
“Rumah gue itu, kak.”
Adnan menunduk sedikit untuk melihat rumah yang ditunjuk oleh Zevanya. Setelah selesai mencari buku dan makan siang, Adnan mengantar Zevanya pulang.
Cewek di sampingnya itu tersenyum lebar sambil mengangguk setelah Adnan mengalihkan pandangannya dari rumah yang ditunjuknya tadi. “Makasih udah nganterin Zee, kak.” Katanya. “Yuk, mampir dulu, kak.” Ajaknya berharap dengan binaran lucu di kedua matanya.
Adnan tersenyum tipis dengan wajah menyesal. “Lain kali, ya. Gue masih ada urusan nih. Sorry, ya.”
Zevanya menyembunyikan wajah kecewanya dengan menyengir lebar. Untungnya kecewa itu hanya sedikit, tentunya tertutupi dengan kegiatan keduanya hari ini. Masih ada lain kali, namanya proses, tidak akan sekaligus lancar seperti air mengalir. Hambatan sedikit seperti ini namanya bunga-bunga cinta. “Iya, nggak apa-apa, kak.” Katanya. “Kalau gitu, gue turun duluan, kak. Hati-hati di jalan.”
“Iya.” Adnan tersenyum. Menekan klakson sambil tersenyum melihat wajah berseri-seri Zevanya melalui kaca spion.
Euforia jalan bareng Adnan masih menggebu-gebu meskipun cowok itu sudah pamit beberapa saat yang lalu. Zevanya masih setia melambaikan tangan sambil menyengir gaje di depan rumahnya untuk mengantar kepergian Adnan.
Adnan mengantarnya pulang. Adnan mengetahui rumah Zevanya. Adnan mengajak Zevanya jalan lain kali. Gila! Zevanya nyaris berteriak sambil loncat-loncat di depan Adnan. Seriusa, ini gila. Adnan cowok inceran Zevanya sejak kelas satu ngasih notice berbau-bau pedekate.
“Raraaaa…” Zevanya berteriak setelah sambungan telponnya terhubung dengan sahabatnya. Dia memutar tubuhnya sambil mendorong pintu pagar bercat warna hitam setinggi dua meter di depannya. “Gue seneng banget sumpah gila. Gila astaga…” Rara memutar bola mata di seberang line. Sedangkan Zevanya loncat-loncat heboh dan mengetatkan giginya serta kepalan tangan kiri berada di pipi.
“Woi, berisik!” Zevanya yang hendak menutup kembali pagar tersebut berhenti dan mengerutkan dahi.
“Lo ngapain di sini? Tahu dari mana rumah gue?” Refleks Zevanya menunjuk Ryu sambil melotot tidak percaya. Mengabaikan ponselnya yang masih terhubung dengan sahabatnya secara otomatis mengerutkan dahi sambil memasang telinga lebar untuk menguping.
“Puas selingkuhnya?” Ryu memicing tajam.
Zevanya terbata tidak suka. “Gue nggak selingkuh!” Elaknya cepat. Wajah Ryu dingin, membuat Zevanya salah tingkah. Cowok itu menyambar ponsel Zevanya dari tangannya, memutuskan sambungan telpon yang masih terhubung dengan Rara. “Ponsel gue!” Zevanya merebut tidak rela ponselnya disentuh orang asing.
Ternyata Ryu tidak tertarik lagi, dia melesat pergi tanpa pamit. Rupanya dia tidak turun dari motor matic yang dikendarainya. Zevanya mencibir, Adnan tajir melintir pastinya. Kalah jauh dengan Ryu yang hanya mengendarai Honda beat.
Ah, bodo amat. Mau Ryu macem gimana pun bukan urusan Zevanya. Dia tidak suka dengan Ryu, tidak ingin tahu juga tentang cowok kampret tersebut. Di hatinya hanya ada Adnan seorang saja.
Adnan, calon gebetan. Calon pacar. Calon imam. Oh my god! Zevanya merasa dirinya mulai gila.
Dia melanjutkan menutup pagar dan dengan gaya angkuh memutar tubuhnya masuk ke dalam rumah. Ingin melanjutkan sesi curhat pada sahabatnya akan apa saja yang tadi dilakukan bersama Adnan.
Zevanya membuka ponselnya dan melotot pada layar tipis tersebut. Ryu, cowok kampret tadi menyimpan nomornya di sana.
Bukan, bukan nomor itu yang membuatnya syok.
Tapi…, nama kontaknya membuat isi perutnya naik. Zevanya tiba-tiba merinding.
“Sayang, wuanjir!!!” Makinya refleks.
***
Medan, 11.09.19