
“Terus, gimana, Zee? Dia belum nelpon atau nge-chat lo?”
Zevanya menggeleng lesu lalu menelungkupkan wajahnya pada lipatan lengan di atas meja. “Gue kudu gimana, Ra?” Raungnya semakin frustasi.
“Samperin aja kali?” Usul Rara berbinar. “Datengin kelasnya atau lo tunggu di parkiran kalau udah pulsek.”
Zevanya mengangkat kepala dan menegakkan badannya. “Itu…, gue sama dia udah kategori jadian belum sih, Ra?” Ucapnya bingung.
Rara memutar bola mata. “Lo nembak dia. Terus dia nerima lo. Artinya kalian udah jadian, combro!” Cetusnya gemas.
Zevanya menggeleng dramatis dengan bibir monyong. “Gue pasti lagi mimpi, kan? Ra, tolong bangunin gue. Ini mimpi buruk, anjir!”
Rara tergelak. Tentu saja, tiga hari yang lalu Zevanya nembak cowok idamannya. Entah setan apa yang sedang merasukinya sehingga memiliki keberanian mengutarakan perasaan yang terpendam selama satu tahun ini. Berkat bantuan Rara, sahabatnya, keduanya menyusun rencana pengutaraan perasaan tersebut.
Seperti mimpi saja, pernyataan cinta Zevanya diterima oleh cowok tersebut. Zevanya nyaris pingsan di tempat. Cukup lama mematung di tempatnya hingga tanpa sadar cowok itu sudah pergi meninggalkannya tanpa sempat bertukar kontak.
Sejak jadian tiga hari yang lalu, Zevanya dan cowok itu belum berkomunukasi lagi. Kemarin dan tadi pagi mereka bertemu, namun Zevanya tidak memiliki keberanian untuk menghampirinya terlebih dahulu.
“Eh, ada apa sih rame-rame?”
Zevanya mengerutkan dahi melihat teman sekelasnya tiba-tiba ricuh dan keluar dari kelas. Anak-anak berhamburan sepanjang koridor menuju lapangan volley.
“Woi, ada apa sih?” Zevanya ikut penasaran, dia menghentikan seorang cewek berambut yang tidak diketahui namanya. “Ini semua mau kemana? Ada apa?”
“Ada yang berantem.” Zevanya mengerutkan dahi. Hanya berantem, tetapi yang penasaran hampir satu sekolahan.
“Siapa?”
“Ryu dan Adnan.”
Zevanya dan Rara saling berpandangan. Tanpa mengeluarkan suara, kedua cewek itu ikut berlari menuju lapangan volley. Keduanya mengerahkan seluruh tenaga melewati anak-anak yang sedang berbisik-bisik penasaran.
“Kalau lo nggak bisa main. Nggak usah ikut gabung, anjing!”
Dua orang cowok sedang dipisahkan oleh teman-temannya agak tidak terjadi baku hantam. Tampaknya kekuatan kedua cowok itu cukup kuat sehingga beberapa yang memegangi mereka nyaris tidak sanggup.
“Ada apa ini?” Semua mata beralih pada lelaki bertubuh gempal dan berkumis tebal sedang menahan amarah menghampiri kedua cowok penyebab masalah. “Kalian lagi!” Dengkusnya kesal. “Ke ruang BK sekarang! Dan, yang lain bubar!”
Lalu semua mulai bubar. Kedua cowok tadi meregangkan otot dan saling melempar tatapan membunuh. Tanpa mengeluarkan suara, mereka mengikuti lelaki tadi menuju ruang konseling.
Zevanya fokus memandang Adnan. Jantungnya berdegup kencang, semakin jumpalitan ketika cowok tersebut melirik padanya sehingga pandangan mereka bertemu. Zevanya mengikuti dari belakang, tidak berani dari dekat karena teman-teman cowok itu mengikuti ke ruang konseling.
“Ra, gimana keadaan kak Adnan? Lo yakin dia nggak kena skors lagi?” Tanya Zevanya khawatir.
Rara menghela nafas berat. “Kita tunggu aja kabar selanjutnya.”
“Ra, kenapa lo santai, sih? Gue nggak tenang, nih!” Sewot Zevanya berlebihan.
Rara memutar bola mata. “Mau gimana lagi? Gue nggak naksir macem lo sama kak Adnan. Buat apa gue sibuk khawatir?”
“Kampret ah!” Zevanya kesal. “Yuk, ikut. Gue penasaran nih.”
Tanpa bisa dicegah, akhirnya Rara mengikuti sahabatnya tersebut. Meskipun mereka tidak akan melihat kedua cowok itu di eksekusi oleh Pak Guntur, namun Zevanya tetap penasaran ingin ke sana.
***
Medan, 09.08.19
Hello, selamat datang di cerita pertama gue di flatform Mangatoon.
Semoga suka :)