMA Prada Jaya membuat perasaan siswa siswi di sini campur aduk. Mereka senang karena hari kelulusan akan segera tiba, tetapi juga sedih karena mungkin ini adalah moment terakhir kebersamaan mereka belum nantinya lebih sibuk lagi.


Moment di mana yang tidak mungkin bisa terulang kembali. Selama tiga tahun bersama, membuat mereka susah melepaskan itu semua, tetapi hidup terus berjalan ke depan dan mereka harus tetap menjalaninya.


Siapa di sini yang sedih waktu perpisahan sekolah dulu?


****


Bel tanda berakhirnya ujian telah berbunyi, membuat para siswa dan siswi bergegas ke aula sekolah karena akan ada perkumpulan di sana.


Tadi pagi, ketua panitia untuk perpisahan sekolah nanti,mengumumkan ini. Mereka ingin memberitahu susunan acara yang nantinya di adakan saat perpisahan sekolah.


Bulan melangkah bersama Hendra ke arah aula karena keduanya memang satu ruangan. Mutia tidak marah melihat hal itu karena itu lah salah satu bagian dari rencana yang akan di lakukan nanti. Demi Bulan dan Bintang bersatu!


"Lan, duduk di sana?" ujar Hendra sambil menunjuk bangku di barisan ketiga dari depan.


Bulan mengangguk lalu melangkah ke bangku yang di maksud Hendra, "Lo gak sama Mutia?" tanya Bulan.


Hendra menggeleng, "Lagi ngambek dia." seru Hendra berbohong.


"Kalau pacar lo lagi ngambek harusnya lo bujuk dia dong, bukan malah jalan sama gue gini. Gue gak mau ya, Mutia marah juga sama gue karena salah paham!" tegas Bulan.


Hendra hanya menyengir tak berdosa, "Iya Bulan," jawab Hendra.


"Iya apaan coba! Udah sono gih samperin Mutia, gue sendiri aja." Hendra menggeleng.


Saat ingin bersuara lagi, Bulan melihat Mutia dan Manda masuk ke dalam aula dan membuat Bulan langsung mendorong bahu


Hendra agar segera menghampiri Mutia.


"Cabut gih sono, gue gak mau Mutia salah paham karena lo malah sama gue sekarang!" ujar Bulan tak enak hati.


Hendra lagi-lagi menggeleng, "Gak mau ah, gue lagi males juga sama dia!" seru Hendra menolak apa yang di suruh Bulan tadi.


Bulan menghela napasnya, lalu bangkit dari duduknya, "Yaudah kalau lo gak mau pergi, gue aja yang pergi." seru Bulan lalu pergi dari sana memilih tempat duduk yang lain.


Akhirnya Hendra menghampiri Mutia, dan memberitahu respon Bulan tadi terhadapnya. Mutia dan Manda sudah tahu jawabannya, pasti Bulan tidak enak hati.


Tak lama, Bintang, Angga dan Arkana masuk juga ke dalam aula. Mereka duduk bersama dengan Manda, Mutia dan juga Hendra sedangkan Bulan bersama dengan teman sekelasnya yang lain.


"Lo gak gabung sama mereka Lan?" tanya Devi teman sekelas Bulan.


Bulan menggeleng, "Lagi pengen menyendiri Dev." sahut Bulan dan hanya di anggukin oleh Devi.


Tak lama Dico berserta panitia lainnya masuk ke dalam aula dan memulai rapat yang ingin di adakan hari ini. Dico adalah mantan ketua OSIS pada masanya, makanya saat ini dia lah yang menjadi ketua pelaksana.


"Udah kumpul semua?" tanya Dico menggunakan microfon yang telah di sediakan.


Dico melihat ke sana kemarin memastikan kalau semuanya sudah masuk ke dalam aula, dan memulai pembicaraan susunan acara nanti.


"Jadi kalau ada yang berkenan mengisi acara nanti, bisa hubungi gue atau Hany buat pendaftaran." ujar Dico.


"Kita kan punya waktu 2 Minggu dari sekarang, pendaftaran di mulai dari sekarang sampai H-5 ya, biar gak mepet. Nanti H-3 paling kita ngumpul lagi kaya gini, biar rencana kita semakin matang!"


"Gue mau acara perpisahan angkatan kita ini yang paling meriah dan paling berkesan nantinya, makanya gue minta kerja samanya juga sama kalian semua."


"Gue rasa cukup buat hari ini, oh iya gue mau ngasih tahu sama kalian, kalau kita di bolehin buat coret-coret seragam asal di dalam lingkungan sekolah saja, setelah selesai waktu pulang kita harus ganti baju agar tidak mengundang sekolahan yang lain."


"Biasanya kalau hari terakhir ujian kaya gini rawan tawuran guys, kalian inget kan kejadian tahun lalu? Makanya kepala sekolah ngizinin kita coret-coret nya di dalam sekolah biar aman semua!" beritahu Dico.


"Hore!" teriak heboh satu angkatan itu.


"Setelah coret-coret, kita adain foto satu angkatan, setuju?"


"Setuju!" teriak semuanya.


Tanpa menunggu lama semua keluar dari aula menuju ke lapangan untuk mengikuti tradisi yang entah dari mana asalnya itu, setelah ujian kelulusan sekolah pasti mereka akan mencoret-coret baju seragamnya dengan pilox.


Bener apa bener?


Semua ikut, tanpa terkecuali, mereka pikir moment inilah yang paling di tunggu setelah 3 tahun sekolah dan juga malam prom night nanti.


Bulan ikut berbaur bersama dengan yang lainnya, sampai akhirnya ia bertemu dengan teman-temannya.


"Lan, are u okay?" tanya Manda saat berpas-pasan langsung dengan Bulan.


Bulan menatap Manda sebentar lalu tersenyum, "I'm okay Man." sahut Bulan lalu mengelus punggung Manda.


"Gue tanda tangan di seragam lo boleh?" izin Manda.


Begitu pula dengan Mutia, ia ikut menaruh tanda tangannya di baju Bulan dan begitu sebaliknya.


"Mut, lo kalau punya masalah sama Hendra cepat selesaiin ya, jangan berlarut-larut." ujar Bulan dan di anggukin oleh Mutia.


Tak lama datang Bintang berserta sahabatnya, membuat Bulan ingin segera pergi dari sana tetapi langsung di cegah oleh Manda.


"Mereka cuma mau lo tanda tangan di seragam mereka Lan!" beritahu Manda atas kedatangan mereka.


"Gue bukan artis, ngaco!" sahut Bulan tetapi tetap saja menaruh tanda tangan di seragam ke empat cowok tampan di angkatannya itu.


"Gantian ya Lan?" izin Hendra dan Bulan mengangguk lalu tersenyum.


Ke tiganya bergantian, hingga akhirnya giliran Bintang yang ingin menandatangani seragam Bulan.


"Masih marah?" tanya Bintang saat berhadapan dengan Bulan.


Bulan menggeleng tanpa menjawab dengan suara.


"Pulang bareng?" ajak Bintang.


Bulan lagi-lagi menggeleng, "Gue bawa mobil sendiri."


"Suruh Angga yang bawa mobil lo!"


Bulan menggeleng, "Gak!"


Bintang menghela napasnya lalu segera bertanda tangan di seragam Bulan. Tidak bisa memaksa, itulah yang Bintang pikirkan.


"Lan, nanti malam gue sama Manda ke rumah lo ya? Pesta kita!" ujar Mutia.


Bulan menggeleng, "Sorry guys, gak bisa gue harus prepare!" sahut Bulan membuat semua kaget.


"Prepare, kemana?" sahut Bintang paling cepat.


"Iya lo mau kemana emang Lan?" tanya Angga.


Bulan menarik napasnya, "Gue mau ke Amerika, gue mau liburan di sana." ujar Bulan.


Bulan sudah memikirkan ini semalam, ia akan pergi ke Amerika besok pagi. Selain ia sudah kangen dengan orang tuanya, ia juga masih butuh menyendiri sepertinya. Maka itu ia memutuskan untuk ke Amerika di awal liburannya ini.


"Besok pagi?" seru Bintang tak percaya.


Bulan mengangguk, "Iya," jawab Bulan santai seakan tidak ada beban meninggalkan ini semua.


"Sampai kapan?" tanya Bintang lagi.


Bulan mengangkat bahunya, "Gak tahu sih, palingan mepet prom night atau malah gue skip juga."


Hendra menggeleng, "Gak boleh skip Lan, itu acara terakhir kita, lo gak mau bikin malam itu malam yang indah nantinya? Mungkin itu adalah malam terakhir lo ketemu temen-temen lo yang lain, atau bisa juga malam terakhir ketemu temen lo yang ganteng ini!"


"Najis! Gue usahain dateng kok Dra, tapi lihat nanti sih soalnya bokap nyokap gue juga mau liburan ke sini katanya."


"Gimana kalau kita ikut lo ke Amerika, Lan? Sekalian kita juga liburan kan di sana?" seru Mutia sambil menatap Manda.


"Boleh juga tuh, kayanya seru liburan keluar negeri bertiga!" sahut Manda.


Bulan nampak sedang berpikir, dan akhirnya menangguk, "Oke boleh," ujar Bulan mengizinkan Manda dan Mutia ikut dengannya ke Amerika.


Bintang langsung menghampiri Bulan dan menarik tangan lalu menggenggamnya, "Gue pasti kangen banget!" seru Bintang.


Jantung Bulan berdetak cepat, wajah Bintang terlihat sedih membuat Bulan merasa bersalah.


"Gue gak akan lama di sana." seru Bulan seakan menenangkan Bintang agar tak perlu khawatir tentang ini.


"Tapi, lo masih punya janji sama gue?"


Bulan mengerutkan keningnya, seakan sedang mengingat janji apa pada Bintang yang belum ia tepatin.


"Mau bawa mamah ke makam." seru Bintang mengingatkan janji Bulan waktu itu.


Bulan menepuk jidatnya, "Ah ya, setelah gue pulang langsung gue ajak nyokap lo ke makam ya, Man nanti bantuin gue ya?" ujar Bulan meminta bantu Manda dan di anggukin oleh Manda.


"Lo hati-hati, selalu kabarin gue!" pinta Bintang dan di anggukin oleh Bulan.


"Udah ah gak usah mellow begini, sekarang kita happy-happy guys!" teriak Hendra membuat yang lain tertawa.


Bersambung.....