
Permainan dare or dare masih berlangsung, semua pemain sudah kena gilirannya dan sekarang adalah putaran terakhir, tepat di putaran kali ini berhenti tepat di depan Arkana.
Tadi Arkana pun mendapatkan giliran, namun hukumannya hanya di suruh menggendong Angga selama beberapa putaran berlangsung, dan sekarang putaran terakhir ini kembali berhenti di depan Arkana.
"Kasih tahu perasaan lo ke Manda!" ujar Bulan cepat, dalam hati Bulan berharap ini lah malam bersejarah buat mereka.
Semua yang ada di sana mengangguk, kecuali Mutia karena di sini yang tidak tahu apa-apa tentang Manda dan Arkana hanya Mutia.
"Yang, bukannya Manda mantannya Angga ya? Kok jadi Arkana yang jelasin perasaannya ke Manda?" tanya Mutia kepada Hendra.
Hendra yang mendengar pernyataan itu langsung menatap kekasihny, sejak kapan Angga dan Manda berpacaran? Apakah keduanya selama ini memang memiliki hubungan di belakang?
Hendra mengangkat tangannya, menginstrusi agar berhenti sebentar, "Tunggu Lan, gue mau nanya sesuatu dulu sama Manda atau Angga."
Manda dan Angga menatap Hendra dengan dalam, menanti apa yang akan dia tanyakan. Sedangkan Bulan sudah tahu kemana arah pertanyaan itu, pasti Mutia yang bilang ke Hendra masalah ini dan Mutia tidak tahu kebenarannya.
"Tentang yang katanya Manda mantannya Angga?" ujar Bulan sebelum Hendra bertanya.
Angga, Arkana dan juga Bintang bingung dengan itu semua, maksudnya apa? Arkana langsung menatap Angga tajam, seakan langsung tersulut emosi karena mendengar itu semua. Arkana pikir Angga memang telah main belakang dengan Manda selama ini.
Hendra mengangguk, "Iya, sejak kapan kalian pacaran? Gue sama yang lain gak tahu?" tanya Hendra sambil menatap Manda dan Angga bergantian.
"Pacaran?" beo Angga yang memang tidak mengetahui hal itu.
"Gak usah pura-pura sok kaget lo! Sejak kapan lo ambil Manda dari gue men? Lo tau, selama ini gue udah berusaha biar Manda suka lagi sama gue, tapi ternyata-" emosi Arkana.
"Cukup Arkana, biar gue jelasin!" ujar Manda, tetapi Arkana salah paham dengan ucapan Manda itu, Arkana pikir Manda malah membela Angga.
"Lo malah ngebela dia, Man? kurang apa lagi perjuangan gue selama ini sama lo Man. Gue udah cukup sabar selama ini." seru Arkana.
Bulan menggeleng, "Cukup! Biar gue yang jelasin, karena ini semua ada sangkut pautnya sama masalah gue dengan Bintang!" teriak Bulan mengambil alih situasi ini.
Bulan menarik napasnya sebelum menjelaskan, "Manda bilang itu ke gue sama Mutia, karena untuk menghindar tuduhan gue yang mengira dia mantannya Bintang!"
"Manda bilang mantanan sama Angga, karena dia pikir itu satu-satunya cara agar gue stop nyalahin dia dan nanya apapun tentang Bintang padanya! Manda gak mau ceritain apapun tentang Bintang, karena dia pikir itu bukan hak atau porsinya dia buat cerita." jelas Bulan membuat Arkana meredam emosinya.
"Jadi sekarang, mumpung ada waktu yang tepat, lo bisa ungkapin perasaan lo sama Manda!" seru Bulan lalu di anggukin oleh Arkana.
Arkana melangkah maju untuk menghampiri Manda, tanpa di duga Arkana mengambil alih tangan Manda lalu di genggamnya. Lutut Arkana yang satu menyentuh tanah, lalu kepalanya mendongak ke atas agar tetap bisa memandang wajah cantik Manda.
"Man, gue tahu dulu gue salah, salah karena gak pernah ngelihat lo selalu tulus sama gue. Dulu gue ngerasa, lo masih punya perasaan buat Bintang, makanya gue selalu abaikan lo!"
"Tapi ternyata gue salah, kejadian lo sama Bintang itu udah sangat lama dan mungkin itu hanyalah cinta sesaat lo. Maaf karena dulu gue sempat ragu sama lo Man, sampai akhirnya gue lebih milih orang lain dari pada lo."
"Sekarang gue sadar, kalau rasa cinta gue ke lo itu masih ada. Gue yakin lo juga masih ngerasain hal yang sama kan kaya gue?"
"Man, bisa gak kita bangun lagi rasa ini sama-sama. Gue janji akan selalu ada buat lo ke depannya, gue janji akan gantiin Bintang buat jagain lo mulai sekarang karena Bintang harus fokus jagain Bulan."
"Manda, lo mau gak jadi pacar gue?" seru Arkana pada akhirnya.
Bulan yang melihat keberanian Arkana takjub, selama ini Bulan sudah yakin kalau Arkana memang menyukai Manda tetapi selalu di tolak oleh Manda eh ternyata memang cinta lama belum kelar.
Manda belum menjawab, matanya terpejam seakan sedang berpikir, jawaban seperti apa yang akan ia berikan pada Arkana. Setelah hampir 2 menit tidak ada suara apapun hanya ada suara angin, akhirnya suara Manda terdengar.
"Ar, kalau gue bilang gue belum bisa sekarang gimana?" seru Manda membuat wajah Arkana langsung berubah.
Arkana mengangguk lalu tersenyum lirih, ia tidak bisa memaksa Manda karena memang inilah salah dirinya di masa lalu.
"Gak papa Man, gue terima apapun keputusan lo." ujar Arkana sedih.
Arkana melepaskan genggaman tangannya lalu kembali berdiri sempurna, terlihat jelas kalau ia sangat kecewa malam ini tetapi balik lagi ini lah salahnya.
Arkana berbalik badan, melangkah ke arah tempatnya tadi, tetapi tidak di sangka Manda memeluknya dari belakang membuat langkahnya terhenti sambil menunggu apakah ada sesuatu yang akan Manda katakan padanya.
"Gue mau jadi pacar lo sekarang, Ar." seru Manda membuat senyum di bibir Arkana terbit begitu saja, begitu juga di bibir para sahabatnya termasuk Bintang.
Arkana membalikkan badannya agar bisa berhadapan langsung dengan Manda, Arkana menatap mata Manda dalam seakan mencari sesuatu di sana.
"Serius Man?" tanya Arkana untuk memastikan kalau ia tidak salah dengar tadi.
Manda mengangguk lalu tersenyum, Arkana langsung memeluk Manda lagi dengan posisi yang berbeda seperti sebelumnya. Terdengar sorakan heboh dari para sahabatnya.
"Asik, besok pagi kita sarapan di restoran mewah daerah sini ya, yang bayar Arkana!" seru Hendra dan di setujui oleh yang lain.
"Sialan emang lo! Senengnya bikin bangkrut orang!" cibir Arkana dan di hadiahi ketawa dari yang lain.
Bintang mendekatkan diri pada Bulan, lalu membisikan sesuatu di telinga Bulan membuat jantung Bulan kembali berdetak cepat.
"Lo gak mau kaya mereka juga?" ujar Bintang membuat Bulan salah tingkah.
Baru akan menjawab, suara Angga terdengar sangat dramatis membuat mereka tertawa melihat tingkah Angga.
"Kalian semua punya pasangan, gue sendirian yang jomblo! Lo pada gak kasian sama gue!" seru Angga bukannya di beri belas kasih malah jadi bahan tertawaan mereka.
Hendra menghampiri Angga lalu merangkulnya, "Tenang, nanti gue cariin lo pasangan, lo kan tahu handphone gue asrama cewek!" ujar Hendra tanpa sadar membuat Mutia melangkah mendekati Hendra lalu menarik telinga kekasihnya itu.
"Oh gitu ternyata, Manda baru jadian sama Arkana di sini, apa kita putus juga di sini?" ujar Mutia garang membuat yang lain menahan tawanya.
Hendra mengaduh kesakitan, setelah tarikan itu terlepas Hendra mengusap telinganya yang terlihat merah saat ini.
"Engga sayang, aku tadi cuma bercanda buat ngehibur Angga doang. Jangan putus ya, belum juga seminggu udah putus!" ujar Hendra.
"Maksud lo, hubungan lo sama Mutia cuma mau seminggu doang?" sahut Arkana mengomporin situasi.
"Lo apaan sih Ar, udah deh gak usah kompor kenapa sih! Sayang percaya sama aku, aku tuh sayang banget sama kamu tahu!" ujar Hendra meyakinkan Mutia.
"Mut, mendingan lo sama gue aja, gue setia kok orangnya!" seru Angga menawarkan diri.
"******, punya temen sendiri masih aja di embat!" kesal Hendra lalu membawa Mutia pergi dari sana.
Yang lain hanya tertawa melihat gaya pacaran Hendra dan Mutia yang selalu saja adu mulut, selalu saja selisih paham tetapi mereka yakin kalau keduanya memang saling sayang.
"Lan, kita sekolah gak ada sebulan lagi, gue pastiin sebelum bener-bener kita lulus lo udah jadi milik gue." ujar Bintang pelan.
Bulan hanya diam sambil mengangguk kecil di dalam hatinya pun berharap demikian. Sebenarnya Bulan sudah bisa menerima Bintang, tetapi ia masih ingin Bintang membujuknya sekali lagi.
Bersambung....