
Tepat hari ini adalah hari ulang tahun Alex di adakan. Alex memilih sebuah ballroom hotel untuk merayakan ulang tahunnya yang ke 17 tahun. Pesta yang di gelar Alex kali ini berkonsep masquerade atau yang sering kita kenal adalah pesta topeng.
Semua tamu undangan di wajibkan membawa topeng masing-masing dan harus memakainya selama acara berlangsung.
Sekarang sudah pukul 8 malam, ballroom hotel sudah lumayan ramai padahal acara pesta akan di mulai satu jam lagi. Alex tengah menyapa tamu yang sudah datang.
Sedangkan di sisi lain, Bulan masih berada di depan gerbangnya menunggu seseorang yang akan menjemputnya datang. Tak lama seseorang yang Bulan tunggu tiba. Dengan langkah anggun dan pelan Bulan menghampiri mobil itu.
"Tumben gak tepat waktu lo." ujar Bulan saat sudah memasuki mobil orang tersebut.
"Gue lupa naro kunci mobilnya, ini aja pake kunci serep." ujar Manda memberi tahu alasannya terlambat menjemput Bulan.
Iya, Bulan memutuskan berangkat bersama dengan Manda dan Mutia. Tidak dengan Bintang, karena Bulan ingin tahu seberapa besar perjuangan Bintang untuk meluluhkan hati Bulan lagi.
Loh sekarang jadi terbalik?
"Jemput Mutia dulu." ujar Manda dan di anggukin oleh Bulan.
Manda melajukan mobilnya menuju rumah Mutia untuk menjemput gadis itu. Sejak tadi Mutia sudah meneleponnya tidak seperti Bulan yang hanya meneleponnya satu kali saja.
"Berisik banget sih tuh anak." gerutu Manda saat melihat ponselnya yang lagi-lagi berdering dan terlihat nama Mutia di sana.
"Sini gue angkat." ujar Bulan mengambil alih ponsel Manda.
"Sabar, ini lagi di jalan." ujar Bulan pada Mutia di sambungan telepon.
"...."
"Bawel."
Bip
Bulan mengembalikan ponsel Manda kepada sang pemiliknya. Bulan jadi ikutan Manda menggerutu karena kesal dengan Mutia.
Setelah hampir 20 menit akhirnya mereka sampai juga di depan rumah Mutia, tetapi gadis itu tidak ada di depan gerbang padahal tadi di telepon bilang sudah menunggunya di depan gerbang.
Bulan turun dari mobil Manda dan melangkah menuju rumah Mutia. Bulan memencet bel satu kali lalu gerbang terbuka. Bukan otomatis ya, ada yang bukain satpamnya Mutia.
"Eh neng Bulan," sapa Cecep satpam Mutia.
"Eh mang Cecep, Mutia nya mana ya mang?" ujar Bulan to the point.
"Loh baru aja jalan di jemput sama temennya, 10 menit yang lalu kayanya."
Bulan kaget dengan informasi itu, tak mau berlama-lama Bulan pamit pada Cecep dan segera kembali masuk ke mobil Manda.
"Gak mau sabar emang temen lo, mang Cecep bilang dia udah jalan 10 menit yang lalu." gerutu Bulan kesal dengan Mutia.
Manda yang mendengar pun ikut kesal dengan Mutia, bisa-bisanya dia malah pergi begitu aja padahal tadi sudah di bilang sedang di jalan.
"Awas aja tuh anak!" desis Manda.
"Tapi dia berangkat sama siapa ya?" tanya Bulan pada Manda dan hanya di jawab dengan angkatan bahu alias tidak tahu.
Dengan cepat Manda segera melajukan mobilnya menuju hotel di mana acara Alex di adakan, sekarang sudah pukul setengah 9 malam. Sedangkan dari rumah Mutia ke hotel tersebut membutuhkan waktu 35 menit bisa jadi mereka akan telat apa lagi kalau jalanan macet.
Tak apalah, kalau gak ngaret namanya bukan anak remaja. Betul begitu?
Siapa nih di sini yang suka ngaret kalau janjian sama orang?
****
Sedangkan di sisi lain, Bintang dan kawan-kawannya sudah sampai di sana sekitar 10 menit yang lalu. Eits tapi tidak ada Hendra ya. Hendra tadi bilang pada mereka ingin mencoba keberuntungan. Maksudnya ingin mencoba menjemput Mutia siapa tahu gadis itu mau.
Arkana sudah memberitahu kalau Mutia akan berangkat bersama dengan Manda dan juga Bulan, tetapi Hendra tetap kekeuh ingin mencoba keberuntungannya.
Alhasil sepertinya Hendra beruntung malam ini, lihat saja entah dengan kecepatan berapa kilo meter per jam Mutia dan Hendra sudah sampai di hotel ini.
"Anjay beruntung die." seru Arkana saat melihat Angga berjalan bersama dengan Mutia.
Meskipun memakai topeng, Arkana mengenali jas yang di pakai Hendra karena itu jas miliknya.
"Mutia cantik juga ya ternyata." sahut Angga saat melihat Mutia menggunakan dress warna maroon selutut dengan bahu terekspos karena dress model sabrina.
Arkana yang mendengar itu langsung menoyor kepala Angga, "Lo gak laku? Sampe gebetan temen lo sendiri di lirik?" gerutu Arkana.
Angga menggeleng cepat, "Gue sama Manda aja deh kalau gitu." sahut Angga.
Arkana lagi-lagi kembali menoyor kepala Angga, "Enak aja, Manda udah jadi inceran gue ya. Awas aja lo tikung, gue gebukin!"
"Yah, terus gue sama siapa dong kalau gitu? Ah ya, sama Bulan aja deh gue." seru Angga langsung mendapatkan tatapan tajam dari Bintang.
Angga yang di tatap Bintang seperti sedang di lucuti hanya menyengir lalu melayangkan sebuah peace menggunakan kedua jari tangannya.
"Semua udah punya pawangnya, terus gue sama siapa kalau gitu!" kesal Angga.
Arkana menepuk bahu Angga, "Sama Clara." ujar Arkana lalu terbahak kencang membuat Bintang pun ikut menyunggingkan senyumnya.
Angga mengetuk meja beberapa kali sambil berkata, "amit-amit cabang bayi." ujar nya membuat Arkana semakin gencar tertawa.
"Ngapa lo ketawa sampe begitu?" ujar Hendra yang sudah sampai di meja tempat Bintang duduk.
"Itu sih Angga nanti mau dansa sama Clara katanya." ujar Arkana masih terkekeh.
Hendra yang mendengar itu langsung ikutan terkekeh dan bertanya kepada Angga untuk memastikan hal itu. Bukannya mendapat jawaban, malah kepala Hendra di toyor oleh Angga.
"Bulan mana?" tanya Bintang pada Mutia yang tengah duduk di meja yang sama dengannya.
Mutia mengangkat bahunya, "Bilangnya sih tadi udah di jalan mau jemput gue, tapi gak dateng-dateng. Eh kebetulan nih kutu dateng, makanya gue ikut dia duluan." ujar Mutia sambil menunjuk Hendra.
"Di bilang kutu dia Ngga." seru Arkana menggoda Hendra.
"Iya Ar, kesian. Udah bela-belain jemput, eh di bilang kutu." sahut Angga sambil terkekeh.
Hendra yang di goda seperti itu langsung melempar permen yang ada di atas meja. "Berisik lo berdua!" sahut Hendra kesal.
Sedangkan Mutia sedikit merasa bersalah, hanya sedikit ya ingat sedikit. Tapi kali sedikit demi sedikit kan bisa menjadi bukit. Iya kan?
Acara sepertinya akan di mulai, karena pembawa acaranya sudah menaiki panggung yang di sediakan pihak hotel.
"Selamat malam semuanya." sapa pembawa acara di atas panggung yang juga menggunakan topeng.
"Malam." sahut semua tamu yang ada di sana.
Sedangkan mata Bintang masih terus menatap pintu masuk, menanti Bulan yang belum tiba juga sampai sekarang. Bintang takut terjadi sesuatu pada Bulan, terlebih lagi bersama dengan Manda sahabatnya sejak kecil. Bintang tidak mau kejadian yang lalu terulang kembali pada kedua gadis yang sekarang tengah berarti di hidupnya.
Maksudnya berarti di hidupnya gimana? Kalau Manda sih pasti ia, karena sejak dulu mereka selalu bersama. Tetapi kalau dengan Bulan? Maksudnya Bulan sudah berhasil masuk ke dalam hatinya? dan sudah menjadi salah satu orang yang harus Bintang lindungi?
Tak lama kekhawatiran itu berubah menjadi senyuman kecil yang tercetak di bibir merah muda milik Bintang, karena sosok Bulan yang sejak tadi ia tunggu muncul di pintu masuk bersama dengan Manda.
Bintang mengetahui itu, karena Bintang sudah menghafal lekuk tubuh milik mereka berdua. Tunggu jangan berpikir macam-macam ya, maksudku postur tubuh mereka. Ah kalau kalian mikir macem-macem pun terserah deh!
Bulan terlihat sangat anggun malam hari ini, menggunakan drees brukat model Sabrina berwarna coklat muda dan memakai sepatu heels 5cm senada jangan lupa kan tas jingjing kecil berwarna senada juga. Begitu pula dengan Manda, memilih dress berwarna hitam panjang dengan rambut di cepol ke atas.
Saat keduanya memasuki ruangan tersebut, perhatian langsung menuju ke mereka. Mereka yang tidak tahu siapa di sana langsung menebak-nebak.
Manda menghampiri meja yang tengah di duduki oleh Bintang dan yang lainnya, Manda tahu itu Bintang karena jas yang Bintang pakai adalah pemberian dari papinya waktu itu.
"Sialan ya lo, gue udah jauh-jauh jemput lo malah pergi duluan." gerutu Manda saat sudah sampai di meja tersebut.
"Husst!" ujar yang lainnya menegur Manda agar tidak berisik karena acara sudah di mulai.
Saat ini Alex tengah memberikan beberapa sambutan untuk para teman-temannya yang tengah hadir di sini.
"Thanks buat semuanya yang udah dateng ke acara gue malam ini, gue harap kalian semua bisa menikmati pesta ini. Sekali lagi terima kasih." sambutan Alex selesai dan di hadiahi tepuk tangan dari para tamu.
Alex turun dari panggung dan di lanjutkan oleh pembawa acaranya yang akan menuntut acara ini hingga selesai.
"Oke, sekarang kita langsung aja nyanyi lagu selamat ulang tahun buat Alex dan potong kue!" seru pembawa acaranya.
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday
Happy birthday
Happy birthday to you
Seru semuanya menyanyikan lagi tersebut, setelah itu menyanyikan lagi potong kue. Alex memotong kuenya dan di taruh piring kue.
"Hayo suapan pertama buat siapa?" seru pembawa acara.
Alex seakan sedang mencari seseorang, dan akhirnya seseorang yang Alex maksud itu ketemu. Dengan langkah pasti Alex menghampiri seseorang tersebut dan hal itu membuat suasana menjadi sunyi menunggu ke mana langkah kaki Alex.
Memang di acara ulang tahunnya ini, orang tua Alex tidak ada karena Alex ingin acara ini khusus untuk teman-temannya, dan untungnya orang tua Alex menyetujui itu dengan syarat tidak ada minuman keras dan narkoba. Dan Alex bisa jamin itu semua tidak ada.
Lalu siapa kah seseorang itu?
Bersambung....