COOL BOY

COOL BOY
BAB 36



Setelah di antarkan pulang oleh Bintang, Bulan segera membersihkan diri dan bersiap-siap karena nanti ia akan pergi bersama dengan Andre.


Bulan jujur pada Bintang, kalau ia tidak bisa menolak ajakan Andre. Semua ini pun Bulan lakuin karena ingin melihat sejauh mana Bintang akan berusaha meluluhkan hatinya lagi.


Bulan sudah siap dengan pakaiannya, Bulan hanya memakai dress selutut berwarna hitam di padukan dengan sepatu sneakers putih. Sambil menunggu Andre datang, Bulan mengeluarkan tugas sekolahnya untuk di kerjakan sambil menunggu.


Tak lama suara deringan ponsel terdengar dan Bulan melihat ada sebuah pesan dari Andre memberitahu kalau dia sudah ada di depan gerbang. Dengan cepat Bulan keluar dari kamarnya dan turun ke bawah untuk menemui Andre.


Ternyata di meja makan ada kakaknya, Alvaro sedang makan malam di temanin dengan ponselnya.


"Kak, gue izin keluar ya." ujar Bulan lalu menghampiri Alvaro.


Alvaro melihat tampilan Bulan, "Mau kemana pakai baju rapi?"


"Makan malem sama temen."


Alvaro mengangguk-angguk, "Suruh temen lo masuk dulu, izin sama gue." perintah Alvaro lalu di anggukin oleh Bulan.


Bulan segera mengirim pesan pada Andre agar masuk ke rumah lebih dulu untuk meminta izin langsung pada kakaknya. Tak lama terdengar pintu terbuka dari ruang depan, dengan cepat Bulan melangkah ke sumber suara untuk menemui Andre dan mengajaknya ke hadapan Alvaro.


"Lo di suruh minta izin langsung sama kakak gue." beritahu Bulan dan di anggukin Andre.


Andre melangkah bersama Bulan menuju ruang makan yang di mana ada Alvaro di sana.


"Loh kak Alvaro?" ujar Andre saat melihat wajah Alvaro.


Ini pertama kalinya Andre masuk ke dalam rumah Bulan, dan baru pertama kali juga bertemu dengan kakaknya. Betapa kagetnya Andre bertemu dengan Alvaro di sini sebagai kakaknya Bulan. Orang yang sedang ia perjuangkan.


"Loh Andre?" ujar Alvaro pun kaget setelah melihat wajah Andre.


Bulan yang melihat keduanya seperti sudah saling kenal pun bingung, sejak kapan dan dimana mereka bisa saling kenal.


"Kakak kenal sama Andre? Lo juga kenal sama kakak gue?" pertanyaan itu muncul dari Bulan untuk keduanya.


Keduanya mengangguk secara bersamaan.


"Kak Alvaro itu, temennya temen gue di tongkrongan." beritahu Andre.


Alvaro mengangguk, "Iya gue kenal Andre dari sana."


Memang keduanya kenal karena sebuah balapan liar, Alvaro dan Andre pernah menjadi lawan tetapi entah mengapa keduanya malah terlihat dekat, dan sekarang malah berteman akrab kalau di tongkrongan.


Waktu pas Bulan ikut ke arena balapan, Alvaro memang sedang tidak ikut ke sana karena ada acara dengan teman kuliahnya makanya mereka tidak bertemu.


"Kakak ikut balapan juga?" tanya Bulan.


Alvaro mengangguk, "Cuma iseng." jawabnya santai.


Bulan menggeleng, "Jangan lagi kak, bahaya." nasihat Bulan dan Alvaro mengangguk.


Alvaro melakukan itu bukan benar-benar dari hati, itu ia lakukan agar Bulan tidak perlu lagi khawatir.


"Yaudah kalau gitu, gue izin ajak adik lo keluar sebentar ya kak." izin Andre ingin membawa Bulan keluar.


Alvaro mengangguk, "Iya, asal jangan di bawa ke arena balapan ya."


Andre terkekeh lalu mengacungkan jempolnya.


"Sama jangan pulang malam-malam Ndre." peringat Alvaro dan lagi-lagi Andre mengacungkan jempolnya.


Akhirnya keduanya berjalan keluar rumah, saat sampai di depan gerbang Bulan melihat mobil yang tidak asing terparkir tidak jauh dari sana.


"Bintang?" ujar Bulan pelan, karena Bulan yakin itu memang mobil Bintang.


Andre membukakan pintu mobil untuk Bulan, sebelum masuk ke dalam Bulan tidak lupa mengucapkan terima kasih pada Andre dan di balas senyuman oleh Andre. Setelah Bulan masuk ke dalam, Andre berlari kecil untuk masuk juga ke bangku pengemudi.


"Thank udah mau gue ajak dinner malam ini." ujar Andre setelah melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Bulan mengangguk, "Sama-sama." jawab Bulan sambil matanya terus melihat ke kaca spion untuk memastikan mobil yang tadi ia lihat tidak mengikutinya.


Ternyata salah, mobil itu pun berjalan mengikuti mobil Andre. Bulan mengeluarkan ponselnya ingin mengirim pesan pada Bintang menanyakan maksudnya apa. Tetapi ia lupa, ponselnya tertinggal di atas meja makan tadi.


"Ngapain sih?" gerutu Bulan tanpa sadar membuat Andre menoleh ke arah Bulan sekilas.


"Kenapa Lan?" tanya Andre saat mendengar gerutuan tadi.


Bulan langsung menggeleng, "Eh engga kok, gak papa."


Andre hanya mengangguk mempercayai apa yang Bulan katakan. Bulan masih terus melihat mobil di belakangnya lewat kaca spion, Bulan jadi tak habis pikir dengan Bintang yang bisa-bisanya menguntit seperti ini.


Andre menghentikan mobilnya di sebuah cafe di pinggir kota. Sepertinya cafe tengah ramai, karena terlihat dari parkirannya yang penuh. Andre kembali membukakan pintu mobil untuk Bulan dan lupa juga Bulan kembali mengucap terima kasih.


Andre mengulurkan tangannya bermaksud agar keduanya masuk ke dalam sambil bergandengan tangan, tetapi sayang jawaban Bulan hanya tersenyum dan Andre tahu maksud senyuman itu.


Keduanya melangkah masuk saling berdampingan, dengan mata Bulan yang terus kesana kemari mencari keberadaan seseorang yang sejak tadi mengikutinya, tetapi tidak terlihat sama sekali.


"Andre." panggil seseorang saat melihat Andre yang sudah masuk ke dalam cafe.


Andre menoleh saat namanya di panggil, lalu melambaikan tangannya ke orang tersebut. Andre melangkah bersama dengan Bulan menuju meja tersebut.


"Udah lama?" tanya Andre bertanya sama beberapa orang yang duduk di meja tersebut.


"Sekitar 10 menit lah." jawab Bella, gadis yang waktu itu ketemu Bulan di arena balapan.


"Lo Bulan anak Prada Jaya bukan sih?" tanya salah seorang cowok yang duduk di samping Bella.


Bulan mengangguk canggung, "Iya gue Bulan anak Prada Jaya." ujar Bulan.


"Cewek lo Ndre?" tanya cowok itu lagi.


Andre menggeleng, "Lagi usaha gue." sahut Andre dan di hadiahi kekehan oleh yang lainnya.


Andre memang janjian dengan teman-temannya itu, dan memang berniat mengajak Bulan agar lebih kenal dengan mereka entah maksud dan tujuannya apa.


"Ndre, gue ke toilet sebentar ya." izin Bulan sambil berbisik pada Andre.


"Mau gue anter?" tawar Andre dan Bulan menggeleng.


Bulan bangkit dari duduknya lalu melangkah ke toilet, entah mengapa perasaannya tak nyaman saat ini. Sejak awal tadi cowok yang melayangkan pertanyaan padanya seperti terus kelihatannya.


Bulan merapikan tataan rambutnya di kaca besar lalu keluar lagi dari toilet menuju mejanya tadi, tetapi saat keluar Bulan di pertemukan dengan cowok tadi. Bulan kaget, untuk apa cowok itu mengikutinya ke sini.


"Lo cantik banget Bulan," puji cowok itu sambil terus mengikis jarak dengan Bulan.


Keadaan toilet saat ini sedang sepi, dan mungkin hanya ada mereka berdua di area toilet ini.


"Makasih." jawab Bulan merasa tak nyaman karena mata cowok itu terus melihat ke arah tubuhnya.


Bulan berusaha pergi dari sana tetapi terus di halangin, "Mau kemana sih buru-buru? Lo gak mau cobain sama gue?" ujar cowok itu membuat Bulan semakin risih.


Saat tangan cowok itu ingin menyentuh bahu Bulan tiba-tiba tangannya di cekal oleh seseorang yang tiba-tiba datang di belakang.


"Bajingan!" bentak Bintang lalu menghempaskan tangan cowok tersebut dengan kencang.


Bulan yang melihat Bintang langsung berlari dan berlindung di belakang tubuh Bintang. Air matanya sudah mengalir, sedih dan takut itu yang Bulan rasakan.


"Bintang Prada Jaya?" ujar cowok tersebut kaget.


Bintang mengangkat alisnya, lalu tersenyum miring. Tanpa aba-aba Bintang melayangkan sebuah pukulan tepat di wajah laki-laki tersebut hingga sudut bibirnya sobek.


"Sentuh dia sama dengan mati!" ancam Bintang lalu menarik Bulan menjauh dari sana.


Bulan hanya menurut kemana Bintang akan membawanya saat ini, ia masih shock karena kejadian tadi. Pertama kalinya ia merasa di lecehkan seperti itu, rasa jijik dan takut mengalir begitu saja di tubuhnya sekarang walaupun cowok tadi belum sempat memegangnya.


"Kita pulang!" ujar Bintang lalu menarik Bulan menuju parkiran.


Bulan hanya diam tidak menjawab, ia masih terisak. Setelah masuk ke dalam mobil Bintang langsung melajukan mobilnya.


"Udah gak usah takut." ujar Bintang sambil melirik Bulan sekilas dan kembali fokus pada jalanan.


Bulan tidak menjawab.


"Ada gue." seru Bintang lagi.


Bulan tetap tidak menjawab.


"Gue udah bilang jangan pergi sama Andre."


Bulan masih tidak menjawab dan membuat Bintang khawatir. Tanpa berpikir lagi, Bintang memberhentikan mobilnya di pinggir jalan untuk melihat kondisi Bulan.


"Bulan." panggil Bintang lembut tetapi Bulan tetap diam sambil menutup mukanya.


"Lo gak usah malu, lo gak di apa-apain sama dia." ujar Bintang tahu kalau sekarang Bulan sedang malu.


Bulan mulai membuka tangannya dan memperlihatkan wajahnya pada Bintang, tanpa di duga Bulan langsung menubruk tubuh Bintang dan kembali menangis dengan keras.


Bintang yang menerima serangan itu langsung memberi respon yang baik, yaitu mengelus punggung Bulan pelan membiarkan Bulan menangis hingga puas.


Setelah hampir 5 menit di posisi tersebut, Bulan mulai meredakan tangisannya dan melepaskan pelukannya itu.


"Bintang." ujar Bulan pelan.


"Iya?" jawab Bintang lembut.


"Haus." celetuk Bulan membuat Bintang ingin sekali tertawa.


Bintang segera mengambil air mineral yang ada di sambil tangannya, "Adanya bekas gue, mau?" Bulan mengangguk lalu menegak habis air mineral itu.


"Masih haus?" tanya Bintang.


Bulan mengangguk, "Sama laper juga." seru Bulan sambil tersenyum kecil.


Bintang tidak bisa menahan tawanya, ia terkekeh pelan lalu mengacak pucuk kepala Bulan dengan gemas.


"Itu kayanya ada warung makan, makan di sana aja gak papa?" Bulan mengangguk lalu tersenyum.


Akhirnya Bintang melajukan mobilnya tak jauh dari tempatnya ada warung pecel lele pinggir jalan, keduanya memutuskan untuk makan di sini.


Sedangkan di cafe, Andre sedang mencari keberadaan Bulan yang tak balik-balik dari toilet. Di bantu dengan Bella yang masuk ke dalam toilet wanita, tetapi sayang Bulan tidak ada di sana juga.


Andre terus menghubungi nomer Bulan, tetapi tidak ada jawaban sama sekali dari sang pemiliki nomer tersebut.


Andre panik dan khawatir pada Bulan, ia bingung mengapa Bulan pergi begitu saja tanpa pamit padanya. Tidak seperti biasanya, Bulan itu terlalu ramah pada siapapun. Kalau ini terjadi, pasti ada sesuatu yang menimpa Bulan pikirnya.


Tanpa pikir panjang Andre pergi dari cafe untuk mencari Bulan, di tengah jalan Andre mencoba menghubungi nomer Alvaro untuk menanyakan apakah Bulan sudah di rumah tetapi sayang jawaban Alvaro semakin membuatnya khawatir.


"Bulan, lo di mana sih?" ujar Andre pada dirinya sendiri.


Matanya masih terus mencari di sepanjang perjalanan, hingga akhirnya Andre menemukan seseorang yang ia cari dan sedang berada bersama laki-laki lain.


Dengan cepat Andre turun dari mobilnya, lalu menghampiri Bulan yang tengah makan bersama dengan Bintang di warung pecel lele pinggir jalan ini.


"Bulan?" panggil Andre membuat Bulan yang tengah makan berhenti setelah mendengar namanya di panggil.


"Andre?" ujar Bulan bingung dari mana Andre tahu keberadaannya.


"Lo ninggalin gue?" tanya Andre.


Bulan langsung menggeleng, belum sempat bersuara, suara Bintang lah yang lebih dulu terdengar.


"Temen lo bajingan!" ujar Bintang emosi.


Andre yang mendengar Bintang merendahkan temannya pun tidak terima, ingin rasanya Andre pukul wajah Bintang saat ini juga.


"Lo yang bajingan!" sahut Andre tidak terima.


Bintang bangkit dari duduknya lalu berdiri tepat di hadapan Andre, "Lo tau, Bulan hampir di lecehin sama temen lo sendiri!" ujar Bintang pelan agar tidak ada siapapun yang mendengar.


Kasian Bulan kalau ada yang mendengar, takut jadi bahan perbincangan di warung ini dan membuat Bulan kembali menangis karena sedih dan tidak nyaman.


Andre yang mendengar itu pun kaget, pantas saja tadi Riko juga tidak kembali lagi setelah izin ke toilet.


"Bulan, maafin gue gak bisa jaga lo." ujar Andre meminta maaf pada Bulan.


Bulan mengangguk, "Bukan salah lo kok Ndre."


Bintang yang mendengar itu tidak terima, menurutnya ini salah Andre juga yang tidak peka kalau Bulan sedang terancam waktu itu.


"Pulang sama gue?" ajak Andre.


Bulan menggeleng, biar bagaimana pun Bintang telah menyelamatkannya, ia tidak bisa meninggalkan Bintang begitu saja juga.


"Gue pulang sama Bintang aja ya, lo gak papa kan?" ujar Bulan pelan dan sangat berhati-hati.


Andre menghela napasnya lalu mengangguk, "Yaudah, gue balik duluan kalau gitu. Lo hati-hati ya kalau sudah sampai rumah kabarin gue." ujar Andre lalu pergi dari sana.


Andre sengaja mengalah kali ini karena pasti Bulan masih shock dan takut dengan kejadian tadi, dan Andre melihat Bulan nyaman dekat dengan Bintang tadi. Makanya Andre membiarkan Bulan bersama dengan Bintang.


"Gue ikhlas kalau lo pilih Bintang, Lan." ujar Andre dalam hati.


Bersambung.....