
Jantung Bulan berdebar cepat saat mengetahui kalau sekarang sudah sampai di rumah Bintang. Gugup dan takut itulah yang Bulan rasakan saat ini.
Pesan dari Manda tadi sudah Bulan belikan, dan semoga saja itu bisa menjadi kesan yang baik saat pertama bertemu ibunya Bintang. Bulan menghela napasnya lalu ikut turun bersama Bintang yang sudah lebih dulu keluar dari mobil.
Bintang melangkah masuk ke dalam rumah, dan di ikutin Bulan di sampingnya. Masih sama seperti waktu itu Bulan pertama kali ke sini. Tetapi yang membuat beda adalah tujuannya kesini.
"Bulan, beneran siap ketemu nyokap gue?" tanya Bintang entah ke berapa kalinya dan lagi-lagi di anggukin oleh Bulan.
Bintang kagum dengan konsistensi seorang Bulan yang tidak mudah berubah. Sampai ke perasaan kepadanya saja Bulan tidak merubahnya meskipun sudah di tolak berkali-kali.
"Lo tunggu sini dulu ya, biar gue masuk dulu ke dalem." ujar Bintang dan di anggukin oleh Bulan.
Bulan menunggu Bintang di depan pintu kamar yang waktu itu Bulan lihat, jantungnya benar-benar berdebar hebat.
Setelah menunggu hampir 5 menit akhirnya Bintang keluar dari kamar itu, dan saatnya mengajak Bulan untuk masuk ke dalam bertemu Soraya, ibu Bintang.
Bintang menggengam tangan Bulan, tak Bintang tahu kalau Bulan sedang gugup, terasa dari tangannya yang sedikit dingin.
"Mah," panggil Bintang kepada Soraya yang tengah terbaring sambil membelakangi Bintang.
Soraya tidak menjawab panggilan tersebut yang terdengar hanya isakan lalu terganti dengan tawa dan berganti lagi isakan begitu terus yang Bulan dengar.
Bintang melangkah menuju tempat tidur Soraya lalu mengusap punggungnya dengan lembut.
"Ini ada temen Bintang, mau ketemu sama mamah." beritahu Bintang dan lagi-lagi tidak ada tanggapan dari Soraya.
Bintang menyuruh Bulan untuk mendekat ke arah Soraya, dengan langkah pelan saat ini Bulan sudah berada di belakang tubuh Soraya yang sedang berbaring.
"Assalamu'alaikum tante." ujar Bulan pelan.
Suara isakan dan tawaan dari Soraya terhenti, lalu Soraya membalikkan badannya menatap Bulan yang tadi memanggilnya.
"Manda?" ujar Soraya yang mengira itu Manda.
Soraya memandang wajah Bulan dengan seksama seakan sedang meneliti, sampai akhirnya Soraya sadar kalau itu bukan Manda.
"Siapa kamu? Pergi!" usir Soraya sambil mendorong tubuh Bulan agar menjauh dari dirinya.
"Mah, ini temen Bintang. Dia mau kenalan sama mamah." beritahu Bintang.
"Tante, kenalin nama saya Bulan." ujar Bulan masih berusaha.
Soraya menatap Bulan dengan tajam, terlihat jelas ada kemarahan di mata Soraya. Sampai Bulan menengguk ludahnya sedikit khawatir.
"Pergi wanita sialan!" teriak Soraya lalu menarik rambut Bulan.
Bintang yang melihat itu segera berusaha melepaskan itu tarikan tangan Soraya pada kepala Bulan.
"Mah, tenang mah. Bulan bukan orang jahat mah, Bulan teman baik Bintang mah."
"Dasar wanita sialan! Gara-gara kamu suami saya jadi pergi!" teriak Soraya seakan Bulan itu adalah wanita yang merebut suaminya.
Tak lama terdengar suara tangisan dan tangannya terlepas sendiri dari kepala Bulan.
"Anak gadis ku, Vania." isak Soraya sambil menyebut nama adik perempuan Bintang.
"Vania sama Viona mana Bintang?" tanya Soraya yang terus menanyakan itu pada Bintang.
Bulan kembali mendekat ke arah Soraya meskipun kepalanya terasa pusing karena di tarik oleh Soraya tadi.
"Tante, Vania sama Viona sudah tenang di sana, tante harus ikhlas ya." ujar Bulan pelan membuat kemarahan Soraya kembali muncul.
Bintang pun kaget dengan keberanian Bulan saat ini, sejak dulu saat Soraya menanyakan dimana Vania dan Viona, Bintang selalu menjawab ada di luar karena waktu itu Bintang pernah bilang kalau keduanya sudah tidak ada alias meninggal Soraya mengamuk sampai melukai dirinya sendiri.
"Kurang ajar kamu nyumpahin anak saya sama pacar anak meninggal! Dasar wanita sialan! Pergi kamu atau sekalian mati saja kamu!" amuk Soraya lalu mendorong tubuh Bulan berkali-kali.
Bulan menahan tubuhnya agar tidak tersungkur ke belakang dan itu pun di bantu Bintang di belakang tubuh Bulan.
"Tapi apa yang Bulan katakan memang benar mah." ujar Bintang memberanikan diri.
Soraya menatap Bintang tajam, "Kamu juga ikut-ikutan wanita sialan ini!"
Tak lama terdengar tertawaan dari Soraya lalu kembali terisak lagi, dan tertawa lagi terisak lagi begitu terus membuat Bulan kembali memberanikan diri untuk berbicara.
"Tante, ini Bulan bawain bunga sama permen semoga tante suka ya." ujar Bulan sambil memberikan itu semua.
Mata Soraya langsung berbinar, seperti melihat sesuatu yang sangat berarti. Soraya menghirup wangi bunga tersebut dan membuka permen kiss yang di bawa Bulan tadi.
Melihat Soraya yang rileks, membuat Bulan mengulurkan tangannya untuk mengelus punggung Soraya.
"Tante, waktu itu terus berjalan. Kita sebagai manusia harus ikhlas menjalani apa yang sudah terjadi pada kehidupan kita." ujar Bulan tak dapat respon apapun dari Soraya.
"Izinin Bulan buat ngejenguk tante lain waktu lagi ya." entah mengapa Soraya mengangguk membuat Bulan dan Bintang tersenyum respon itu.
Entah karena kebetulan atau memang hati Soraya terketuk dengan ucapan Bulan tadi. Seperti yang Bintang bilang waktu itu, kalau Soraya tidak separah dulu.
"Bulan izin pulang dulu ya tante, semoga tante sehat selalu ya nanti kalau ada waktu Bulan datang lagi ke sini bawain bunga sama permen lagi." Lagi-lagi Soraya mengangguk.
Bulan keluar lebih dulu dari kamar Soraya, membiarkan Bintang berbicara lagi ke pada ibunya.
"Mah, Bulan itu anak yang baik, Bulan selalu mengajarkan Bintang arti dari kesabaran selama ini mah. Semoga mamah bisa menerima Bulan seperti mamah nerima Manda ya." ujar Bintang pada Soraya sambil mengelus kepala ibunya sayang.
"Manda?" beo Soraya lalu melihat ke kanan ke kiri seakan mencari keberadaan Manda.
"Manda gak ada di sini mah, nanti Bintang suruh Manda datang ya. Sekarang izinin Bintang anterin Bulan pulang dulu ya." izin Bintang pada Soraya.
"Manda." ujar Soraya lagi.
"Iya, nanti Bintang bawa Manda ke sini ya. Sekarang mamah istirahat dulu." ujar Bintang lalu memberikan Soraya obat penenang sekaligus obat tidur.
Itu lah cara agar Soraya terlelap, karena tanpa bantuan obat itu Soraya tidak akan tidur. Meskipun dosisnya sudah berkurang, tidak setinggi waktu pertama kali Soraya depresi.
Ini pun berkat Manda dan ibunya, yang selalu memberi nasehat seperti yang Bulan lakukan tadi. Tetapi respon Soraya berbeda, tadi dengan Bulan, Soraya nampak marah sedangkan kalau dengan Manda ia bisa menerima setiap ucapan yang keluar dan bisa membalas perkataannya. Seperti tidak depresi kalau bersama dengan Manda dan ibunya.
Bintang keluar dari kamar Soraya, lalu menghampiri Bulan yang tengah duduk di sofa ruang keluarga sambil memainkan ponselnya.
"Kepalanya masih sakit?" tanya Bintang sambil mengelus kepala Bulan.
Bulan yang kaget dengan kedatangan Bintang langsung menaruh ponselnya di atas meja. Bulan mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Bintang tadi.
"Masih sakit sedikit." jujur Bulan membuat Bintang kembali mengelus kepala Bulan dan ikut duduk di sebelah Bulan.
"Maafin mamah ya." ujar Bintang lembut.
Bulan mengangguk, "Iya gak papa, gue paham kok."
"Makasih banyak Bulan," ujar Bintang tulus.
Lagi-lagi Bulan mengangguk, "Sama-sama Bintang, semoga mamah lo bisa kembali sehat ya."
"Amiin, gue harap juga begitu." sahut Bintang.
"Bintang, lo memang sedeket itu sama Manda ya? Maksud gue, sampai seperti tadi gitu?"
Bintang mengangguk, "Semenjak nyokap gue sakit, semua urusan keluarga gue di handel sama keluarganya Manda termasuk masalah keuangannya Lan."
"Lo bisa bayangin kan gimana deketnya gue sama keluarga Manda kalau gitu? Gue udah anggap Manda sebagai saudara perempuan gue." Bulan mengangguk paham.
"Lo cemburu sama Manda?" tanya Bintang.
Bulan mengangguk, "Kalau gue bilang engga, gue munafik. Nyatanya memang cemburu yang gue rasa waktu lihat lo tadi." jujur Bulan memberitahu Bintang.
Bintang mengelus kepala Bulan lagi, "Itu juga yang gue rasa saat dengar obrolan lo tadi di telepon sama Andre."
Bulan mengukir senyumnya, salah tingkah mendengar kata cemburu keluar dari mulut Bintang.
"Kita udah bahas ini Bintang, udah ya." Bintang mengangguk.
Bulan melirik jam yang terpajang di dinding, sekarang sudah pukul 5 sore dan ia ada janji bertemu dengan Andre nanti saat makan malam.
"Bintang, udah sore." ujar Bulan mengingatkan Bintang.
Bintang melirik jam yang ada di pergelangan tangannya, "Eh iya, waktu cepet banget ya kalau bareng sama orang yang kita sayang." ujar Bintang kembali membuat Bulan salah tingkah.
Bulan terkekeh pelan, "Pasti lo belajar gombal dari Hendra ya." cibir Bulan.
Bintang ikut terkekeh mendengar itu, "Yaudah ayo gue anter lo pulang." Bulan mengangguk lalu bangkit dari duduknya begitu pula dengan Bintang.
"Lo mau pergi sama Andre ya?" tanya Bintang saat sudah masuk ke dalam mobil.
Bulan mengangguk, "Iya, Andre ngajakin makan malam."
"Lo gak bisa nolak?" Bulan menggeleng.
"Kita udah bahas ini, please gak perlu di bahas terus Bintang!" kesal Bulan karena terus di larang dekat dengan Andre.
"Iya, iya. Tapi inget jangan kasih Andre masuk ke dalam hati lo ya!" Bulan hanya mengangguk lalu tersenyum.
Bersambung....